
💦💦💦💦💦
Barno hanya pasrah dan membiarkan Liana mandi sendiri, walau ia sangat ingin mandi bersama dengan sepupunya itu. Bayangan untuk saling membersihkan diri di dalam kamar mandi, hanya menjadi bayangan belaka tanpa bisa terwujud, tapi Barno yakin akan tiba saatnya hal itu terjadi.
Masih dalam keadaan tanpa sehelai benang, Barno keluar kamar untuk mengambil air minum. Tidak ada yang ditakutkannya berjalan bebas di dalam rumah, Barno merasa bebas, bahkan saat dia duduk di depan televisi.
"Woi anak monyet! Pakai baju kau," maki Liana yang sudah selesai mandi dan melihat Barno menonton di ruang tengah tanpa sehelai benang.
Barno hanya cengengesan, pancaran matanya begitu tajam melihat Liana yang hanya berlilitkan handuk, membuat gadis itu sedikit mengernyit melihat cara Barno mendapatnya. Liana tau kalau Barno akan segera menekannya.
"Jangan coba-coba melakukan apa yang kau pikirkan. Aku baru saja siap mandi," ancam Liana sebelum Barno mulai bergerak.
"Iya, santai saja. Aku hanya kagum dengan kecantikan kau itu, kau terlihat … hmmm, sudahlah!" Barno kembali menyaksikan siaran televisi.
Akan tetapi Liana hanya berdiri dengan ekspresi bingung, teringat kalau ia tidak membawa pakaian ganti, sedangkan pakaian ia pakai tadi telah kotor oleh keringat dan sedikit bau apek. Tidak mungkin ia memakai pakaian itu lagi.
Dari sudut mata, Barno melihat Liana berdiri seperti orang kebingungan.
__ADS_1
"Jangan salahkan aku kalau kau masih di situ berdiri. Terus terang, aku pasti akan tergoda."
"Pakaianku sudah kotor, dan aku nggak bawa pakaian ganti. Ini semua salah kau karena menipuku," ucap Liana dengan lesu.
"Maksudmu?" tanya Barno, lalu beranjak menghampiri Liana. "Berarti kalau aku berterus terang ketika mengirim pesan kepadamu. Apa kau siap datang dengan membawa pakaian ganti?"
Hanya dengan satu tarikan, tubuh Liana sudah masuk kedalam pelukan Barno. Liana menjatuhkan matanya supaya tidak melihat tatapan Barno yang penuh ke mesum—an. Namun, jatuhnya mata Liana ke bawah malah membuat jantungnya kembali berdetak kencang.
Barno yang melihat mata Liana sedikit melotot ke bawah, ia pun mengikuti arah pandang tersebut. Barno tersenyum tipis setelah mengetahui penyebab Liana sedikit melotot, ia pun menggerakkan pinggulnya sehingga batangnya yang layu bergerak ngangguk-ngangguk.
"Jangan marah gitu dong, Lia. Aku hanya bercanda," ujar Barno cepat ketika melihat wajah Liana yang berubah kusut.
"Cepat ambil baju kau yang cocok untukku," pinta Liana dengan nada sedikit tinggi.
Walaupun Liana sudah menyetujui hubungan yang tidak lazim itu, tapi ia tidak ingin jika Barno malah semakin menjadi-jadi dan tidak tau waktu.
"Hmmm, ayo ikut aku. Sepertinya baju Butet ada cocok untuk kau pakai."
__ADS_1
Argon menarik tangan sepupunya itu, tapi Liana menahan.
"Tapi nggak enak memakai barang orang tanpa ijin. Nanti si Butet malah marah sama aku."
"Udah, tenang aja. Dia pulang paling cepat tiga hari lagi. Dia nggak bakalan tau kalau bajunya kau pakai," ujar Barno membujuk.
Tidak ada pilihan, Liana mengikuti Barno memasuki kamar Butet. Barno Mengambil kaos oblong dan celana pendek ketat dari lemari Butet dan memberikannya kepada Liana.
"Pakai ini aja."
Liana menerima pakaian tersebut. "Berbalik."
"Berbalik apanya?" tanya Barno tidak mengerti.
"Aku mau pakai baju. Berbalik dan jangan lihat!" Bibir Liana manyun, tidak senang melihat cara Barno tersenyum kepadanyaÂ
💦💦💦💦💦💦💦
__ADS_1