Di Paksa Menikahi CEO

Di Paksa Menikahi CEO
Amarah di gedung MK


__ADS_3

Setelah bicara pada Keyla, Martin segera mengalihkan pandangannya menatap kearah para pekerjanya yang kini sudah mulai berdiri dari posisi duduknya. Martin tak terima jika sampai mereka tak dihukum karna kesalahan mereka telah melukai harga diri Istri kecilnya, Martin memang baik terhadap istrinya tapi tidak dengan para pekerjanya mungkin saja para pekerja itu sudah kabur terbirit-birit jika tidak mengingat gaji di perusahaan MK GROUP yang begitu besar.


Pak Hen masih tetap pada posisinya dibelakang Merlin, Pak Hen sangat mengetahui sifat majikanya hingga walaupun Hendro mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh Keyla, dia tak bergeming sedikitpun dari posisinya berdiri. Ternyata yang Hendro fikirkan memanglah benar Martin tidak terima jika orang yang telah merendahkan istrinya dibebaskan begitu saja.


"Diam diposisi kalian berdiri! Berani melangkah sedikit. Habis kalian semua!" Ancam Martin dengan alis hampir menyatuh. Setelah mendengar ucapan Martin, semua orang yang tadinya hendak membubarkan diri tiba tiba terdiam kaku di posisi mereka. Semua orang berdiri bagaikan patung hidup, tak ada yang berani meninggalkan tempat mereka masing masing bahkan. Wajah kebahagian akhibat ucapan Keyla yang membebaskan hukuman mereka, wajah itu kini kembali menjadi pucat pasih dan terlihat keringat dingin mulai menetes pelan dari kening mereka, itu adalah keringat dingin akhibat rasa takut mereka yang terlalu berlebih-lebihan.


Pyarr!


Suara Meja kaca yang dilempar dengan vas bunga, Seketika meja yang terbuat dari kaca itu langsung berubah menjadi serpihan kecil dan terburai kelantai. Suara meja kaca yang hancur itu memecahkan kesunyian dalam gedung, meja kaca yang harganya tidaklah murah itu pecah menjadi serpihan. Keyla masih diam diposisi nya berdiri karna Keyla paham jika Martin sangat murka saat mengetahui dirinya diremehkan oleh orang lain.

__ADS_1


Tak ada satupun dari mereka yang berani mengangkat pandangannya, jantung mereka berdegup tak beraturan, Mereka semua hanya bisa pasrah dan menerima nasib mereka terlihat air mata para pekerja wanita itu mulai menetes, mereka tak berani bersuara hingga harus mengigit bibir bawah mereka masing masing agar tak menagis dengan sesenguka. Jangankan untuk menangis dengan suara bahkan mereka pun harus bersusah payah bernafas tanpa menimbulkan suara. Jam dinding menunjukkan pukul 12.00 itu adalah jam istirahat para pegawai kantor bahkan security penjaga gedung itupun tak berani membunyikan bel istirahat karna mereka takut terkena amarah Martin juga. Hingga para security itu memilih aman untuk tetap berada di pos penjagaan dan tak membunyikan bel istirahat.


Krukk krukk krukk!


Bunyi perut para pekerja, dan perut Keyla juga mulai berbunyi. Martin masih sibuk dengan emosinya padahal orang yang sedang dia khawatirkan merasa baik baik saja. Keyla tidaklah marah dengan para pekerja suaminya tapi Keyla marah dengan Martin yang diam diam masih berhubungan dengan mantan kekasihnya dibelakang Keyla.


Menyapu seisi ruangan itu dengan sorot mata tajam, "Hari ini tidak ada jam istirahat! Jangan ada yang bergerak dari posisi kalian sekarang. Sampai aku menyuruh kalian pergi!" Perintah Martin. Apa yang diucapkan Martin adalah hukum di kantor itu semua orang hanya bisa menerima keputusan Martin dengan terpaksa dari pada mereka harus dipecat masal dari kantor itu. Karna jika sampai mereka semua di pecat dari perusahaan sebesar MK GROUP. Maka tidak akan ada perusahaan di kota tersebut yang berani memperkerjakan mereka.


_ _ _ _

__ADS_1


Beberapa saat kemudian ada beberapa pria datang membawa banyak bungkusan makanan. Semua bodyguard Martin menghalangi mereka masuk namun karna salah satu pria yang membawa makanan menelfon Keyla hingga bodyguard Martin pun dengan terpaksa mengijinkan mereka semua masuk dengan membawa banyak makanan.


Martin yang masih marah marah tiba tiba terdiam dan kaget karna para pengawalnya membiarkan orang lain masuk kedalam gedungnya.


Keyla masih duduk di sofa dengan begitu santainya. Pak Hendro yang mengetahuinya pun segera menghentikan langkah orang yang membawa banyak makanan itu.


"Diam di sana!" Perintah Hendro sembari melangkah menuju kearah para pelayan restoran itu. "baru kali pertama ada kejadian yang diluar kendali ku! Dan untuk pertama kalinya para pengawal mengijinkan sembarang orang masuk kedalam gedung, apalagi saat ini CEO sedang marah besar." gumam Hendro dalam hati yang merasa heran akan kecerobohan para pengawalnya.


Para pelayan restoran yang tadi membawa bungkusan makanan itu hanya bisa diam ditempat mereka dan tanpa berbicara karna semua orang yang ada di kota tersebut sudah tau akan kekejaman Martin dan asistennya yang tidak memiliki ampun jika sedang menghukum orang. Keyla yang mengetahui jika para pelayan itu sedang dalam bahaya segera menarik tubuhnya dari sofa dan Keyla berjalan pelan menghampiri Pak Hendro.

__ADS_1


Menghentikan langkahnya persis dihadapan Hendro, dan setelah melihat Keyla ada dihadapannya Pak Hen segera membungkukkan badannya. "Pak Hendro, saya yang menyuruhnya masuk!" setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Keyla Hendro segera mengalihkan pandangannya menatap kearah Martin yang masih berdiri ditengah ruangan itu.


Martin menatap Hendro balik sembari menganggukkan kepalanya pelan.


__ADS_2