DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 57


__ADS_3

πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


Matahari masih bersembunyi, tapi sinarnya masih sudah mulai menyebar dan menerangi. Barno yang bermimpi dimarahi Liana dan pergi meninggalkannya, terbangun dan langsung menyebut nama sepupunya itu. Ia langsung bergegas pergi ke kamar Butet, memastikan kalau Liana belum pulang, tapi yang ia cari tidak ada di kamar.


"Lia … Lia … Lia …." Barno menutup pintu kamar, dan menuju dapur sembari terus memanggil


"Pagi-pagi kenapa kau ribut sekali?" ujar Liana yang sedang mencuci piring di wastafel.


Mendengar suara Liana, Barno merasa sangat senang, ia langsung menghampiri dan memeluk Liana dari belakang.


"Saat aku tadi membuka mata, aku kira kau sudah pergi, rupanya kau masih di sini. Aku benar-benar senang."


Kilatan cahaya kebahagiaan terpancar di mata Liana ketika mendengar ucapan Barno. Merasa kalau pemuda itu sudah membutuhkannya, tapi Liana belum yakin apakah kata-kata itu tafsiran dari sebuah cinta.


"Kau mau makan apa? Biar aku masakin,"


Tersenyum senang, Barno menggoyang tubuh Liana dalam pelukannya.Β 

__ADS_1


"Selain racun, apapun yang kau masak akan aku makan," ujar Barno.


Lagi-lagi ucapan Barno membuat hati Liana berbunga-bunga, ia mencium pipi Barno yang bersandar di bahunya.


Menerima relasi seperti itu dari Liana, tangan Barno langsung mereβ€” mas kedua phasyudhara Lain dengan lembut. Barno sedikit kaget menyentuh organ kenyal itu.


"Hei, kau nggak pakai b –ra, ya?"


"Anu … Itu … hmmm. Aku memang terbiasa tidak memakinya jika di rumah," ucap Liana asal.


Memang kebiasaan Liana tidak memakai kacamata dada jika di kosan, itu karena ia merasa sendiri, tapi ini berbeda dimana ada Barno bersamanya.


Saat Liana hendak memakai celemek tersebut, Barno menghentikannya. "Tunggu Lia, maksudku kau hanya memakai itu saja tanpa ada yang lain. Aku selalu berimajinasi melihat kau seperti itu."


Liana menghela napas. "Sepertinya kau sudah terkontaminasi dengan novel-novel dewasa." Liana melempar celemek tersebut ke wajah Barno sambil membentak. "Ide mesum macam apa yang ada di otak kau itu."


"Baiklah, tapi biarkan aku menikmati ini dulu," ucap Barno yang kembali memeluk Liana dari belakang, diiringi rema –san di phasyudhara.

__ADS_1


"Aghh! Apa yang kau lakukan. Aku mau masak? Aghhhhhhhh!"


Desa –han panjang terdengar dari mulut Liana, ketika tangan Barno masuk kedalam celana dan menyentuh bibir kecil di bawah sana. Barno tidak peduli dengan Liana yang hendak memasak sarapan untuk mereka, karena sarapan sebenarnya yang diinginkan Barno adalah tubuh sepupunya itu.


"Ahhhh, Bar, apa kau memang sangat ingin melakukannya?"


"Ya, aku sangat ingin memanjakanmu dalam kenikmatan." Jawaban Barno bertolak belakang dengan kenyataan, ia berniat memanjakan Liana, tapi sebenarnya dirinyalah yang sudah ter-ujung.


Tidak mau berlama-lama, segera Barno melepaskan celana Liana, selanjutnya celananya sendiri. Wastafel sebagai pegangan, Liana membungkuk membelakangi Barno. Permainan selanjutnya pun terjadi dengan menggebu-gebu.


"Aghhh, ayo cepat! Aku sudah lapar," ucap Liana ketika batang Barno masuk ke dalam tubuhnya dari bagian bawah.


Hanya butuh dua menit, Barno mencapai puncaknya, begitu juga dengan Liana. Walau singkat, tapi permainan tersebut mampu membuat mereka terpuaskan.Β 


Olah raga pagi di ganti dengan permainan panas. Cukup bagus karena mengeluarkan keringat yang banyak.


"Dasar otak mesum," ucap Liana dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Walau diejek seperti itu, Barno hanya tersenyum senang dan menyusul Liana ke kamar mandi. Tidak ada terjadi adegan panas di dalam kamar mandi, mereka berdua hanya saling membersihkan diri, dan saling bantu mengusap punggung untuk mengeluarkan Daki.


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


__ADS_2