
Wanita itu hanya bisa menundukkan pandangannya, dan terlihat air mata mulai menetes dari pelupuk matanya, "Tunggu." ucapnya dengan suara bergetar, saat melihat Martin hendak melangkah pergi. Pria itupun segera menghentikan langkahnya dan menatap kembali kearah mantan kekasihnya itu. "Kenapa kamu bisa tau semua kejadian di toko ini?" ucap Kiren sembari menangis tersedu-sedu. wanita itu menatap Martin dengan pandangan sendu. ingin sekali dia mendekap tubuh yang sudah lama dia rindukan tapi itu semua sudah tidak mungkin lagi.
Dua orang yang pernah menghabiskan waktu bersama itu kini seperti orang asing yang tak saling mengenal, Kiren sangat mencintai Martin tapi tidak dengan pria dingin dan arogan itu, Pria itu bahkan terlihat sangat membencinya dan ingin sekali menyingkirkan mantan kekasihnya itu. Kiren masih diam menunggu jawaban Martin.
"Ha ha ha!" Martin tersenyum disaat yang tidaklah tepat, Pria iku memang tersenyum namun senyumannya seperti nada ancaman. "Aku selalu menyuruh orang untuk memantau apa saja yang Istriku lakukan! Bahkan saat dia berada di mall inipun penjagaku selalu mengikutinya dari segala penjuru arah." selesai bicara Martin segera melangkah pergi, dan Pak Hen mengikuti langkahnya dari belakang. bodyguard Martin segera menutup mall tersebut untuk sementara waktu, karna Martin masih belum merasa cukup balas dendam hingga dia melampiaskan amarahnya pada semua orang.
Mall megah Tersebut sangatlah ramai setiap harinya, dan penutupan sementara mall tersebut pasti akan membuat pertanyaan besar dikalangan para bangsawan yang ada di kota tersebut, tapi apalah arti mall terbesar bagi orang kaya seperti Martin. Bahkan Mall Tersebut adalah salah satu mall yang Martin miliki. Pria itu jarang sekali tampil di depan awak media tapi kekayaannya sudah tersebar dimana-mana.
Wanita itu menangis dengan keras dia bahkan menjerit-jerit seperti orang gila! Sangat jelas terlihat rasa sakit dan kecewa yang dialaminya dia bahkan tak henti-hentinya mengutuk dirinya sendiri. Karna kebodohannya lah yang membiarkan bisnisnya hancur didepan matanya sendiri. Toko yang sangat indah dan mewah itu kini hanyalah tingal kenangan bahkan perhiasan yang tadinya dijadikan incaran para bangsawan kota itupun tergeletak dilantai bercampur dengan serpihan kaca etalase toko tersebut.
Kesombongan wanita cantik itupun hilang seketika, wajah cantiknya perlahan mulai pudar karna makeup tebal yang tadi membalut wajahnya itu kini luntur karna terkena hujan air mata. Matanya menyapu seisi ruangan yang terlihat porak poranda itu, air mata mengalir semakin deras nya seperti air yang jatuh dari tebing yang sangat tinggi.
"Usaha yang aku rintis dari nol ternyata hancur dalam hitungan detik saja, jika aku tau sejak awal gadis bodoh itu adalah istri Martin maka aku tidak akan menggangu ya! Awalnya Martin datang ke toko ini untuk memesan kalung, saat itu aku merasa bahagia dan seakan seperti terbang keawan, karn aku mengira Martin akan memberikan perhiasan tersebut untukku! Tapi tak disangka kalau justru sebaliknya, berlian langkah tersebut hendak dia berikan pada istrinya. Untuk saat ini aku mengaku kalah tapi aku akan balas dendam kepada gadis ****** itu." Gumam-gumam kecil sembari mengepalkan jari-jari tangannya dengan sangat erat.
sangat jelas terlihat jika dia sedang menyimpan dendam yang g
begitu besar,
Wanita itu berdiri perlahan dari posisi duduknya dan dia merasakan kakinya yang mulai mati rasa. Wanita yang sedang bernasib sial itu berjalan perlahan dia melihat tokonya hancur lebur bahkan tak ada yang tersisa lagi.
Tak ad satu orangpun yang berani membantunya, entah bagaimana nasib para pelayannya tadi. di mall yang terlihat mewah tersebut seakan menjadi tempat yang tak akan pernah dia lupakan, wanita itu kelaut dari toko dan dilihatnya penjaga Martin masih menatapnya tatapan daftar, wanita itu terus berjalan dan pulang kerumahnya untuk membereskan barang-barangnya.
_ _ _ _
__ADS_1
Kediaman Martin Kwang.
Resni masih duduk sembari menatap kearah Keyla yang masih tertidur, setelah diberi dokter obat tidur, gadis itu masih akan tertidur sampai beberapa jam kedepan. Resni duduk disamping ranjang sahabatnya itu. Tak lama kemudian pintu kamar itu mulai terbuka, Resni segera membuang pandanganya menatap kearah pintu yang perlahan mulai terbuka lebar itu. Dilihatnya Martin dan sekretarisnya sudah ada di sana,
Resni berdiri dari posisi duduknya, gadis kecil itu segera membungkukkan badannya dihadapan suami temannya itu, "Kak maafkan aku yang tidak bisa menjaga Keyla." ucap gadis itu dengan suara sangat lirih dan sangat terlihat jelas kesedihan yang terpancar dari raut wajahnya. jika dilihat dari caranya bicara dia sangatlah menyesal karna kecerobohannya hampir saja mencelakai sahabat baiknya itu.
"Pulanglah! Biar Keyla aku yang jaga." Ucap Martin dengan tak menoleh.
Martin tak menghukum sahabat baik istrinya tersebut. Karna Martin tau jika Resni juga sangat menyayangi Keyla. Tanpa membantah Resni langsung mengiyakan ucapan Martin barusan.
Resni pulang diantar oleh bodyguard Martin. Dia sempat menoleh ke belakang melihat sahabatnya baiknya itu sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan kamar Keyla. Pak Hendro masih berdiri dibelakang majikanya itu dengan mata tak bergeming menatap kearah nona mudanya.
Martin berjalan mendekati Keyla, dia mendudukkan tubuhnya pelan disamping istrinya.
"Hen! Kenapa Keyla masih belum bangun juga? Apakah dokter itu salah memberikannya obat!" Tanya Martin dengan tak menoleh. Pria itu menatap istrinya dengan wajah cemas.
"Bagaimana jika dia tidak bangun? Bukankah seharusnya dia sudah bangun." Martin masih melontarkan pertanyaan-pertanyaan bodohnya, pria itu tak pernah terlihat bodoh sebelumnya namun saat melihat orang yang disayangi belum juga bangun dari tidurnya. Entah mengapa pria itu merasa gelisah yang berlebihan seakan sang istri sedang sakit parah.
Kumohon tuan muda, hentikan sikap konyol mu ini! Bukankah sangat bahaya jika orang lain melihatnya! Nona muda hanya kelelahan saja tapi kenapa kau bertingkat seakan nona muda sedang ada didalam masa kritis. gumam dalam hati.
"Jawab! kenapa dia belum bangun?" Teriak Martin sembari menoleh kasar kearah asistennya itu. Martin semakin geram karena Hendro tak juga membalas pertanyaannya tadi!
"Sebentar lagi nona muda akan bangun, Tuan Muda!" Sahut Hen sembari tersenyum kecil.
__ADS_1
amarah Martin hampir meledak menatap Hen dengan memasang wajah jutek, *Jika kamu berani berbohong. Maka kamu yang akan menggantikannya tidur, tapi tidak usah bangun lagi!" ucap Martin dengan suara lantang. wajah Hen pias seketika setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Martin.
Jika Keyla melihat wajah asisten Martin yang pucat, Gadis kecil itu pasti tertawa terpingkal-pingkal dan merasa puas karna sejak awal bertemu dengan Pak Hendro Keyla tak pernah melihatnya tersenyum ataupun merasa kebingungan! Pria itu selalu memasang wajah datar seperti tam memiliki selera humor atau mungkin Pak Hen juga tak memiliki perasaan. itu kata-kata yang sering diucapkan nona mudanya itu.
Karna merasa berisik, Keyla perlahan membuka matanya, dilihatnya Martin sedang marah. Menatap dengan wajah datar, "Bisakah kalian diam!" ucap gadis itu dengan nada suara sangatlah lirih. Bibirnya bengkak dan sudut bibirnya terluka hingga gadis itu tidak bisa membuka mulutnya lebar-lebar. matanya merah bengkak, dan pipinya pun masih meninggalkan bekas merah,
"Pulanglah!" ucap Martin.
Setelah mendengar perintah majikannya itu Hendro segera membungkukkan badannya, "Semoga nona muda cepat sembuh." ucap Hen dan kemudian berlalu pergi.
Setelah pintu kamar tersebut tertutup, Martin segera memeluk lembut tubuh kurus Istrinya itu. Tangis Keyla pecah saat mendapatkan perlakuan lembut suaminya, bahkan Keyla tak menjaga jaraknya lagi pada Martin dia merasa nyaman dan merasa lebih tenang lagi setelah mendapatkan pelukan suaminya itu.
"Kak, bagaimana aku bisa dirumah dan dimana Resni?" ucap Keyla lirih dengan mata berkaca-kaca. Mata gadis itu menyapu seisi kamarnya namun masih tak melihat Resni dimana-mana. Raut wajah Keyla berubah menjadi khawatir dan menatap Martin penuh tanda tanya.
"Jangan pikirkan apapun, semua masalahnya sudah beres tadi Papa Resni datang dan membereskan semuanya," ucap Martin mencoba menenangkan hati istrinya itu.
"Kak maafkan aku, aku sungguh bodoh karna mencoba kalung berlian itu padahal aku tidak mampu membelinya," ucap Keyla dengan tangis tersedu-sedu. Martt menyeka pelan air mata istri kecilnya itu.
"Sudahlah kelak aku akan memberikanmu berlian paling mahal yang ada di dunia ini!" ucap Martin sembari tersenyum lembut. Dan mengecup pipi Keyla.
Aku tau kak semua ucapamu hanyalah kebohongan belaka tapi entah mengapa aku ingin sekali mempercayainya. Tapi ada yang aneh kenapa orang tua Resni bisa membayar harga berlian yang harganya sangatlah mahal itu, sedangkan orang tua Resni memiliki usaha yang tidak cukup sukses! Sudahlah aku tidak mau berpikir lebih jauh lagi yang penting masalah ini kan sudah selesai. gumam Keyla dalam hati sembari tersenyum kecil karna bibirnya masih terasa nyeri.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR YA. AGAR SAYA LEBIH SEMAKIN SEMANGAT LAGI UNTUK UPDATE TERATUR ☺️☺️☺️
__ADS_1
SERTA TINGALKAN KRITIK DAN JUGA SARAN. SELAMAT KRITIK DAN JUGA SARAN MASIH DALAM BATAS WAJAR DAN SOPAN MAKA SAYA SANGAT MENGAPRESIASI 😊😊
KLIK FOTO SAYA DAN IKUTI AKUN MANGATOON SAYA. SERTA BACA NOVEL SAYA YANG LAINNYA TERIMAKASIH.