
Bi... Ummi ada di rumah Mama. Putri manis mu bilang dia ingin makan siang bersama Umminya. Abi tidak perlu khawatir karena keempat bayangan mu ada bersama ku. ❤❤
Tulis ku pada pesan singkat yang ku kirim untuk Abi Fazila.
Aku tidak akan berani meninggalkan rumah sebelum mendapat izin darinya. Sebenarnya aku sudah memberitahukan Abi Fazila tepat sebelum beliau berangkat ke kantor, hanya saja aku ingin memberikan kabar padanya kalau aku berada dalam perjalanan. Sungguh, aku meninggalkan rumah dengan riang gembira, mungkin karena sudah lama tidak berkunjung kerumah ibu mertua.
Ibu mertua?
Dua kata yang terdengar sangat sederhana namun berhasil membuat ku merasakan bahagia luar biasa. Selama ini aku selalu menumpahkan kasih sayang yang ku miliki pada putri manisku Meyda Noviana Fazila sampai aku sendiri lupa bagaimana rasanya di sayangi, di manja, dan di cinta. Tapi... sekarang, berkat Fazila aku bisa merasakan segalanya dan aku pun punya semua yang di dambakan seorang wanita dalam rumah tangganya.
Aku merasa bahagia, dan aku bersyukur untuk itu, sampai kapan pun aku tidak akan pernah berani menentang Rabb ku, hidup ku dan matiku, kuserahkan hanya kepadanya.
"Nyonya... Apa saya boleh bertanya?"
Aku sedikit terkejut mendengar pria kekar yang duduk si samping sopir separuh baya itu. Dua pekan berlalu sejak dia tinggal di rumah, namun untuk pertama kalinya dia berani menegur ku, tentu saja aku merasa senang untuk itu. Itu artinya dia tidak merasa sungkan.
"Silahkan?" Balas ku singkat sambil memamerkan senyuman tipis. Aku duduk di kursi penumpang di temani sebuah buku yang ada di tanganku.
"Nyonya dan Tuan bos terlihat sangat serasi, kalian berdua adalah pasangan yang diciptakan di Surga.
Yang ingin saya tanyakan, saya masih memiliki banyak luka di masa lalu. Apa yang harus saya lakukan agar hati saya bisa menerima bahagia tanpa perlu memikirkan luka lama lagi."
Untuk sesaat, aku berpikir sambil menatap keluar kaca mobil. Jalan raya tampak ramai seperti biasa.
"Apa semua ini tentang hati?"
"Nyonya benar. Semua ini tentang hati."
Hhhmmmmmm!
Aku menghela nafas kasar sambil menatap kedepan. Pria rupawan yang duduk di kursi depan samping sopir itu terlihat sedang menunggu jawaban apa yang akan ku beri. Jika di lihat dari raut wajahnya, ia tampak penasaran dan sepertinya kami sebaya. Bicara santai pasti lebih menyenangkan ketimbang harus bicara formal.
"Kalo tidak salah nama anda Aiman, kan?"
"Iya, nyonya benar. Nama saya Aiman."
__ADS_1
"Aku tidak tahu harus berkomentar seperti apa. Jujur... Di bandingkan dengan siapa pun, luka lama ku jauh lebih besar. Sekarang, tidak ada lagi derita. Karena aku percaya waktu adalah penyembuh luka terbaik.
Aku hanya ingin mengatakan. Jangan cegah dirimu untuk bahagia. Ketika kamu ikhlas menerima semua kekecewaan hidup, maka Allah akan membayar tuntas semua kekecewaanmu dengan beribu-ribu kebaikan."
"Ikhlas? Satu kata yang selalu membuat saya menghela nafas. Entah berapa puluh kali sudah saya mengatakan kalau saya ikhlas dengan semua ini, nyatanya setiap kali saya membuka mata di pagi hari saya merasa berada di jurang kehancuran. Saya merasa kesal, saya juga merasakan dendam."
"Apa kekasih den Aiman berkhianat?"
"Dia tidak berkhianat, mang. Dia melakukan dosa besar. Dosa yang tidak akan pernah termaafkan bahkan sampai kami berdua tiada."
"Apa maksud den Aiman? Mamang benar-benar tidak mengerti?"
Aku juga ingin menayakan pertanyaan yang sama pada bodyguard muda itu. Syukurlah pertanyaan ku telah terwakilkan.
"Nyonya... Dulu, saya memiliki seseorang yang sangat spesial di hati dan pikiran saya. Sayangnya, dia hanya menginginkan saya bukan keluarga saya.
Di dunia ini saya hanya memiliki ibu saya sebagai keluarga. Sementara wanita itu? Dia berusaha keras menyingkirkan ibu saya. Demi Tuhan, saya tidak percaya pada wanita mana pun lagi."
"Dengar... Kau tidak boleh berkata seperti Itu. Trauma masa lalu mu mungkin sangat menakutkan, dan yang ingin ku katakan adalah, tidak semua wanita itu sama.
"Terima kasih untuk ucapan menenangkan Nyonya Fatimah. Karena anda yang mengatakannya saya yakin saya pasti bisa membuka hati saya lagi."
Percakapan di dalam mobil berakhir dengan baik, dan sekarang aku sudah sampai di depan kediaman Wijaya. Yang membuatku heran, mobil Abi Fazila terparkir di dalam garasi.
...***...
Assalamu'alaikum...
Aku menguncapkan salam sambil berjalan masuk mendekati sofa ruang tengah.
Wa'alaikumsalam...
Balas semua orang cepat, dan benar saja ada Abi Fazila disana. Beliau duduk di samping Mama Nani yang sedang memangku putri cantik ku, Fazila.
"Ummi sudah datang? Duduk disini, Mi."
__ADS_1
"Nanti saja, Bi. Sekarang Ummi mau mengganti pakaian Fazila dulu." Ucap ku sambil memegang lengan Fazila. Bocah manis itu tidak mengatakan apa pun. Ia bangun dari langkuan Mama Nani sambil tersenyum bahagia.
"Ma. Fatimah ke-kamar sebentar? Fatimah akan segera kembali."
"Jangan lama-lama, nak. Setelah Fazila selesai, cepat turun. Kita akan makan siang bersama setelah itu kita akan mengajak Fazila jalan-jalan."
"Baik, Ma." Balas ku singkat, kemudian berlalu menuju kamar dilantai dua.
...***...
"Alan... Mata-mata Opa mengatakan kalau kau masih menemui Seren. Apa itu benar?" Opa Ade bertanya sambil meletakkan cangkir teh hijaunya di meja. Tatapan tajamnya membuat sekujur tubuh ku merinding.
"Untuk apa kau menemui wanita itu? Apa kau masih memiliki perasaan yang belum terselesaikan?" Oma Ochi terlihat kesal. Ia bahkan sampai menyebikkan bibirnya.
"Jadi benar kau masih menemui wanita itu? Mama tidak akan mengampuni mu jika kau sampai membuat menantu Mama menangis." Tatapan Mama lebih menakutkan dari Opa Ade.
"Iya... Alan bertemu dengannya karena Alan harus menyelesaikan urusan penting."
"Urusan penting apa maksudmu? Bagaimana jika istrimu salah paham? Sekarang kau tidak sendiri lagi, setiap hal yang kau lakukan, pastikan hal itu tidak akan membuat menantu dan cucu Mama menangis. Kau mengerti?"
"Iya, Mam. Alan mengerti."
"Bagus jika kau mengerti." Sambung Mama lagi, wajah yang tadinya terlihat kesal kini mulai memamerkan sikap ramah.
Mama memiliki hati yang lembut, hal yang paling ku takuti darinya adalah amarahnya. Sekali beliau marah maka hidup ku bisa saja berakhir dalam satu tarikan nafasnya.
"Nyonya makan siangnya sudah siap."
"Baik, Mbok. Terima kasih." Balas Mama kemudian kami bangun dari sofa ruang tengah, berjalan menuju meja makan. Di susul Ummi Fazila yang saling berpegangan tangan dengan putri manis kebanggaan keluarga Wijaya.
Di meja makan semua orang tampak menikmata makan siangnya, semua orang ada di rumah kecuali Sabina. Gadis manis itu meminta izin pulang terlambat karena hari ini ada kegiatan sosial yang di adakan di kampusnya.
"Yah... Nani ingin mengatakan hal penting!" Entah apa yang ingin Mama katakan sampai beliau terlihat tidak nyaman. Meja makan yang tadinya terasa santai berubah sedikit tegang.
...***...
__ADS_1