Di Paksa Menikahi CEO

Di Paksa Menikahi CEO
Menginap.


__ADS_3

Jordan menyatuhkan alisnya melihat Keyla yang sudah makan lebih dulu. Keyla memang paling tak tahan jika perutnya itu terus-menerus berbunyi, beruntung gadis itu tidak sampai menghabiskan semua makanan yang ada di meja makan tersebut. Sejak kecil Keyla memang selalu memiliki porsi makan yang banyak jadi tak heran jika sampai dewasa kebiasaan buruk itu masih melekat pada dirinya.


Menatap anak bungsunya itu dengan wajah berapi-api, "Key! Kenapa makan mendahului suamimu!" bentak Jordan dengan menyatuhkan alisnya, Sinta hanya bisa diam karna anaknya itu memang keterlaluan. Dia masih belum bisa merubah sifat buruknya itu. Namun masih bisa dimaklumi karna Keyla masih butuh belajar beradaptasi dengan pernikahannya.


Tapi jika melihat usia Keyla yang masih duduk dibangku sekolah memang sangatlah wajar jika sikap Keyla masih kekanak-kanakan. Apa lagi Keyla menikah karna terpaksa, dengan orang yang dia benci pula! Mungkin setelah dewasa Keyla akan berubah jadi gadis jelita yang memiliki sikap anggun seperti kakaknya jeni.


Gadis itu melotot karna mendengar teriakkan Papanya, dia bahkan sempat memasukkan satu sendok terakhir kedalam mulutnya sebelum akhirnya berdiri dari posisi duduknya, gadis itu masih mengunyah makanan yang ada didalam mulutnya, sebelum akhirnya dia bersembunyi dibalik punggung suaminya untuk mencari perlindungan. Key takut melihat sorot mata Jordan yang menatapnya dengan alis hampir menyatuh.


Mencubit pelan punggung Martin, "Kak, bantu aku, kumohon," ucapnya sembari membenamkan wajahnya di punggung suaminya itu. Tubuh gadis itu terlihat gemetaran setelah mendengar teriakkan Jordan yang lantang.


"Huh! Jika dalam keadaan genting kau baru mengingat aku suamimu," cetus Martin dengan suara terdengar kesal dengan sikap Istrinya itu. "Menghela nafas panjang, aku akan membantumu tapi kamu harus menuruti setiap perkataan ku!" ucap Martin pelan sembari menoleh kearah Keyla yang masih bersembunyi dibalik punggungnya! Martin tak menyia-nyiakan kesempatan emas yang ada didepan matanya itu. bahkan senyuman devil mulai tersirat dibibir manisnya itu.


Mengigit punggung Martin pelan, "Baiklah tapi hanya satu permintaan saja," sahut Keyla yang masih bersembunyi dibalik punggung suaminya itu.


Dengan terpaksa Martin mengiyakan permintaan istrinya itu, "Sudah jangan diperpanjang ayo kita makan saja!" ucap Martin seperti biasa Jordan hanya bisa menuruti permintaan menantunya itu. Tanpa merasa keberatan sedikitpun, Jordan langsung duduk dimeja makan dan mereka semua makan bersama dengan tenang.


diruang makan tersebut tak ada satu orangpun yang berbicara hingga hanya terdengar suara garpu dan sendok yang saling bersentuhan. Keyla menuangkan air putih di gelas kosong yang ada dihadapan Martin. Gadis itu bahkan sempat tersenyum manis pada Martin mungkin dia merasa berterimakasih karna Martin menyelamatkannya dari amarah sang ayah, yang hendak meledak itu karna sikapnya yang masih tidaklah berubah.


Keyla duduk kembali kursinya yang ada disamping suaminya dia menatap Martin dengan pandangan kosong.

__ADS_1


Kok aneh sekali ya, tidak biasanya Papa mau tunduk dengan Perintah seseorang tapi kok kali ini, dia bisa dengan mudahnya menuruti keinginan kak Martin. Sebenarnya siapa orang yang aku nikahi ini? Jika dilihat dari caranya berpakaian, semua yang dia pakai selalu barang yang bermerek dan harganyapun pasti sangatlah mahal, seperti ada yang Papa dan Mama sembunyikan tentang identitas kak Martin.


"Kamu sedang lihat aku makan sayang?" Ucap Martin dengan menyentil pelan jidat Keyla. Pria itu menatap kearah Keyla sedari tadi, karna Keyla sedang bengong hingga dia tak menyadarinya.


Menggoyangkan kepalanya sebelum bicara, "Tentu saja tidak!" balasnya dengan membuang pandangannya. Terlihat rona merah di pipi putih Keyla.


Jelas-jelas dia tadi sedang melihatku, masih mau mengelak. Dasar rubah kecil.


Jordan dan Sinta segera menatap Keyla dengan tersenyum kecil. kedua orangtuanya tau jika sejak tadi Keyla menatap Martin dengan wajah bengong seperti sedang memikirkan sesuatu. Amarah Jordan juga kelihatan sudah mereda. Bahkan Sinta sangat bahagia melihat kemesraan mereka berdua menurutnya.


Kedua orangtuanya tak tau jika Martin juga sering bersikap kasar pada putrinya itu, Martin selalu bersikap manis dan perhatian jika ada dihadapan kedua orangtua Keyla hingga mereka mengira Keyla merasa bahagia dengan pernikahannya itu.


menyandarkan punggungnya ke kursi, "Mama berhentilah menggodaku," rengek ya dengan manja sembari melipat tangannya diperut.


Martin menahan senyumnya, seperti sedang memikirkan sesuatu. Pria itu bahkan terlihat sangat tampan jika sering tersenyum, jika dilihat dari raut wajahnya Martin seperti menyukai istri kecilnya itu. Gadis kecil yang polos sepertinya bisa menaklukkan binatang buas seperti Martin Kwang itu sungguh mukjizat.


_ _ _ _


Ruang kerja Jordan.

__ADS_1


Martin duduk dengan menyilang kakinya, Jordan duduk di sofa tepat dihadapan Martin, wajah mereka terlihat serius. Tak ada canda tawa di wajah keduanya bahkan ruangan tersebut terlihat sangatlah suram karna terkena aurah gelap dari sorot mata mereka. ruangan tersebut terlihat sunyi karna keduanya masih saja diam. Hingga beberapa saat kemudian suara Martin memecahkan kesunyian dalam ruangan tersebut.


"Bagaimana kabar Jeni?" Martin bicara sembari menyeruput kopi yang ada di cangkirnya.


"Dia meminta pulang karena merindukan adiknya, Keyla. Bahkan dia juga bertanya berkali-kali kenapa Keyla tidak pernah mengabarinya!" Ucap Jordan dengan wajah tanpa senyum.


"Tahan Jeni di sana! Jangan biarkan dia pulang, jika sampai dia pulang, maka kalian akan menanggung akhirnya!" Ancam Martin sembari berdiri dari posisi duduknya.


Jordan juga ikut berdiri dan segera membungkukkan tubuhnya sembari berkata, "Anda tidak Uda khawatir tuan," Ucapanya terdengar bersungguh-sungguh. Tapi tak dapat di pungkiri jika raut wajah khawatir masih tersirat di wajah pria paruh baya itu.


_ _ _


Sinta dan Keyla sedang berbincang-bincang di ruangan tamu, terdengar gelak tawa diantara keduanya dan Keyla terlihat sangatlah bahagia karna bisa bersama orangtuanya. Gadis itu bermanja-manja dengan menaruh kepalanya dipangkuan Sinta,


"Sayang, bagaimana dengan sikap kak Martin terhadapmu?" Tanya Sinta dengan membelai lembut rambut putrinya itu. Sedangkan Keyla masih tetap tiduran sembari memainkan ponselnya.


Keyla beralih menatap Sinta dengan menyungingkan senyumannya, "Kak Martin pinta sekali memasak Ma, bahkan aku makan sampai habis dua piring penuh nasi! Masakannya juga sangatlah lezat seperti masakan Mama," Ujar Keyla, tanpa sadar Keyla sedang memuji-muji masakan suaminya itu bahkan jika dilihat dari caranya bicara, rasa benci Keyla sedikit berkurang tak seperti awal Keyla bertemu Martin. "Ma, bagaimana kabar kak Jeni?" tanya Keyla sembari beranjak duduk.


Sinta segera menundukkan pandangannya setelah mendengar pertanyaan yang Keyla lontarkan.

__ADS_1


__ADS_2