
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
"Lia, maafkan aku!"
Barno terus meminta maaf sepanjang jalan, tapi yang ia dapatkan hanya kebisuan dari sepupunya itu. Hingga sampai ke kosan Liana, Barno hanya bisa diam berdiri di depan pintu setelah Liana masuk dan menutup pintu dengan kasar.
Teringat kejadian waktu yang lalu ketika ia datang ke kosan Liana, dan menggedor pintu dengan keras, membuat para penghuni kos lain menjadi marah. Tidak ingin kejadian itu terulang lagi, Barno mengetuk dan memanggil Liana dengan suara pelan.
Sampai tenggorokan Bank terasa kering memanggil Liana terus menerus, tapi tidak ada sahutan sama sekali. Akhirnya Barno putus asa dan memutuskan untuk pulang.
Liana yang duduk di balik pintu dengan lutut ditekuk untuk menyembunyikan wajahnya, mulai terisak setelah tidak ada lagi terdengar suara Barno. Sejak awal setelah menutup pintu, Liana sudah menangis, tapi ia mehana suara isakannya supaya Barno tidak mendengar.
"Dasar baji Ngan!" Liana menumpahkan amarahnya dengan melontarkan sepatunya dengan sembarang.
Sedangkan di bawah gelapnya malam, Barno berjalan dengan gontai dan wajah tertunduk lesu. Dia begitu menyesal, tapi penyesalannya bukan karena telah mengeluarkan kata-kata yang telah menyakiti perasaan Liana, melainkan karena satu hal.
"Aghhhh, sial! Kalau begini aku tidak bisa lagi menyentuhnya. Padahal aku ingin melakukan posisi baru yang aku ketahui." Barno menumpahkan kekesalannya dengan menendang angin.
Sesampainya di rumah, Butet menyambutnya dengan wajah bengis. Tidak ada kelembutan di wajah gadis itu. Barno sadar betul apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Apa kalian bertengkar lagi? Apa yang telah kau lakukan padanya? Jawab aku."
__ADS_1
"Aku ngantuk, aku mau tidur."
Tidak ada niat Barno untuk menjawab, itu hanya akan menambah kegaduhan saja. Dia langsung menuju kamar dan membutakan Butet terus mengomel.
.
.
.
.
Empat hari sudah berlalu sejak pertengkaran Barno dan Liana, Gadis itu tidak pernah datang lagi mengunjungi rumah kontrakannya. Barno bukannya tinggal diam, dia sudah beberapa kali menghubungi Liana melalui telepon, tapi tidak pernah diangkat.
"Udah beres semua. Kau tenang saja." Barno mendengus sembari terus memperhatikan ponselnya.
Sudah hampir ratusan pesan ia kirim kepada Liana, tapi sampai sekarang tidak ada satupun balasan yang ia terima. Hal itu membuat Barno benar-benar merasa tidak putus asa. Tidak tau lagi bagaimana cara menghubungi Liana.
Wajah Barno seketika cerah ketika pintu depan terbuka, dan seorang muncul dari sana. Sosok yang selama beberapa hari ini membuat kepalanya pusing, dan membuat perasaan berkecamuk.
"Lia!"
__ADS_1
Barno langsung berdiri dengan wajah ceria, tapi Liana begitu cuek dan bahkan memalingkan wajahnya dari tatapan Barno. Hal itu membuat wajah Barno kembali kusam.
"Hmmm, dia sepertinya masih marah padaku."
"Apa Pentin sudah datang?" tanya Liana kepada Butet.
"Pentin … dia datang ke sini?" sambung Barno mendengar pertanyaan Liana.
"Iya, aku menyuruh datang ke sini. Kita kan mau pergi ke Bali, jadi aku juga mengajaknya," tutur Butet.
Beberapa saat kemudian, Pentin sudah datang. Liana segera menyambut hadis itu dengan pelukan hangat.
"Aku sangat merindukanmu." ujar Liana.
Barno juga datang menghampiri untuk menyambut, tapi pentin langsung menyodorkan tasnya kepada Barno.
"Bantu aku bawa ke kamar Kak Butet," pinta Pentin dengan senyum manis. Tentu cara tersebut harus ia lakukan supaya Barno dengan rela hati menuruti keinginannya. Dengan begitu ia bisa langsung mengobrol bebas dengan Liana dan juga Butet.
Satu harian ketiga gadis itu bercengkrama membahas semua hal. Pokok pembicaraan pada umumnya gadis-gadis remaja, mulai dari membahas artis favorit, makanan, fasion dan berbagai macam hal lainnya, sampai pada gosip tentang Barno di masalalu.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️