
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Ketika senja telah datang, Liana berpamitan pulang kepada Pentin dan Butet. Dia tidak ada niat untuk bermalam di rumah sepupunya itu, alasannya hanya karena belum siap dengan keberadaan Barno. Tentu hal tersebut tidak disampaikannya kepada mereka.
"Aku pulang dulu, ya."
"Loh, kau nggak nginap di sini?" tanya Butet.
"Iya, nginap di sini aja. Aku kan baru datang," sambung Pentin.
"Lain kali aja, ya. Ada urusan yang mau aku selesaikan lebih dulu." Liana mengelak ajakan Butet dan Pentin.
"Ya sudahlah kalau gitu. Bar, sana kau antar si Lia pulang."
Barno beranjak dari tempat duduknya, tapi melihat tatapan Liana yang begitu tajam, Barno jadi ragu untuk mendekat. Akhirnya hanya melihat saja ketika Liana keluar dari rumah.
"Loh, kenapa nggak kau antar?" tanya Butet ketika Barno hanya diam berdiri.
Tidak menjawab pertanyaan Butet, Barno langsung pergi menuju kamarnya. Ketika itu, Pentin memperhatikan sikap Barno dengan pandangan lain, ia tidak tau apa yang terjadi diantara kedua sepupunya itu.
Di Dalam kamar Barno berbaring, dia begitu gelisah ketika mengingat tatapan Liana tadi. Akan tetapi rasa bersalah tidak lebih besar dari hasrat dan kerinduannya kepada Liana untuk melakukan penyatuan tubuh.
__ADS_1
Terus berpikir bagaimana caranya untuk kembali mengulang kehangatan yang lalu, mengingat betapa sekarang Liana terasa jauh dari jangkauannya. Sekarang ia hanya bisa menghela napas di dalam kebingungan, dan hanya bisa menunggu kemarahan Liana mereda dengan sendirinya.
.
.
.
.
.
Pagi hari ketika selesai sarapan, Butet memberi tau Barno kalau Pentin akan kuliah di universitas yang sama dengannya setelah lulus nanti.
"Iya. Makanya aku minta sama kau, antar dia jalan-jalan nanti untuk melihat universitas kau," pinta Butet.
"Hahaha, Universitas aku memang cukup bagus. Jika semua berjalan lancar, berarti kau bakalan jadi juniorku." Barno tersenyum senang.
"Walaupun aku nanti junior kau, tapi kau jangan jadi songong sama aku. Ya udah, buruan siap-siap, antar aku ke kampus kau sekarang," ujar Pentin dengan wajah dingin.
Sikap dingin Pentin bukan hal baru bagi Barno, sikap itu telah melekat cukup kuat pada karakter gadis itu. Walaupun begitu, sikap dingin Pentin tidak mempengaruhi hubungan mereka.
__ADS_1
Setelah Barno mengganti pakaian, dia pun menemani Pentin untuk memperkenalkan seluk beluk kampusnya. Terlihat betapa Pentin sangat antusias mendengarkan Barno menjelaskan setiap lingkungan kampus.
"Bagaimana? Apa kau suka dengan kampus ini?" tanya Barno.
"Tidak buruk," jawab Pentin singkat.
Setelah semua lingkungan kampus dijelajahi, Barno mengajak Pentin kesebuah taman kota untuk sekedar bersantai. Mereka duduk di bawah sebuah pohon yang terdapat kursi panjang sambil menikmati ice crem.
Suasana taman kota cukup ramai karena hari libur. Banyak para pemuda dan pemudi datang berkunjung, baik secara kelompok maupun berpasangan.
"Jadi, apa kau akan mendaftar di kampus kami?" tanya Barno disela-sela menimati ice cremnya.
"Aku masih belum tau. Aku masih mempertimbangkan Universitas yang lain."
Seorang wanita cantik dengan mata bulat wajah oval, kulit putih mulus, rambut panjang tergerai lewat di hadapan mereka. Barno tidak fokus mendengar perkataan Pentin, melainkan kepada sosok gadis cantik tersebut.
Barno begitu terpukau dengan kecantikan gadis tersebut, apalagi ketika melihat bentuk tubuhnya, otak Barno mulai eror dan mulai membayangkan hal-hal mesum.
Di samping Barno, Pentin memperhatikan tingkahnya, dan hanya bisa menggelengkan kepala dan membuat asumsi sendiri.
"Aku yakin, kau tidak pernah berpacaran, ya?"
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️💓💓