Di Paksa Menikahi CEO

Di Paksa Menikahi CEO
Ikut ke kantor.


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan oleh Pak Hendro sudah sampai dihalaman parkir MK GROUP.


Setelah mesin mobil dimatikan Pak Hen segera turun dari mobil.


Membungkukkan badannya sembari membuka pintu mobil. "Silahkan Tuan muda." Ujar Pak Hen sembari kembali menarik badannya dan berdiri dengan tegak lagi.


Martin berjalan dan ganti membukakan pintu mobil untuk istri manjanya itu.


Semua orang yang ada didalam kantor itu menatap halaman perusahaan. Ya pastilah mereka terheran-heran melihat pemandangan yang menakjubkan itu. Karna baru kali pertama mereka melihat sang CEO membukakan pintu mobil untuk seorang wanita atau paling tepatnya itu adalah istrinya. Jika mengingat kejadian yang lalu, ini adalah hal kecil yang Martin lakukan namun tetap saja para wanita yang mengagumi sang CEO itu tak hentinya merasa iri pada nyonya Presdir kecil sang penakluk hati CEO itu.


Hei kawan lihatlah, CEO sangatlah tampan dan dia benar-benar cowok idaman ku.


Hei bodoh! Jangan berani membayangkannya, tapi jika kau ingin ditendang secara tidak hormat dari perusahaan ini terserah saja! Sahut wanita lain yang sedang menatap kearah CEO dengan berdecak kagum.


Ya Siapa yang tak kagum dengan wajahnya yang tampan, tubuhnya yang kekar dan juga sikapnya yang romantis sungguh membuat orang merinding sekaligus heran dengan sikap romantis yang ditujukan olehnya pada sang istri. Semua wanita yang ada didalam kerumunan besar itu sampai tak bisa berhenti menatap adegan romantis di pagi hari itu. Bahkan adegan itu lebih romantis dari pada yang ada di vilem.


Martin mengandeng tangan Keyla, "Sayang hati-hati!" Ucap Martin dengan suara setengah membentak saat Keyla hampir terjatuh karna tersandung batu kerikil.


Segera berjalan cepat menghampiri Keyla dan Martin, "Nona muda apa anda tidak papa?" Tanya Pak Hen dengan wajah kelihatan khawatir.

__ADS_1


Menatap dengan geram, "Dia hampir terjatuh! Apa kau tidak lihat!" Ujar Martin sembari kembali memalingkan wajahnya menatap kearah Keyla. Martin melihat ada batu kecil kira-kira seperti dua jari yang disatukan jadi satu yang ada disamping sepatu Keyla. Kembali menatap kearah Hen, "Cepat bereskan tempat ini! Tidak akan ada kejadian untuk yang kedua kalinya!" Ujar Martin dengan emosi tertahan.


Membungkukkan badannya, "Baik Tuan muda." Sahutnya dengan masih menundukkan pandangannya.


"Sudahlah sayang aku tidak apa-apa kan?"


"Bagaimana jika kau terjatuh? Sayang apa kau benar-benar baik-baik saja, apa perlu aku panggilkan dokter?"


Mulai merasa kesal dengan sikap berlebihan suaminya, "Jangan bercanda Kak, aku baik-baik saja! Kenapa sedikit-sedikit harus pangil dokter!" sahutnya dengan wajah mulai merajuk lagi.


ah sialll! Dia mulai merajuk lagi, "Sayang jangan marah, aku tidak akan memanggil dokter!"


Karna takut Keyla terjatuh Martin segera mengendong istrinya itu, masuk kedalam perusahaannya semua orang tak hentinya menatap kearah mereka sembari sesekali menyapa sang CEO. Walaupun Martin tidak mengubris sapaan mereka namun tetap saja masih banyak orang yang mencoba menegurnya. Masuk kedalam lift sembari masih mengendong Keyla.


"Turunkan aku Kak, aku mohon," Rengek Keyla sembari memasang wajah sedih.


"Berjanjilah kau akan berhati-hati jika berjalan?"


"Baik!" Sahut Keyla singkat. Dengan perlahan Martin mulai menurunkan Keyla dalam gendongannya. Pintu lift terbuka dan Martin mengandeng istrinya masuk kedalam ruangannya sedangkan Pak Hen masih seperti bisa dia mengekor dari belakang karna tak memiliki peran untuk bicara.

__ADS_1


Pak Hen membuka kamar pribadi CEO, "Silahkan Nona muda." Ujar Pak Hen mempersilahkan Keyla melihat kamar barunya.


Keyla bersama Martin sudah masuk kedalam kamar tersebut. Mata Keyla seakan tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya kamar itu berwarna merah dengan banyak Boneka kelinci berwarna pink di atas ranjangnya. Keyla hendak berlari menuju ranjang. Martin yang mengetahuinya segera mengangkat kera baju istrinya itu.


Menatap dengan tatapan sinis, "Kau lupa, sekarang kau sedang hamil!" Ucapan Martin memang terdengar sangat lembut tapi tetap saja ada nada peringatan yang sangatlah jelas terlihat dari mimik wajahnya yang seketika menjadi sedingin es.


"Eheheh, maaf aku lupa." Jawab Keyla cengengesan.


"Keterlaluan!" Maki Martin sembari membuang pandangannya. "Istirahatlah aku akan berkerja dengan Pak Hen di sebelah." Ujar Martin sembari mengecup kening Keyla dan melangkah pergi.


Keyla melangkah menuju kulkas yang ada didalam sudut ruangan tersebut dia membuka pintu kulkas itu. Dilihatnya banyak buah-buahan segar dengan banyak jus juga yang mengisi kulkas besar tersebut. Keyla mengambil apel dan juga jeruk kemudian dia duduk duduk di sofa yang ada dibawah ranjangnya.


Martin sudah duduk di kursi Presdir dengan setumpuk berkas di atas mejanya. Pak Hen datang menghampirinya.


"Tuan muda, apakah anda akan mengajak Nona muda kekantor setiap harinya?"


Menutup berkas yang sedang dibacanya, "Tentu saja! Karna Jeni bisa saja datang menemuinya kapan saja! Keyla akan lebih aman jika terus ada di dekatku." Ucap Martin yang tak ingin jika hal buruk sampai menyentuh istri kesayangannya.


Martin jelas mengetahui jika Jeni sudah berencana kembali ke Irlandia.

__ADS_1


__ADS_2