
Setelah dua setengah jam lamanya akhirnya kelas berakhir, namun Haechan dan Jeno masih menetap di kampus karena mereka berdua sedang sibuk menjalankan tugasnya masing-masing.
Yang lainnya pulang dengan pasangannya masing-masing terkecuali dengan Clara dan Revan. Semenjak mereka berantem tadi pagi tidak ada yang berani negur duluan apalagi Clara menatapnya saja malas, menurut Clara yang salah itu Revan bukan Clara!
Clara bingung mau pulang bareng siapa kalau ada Haechan mungkin Clara sudah pulang bareng Haechan tapi dia lagi praktik meracik obat karena minggu kemarin dia nggak masuk kelas praktikum, jadi di ganti sama hari ini.
"Call gue pulang bareng sama lo boleh kan? kan kamu juga di antar Renjun pakai mobil."
"Duhh gimana ya Ra, bukannya gue nggak mau tapi gue mau kencan dulu sama Renjun." jawab Callista merasa tak enak.
"Ye.... dasar teman kampret nggak guna lo" sahut Clara bercanda tapi ia juga sedikit kecewa.
"Hehe sorry ya Ra, gue duluan ya kalau kamu mau mending sama Nathan Jaemin aja tuh mereka kan bawa mobil juga" tutur Callista.
"Nathan... gue pulang bareng lo yaa?" mohon Clara.
"Gue juga nggak bisa Ra, gue mau jalan-jalan dulu sama Jaemin nanti lo jadi nyamuk kan kasian gue." jawab Nathania.
"Pacaran terus kalian ya, sampai-sampai nggak mau nganterin Clara yang tak berdosa ini."
"Hehehe Sorry Ra, gue duluan ya bye~ jangan berantem lagi kalian." ucap Nathania.
"Yaudah lah gue jalan aja." Clara pun mengambil langkah dengan lesuh.
Clara mendengar suara yang begitu familiar dari arah belakang, Clara berhenti melangkah ketika suara itu seperti menuju kepadanya, Clara menoleh kesamping ia sedikit terkejut namun dengan cepat menetralkan ekspresi biasa saja.
"Ayo aku anterin, nggak usah jalan nanti kamu capek" ucap Revan sambil menyodorkan helm buat Clara. Revan sedari tadi melihat kejadian dan menyimak pembicaraan Clara dan yang lainnya dari awal hingga selesai.
"Nggak makasih aku jalan aja, dah sana kamu pulang aja aku nggak apa-apa kok" jawab Clara datar.
"Cepetan naik Ra, kita satu jalur loh, liat langit sudah mendung pasti bentar lagi hujan, ayo Ra keburu hujan nih."
Clara pun melihat langit yang sudah terlihat sangat mendung, terdapat juga kilatan kecil, angin sepoi sudah merembes ke kulitnya, hanya tinggal turun percikan air hingga deras ke daratan Bumi saja.
"Yaudah kalau kamu nggak mau, biarin kamu kehujanan terus sakit aku nggak mau ngerawat kamu, ingat orangtua kamu lagi nggak ada" ancam Revan.
"Biarin kalau aku sakit kan ada Call sama Nathan yang bisa ngerawat aku!"
"Emang mereka mau ngerawat kamu? Besok kan libur mereka sudah diculik duluan sama Renjun dan Jaemin."
Clara pun berpikir sejenak ada benarnya juga dari perkataan Revan, Clara menghela pelan.
"Yaudah deh iya iya daripada nanti aku sakit, nyebelin banget sih"
__ADS_1
"Cepetan naik lama banget sih" gerutu Revan, ia tersenyum dalam hati.
"Iya iya!" Clara mengambil helm dari Revan dengan malas.
Clara menghela napas pelan.
"Pegangan nanti jatuh loh" saran Revan.
"Nggak malas lagian kita masih musuhan ya" sinis Clara.
"Yaudah deh, tapi hati-hati kalau kamu jatuh soalnya aku mau ngebut."
Revan pun mulai menyalakan mesin motornya lalu membawanya dengan kencang, Clara refleks memeluk Revan dari belakang ia terkejut sekaligus takut.
Yang di peluk senyum-senyum sendiri.
Di dalam perjalanan mereka tidak ada berbicara maupun mengeluarkan suara, hanya terdengar suara khas motor, angin yang menghembus membuat pohon-pohon di sekitar jalanan bergoyang, dan kilatan kecil yang masih nampak, namun begitu sunyi.
Setelah 10 menit berlalu mereka sampai di kompleks bougenville yang mereka tempati ini.
Revan mengantar Clara sampai depan rumahnya, Clara langsung turun dari motor Revan dan memasuki rumahnya tanpa ada pamit maupun mengatakan ucapan terimakasih kepada Revan.
Revan hanya bisa tersenyum pasrah, Clara benar-benar ngambek kepadanya.
"Untung sayang, untung pacar sendiri kalau bukan sudah gue sleding lo sampai patah tulang" batin Revan begitu kejam namun hanya gurauan, tidak mungkin kan hanya karena itu saja Revan mematahkan tulang orang.
*****
Setelah itu Revan turun ke ruang tengah untuk menonton acara televisi karena ia merasa gabut, Clara tidak ada memberinya pesan maupun telpon kepadanya itulah yang membuat Revan gabut.
"Van kok bengong kenapa?" tanya mama Revan yang tiba-tiba datang dari arah belakang.
"Nggak kok Ma, nggak apa-apa" jawab Revan.
"Benarkah? kamu ada masalah ya sama Clara? cerita sama mama ada apa sayang?"
"Dia kembali Ma" sahut Revan.
"Siapa yang kembali?" tanya mama Revan.
"Dia Ma wanita itu kembali, tadi dia ke kampus, dia ngomong banyak ke aku" jawab Revan.
Mama Revan sedikit terkejut dengan apa yang Revan katakan, tetapi mama Revan segera menetralkan ekpresinya supaya Revan tak melihat ekpresi terkejutnya itu.
__ADS_1
"Apa yang dia katakan ke kamu Revan?" tanya bu Ranti. Ibu kandung Revan dan wanita pertama yang Revan sayang sebelum Clara.
"Dia bilang kalau aku harus dengar penjelasan dia dulu, katanya dia punya alasan kenapa bisa nikahin papah tapi aku memilih tidak mendengarnya dan pergi meninggalkannya." jelas Revan.
"Yaudah, mending sekarang kita makan malam dulu sudah waktunya, kalau masalah itu nanti kita pikirkan lagi jalan keluarnya."
Revan manggut-manggut, ia juga sudah merasa lapar.
Setelah makan,
Revan langsung merebahkan dirinya di kasur kamarnya, ia begitu lelah dan pusing sehingga membuatnya tertidur cepat padahal jam masih menunjukkan pukul 8 malam.
*****
Keesokan paginya...
Revan tak kunjung bangun dari tidurnya, mama Revan pun berjalan ke atas siap untuk membangunkan anak sulung nya itu untuk sarapan pagi.
Di depan pintu kamar Revan.
Tokkk tokk...
"Revan sayang ayo bangun sudah pagi nih, mandi sana biar segar. Mama tunggu di bawah."
Di dalam sana Revan hanya manggut-manggut pelan, Revan tak mampu membuka matanya maupun mengeluarkan suaranya, nyawanya masih melayang entah kemana belum sepenuhnya memasuki dirinya. Seperti itu lah kebiasaan Revan setelah bangun tidur, tunggu hingga 5 menit barulah ia tersadar sepenuhnya.
Sebelum membersihkan diri, Revan mengecek ponselnya melihat apakah ada notifikasi chat dari Clara ataupun daftar panggilan masuk dari Clara.
Kedua sudut bibir Revan terangkat, ia tersenyum melihat satu notifikasi chat yang sedari kemarin ia tunggu-tunggu. Iya... dari Clara. Revan pun membuka isi chat itu.
Claraptri
makasih buat tadi.
Chat itu masuk ketika Revan sudah tertidur semalam.
Sebenarnya Clara heran, seharusnya Revan lah yang harus mengirimkannya chat duluan tapi pria itu malah menunggu Clara duluan yang mengiriminya chat.
Jari-jemari Revan pun mulai mengetik kata per kata untuk membalas chat itu dengan senyum yang masih merekah dibibirnya.
Revanbrmst
Sudah seharusnya pangeran melakukannya terhadap tuan putrinya.
__ADS_1
Revan langsung mematikan ponselnya lalu beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dengan bersenandung kecil.
Mengapa terkadang Revan itu selalu alay!? heran.