
Gadis itu menangis tersedu-sedu, dia masih duduk dilantai yang dingin, tangisannya semakin menjadi-jadi saat mengetahui Martin melarangnya untuk meneruskan pendidikan!
"Aku harus bagaimana? Aku tidak boleh menyerah pada keadaan begitu saja, ini hidupku dan aku harus memperjuangkannya!" Gumam-gumam kecil sembari perlahan berdiri dari posisi duduknya.
Gadis itu terlihat menyeka air mata yang jatuh bergantian dikedua pipi putihnya, matanya terlihat bengkak karena terlalu lama menangis, ketika dia hendak melangkah terdengar suara orang yang baru saja membuatnya menitihkan air mata. Martin berdiri dihadapannya dengan alis menyatuh.
Terlihat senyum sinis di bibirnya sembari menaruh tangannya di perut. "Jangan manja! Aku sangat lapar, cepat buatkan aku makanan !"
"Aku harus membuat apa? Aku sama sekali tidak pernah memasak." Jawab Keyla dengan suara lirih
"Mulai hari ini belajarlah memasak! Pergilah ke dapur, di sana banyak bahan mentah yang bisa kamu masak!" Perintah Martin sembari melangkah pergi meninggalkan Keyla yang masih menatap punggungnya yang perlahan mulai menjauh darinya.
Keyla perlahan mulai berjalan mengarahkan kakinya kearah dapur. Dilihatnya dapur yang bercat putih, peralatan didapur itu sangatlah lengkap, Keyla masuk kedalam dapur dan membuka pintu kulkas. Dilihatnya isi dari kulkas tersebut sangatlah lengkap. Ada sayur, ikan dan aneka macam buah-buahan. Keyla diam menatap isi kulkas itu. Dia Sangatlah bingung, apa yang akan dia masak. Sedangkan dirinya tidak pernah diajari memasak sama sekali! Akhirnya setelah lama berdiri didepan kulkas dia memilih mengambil bungkusan berisikan ikan mentah.
"Menghela nafas panjang, aku tidak bisa memasak sama sekali." Ucap nya sembari melihat ikan dihadapannya itu. "Tapi jika hanya menggoreng ikan, itu hal yang sangatlah mudah." Ucapannya terdengar penuh percaya diri. Dia terlebih dulu membersihkan ikannya sebelum mulai memasaknya.
__ADS_1
Gadis itu mengambil alat penggorengan dan menaruhnya di atas kompor listrik, dia ambil minyak dan menaruhnya kedalam wadah penggorengan itu, setelah minyak dirasa cukup. Gadis itu segera menyalakan kompor listriknya, disaat minyak sudah mendidih dia melempar ikan itu dari jarak yang agak jauh hingga minyak panas itu mengenai kedua tangannya."Auch! Panas." Gadis itu berteriak dengan begitu keras dan wajahnya meringis kesakitan. Dia meniup tangannya yang terkena minyak panas dengan sangat perlahan. Dan mulai berjalan menuju meja makan sembari masih meniup tangannya yang mulai terasa terbakar.
Sedangkan Martin yang sedang duduk diruang tamu segera menutup laptopnya setelah mendengar teriakkan Keyla yang begitu lantang. "Apa yang dilakukan rubah kecil ini? Bikin kegaduhan saja." Ucap Martin sembari melangkah menuju dapur. dilihatnya Keyla duduk di meja makan sembari meniup pelan kedua tangannya yang mulai terlihat memerah karena terkena minyak yang mendidih.
Martin mengalihkan pandangannya dan menatap kearah kompor yang masih menyala, dia melangkah mendekati kompor listrik tersebut, dilihatnya ikan yang sudah berubah menjadi hitam alias gosong, karna Keyla sibuk meniup tangannya hingga lupa membalik posisi ikan tersebut. Dengan alis menyatuh, Martin melangkah mendekati Keyla dengan wajah merah padam karna terlalu emosi.
Tentu saja dia sangatlah marah karna Keyla hampir saja menghancurkan dapurnya, lebih parahnya lagi Keyla tidak bisa menggoreng ikan dan hampir saja membakar dapur tersebut karna kecerobohannya.
"Apa kamu mencoba membakar dapur ku! hah!" Ucap Martin sembari melangkah mendekati Keyla yang sudah berdiri dihadapannya,"Jawab!" ucap Martin untt yang kedua kalinya dengan wajah berapi-api.
Martin berjalan semakin mendekatinya dan mencubit pelan dagunya hingga Keyla terpaksa menatap wajah Martin dari jarak yang sangatlah dekat, hingga gadis itu bisa merasakan hembusan nafas suaminya. Mata Martin semakin menajam seperti pedang yang hendak ditancapkan ke jantung musuhnya. seperti itu kira-kira arti dari sorot mata Martin.
Dengan mata berkaca-kaca Keyla membuka mulutnya perlahan,"Maafkan saya Kak,"Ucapanya terdengar lirih dan sangatlah terlihat jelas diraut wajahnya jika dia sedang mencoba menahan rasa sakitnya.
"Apakah kamu hanya bisa membakar dapur ku! Jawab?" Ucap Martin sembari mencubit dagu Keyla lebih keras.
__ADS_1
"Saya sungguh tidak sengaja kak! Mulai sekarang saya akan belajar memasak." Sahut Keyla sembari mengigit bibir bawahnya, karna merasakan rasa panas ditangannya
"Pergilah!" Perintah Martin sembari melepaskan jari tangannya dari dagu Keyla dengan kasar.
Ketika Keyla hendak membersihkan dapur, Martin menatap kearah tangan putih Keyla yang terlihat merah, Martin segera menghampirinya. "Coba aku lihat tanganmu!" Keyla diam dan segera menyembunyikan tangannya dibelakang punggungnya agar Martin tak bisa melihat luka bakar dikedua tangannya.
"Saya tidak papa! Aku akan segera membersihkan dapur ini." Sahutnya dengan suara putus-putus. Jelas terlihat jika wajah Keyla sangatlah ketakutan, hingga tubuhnya kembali gemetaran.
Martin semakin geram, rahangnya mulai mengeras. Dia langsung mengambil paksa tangan Keyla yang disembunyikan dibelakang punggung ya. Sedangkan Keyla hanya bisa pasrah dan semakin menundukkan pandangannya. Hatinya campur aduk dia bingung mau melarikan diri tapi tidak mungkin, jika dia tetap diam pria dihadapannya itu bisa melakukan apa saja.
Apa yang harus aku lakukan jika dia sampai melihat tanganku apakah dia akan memarahiku atau yang lebih buruknya lagi dia akan memukul ku! Papa, Mama! Bantu aku untuk lepas dari iblis yang berwujud manusia ini. Hiks. . hiks. .
Alis Martin seketika menyatu setelah melihat tangan Keyla yang melepuh akhibat terkena minyak panas."Kemari ikut denganku!" Ucap Martin dengan tatapan dingin seperti gumpalan es di kutub Utara. Martin menarik lengan Keyla dengan kasar.
"Kak mau kemana kita?" Tanya Keyla sembari melangkah mengikuti kaki Martin keluar dari dapur.
__ADS_1
"Tentu saja memotong tanganmu!" Suaranya terdengar penuh penekanan dan tatapannya sungguh menakutkan dan membuat wajah Keyla pucat pias setelah mendengar ucapan yang dilontarkan Martin barusan.