
Menyeka air mata yang jatuh dikedua pipinya dengan telapak tangannya, "Aku tau sejak awal Mom tidak pernah merestui hubungan kita! Tapi aku tak mengira jika dia malah menjodohkan mu dengan wanita lain saat hari pernikahan kita telah sangat dekat dan semua persiapan yang hampir sempurna itu dengan sekejap terasa tak berguna, apakah kamu tau Dikra, aku hampir saja mengakhiri hidupku dan aku sampai mengalami depresi karna tidak bisa menerima kepergian mu yang secara tiba-tiba. Kau menghilang bagaikan ditelan bumi." Isak tangis Jeni mulai terdengar lagi.
Ya tidaklah mudah bagi Jeni untuk menerima penderita seperti itu. Beberapa orang yang ada didalam restoran itu menatap kearah mereka, namun Jeni dan Dikra tak memperdulikan tatapan orang-orang yang ada didalam restoran tersebut.
Meraih bahu Jeni dan memeluknya dengan sangatlah lembut, "Mom sudah tiada dan aku sudah memutuskan pertunangan itu! Bisakah kau kembali padaku?" Tanya Dikra dengan masih mendekap tubuh kurus Jeni.
perlahan melepaskan pelukan Dikra, Menyeka air mata yang kembali jatuh di pipinya. "Tidak semudah itu untuk kembali menerimamu Dikra, Tapi aku akan memaafkan mu jika kau membantuku untuk kembali ke Irlandia!" Jeni mengajukan syarat pada Dikra.
__ADS_1
"Tentu saja kita bisa pergi sekarang jika kau mau?" Tanya Dikra yang belum mengetahui jika Jeni dalam pengawasan ketat anak buah Martin yang ada di kota tersebut.
Bahkan saat berbelanja pun banyak pengawal Martin yang mengikuti setiap langkah Jeni, para pengawal itu memakai baju serba hitam lengkap dengan kaca mata hitam. Mereka semua tersebar di setiap sudut hingga tidak ada cela untuk Jeni bisa kabur dari pandangan mereka semua. Ya Jeni Tau jika dia tak akan bisa lolos dari para pengawal Martin hingga dia membutuhkan bantuan dari Dikra.
"Lihatlah para pria yang memakai baju serba hitam yang ada diluar restoran tersebut," Ucap Jeni sembari mengarahkan pandangannya menatap dinding restoran yang terbuat dari kaca itu. "mereka semua menjagaku agar tidak bisa kembali ke Irlandia." Tegas Jeni sembari menatap Dikra dengan mata yang masih belum kering.
Dikra menatap kearah yang dilihat oleh Jeni ada sepuluh pengawal lebih yang menjaga pintu masuk restoran tersebut. Mengalihkan pandangannya menatap kearah Jeni. "Aku tetap akan membantumu tapi bisakah kau memberikanku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita?" Tanya Dikra sembari memegang kedua tangan Jeni.
__ADS_1
Pria itu pasti tak mengurangi jika Jeni akan begitu muda memaafkan kesalahannya dan lebih lagi Dikra memang sangat mencintai Jeni bahkan selama berpisah dengan Jeni Dikra selalu memikirkan wanita yang kini sedang ada dalam dekapannya itu. Tapi karna rasa baktinya pada ibundanya lah yang membuat Dikra mengesampingkan kepentingan pribadinya demi kebahagiaan ibunya.
Para pengawal itu melirik kearah orang yang sedang berpelukan itu, dan salah satu pengawal tak lupa memotret adegan langkah itu karna selama Jeni diluar kota dia tak pernah sama sekali berhubungan dengan teman pria kecuali hanya membahas urusan bisnis saja.
"Aku akan membantumu pulang ke Irlandia, tapi tunggu waktu yang tepat. Dan aku ingin bertemu dengan kedua orang tuamu untuk meminta maaf atas kesalahan terbesarku dimasa lalu.
"Baiklah," ucap Jeni singkat sembari menyeruput kopi yang sudah Dikra pesan tadi. Ya kopi panas itu kini berubah menjadi dingin. Namun Jeni yang merasa sangat haus segera meminumnya sampai tetes terakhir begitu pula dengan Dikra. Para pengawal itu masih memperhatikan apa saja yang dilakukan oleh Jeni dengan pria yang belum diketahui namanya itu. Namun salah satu pengawal mulai mencari tau siapa sebenarnya pria yang sedang bicara dengan begitu akrab dengan Jeni.
__ADS_1
Hahaha! Kasian juga ya para pengawal itu mereka hanya bisa mengikuti Jeni kesana-kemari setiap harinya bahkan aku sangat penasaran berapa gaji mereka satu bulannya. Hingga mereka mengikuti Jeni tanpa rasa lapar ataupun lelah atau paling tepatnya mereka belum pernah terlihat makan ataupun minum.
VOTE YANG BANYAK YA.