DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 58


__ADS_3

💦💦💦💦


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Liana kembali ke dapur untuk memasak. Barno duduk di balik meja makan menunggu sambil memperhatikan Liana, ada bunga yang begitu lembut bertebaran dalam hatinya ketika melihat sepupunya itu.


Segera menggelengkan kepala menolak apa yang dirasakan. Bagaimana mungkin kesenangan bisa berubah menjadi kenyamanan, mereka hanyalah pasangan syekkkxx, tidak lebih.


Setelah semua menu yang diinginkan selesai dimasak, Liana menata di meja makan. Aroma yang begitu mengundang selera langsung menusuk hidung Barno. Liana kemudian duduk di sisi lain dan saling berhadapan dengan Barno.


"Wangi sekali. Aku jamin, ini masakan enak se-Rt, bahkan se-RW."


"Kepala kau itu se-Rt, se-RW," ucap Liana tersenyum lebar, tau kalau Barno sedang menggodanya.


Terlihat betapa Barno begitu lahap menyantap makanannya. Tebakannya sangat tepat, masakan Liana memang sangat lezat.


"Sumpah! ini aku nggak bohong. Masakan kau benar-benar sangat enak, Lia," puji Barno yang menambah lauk pauk.

__ADS_1


"Kalau begitu, makan yang benar, jangan ngobrol terus." Liana pun menyibukkan diri untuk mengisi perutnya.


Setelah selesai makan, mereka berdua duduk santai di ruang tengah untuk menyaksikan siaran televisi. Liana menghubunginya Butet dan bertanya tentang kapan kepulangan gadis itu. Barno mendekatkan kupingnya untuk mendengar percakapan dua gadis itu.


"Benarkan apa yang aku bilang. Dia pulang beberapa hari lagi. Jadi malam ini kau menginap saja di sini lagi."


"Nggak mau!" tolak Liana.


"Nggak mau, atau nggak mau," goda Barno dengan penekanan intonasi yang tidak lazim.


Cukup lama tidak pulang kampung, teman-teman sebayanya tidak berada di desa, semuanya telah pergi merantau, bahkan sudah ada yang menikah, tapi tidak tinggal di desa ini. Beberapa hari di desa Butet hanya ditemani oleh Barno bermain, jalan-jalan. Akan tetapi pemuda itu sudah kembali ke kota.


Bukan saja hanya kebosanan, Butet juga merasa khawatir tentang Barno yang sendirian di sana. Ia sangat paham tentang tabiat sepupunya itu yang terkadang suka malas-malasan.


"Lebih baik aku kembali besok pagi. Aku bisa mati kebosanan di sini," batin Butet dan langsung beranjak dari tempat tidurnya.

__ADS_1


Pergi untuk menemui ayah dan ibu, untuk menyampaikan kalau besok pagi ia akan pulang ke kota.


Matahari mulai terbenam.


Setelah selesai makan malam, Barno dan Liana masuk kedalam kamar untuk istirahat. Tubuh mereka begitu lelah melewati hari dengan penuh pergulatan tubuh yang begitu menggebu. Enam kali mereka melakukannya hari ini, dan tidak terkira berapa banyak tenaga yang telah terkuras.


Dalam satu ranjang mereka terlelap dalam satu pelukan, wajah mereka terlihat berseri dalam tidur, tapi tidak menampik ada raut kelelahan. Berjuta kenikmatan telah direguk bersama tanpa ada batasan di antara mereka. 


Hingga sang fajar datang Liana terbangun. Saat mata terbuka pertama kali, wajah Barno menjadi pemandangan pertama. Liana tersenyum melihat Barno yang tidur begitu lelap.


Mencium sebentar kening Barno, dan bibir pemuda itu dengan cepat. Lalu beranjak dari tempat tidur. Liana segera memasak untuk membuat sarapan. Tumis kangkung, ikan goreng menjadi menu pilihannya.


Setelah semua selesai, Liana pergi ke kamar untuk membangunkan Barno, tapi saat ia berbalik, pemuda itu sudah berdiri di belakangnya dengan senyum terbaik.


💦💦💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2