
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Setelah kamarnya selesai dibersihkan. Barno melanjutkan untuk membersihkan ruang tengah, dan kemudian kamar mandi. Barno cukup telaten mengerjakan tugasnya, sehingga tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan semua.
Barno duduk di meja dapur, setelah membuat teh manis untuk dirinya sendiri. Rasa lelah telah membuatnya sedikit haus.
"Banyak sekali kau masaknya? Apa ada tamu?" tanya Barno setelah melihat beberapa menu sudah terhidang di meja makan.
Biasanya Butet hanya memasak dua menu saja untuk mereka, dan itu pun porsinya tidak banyak, tapi karena Liana datang untuk menemaninya seharian di dalam rumah. Butet memasak cukup banyak.
"Iya, karena sekarang hari libur,Aku memanggil Liana ke sini. Bentar lagi dia bakalan datang."
"Oh, Liana bakalan datang?"
Butet mengangguk, tapi tidak menoleh ke arah Barno, ia sedang menuangkan gula ikan kedalam sebuah mangkuk kaca, dan kemudian meletakkan di atas meja makan.
"Apa pekerjaan kau sudah siap?" tanya Butet.
"Beres! Semuanya udah kinclong. Bahkan tempat berak pun sudah aku sikat sampai bersih," jawab Barno.
__ADS_1
Ketika mereka sedang asik berbincang, Liana muncul.
"Pas sekali kamu datang tepat waktu. Aku baru siap memasak. Ayo kita makan dulu, pasti kau belum sarapan, kan. Ayo duduk di sini." Butet melirik bangku kosong yang ada di sampingnya, tepat berada di di depan Barno.
Liana meletakkan tasnya di sisi meja makan. Mereka bertiga pun sarapan dengan wajah ceria. Sesekali Butet dan Liana mengobrol ringan, sedangkan Barno hanya diam dan menikmati hidangan.
"Makanannya sangat enak. Kau memang Koko handal. Kenapa kau nggak mendaftar aja di lomba masakan, aku yakin kau akan menang dengan mudah," puji Liana dengan tulus.
"Jelas masakan Butet enak. Dari kecil dia hobi memasak, tapi rasanya ini jauh berbeda dari masakan sebelum-sebelumnya." sambung Barno yang sejak tadi hanya diam.
"Ini resep yang aku dapat setelah menonton siaran acara tata boga di televisi. Ini resep khas masakan Bali."
"Libur panjang sekitar tiga minggu lagi, bagaimana kalau kita liburan ke sana?" usul Butet dan disambut ceria oleh Liana.
"Kita berdua?" tanya Liana kemudian.
"Boleh juga," ucap Butet, lalu ia melirik ke arah Barno. "Apa kau mau ikut juga, Bar. Kan lumayan ada tukang angkat barang." Butet tersenyum tipis.
"Boleh juga, Barno kan perkasa … eh. Maksudnya kuat." Lagian langsung meralat perkataan setelah menyadari kalau kata yang baru diucapkannya ada terasa aneh.
__ADS_1
"Apa kita benar-benar pergi. Seumur hidup aku belum pernah naik pesawat, pasti ini sangat menyenangkan."
Wajah Barno terlihat senang, ia tidak peduli jika menjadi tukang angkut barang mereka, asalkan dia bisa naik pesawat. Bayangan para turis yang ber bi –kini sudah melayang-layang dalam benaknya. Matanya akan segera di manjakan oleh kesaksian para kaum hawa.
"Membayangkannya saja aku sudah senang. Hmmm…. Aku jadi tidak sabar lagi," ujar Barno lagi, tersenyum lebar hingga giginya kelihatan.
"Kalau begitu aku akan mempersiapkan semuanya dalam tiga minggu ini. Kita akan pergi Bali." ujar Butet setelah meneguk air putih.
Setelah selesai makan, Butet merapikan meja makan, Pring dan gelas kotor ia kumpulkan dan meletakkan di wastafel untuk di cuci kemudian.
"Biar aku aja nanti yang nyucinya," kata Liana yang melihat Butet mencuci piring.
"Nggak apa-apa. Aku lebih suka bentak mengerjakan sesuatu."
"Bar, bantu sana. Jangan tau makannya aja." Liana memainkan matanya sebagai tanda perintah.
"Aku bukan budak. Lagian aku juga sudah melakukan pekerjaanku untuk membersihkan rumah," kilah Barno lalu beranjak meninggalkan meja makan.
💦💦💦💦💦💦💦💦
__ADS_1