Di Paksa Menikahi CEO

Di Paksa Menikahi CEO
Posesif part 2


__ADS_3

"Kak kumohon longgarkan sedikit gengaman tanganmu," ucap Keyla dengan meringis kesakitan mencoba menahan rasa sakit di lengannya. Sedangkan Sinta lebih dulu turun dari tangga dan melangkah memasuki dapur. Sedangkan Jordan keluar rumah lebih dulu.


Martin melonggarkan gengaman tangannya, dia melihat kulit putih Keyla berubah menjadi agak kemerahan karna gengaman tangannya tadi. "Maaf kan aku sayang, karna ambisi ku untuk menjagamu dan tanpa aku sadari aku malah menyakitimu, sayang." ucap Martin dengan raut wajah merasa bersalah.


Tersenyum kecil, "Sudah kak aku tau itu kau hanya tidak ingin jika aku sampai jatuh karna merasa pusingkan, Ayo kita duduk di teras rumah bersama Papa." Ajak Keyla sembari menyungingkan senyumannya.


Selesai bicara Martin segera memapahnya keluar rumah menuju Gasebo yang ada di halaman rumah mereka. Tak lama kemudian Sinta datang membawa camilan dan minuman untuk mereka semua dan mereka berbincang-bincang untuk waktu yang lama. Sampai siang hari udaranya mulai terasa panas namun angin masih berhembus sepoi-sepoi memainkan rambut panjang Keyla, Sinta menyuruh Keyla masuk kedalam kamar untuk beristirahat sedangkan Sinta masuk kedapur untuk menyiapkan makan siang. Jordan sibuk memainkan laptopnya di ruang tamu. Semua orang sibuk kecuali Martin yang kurang kerjaan dan malah sibuk ceramah ini dan itu disamping Keyla.


Martin membaca buku panduan ibu hamil disamping Keyla, dia seperti sedang mendongeng untuk anak kecil! Sampai akhirnya Keyla mulai tidak tahan dengan celotehan suaminya itu dan mulai marah lagi Karna kepalanya merasa sangat pusing pantaslah dia merasa pusing karna sudah hampir 2 jam lamanya Martin berceramah didekat telinganya.

__ADS_1


"Kumohon diam, Kak!" Perintah Keyla sembari menyatuhkan tangannya didepan wajahnya. Wajah Keyla sudah tidak terlihat pucat namun tubuhnya masih sangat lemas.


Menaruh buku panduan ibu hamil di atas nakas yang ada disamping ranjangnya, "Sayang apa kamu mual lagi? Apakah butuh sesuatu akan aku ambilkan," tanya Martin dengan wajah terlihat bersungguh-sungguh karna Martin suami siaga, siap antar jaga jadi dia harus siap melayani istrinya yang sedang berbadan dua.


Apa ini! Dia sama sekali tak menyadarinya jika dia dari tadi bicara ini dan itu tanpa hentinya. Padahal aku sudah tau semua yang dia bicarakan karna Mama sudah memberitahuku tadi. Hei suamiku kau tidak perlu seposesif itu karna aku tidak akan pernah membiarkan hal buruk sampai melukai calon bayi kita. Kau bertingkah seolah-olah hanya kau saja yang menghawatirkan tentang calon anak kita yang sekarang sedang tumbuh sehat dalam rahimku. Begitu kira-kira arti dari kekesalan Keyla barusan.


"Kak, kau tidak perlu repot-repot membaca buku itu," ucap Keyla sembari melirik kearah buku yang tergeletak di atas nakas. "Mama sudah memberitahuku semua," sambung Keyla sembari bermanja-manja di dada bidang suaminya.


"Baiklah Kak, Asal kau bisa merasa tenang jika aku ikut denganmu."

__ADS_1


"Aku pasti tidak akan merasa bosan selama di kantor jika istriku tercinta ada di sana," Martin bicara dengan jujur. Walaupun banyak wanita cantik yang berkeliaran dihadapannya dan tak jarang para wanita itu mencoba menarik perhatiannya namun Martin tak memiliki ketertarikan sedikitpun pada mereka. Karna hati dan pikiran Martin sudah ditawan oleh istrinya tercinta.


"Jika kau berani dekat-dekat dengan wanita ganjen yang ada di sekelilingmu, maka aku akan sangat marah!" Ancam Keyla sembari menarik kepalanya dari dada bidang suaminya. Keyla menatap Martin dengan mata berkaca-kaca menandakan jika Keyla tak rela jika melihat suaminya tercinta dekat dengan wanita selain dirinya.


Meraih kepala Keyla lembut dan mendekapnya dengan mesrah," Kamu tenang saja sayang! Hal seperti itu tidak akan pernah terjadi."


_ _ _ _


Jeni sedang berbelanja di mall yang ada di kota B. Jeni terlihat sangat bahagia, Jeni mulai memasuki satu butik langganannya yang ada didalam mall tersebut. Jeni memilih beberapa macam baju yang menurutnya cocok saat dikenakan. Jeni berjalan menuju kasir. Namun ketika Jeni hendak mengeluarkan dompet dari dalam tasnya suara seorang pria mulai menghentikan niatnya.

__ADS_1


Jeni membuang pandangannya ke asal suara tersebut ya itu adalah Dikra yang tak lain ialah mantan tunangannya. Atau paling tepatnya pria itu yang pernah membuat Jeni depresi dan hampir saja mengakhiri hidupnya karna merasa frustasi. Dikra meninggalkan Jeni saat tanggal pernikahan mereka sudah sangatlah dekat dan Jeni sudah sangat mencintai Dikra hingga bisa menerima pembatalan pernikahannya sehingga dia mengalami tekanan mental yang sangatlah berat dan hampir membuatnya kehilangan akal sehatnya.


Jeni sudah mulai melupakan Dikra dan pria itu kini muncul kembali dikehidupa ya. Entah apa yang akan Jeni lakukan setelah melihat Dikra kini berada disampingnya dan tanpa rasa bersalah pria itu menyapanya dan mencoba membayar baju yang telah Jeni beli.


__ADS_2