
💦💦💦💦💦💦
Dengan cepat Barno memberikan alasan. "Aku habis bersih-bersih. Takutnya kau pulang mendadak dan melihat rumah berantakan. Terus terang, aku nggak suka kau mengomel terus."
Hanya menggeleng kepala, Butet pun pergi menuju kamarnya. Bersamaan itu Barno juga ke kamarnya untuk menyuruh Liana keluar.
"Cepat, dia udah masuk ke kamarnya," ujar Barno.
Sepatu masih di tangan, Liana keluar kamar dengan mata liar, memperhatikan sekitarnya mana tau Butet tiba-tiba muncul. Dengan langkah jinjit Liana menuju pintu keluar, sedangkan Barno teringat dengan pakaian dan celana day lam Butet yang kotor. Tidak ingin jika Butet sampai kecarian nantinya. Barno segera masuk kamar untuk mengambil pakaian tersebut untuk di cuci.
"Kalau sampai dia menyadari pakaiannya itu hilang, pasti dia berpikir aku yang menggunakannya untuk bahan pemuas. Ahhh, ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus segera mencucinya."
Setelah mengambil pakaian Butet yang dikenakan Liana beberapa hari ini, Barno segera menuju kamar mandi. Namun, ia kaget mendengar suara Butet menyebut nama Liana.
"Lia, ternyata kau di sini."
Segera Barno meletakkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci, lalu pergi ke ruang depan untuk melihat apa yang terjadi. Benar saja, Ia melihat Butet berdiri di depan Liana.
"Mampus aku." Barno mengeluh dalam hati melihat wajah Liana sedikit kacau.
"Bagaimana bisa kau tau kalau aku pulang sekarang. Ayo masuk," ujar Butet dengan wajah senang.
__ADS_1
Prasangka terbalik.
Semua itu karena sebuah posisi yang terlihat lazim. Ketika Butet muncul, Liana sedang jongkok memasang sepatu sambil membelakangi pintu. Oleh sebab itu, Butet menyangka kalau Liana baru saja datang untuk berkunjung.
"Oh, ya … aku … aku…."Â
Barno dan Liana tidak menyangka dengan apa yang mereka dengar, tapi Barno merasa lega menyadari kenyataan yang ada. Namun, ketika melihat Liana sedikit gugup, Barno pun angkat bicara.
"Oh, aku yang memanggil Liana ke sini. Aku bosan makan mie instan melulu, jadi aku memanggilnya ke sini untuk memasak," ucap Barno cepat.
Butet menoleh kebelakang, dan melihat Barno berjalan menghampiri mereka.
"Kau selalu saja merepotkan orang, apa kau nggak bisa kalau cuman menggoreng ikan saja. Sampai kapan kau seperti ini, kau itu sudah besar."
Mengabaikan Barno yang memasang wajah pura-pura bersalah, Butet langsung menggandeng tangan Liana untuk kembali masuk.
"Aku sangat senang melihatmu lagi, padahal aku tadi ingin menelponmu juga. Nggak taunya kau datang ke sini. Kau akan tidur di sini kan malam ini?" ujar Butet dengan sebuah pertanyaan.
.
.
__ADS_1
.
.
Malam telah datang, setelah makan malam mereka bertiga duduk di rumah tengah sambil menonton siaran televisi. Kedua gadis itu sibuk menyaksikan film telenovela. Sedangkan Barno yang tidak suka siaran tersebut, menyibukkan diri membaca kandungan gizi yang tertulis di setiap bungkusan cemilan yang mereka makan.
"Film ini sangat bagus, aku suka aktornya, brewoknya itu bikin aku geli," ujar Butet tersenyum lebar.
"Jadi, kau suka pria dengan model yang kayak gitu?" tanya Liana.
"Nggak juga, sih."
"Tapi film ini memang benar sangat bagus, apalagi suasananya selalu penuh dengan keromantisan. Hanya saja, menurutku intrik dalam rumah tangga terlalu berlebihan." Lagian memberikan argumen tentang film yang mereka tonton.
"Sial. Aku bisa mati membosankan di sini. Mereka cuma asik dengan sendirinya,"Â keluh Barno dalam hati.
Mendengar obrolan yang membosankan itu, Barno beranjak meninggalkan ke dua gadis tersebut. Ia memutuskan untuk ke kamar. Itu lebih baik baginya.
"Aku duluan tidur, ya," ucap Barno pamit.
Lagian melihat punggung Barno yang pergi meninggalkan mereka, sedangkan Butet hanya diam, dan tetap serius menyimak film yang mereka tonton.
__ADS_1
💦💦💦💦