
Malam hari dirumah Martin Kwang.
"Sayang malam ini kau mau makan apa?" Tanya Martin sembari melingkarkan tangannya di pundak Keyla. Agar istri kesayangannya itu tidak sampai jatuh karna mereka sedang menuruni anak tangga rumahnya.
"Kak Martin, aku tiba-tiba ingin makan steak daging! Apakah dagingnya masih ada di kulkas ya," Ucap Keyla sembari mencoba mengingat-ingat apakah bahan yang dia butuhkan itu masih tersimpan di sana.
"Masih ada, sayang apakah kau sudah mulai pikun!" Goda Martin sembari melirik kearah istrinya itu.
"Jangan bercanda Kak, aku hanya lupa saja!" Cetus Keyla dengan bibir manyun ya.
"Sudahlah duduklah di sini, aku akan membuat steak daging yang lezat untukmu!" Ujar Martin sembari menarik salah satu kursi yang ada di meja makan itu.
Menatap kearah Martin, "Kak, bolehkah aku minta dua porsi steak daging helf baked?"
"Tentu saja sayang kau harus makan dua porsi! Yang satu untuk mu, dan yang satu lagi untuk calon anak kita yang sedang ada didalam rahim mu itu!" Jawab Martin sembari mengusap pelan perut Keyla yang terdapat benih cinta mereka yang sedang tubuh sehat di sana.
Tanpa menjawab Keyla hanya menyungingkan senyumannya pada Martin.
__ADS_1
Martin segera berjalan menuju dapur dia lebih dulu mengunakan apron sebelum mulai memasak dan dia segera mengambil daging yang ada didalam kulkas. Dengan lihat Martin kesana-kemari mengambil bahan yang dia butuhkan untuk memanjakan istri kecilnya yang sekarang sedang berselera makan itu.
Ritual masak memasak itupun selesai. Martin membawa nampan berisikan tiga piring steak daging menuju meja makan. Keyla menatap Martin dengan senyum mengembang diwajahnya. Martin tersenyum balik pada istrinya yang sedari tadi sudah menantikan masakan lezat suaminya itu.
Setelah sampai di meja makan Martin segera menaruh dua piring steak itu di hadapan istrinya dan dia menaruh satu piring lainya di hadapannya Martin juga membuatku susu ibu hamil untuk istrinya itu.
Martin memang contoh suami yang patut untuk didambakan setiap kaum hawa. Tidak hanya ganteng dan berkharisma dia juga kaya raya dan tidak perlu diragukan lagi akan kekayaan yang dia miliki, sikap Martin sangat lembut jika sudah berada disamping istrinya dan walaupun Martin seorang pembisnis yang sangat sukses di kota tersebut namun dia tak pernah melalaikan kewajibannya untuk menjaga dan memanjakan istrinya bahkan Martin sangat menyayangi calon bayinya yang belum lahir ke dunia ini.
Keyla menatap kearah piring yang Martin taruh di atas meja tadi. Dilihatnya daging steak yang tampilannya sangat memanjakan mata lengkap dengan kentang goreng disampingnya dan beberapa sayuran juga sebagai pelengkapnya. Tanpa ba-bi-bu lagi Keyla yang sudah tidak tahan dengan aroma steak daging tersebut segera mengambil garpu dan pisau yang ada disampingnya.
Keyla memasukkan potongan pertama steak tersebut kedalam mulutnya.
"Aku lapar Kak," Ucap Keyla singkat sembari sibuk mengunyah makanan yang ada didalam mulutnya.
"Walaupun kamu tidak jawab orang lain yang melihat cara makan mu yang terlihat rakus itu juga akan mengetahuinya kan." Goda Martin pada Keyla.
Mungkin baru kali ini ada Istri CEO yang selera makannya sangat rakus seperti Keyla, dia bahkan tak menjaga keanggunannya saat dihadapan Martin namun Keyla terlihat anggun jika dihadapan banyak orang.
__ADS_1
Keyla pintar menempatkan dirinya pada situasi seperti apa karna dia tak ingin jika Martin sampai malu dihadapan banyak orang.
_ _ _ _ _
Keyla dan Martin sudah ada di atas ranjang. Keyla menaruh kepalanya di atas dada bidang suaminya sembari tangan Keyla mengusap pelan ketiak suaminya. Karna tempat itu kini menjadi tempat vavorit Keyla semenjak hamil.
Martin terlihat mengigit bibir bawahnya karna mencoba menahan geli yang dia rasakan akhibat ulah usil istrinya itu.
"Sayang," Pangil Martin sembari mengusap rambut Keyla pelan.
"ya!"
"Semenjak menikah kita belum pernah liburan,"
Setelah mendengar kata liburan, sontak Keyla menarik kasar kepalanya dari dada kekar suaminya itu. "Kau akan mengajakku liburan?"
"Tentu saja!"
__ADS_1
"kita mau kemana?" Tanya Keyla dengan wajah kelihatan antusias.
"Jepang!" Jawab Martin sembari menyungingkan senyumannya.