
Keesokan harinya mereka sudah siap dibandara dan segera terbang menuju Bali.
Sesampainya di Bali mereka menginap di villa yang kebetulan sekali villa tersebut punya Jaemin jadi mereka bisa memakainya dengan gratis.
"Akhirnya sampai juga lelahnya pengen tidur aku." kata Haechan yang sudah tampak lelah hanya karena perjalanan, padahal bukan mendaki gunung.
"Yasudah kita langsung bagi aja kamarnya ada empat nih gimana cara baginya?" ujar Jaemin bertanya.
"Gimana kalau yang perempuan tidur bersama dan kalian para laki-laki urus sendiri." usul Nathania.
"Yaudah gini aja aku sama Haechan, Renjun sama Jaemin, ceweknya gabung, terus Revan sendiri," kata Jeno.
"Gimana setuju gak?" tanyanya.
"Oke setuju~" mereka kompak menyetujui usulan Jeno secara bersamaan.
Mereka memasuki kamarnya masing-masing dan merapikan barang-barang yang mereka bawa.
Sementara itu, Nathania ingin mencurahkan isi hatinya(curhat) kepada dua sahabatnya itu tentang perasaannya yang ia sendiri bingungkan, tetapi ia gugup namun Nathan harus memberanikan diri untuk berbicara. Daripada dipendam ntar jadi penyakit gitu katanya.
"Guys aku mau curhat nih."
"Curhat apa? cerita aja gih" Jawab Callista.
"Sepertinya aku menyukai Jaemin,"
Mereka berdua sedikit terkejut atas apa yang Nathania ucapkan.
"Tapi aku tidak mungkin untuk mengungkapkan perasaan ku terlebih dahulu kan, jadi aku harus gimana nih." lanjutnya.
"Yasudah tunggu dia peka aja sama perasaanmu, aku yakin Jaemin sebenarnya suka kepadamu tetapi dia tidak berani mengungkapkannya."
"Iya betul apa yang dikatakan Callista, nanti ada saatnya kok tunggu saja."
"Begitu ya, aku akan menunggu waktu yang tepat." kata Nathania tersenyum, akhirnya ia lega sudah bercerita kepada dua sahabatnya itu dan mendapatkan solusi.
*****
Clara dan Callista sudah larut dalam tidurnya sedangkan, Nathania belum saja tidur ia malah memilih untuk menonton acara variety show kesukaannya. Tiba-tiba Nathania merasa haus lalu ia beranjak dari kasurnya menuju dapur untuk meminum segelas air putih. Sambil meminum air putih ia duduk di salah satu kursi meja makan, dari arah belakang seseorang datang dan berkata. "Ngapain kamu disini."
"E..ehh Jaemin, aku lagi minum nggak liat apa nih." balas Nathania lalu beranjak ke depan mencari udara segar, diam-diam Jaemin mengikutinya.
"Cari udara segar nih?" Nathania menoleh ia tidak habis pikir Jaemin malah mengikutinya keluar.
"Iya, ngapain sih ngikutin gue keluar"
"Lah emang kenapa nggak boleh, ini kan villa gue juga." ucap Jaemin dan mendudukkan dirinya di sebelah Nathania.
"Ya ya seterah lo deh." ujar Nathania datar.
*****
"Nat.." panggil Jaemin kepada Nathania.
"Apa?"
__ADS_1
"Gue mau ngomong sesuatu sama kamu." Nathan melihat raut wajahnya yang tampak serius setengah gugup, ini pertama kalinya bagi Nathan melihatnya seperti itu, apakah ada sesuatu yang sangat penting untuk di sampaikan kepada Nathan?
Nathania acuh tak acuh.
"Ngomong aja gih."
"Gue..."
"Y...ya lo kenapa??"
"Gue... suka sama lo," seketika pipi Jaemin memerah setelah ia mengucapkan kalimat itu.
Gimana dengan Nathania? ia sangat terkejut dadanya merasa sesak seperti ada desiran yang juga tak kumengerti. Tidak menyangka bahwa Jaemin juga menyukai Nathan, tapi Nathan harus bagaimana?
"Lo mau nggak jadi pacar gue?" lanjut Jaemin.
Mungkin ini moment yang paling Nathan nantikan tapi dengan bodohnya Nathan malah menjawab. "Sorry Jeam gue nggak bisa," tolaknya karena dipikiran Nathan sekarang hanyalah fokus untuk bersekolah dan mengejar cita-cita nya.
"Untuk sementara waktu aku belum mau pacaran dulu, aku harus ngejar cita-cita ku dulu." lanjut Nathan dengan lubuk hati yang dalam lagi-lagi Nathan merasa sesak namun bagaimana ini juga demi kebaikannya.
"Ohh gitu yaudah deh kalau gitu aku masuk duluan ya." dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan Jaemin bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya masuk menuju ke kamarnya.
"Iya sorry ya Jeam." ujar Nathania sedikit merasa bersalah.
"Udah tidak apa-apa,"
"Aku akan menunggumu." gumam Jaemin.
*****
Nathania menatap langit malam yang indah merasakan angin sejuk yang menyentuh kulitnya, menghilangkan beban pikiran di malam yang sunyi ini. Tetapi siapa bilang ini sunyi.
"Apa sih Ra ganggu suasana tentram ku aja dah."
"Hehe, ngapain lo sendirian aja biasanya ditemanin gebetan lo" tukas Clara sambil mendudukkan dirinya disebelah Nathan.
"Cari angin aja gue bosen di dalam. Ehh sembarangan aja lo, gue nggak pernah ya di temanin sama Jaemin huhh,"
"Sebenarnya sih tadi ada Jaemin tapi dia masuk lagi." ucapk sedikit berbohong.
"Biasanya juga Callista yang nemanin gue tapi dia udah tidur, lo juga tiba-tiba nongol kek tuyul perusak suasana." lanjut Nathania bercanda.
"Yaudah deh aku masuk aja dari pada ngeganggu, 'kan."
"Yaelah bercanda kali."
"Iyaa, mending kita masuk deh daripada disini dingin besok kita lanjutkan liburan kita."
"Oke dehh yuk masuk."
*****
Paginya kami sudah siap-siap untuk bermain di pantai, Callista sama Nathania telat bangun jadi kami menunggu mereka berdua. Sekian lama menunggu akhirnya mereka pun datang.
"Kok kalian lama banget sihh." kesal Haechan menunggu lama.
__ADS_1
"Tuh si Nathan mandi lama banget" balas Callista.
"Ehh kamu juga"
"Heheee"
Nathania memimpin perjalanan, kami jalan berbaris seperti anak TK itulah keunikan dari kami. Setibanya di pantai kami langsung ngacir. Kami bertiga para perempuan sedang asyik bermain tiba-tiba saja Revan datang langsung menarik tanganku.
"Kenapa sih rev tarik-tarik"
"Gue mau ngomong." ujar Revan dengan muka datarnya yang serius.
"Ya tinggal ngomong aja kali." sebal Clara.
"Kenapa sih kamu selal dekat-dekat sama Haechan."
"Emang kenapa kan Haechan sahabatku juga."
"Aku nggak suka kamu dekat-dekat sama dia."
Clara bingung mengapa Revan begitu tidak suka jika ia berdekatan dengan Haechan padahal dia kn sahabat Clara juga apa salahnya jika berdekatan masa iya jauh-jauhan.
"Emang kenapa sih, ini juga kita lagi dekat-dekatan loh"
"Nggak gitu koplak"
"Nih anak gemesin banget dah sabar gue." batin revan
"Gue cemburu kalau kamu dekat sama dia."
"Apa maksudmu?" Clara bingung apa yang diucapkan Revan.
"Gue suka sama kamu Ra, kenapa kamu nggak peka sih kalau aku tuh selalu cemburu setiap liat kamu dekat banget sama Haechan."
Deg. Clara kaget Revan tiba-tiba ngungkapin perasaan nya, Clara sedikit merasa bersalah dan perasaannya terhadap Revan juga sama. Tapi rasa berat untuk mengucapkan bagaimana perasaan Clara ini bahwa ia juga begitu menyukainya. Dan berakhir diam membisu, bingung, begitupun hatinya yang berkecamuk antara senang dan sedih.
Karena Clara tidak lantas menjawab, Revan pun berbicara. "Kamu mau nggak jadi pacarku?" tanya Revan tanpa ada momen romantisnya.
Clara pun merasakannya, Revan dengan menyatakan cintanya tanpa persiapan yang endingnya tidak romantis.
"Kamu kok nembaknya nggak ada romantisnya sih Rev"
"Bodoamat, jadi apa jawabanmu?"
"Hmm... i........................................"
"Eh ngapain kalian disini?" Haechan yang tiba-tiba datang dan memotong perkataan Clara yang lama dan panjang itu. Padahal baru saja Clara ingin menjawabnya dengan tuntas.
"Gapapa bukan apa-apa kok nggak penting juga." sahut Clara.
Tiba-tiba haechan menarik tangan Clara menuju suatu tempat, setibanya Haechan berkata. "Sebenarnya aku dengar pembicaraanmu dengan Revan,"
"Kamu nerima dia?" lanjutnya.
"Hmm nggak tau aku bingung lagian mau fokus sama sekolah dulu ngejar cita-cita ku dan ngebahagiain orang tua itu yang paling utama."
__ADS_1
"Ohh bagus deh kalau kamu belum jawab, pokoknya aku nggak suka kamu dekat-dekat sama dia."
Setelah berbicara seperti itu haechan langsung pergi meninggalkan Clara sendirian. Clara bingung dengan perasaannya terhadap Revan dan disisi lain Clara juga nyaman jika bersama Haechan. Membingungkan batin.