
Aku terbangun. Menatap langit-langit kamar yang bernuansa putih. Mengingat apa yang sudah terjadi. Bukannya tadi aku berada di kantin, aku tau jika itu hanya mimpi. Sudah dua hari ini aku mimpi berkelanjutan, panjang sekali rasanya, begitu banyak hal yang terjadi di dalam mimpi. Aku bertanya-tanya mengapa bisa terjadi denganku? Apa aku perlu berjumpa dokter untuk menghentikan ini, apa perlu?. Tapi rasanya aku tidak ingin berhenti memimpikan ini, namun pada akhirnya mimpi ini akan hilang entah kapan aku tidak tau. Anehnya aku memimpikan cerita Clara.
"Callista, itu ada Clara cepat turun." seketika aku tersadar dengan pikiranku sendiri, lalu aku turun kebawah dengan keadaan masih memakai baju tidur dan belum mandi.
"Apa...." tanyaku.
"Kamu nggak sekolah Call?, Bu Ningsih nanyain tau."
Setelah terjadi mimpi itu rasanya kepalaku sangat pusing entah efek dari lamanya tidur atau kepikiran, hingga rasanya aku ingin membolos sekolah. Sudah dua hari aku tidak turun sekolah, banyak pelajaran yang tertinggal olehku dalam dua hari itu dan hari ini aku harus masuk sekolah supaya menjadi kepribadian yang positif dan bermartabat.
*Ingat teman-teman bahwa sekolah itu adalah tempat kita mencari ilmu namun tidak hanya itu, kita bisa mengasah kemampuan kita di dalam berbagai bidang yang kita kuasai, menjadikan akhlak yang baik. Mempunyai banyak teman yang selalu mendukung kita, mempunyai guru yang senantiasa mengajarkan kita tanpa lelah. Selagi kamu masih sekolah, sekolah lah dengan baik jangan malas-malasan dan hanya ingin mendapatkan ketenaran semata. Balas lah budi Ibu Bapak Guru dan juga orangtua kalian.
"Iya ini aku mau sekolah kok, aku siap-siap dulu ya."
"Iya jangan lama-lama, aku tunggu." selagi menunggu Call, Clara memainkan ponselnya.
"Ra, dimana Call?" tanya Kevin.
"Di kamarnya kak lagi siap-siap mau sekolah."
"Ohh baguslah, bilangin ya kak Kevin berangkat kerja dulu."
"Iya kak, Hati-hati." setelah Kevin pergi Clara melanjutkan kegiatannya tadi sambil bersenandung kecil.
Setelah beberapa menit kemudian akhirnya Callista sudah selesai bersiap-siap untuk berangkat sekolah, lantas mereka langsung saja bergegas karena waktu menandakan sepuluh menit lagi akan masukan. Mereka mengayuh sepeda dengan sangat cepat.
Untung saja gerbang belum ditutup, pas banget ketika mereka masuk gerbang bell sudah berbunyi. Mereka pun lari memasuki kelas dan duduk di bangku masing-masing. Dari arah pintu Bu Ningsih selaku wali kelas mereka masuk.
"Ibu hanya ingin memberikan informasi bahwa minggu depan ada pertandingan futsal putra dan putri, setiap kelas harus mengikutinya. Jadi, kalian silahkan pilih anggota yang bisa bermain futsal, besok setorkan daftar anggota ke Ibu ya. Jangan lupa latihan, semangat."
"Jika tidak ada pertanyaan Ibu segera pergi. Oh iya Callista Ibu harap kamu ikut serta dalam lomba ini." Bu Ningsih pun meninggalkan kelas.
"Call kamu ikut, 'kan?" tanya ketua kelas.
"Entahlah."
"Aku anggap itu iya."
*
__ADS_1
Callista menempatkan dirinya di sebuah taman sekolah tepatnya bawah pohon rindang sambil membaca novel bergenre fantasi, akhir-akhir ini Callista suka menyendiri seperti ini, bukan tidak punya teman ataupun tidak bisa bergaul, mungkin dia hanya ingin mencari keterangan. Tapi dua sahabatnya tidak akan membiarkan Callista kesepian seperti itu, ia akan mengembalikan keceriaan Callista sewaktu kecil, ya meski hanya sebentar itu sudah cukup bahagia.
Tiba-tiba Clara datang. "Call, kamu nggak lapar gitu."
"Lapar sih,"
"Yaudah ayo makan." Clara langsung menarik Callista ke kantin. Setibanya di kantin ternyata sudah ada Nathan sama Revan yang sepertinya menunggu Callista untuk makan bareng.
"Call call, lagi-lagi kamu harus diseret untuk makan." ucap Revan.
"Hehe maaf."
"Kenapa sih Call?" tanya Nathan.
"Nggak kepikiran aja buat makan." jawab Callista. Nathan dan Revan menatapnya heran, ada-ada saja.
Lalu Clara datang dengan empat mangkok bakso dan empat es teh. Clara tidak membawa semua itu sekaligus ia dibantu oleh Revan, memangnya Clara punya kekuatan super delapan tangan.
"Nih makan dulu, sudah lapar banget nih." kata Clara.
*
"Latihan apa?"
"Ya,latihan futsal lah."
Sebenarnya aku tidak ingin ikut serta dalam lomba futsal ini, ya namun bagaimana lagi aku harus mengikutinya. Lagian Bu Ningsih ada-ada saja, sebelumnya kan aku tidak pernah mengikuti lomba futsal atau semacamnya, mungkin karena nilai olahragaku yang lumayan bagus.
"Oke." jawabku, lalu aku mengayuh pedal sepedaku menuju rumah, jarak tempuh ke sekolah dari rumah bisa dibilang tidak terlalu jauh. maka dari itu, aku memakai sepeda untuk kendaraan ku pulang pergi sekolah.
Hari ini begitu meleleh padahal tidak banyak kegiatan, tapi tidak tahu kenapa sekarang aku hanya ingin tidur apakah sebegitu ngantuknya. Waktu menunjukan pukul 14.05 tidak biasanya pulang secepatnya ini dan katakan saja bahwa ini tidur siang, sebelum tidur aku membersihkan diriku lalu memakan sepotong roti dan segera tidur.
"Kak kevin masih lama pulang, sepi banget rasanya, ya sudah biasa sih begini." gumam Callista.
•
•
•
__ADS_1
•
•
Semua gelap.
Tiba-tiba aku berada di sebuah ruangan yang bisa dideskripsikan jika itu kamar, mungkin saja itu kamarku. Bagaimana pun itu aku tidak bisa mengendalikan pikiranku bahwa ini mimpi ataupun nyata.
.
Di meja belajar aku sedang mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) Matematika, tiba-tiba ada pesan masuk dari ponselku yang tertera nama 'Renjun'.
Renjun♡
Call, ketemuan di kafe yuk sekarang, aku jemput.
Aku pun langsung ganti baju dan berdandan cantik. Tidak lupa untuk meminta izin kepada mama, setelah itu aku menunggu Renjun di Teras.
Tiga menit pun berlalu, akhirnya Renjun datang, lalu aku berpamitan kepada mama ku. Mama ku berpesan kepadaku dan juga Renjun untuk tidak pulang larut malam, lalu kami langsung jalan ke kafe yang aku tidak tahu tepatnya.
"Emang kita mau ngapain, Njun?"
"Ada deh, nanti kamu lihat sendiri, begitu sampai sana kamu tutup mata ya."
"Nggak mau, kenapa harus pakai tutup mata segala."
"Udah nurut aja."
"Yaudah iya aku nurut,"
"Dasar nyebelin." gumam ku.
Tidak lama kemudian kami sampai di kafe tersebut, sesuai permintaan Renjun dia menutup mataku dengan kain hitam yang sudah dia bawa dari rumah. Begitu sampai Renjun lanjut membuka penutup mata yang menutupi mataku itu, Seketika aku langsung terkejut dan terharu betapa indahnya yang kulihat ini, terdapat balon dan bunga yang sudah di tata dengan rapi nan indah. Lalu Renjun meraih tanganku dan menuntunku duduk dikursi yang sudah disiapkan olehnya itu.
"Bagaimana? Apakah kamu menyukainya?" tanya Renjun.
"Call bangun, dek bangun dek!!"
"Loh kok ada suara kak Kevin." bingung ku.
__ADS_1