
Mereka berdua makan tanpa bicara dan hanya terdengar sendok dan garpu saja yang saling bersentuhan. Beberapa saat kemudian
makanan didalam piring Martin dan Jordan telah habis, merek segera menaruh sendok yang dipegangnya dan mereka meneguk air putih yang ada dihadapannya.
.
.
.
.
Jordan menaruh gelas kosong itu di atas meja! Beralih menatap Martin, "Nak bisakah kita bicara tentang Jeni?" Tanya Jordan sembari menatap Martin.
.
.
.
.
"Bicarakan di ruang kerjaku saja!" Sahut Martin sembari menarik tubuhnya dari kursi. Martin berjalan mendahului Jordan dan keluar dari dapur. Dia segera memasuki salah satu ruangan dan tanpa bicara Jordan hanya bisa mengekor dibelakang Martin.
.
.
.
Setelah berada didalam ruang kerjanya Martin segera mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di dalam ruang kerjanya. Jordan juga segera ikut mendudukkan tubuhnya disamping Martin.
.
.
.
.
menyilangkan kakinya dan duduk dengan gaya arogannya seperti biasa! "Bicaralah!" Perintah Martin sembari tak menatap Jordan dia memandang lurus kedepan.
.
.
.
.
Bicara dengan sangat hati-hati agar ucapannya tak sampai melukai hati Martin, "Nak, aku sangat bahagia setelah mendengar jika Keyla akan memiliki bayi. Tapi bagaimana dengan nasib Jeni?" Tanya Jordan dengan nada suara terdengar sangatlah sopan dan ada nada ketakutan didalam suaranya.
.
.
.
.
Menyandarkan punggungnya di sofa, "Jeni baik-baik saja! Apakah menurutmu Jeni akan melepaskan ku jika mengetahui aku adalah suami adiknya?" Tanya Martin balik dengan masih tak bergeming menatap lurus kedepan.
__ADS_1
.
.
.
.
Menghela nafas panjang, "Semoga saja yang aku takutkan tak terjadi," ucap Jordan dengan suara terdengar ragu-ragu dengan apa yang dia ucapkan barusan.
.
.
.
.
Melirik kearah Jordan dengan tatapan sinis, "Apa maksud dari ucapamu!"
.
.
.
.
Mendengar nada suara Martin yang setengah berteriak membuat tubuh Jordan seketika merinding! Melihat lirikan tajam CEO Martin membuatnya sangat tidak nyaman sampai jantung Jordan seakan sedang bermain drum. Tubuhnya langsung berkeringat dingin.
.
.
.
Menelan kasar Saliva nya sebelum bicara, "Kemarin Jeni telvon dan bertanya apakah benar kamu sudah menikah, Jeni juga bilang kau sendiri yang bicara padanya."
.
.
.
.
Beralih menatap Jordan dengan tatapan dingin, "Lalu, kau jawab apa?" Martin memang sedang bertanya tapi menurut Jordan kata-kata yang keluar dari mulut menantunya itu seperti sebuah ancaman. Jika sampai Jordan salah menjawab maka dia akan terkena masalah besar. Begitu kira-kira arti dari sorot mata Martin yang sedingin bongkahan es.
.
.
.
.
Kembali menyeka peluh dijidat ya dengan tissue, "Aku jawab kau memang sudah menikah! Tapi aku tidak bilang jika kau menikahi adik kesayangannya."
.
.
__ADS_1
.
.
"Aku tidak pernah mencintai Jeni! Dan kau tau Pa, jika aku bukanlah pria baik-baik sebelum menikah dengan Keyla." beranjak dari posisi duduknya dan berjalan menuju kulkas yang ada didalam sudut ruangan kerjanya. Martin segera membuka kulkas Tersebut dan mengambil dua kaleng bir dari dalam kulkas itu, Martin kembali ketempat duduknya semula dan memberikan satu kaleng bir pada Jordan. Namun ketika Martin hendak meneguk bir Tersebut Jordan segera mengehentikan niatnya.
.
.
.
.
"Jangan di minum!" Ucap Jordan refleks tanpa sadar apa yang dia ucapkan barusan.
.
.
.
.
Mengurungkan niatnya untuk meminum bir Tersebut, "Berani kamu melarang apa yang akan aku lakukan!" Sahut Martin dengan suara penuh penekanan sorot membunuh mulai terlihat dibalik tatapan tajam CEO kejam itu.
.
.
.
.
"Keyla tak menyukai bau alkohol Tuan muda! Saya sungguh minta maaf telah lancang melarang apa yang hendak anda lakukan." Ucap Jordan dengan tubuh bergetar.
.
.
.
Tanpa disangka Martin segera menaruh bir Tersebut kembali keatas meja, "Tak perlu minta maaf!" ucap Martin tanpa menoleh karna merasa ucapan Jordan memang benar.
.
.
.
Untung saja kamu ingatkan jika sampai aku meminum bir itu maka putri kesayanganmu pasti memintaku untuk tidak tidur didalam kamar. Entah hal gila apa lagi yang akan anakmu itu lakukan padaku semoga dia tidak mengidam yang aneh-aneh. Karna putri mu tidak hamil saja mintanya sungguh membuat orang geli apalagi sekarang dia sedang hamil. Gumam Martin dalam hati sembari menghela napas panjang.
Menggoyang-goyangkan kepalanya mencoba menepis apa yang ada didalam pikirannya barusan, "Jika Jeni pernah menderita penyakit mental maka dia akan pulang ke kota ini setelah Keyla melahirkan!" ucap Martin karna Martin tak ingin terjadi hal buruk pada calon bayinya.
Bicara dengan wajah khawatir, "Jangan sampai Jeni lolos dari pengawasan mu karna aku takut Jeni melupakan adiknya setelah mengetahui jika, adik kesayangannya menikahi orang yang paling dia cintai."
Setelah mendengar ucapan Jordan Martin segera menelepon oak Hendro dan memberikan perintah jika memperketat penjagaan Jeni di kota B selama 9 bulan kedelapan.
Di kantor MK GROUP.
Semua orang bingung melihat perubahan pada kantor Martin, ya semua isi didalam kantor CEO perusahaan MK GROUP Tersebut diganti dengan perabotan baru karna Martin yang memintanya. Bahkan sampai ranjang pun khusus dia datangkan dari luar negri agar istrinya merasa nyaman dan tidaklah bosan jika menemaninya berkerja. Didalam ruangan CEO perusahaan besar tersebut memang terdapat kamar tidurnya yang sangat luas dan begitu nyaman. Kamar yang dulunya berwarna hitam gelap kini di sulap menjadi warna merah! Ya itu adalah warna kesukaan istrinya tercinta.
__ADS_1
Pak Hendro sibuk memerintah para pelayan agar tak sampai melakukan kesalahan sedikitpun. Karna Martin bisa murka jika sampai hal itu terjadi terlebih lagi Martin semakin posesif dalam menjaga istrinya yang telah hamil muda
JANGAN LUPA VOTE YANG BANYAK YA ☺️☺️☺️☺️