Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Cinta Pertama


__ADS_3

Dua puluh empat jam belum berlalu sejak putri cantikku di oprasi, dan benar saja putri Shaliha ku itu mulai bangun dari tidur panjangnya. Saat dokter mengatakan dia akan memantau Fazila, maka sejak itu pula kami tidak bisa melihat wajah cantiknya. kami tidak di izinkan menemuinya, hanya dokter dan perawat yang sudah di berikan tanggung jawab saja yang bisa keluar masuk ruangannya.


Opa Ade yang terus merengek di depan Papa Araf agar di izinkan masuk pun tidak bisa mendapatkan izin sekeras apa pun usahanya. Hanya Araf dan dokter senior itu saja yang bisa masuk, dan di saat seperti ini aku berharap aku bisa berlari dan mencium kening putri berharga ku. Aku ingin melihatnya, dan aku sangat merindukannya.


"Kau dimana? Cepatlah. Putrimu sudah sadar dan dia mencari Umminya." Suara bahagia Papa di sebrang sana membuat ku tersenyum lebar. Aku melakukan sujut syukur sambil meneteskan air mata. Sayup-sayup aku masih mendengar suara tasbih Ummi Fazila, suaranya masih terdengar sama. Suara itu bergetar, aku yakin air matanya tak berhenti menetes sejak dia duduk bersimpuh di hadapan Allah.


Ini benar-benar karunia luar biasa, bagaimana caraku membalas kebaikan Allah yang telah memberikan kesempatan untuk putriku? Kesempatan untuk menghirup udara lagi.


"Ummiiiii...." Aku berjalan pelan, kemudian duduk di depan Ummi Fazila sambil menggenggam jemari lentiknya. Untungnya hanya ada kami berdua di dalam musalla ini.


"Putri kita, Fazila. Dia sudah sadarrrrrrr!" Ucap ku pelan dengan suara nyaris tak terdengar.


"Ya... Putri kita sudah sadar." Ucapku lagi, kali ini penuh semangat, senyuman di wajahku menjelaskan betapa bahagianya diriku. Bahagia yang tidak bisa ku ungkapkan dengan sekedar kata-kata.


Tidak ada balasan dari Ummi Fazila selain senyum bahagianya, ia memelukku erat, sangat erat sampai aku bisa merasakan degup jantungnya. Sedetik kemudian dia mulai menangis, tangisannya pecah. Seolah ia kehilangan sesuatu kemudian dia menemukan kembali hal yang berharga dalam hidupnya.


"Ke-kenapa Ummi menangis? Apa Ummi bahagia? Jika Ummi bahagia kenapa Ummi harus menangis? Tersenyumlah agar semesta tahu kalau Ummi benar-benar bahagia!" Celotehku sambil membersihkan air mata Ummi Fazila yang terus saja menetes.


"Ummi bahagia, Bi. Sangat bahagia sampai Ummi ingin memberikan semua yang Ummi punya. Ternyata benar sabar itu sangat sulit, tapi juga benar shalat ku menguatkan ku."


"Baiklah. Sudah cukup menangisnya. Sekarang ayo kita temui Fazila. Anak manis itu pasti merindukan Ummi Dan Abinya." Celetukku lagi sambil menempelkan keningku di kening mulus Ummi Fazila.


Sedetik kemudian aku memegang jemari Ummi Fazila, membantunya berdiri kemudian berjalan bersama melewati lorong menuju ruang rawat inap Fazila layaknya pengantin baru yang baru saja menyelesaikan ijab kabulnya.


...***...


"Hay nak... Bagaimana perasaan mu? Apa kau merasa bahagia...?"


Fazila yang di tanya hanya bisa diam sambil mengedipkan mata. Monitor yang menampilkan grafis kinerja organ tubuh Fazila untuk mendeteksi detak jantung, kadar oksigen di dalam darah, atau tekanan darahnya terlihat normal dan tidak ada yang perlu di khawatirkan.


"Nak... Sekarang kau baik-baik saja. Cepat-lah pulih dan segera bermain dengan teman-teman mu. Bapak yakin kau pasti sudah lelah tidur di tempat tidur kecil ini.

__ADS_1


Ahhhh maaffff.... Bapak terlalu banyak bicara. Keluargamu juga pasti sangat merindukanmu, bicaralah dengan mereka." Ucap dokter senior itu sambil memegang jemari kecil Fazila. Tidak ada balasan untuknya selain senyuman tipis dari putri manisku, Meyda Noviana Fazila.


"Uu-ummi...!"


Begitu aku masuk Fazila langsung memanggil ku dengan suara lirihnya. Tatapan matanya terlihat sayu.


"Aa-abi..."


Kami berdua berjalan sambil berpegangan tangan. Ku tatap wajah Abi Fazila, netra indahnya kembali meneteskan air mata. Aku tidak akan bertanya kenapa dia meneteskan air mata, karena saat ini akulah yang paling mengetahui betapa buruknya kondisi ini. Semua orang bersedih, dan semua orang panik. Kepanikan ini berhasil meluluh lantakkan semua emosiku.


"Sayang... Bagaimana kabarmu?" Abi Fazila bertanya sambil menyentuh wajah cantik putri kami. Kepala Fazila masih terbalut perban namun ini sungguh keajiban, anak manis itu masih bisa tersenyum seperti biasa, senyuman yang berhasil menghilangkan segala resahku selama tiga puluh lima jam terakhir.


"Fa-zi-la baik-baik sa-ja Aa-abi. Um-mi dan Aa-bi tidak per-lu kha-wa-tir. Allah ber-sa-ma FAZILA. Allah me-nya-ya-ngi FAZILA." Balas putri salihaku dengan suara berat.


"Apa Um-mi me-na-ngis? FAZILA ben-ci air Mat-ta. Jangan se-di-h dan ja-ngan ber-du-ka. FAZILA sa-ya-ng semua or-rang." Lagi-lagi putri manis ku bicara dengan nada berat. Wajahnya terlihat bersinar, ia terlihat seperti orang yang baru saja bangun dari mimpi indahnya.


"Putri ummi tidak perlu memaksakan diri untuk bicara, Ummi tahu apa yang akan kau katakan, kita akan bicara setelah putri berharga Ummi baik-baik saja.


Ummi janji Ummi tidak akan menangis. Ummi juga janji Ummi akan selalu menjaga Fazila. Fazila tahu kan, nak? Fazila adalah Peri kebanggaan Ummi dan Abi. Jangan sakit lagi, setelah ini kita akan pergi ke-Malang. Bertemu dengan teman-temanmu, Dena, Lisa dan juga Amir. Kemudian mengulangi hafalan Qur'an bersama kakek Kiai, Fazila ingin melakukan itu kan, nak?"


"Ummi... Fazila ti-da-k ngan-tuk. Fa-Zi-LA ingin bicara dengan Um-mi, Ab-bi, nenek buyut, juga dengan kak-kek buyut.


FA-ZI-LA juga ing-ngin bi-ca-ra dengan Om-ma can-tik dan Op-pa OT-Ti-S." Ucap putri berhargaku lagi.


"Kami juga ingin melakukan itu, nak. Tapi, sekarang sebaiknya kau istirahat saja. Oma dan Opa janji, kami tidak akan meninggalkan Fazila kami sendirian." Mama tersenyum sambil menghapus sudut matanya yang berair dengan punggung tangannya.


Opa Ade dan Oma Ochi masih mematung di sofa, mereka berdua sangat antusias melihat cicitnya terbangun, tapi sayangnya beliau masih shock dengan kejadian ini sampai mereka terlihat lemah. Resah dan gelisah yang mendera hati dan pikiran kedua tetua keluarga Wijaya itu membuat mereka tak bertenaga. Bahkan karena bahagia mendengar cicitnya bangun Oma Ochi hampir terjatuh karena tidak bisa menahan tubuhnya, lututnya tiba-tiba lemas dan dia mulai berkeringat dingin. Untunglah dia baik-baik saja.


...***...


Waktu menunjukan pukul 23.49 namun sayangnya aku masih saja tidak bisa memejamkan mata. Saat aku berusaha untuk memejamkannya, selalu saja yang nampak tubuh terkulai putri salihaku dengan darah yang terus saja menetes dari kepalanya. Semua ini terasa bagai mimpi, dan disaat seperti ini hanya satu hal yang bisa ku lakukan, terjaga sepanjang malam sambil menatap wajah indahnya. Jika aku bisa tidak berkedip maka aku tidak akan berkedip hanya untuk memastikan putriku baik-baik saja.

__ADS_1


Hhhuuaaamm...


Abi Fazila menguap sambil menggeliat, tubuh jangkungnya terlihat tidak nyaman tertidur di sofa kecil rumah sakit.


"Ummi tidak tidur? Tidurlah." Ucap Abi Fazila pelan begitu netra indahnya terbuka sempurna.


"Ummi belum mengantuk, Bi. Ummi hanya ingin melihat Fazila sebentar lagi." Balas ku sambil memegang jemari Fazila yang masih terlelap.


"Ummi tidak perlu memaksakan diri. Abi tahu Ummi masih shock. Sekarang putri kita baik-baik saja. Tidurlah. Abi yang akan menjaga Fazila. Abi janji Abi akan menjaga putri kita sebaik Ummi menjaganya."


"Bukan itu masalahnya. Ummi hanya ingin melihat Fazila saja, menatapnya membuat jiwa Ummi merasakan ketenangan luar biasa. Biarkan Ummi melakuman ini tanpa perlu berdebat lagi."


"Baiklah, Ummi boleh melakukan itu. Tapi biarkan Abi menemani Ummi terjaga sepanjang malam. Apa boleh?"


Aku tersenyum sambil mengangguk pelan. Sedetik kemudian aku berjalan mendekati Abi Fazila, memeluknya erat tanpa perlu menghkawatirkan apa pun lagi.


"Ternyata hal ini ada hikmahnya juga!" Ucap Abi Fazila sambil mengelus puncak kepalaku.


"Maksud Abi, apa?"


"Maksud, Abi. Ummi semakin menempel. Dan Abi suka itu." Celetuk Abi Fazila penuh semangat, kali ini ia semakin mengeratkan pelukannya.


Aku yang mendengar ucapan Abi Fazila hanya bisa tersenyum simpul sambil mencubit perutnya. Di saat seperti ini tidak ada yang lebih baik selain saling menguatkan dan terbenam dalam dada bidang Abi fazila. Aku sangat beruntung, dan aku berdoa semoga semua wanita mendapatkan keberuntungan yang sama seperti ku, bahagia dalam rumah tangganya walau sebesar apa pun badai yang akan datang menguji kesetiaan cinta.


Aku ingin kehidupan seperti ini terus berlanjut. Terus dan terus berlanjut. Aku tak ragu mengatakan, bersama denganmu walau sebatas embun kunamai itu anugrah. Aku bergumam di dalam hati sambil mengeratkan pelukanku di tubuh kekarnya, entah kenapa malam ini aku bersikap seperti remaja yang baru mengenal cinta. Aku bahagia saat menatap wajahnya, aku terluka saat melihatnya menangis, dan aku hancur saat mengetahui apa yang menjadi tujuan hidupnya tak terpenuhi.


Fatimah... Kau sedang jatuh cinta, padanya yang telah mencuri ketengan siang dan malammu. Kau jatuh cinta dan dia adalah cinta pertamamu, belahan jiwamu dan penyejuk hatimu, Alan Wijaya. Aku kembali bergumam di dalam hati, untuk pertama kalinya aku merasakan cinta sebesar ini.


"Aku mencintaimu, Bi. Sangat cinta sampai aku berpikir hari-hariku kurang lengkap tanpa kehadiranmu disisi ku. Kau adalah cinta pertamaku.


Tapi maafkan aku, aku tidak mencintaimu sebesar itu. Karena aku tahu keindahan cinta yang hakiki adalah ketika kita merasakan betapa indahnya mencintai Allah." Ujarku dengan suara pelan, tidak ada balasan dari Abi Fazila selain senyuman saja.

__ADS_1


Dia mengetahuai aku mencintainya, maka itu sudah cukup baginya. Tak ada lagi yang kami inginkan dalam kehidupan ini selain kebahagiaan. Amatilah, sedikit yang di perlukan untuk membuat suatu kehidupan yang membahagiakan, semuanya ada di dalam diri kita sendiri yaitu di dalam cara kita berpikir dan bersikap.


...***...


__ADS_2