
Mmmm! Araf berdeham cukup keras sampai membuatku terperanjak, ponsel yang ada di genggamanku pun terlepas dari tanganku. Sedetik kemudian aku mulai mendengar gelak tawa Araf yang mulai pecah, aku rasa dia sedang meledak ku.
Seandainya Araf ada di depanku, ku pastikan akan memberikan tinju di wajah tampannya agar ia tidak berani lagi memamerkan dirinya di depan setiap gadis yang ia temui.
"Kau bahagia? Aku yakin kau sedang bahagia! Kau bahkan tertawa di atas penderitaanku. Kau tahu hatiku sedang buruk, kau malah menyambungkan panggilan pribadimu dengan ku, dasar tidak waras!" Gerutuku tanpa mengizinkan Araf bicara.
"Maaf. Maafff!" Ucap Araf disele-sela tawanya.
"Aku hanya ingin menggodamu. Kau tahu aku sangat bahagia. Dan aku ingin menularkan bahagiaku padamu." Sambung Araf dengan nada suara penuh semangat.
"Yaya... Aku tahu kau sangat bahagia. Aku bahkan bisa melihat kau bertingkah seperti cacing kepanasan karena gadis itu menghubungimu, iya kan?" Balasku santai.
Untuk sesaat Araf terdiam, entah apa yang dipikirkan otak cerdasnya sampai helaan nafasnya pun terdengar sangat berat.
"Apa kau masih hidup?" Aku bertanya pada Araf sambil membuka jas yang ku gunakan dan meletakkannya di atas bantal.
"Tentu saja." Balas araf pelan.
"Ada apa denganmu? Tadi kau bertingkah seperti cacing kepanasan hanya karena mendengar suara lembutnya. Sekarang kau bertingkah seperti Romeo yang kehilangan Julietnya, apa itu masuk akal?" Aku mencecar Araf dengan segala tanyaku. Bukannya menjawab dengan benar, ia malah terdengar uring-uringan.
"Aku merindukan fazilaaa!" Balas Araf santai.
"Dasar tidak waras. Aku pikir apa, ternyata hanya karena anak manis itu. Kalian benar-benar sama. Sama-sama membuatku pusing." Ucapku dengan nada suara lelah.
"Haiii... Berani sekali kau menyamakanku dengan orang lain! Siapa orang itu?" Tanya Araf dengan nada suara tinggi, aku tahu dia pasti sedang tersenyum. Seandainya aku bisa melihat senyum sahabatku itu, aku yakin tidak akan sekesal ini.
"Mama!" Balasku singkat.
"Tante Nani! Ada apa dengannya?"
__ADS_1
"Fazila, anak itu! Mama bertemu dengannya di stasiun Tv. Gara-gara anak itu mama memaksaku bertemu dengan gadis pilihannya. Mama bilang, beliau ingin cucu semanis anak itu. Bukankah itu pemaksaan?" Tanyaku pada Araf disebrang sana.
"Hahaha... Akhirnya ada orang yang sama dengan ku!" Ucap Araf di sela-sela tawa lepasnya.
"Aku bisa mengerti perasaan tante Nani. Aku pun merasakan hal yang sama. Bahkan lebih buruknya lagi, aku tidak hanya jatuh cinta pada anak itu, aku juga jatuh cinta pada ibunya!"
"Yaya... Kau memang tidak waras. Aku bahkan tidak pernah menyangka kau akan jatuh cinta pada wanita yang punya anak. Ternyata sikap playboy mu masih sering kumat." Ucapku sambil tersenyum, senyum mengejek yang tidak akan pernah Araf lihat.
"Baiklah. Lupakan tentang diriku. Kau pasti sudah melihat nona Fatimah karena itu kau begitu senang meledekku." Selidik Araf dengan nada yang terdengar serius.
"Kau salah! Aku tidak pernah melihat wanita itu! Aku hanya melihat putrinya!" Jawabku seadanya karena itu memang kebenarannya.
"Apa maksudmu? Bukankah nona Fatimah tinggal di apartemenmu? Bagaimana mungkin kau mengizinkan orang asing tinggal di tempat berhargamu tanpa mengetahui siapa orangnya?" Lagi-lagi Araf bertanya, pertanyaan yang sangat membosankan.
Jika bukan karena Araf, aku tidak akan pernah memberikan siapapun menyentuh aset berhargaku. Persahabatan yang terjalin selama puluhan tahun membuatku membiarkan wanita itu tinggal di apartemenku bahkan tanpa melihat wajahnya.
Wanita itu? Itu ucapan yang sedikit kasar. Aku tidak perduli itu, aku tidak mengenalnya, aku juga tidak berteman dengannya. Walaupun Araf sangat mencintainya, bagiku ia hanya wanita asing, dan bukan masalah besar jika aku hanya memanggilnya dengan sebutan 'Wanita itu'
"Baiklah. Sudah cukup membicarakan wanita impianku! Sekarang, ceritakan wanita yang di jodohkan tante Nani denganmu! Apa dia cantik? Apa dia menarik? Apa dia kaya? Apa dia sesuai dengan seleramu? Apa dia bisa membuatmu jatuh cinta? Apa dia..."
"Cukup!" Ucap ku cepat menghentikan Araf yang terus saja bicara seperti ibu-ibu yang nasinya gosong.
Apa dia sesuai dengan seleramu? Pertanyaan Araf yang paling membekas di hatiku! Bagaimana aku tahu itu. Aku pria yang setia dengan satu wanita. Aku sendiri tidak tahu wanita seperti apa yang di inginkan hatiku. Kejadian Delapan tahun silam telah membunuh Alan yang di penuhi dengan perasaan cinta, sekarang yang ada hanya Alan pria menyedihkan yang di penuhi dengan dosa, dosa masa lalu yang tidak akan pernah hilang sampai aku tiada.
"Wanita yang mama jodohkan denganku adalah Bani...!" Ucapku cepat. Aku tidak ingin Araf mengurai tanyanya lagi, pertanyaan yang tidak ingin ku dengar.
"Ba-bani? Maksudmu wanita putih abu-abu itu, kan?" Araf bertanya pelan, dari pertanyaan singkatnya aku bisa merasakan keterkejutannya.
"Ia. Dia gadis putih abu-abu!" Balasku lagi, kali ini aku menghela nafas panjang sembari mengingat kejadian belasan tahun silam.
__ADS_1
"Oh my god! Apa tante Nani memata-mataimu? Kenapa dia bisa mengenal gadis putih abu-abu itu?"
"Aku sendiri tidak tahu! Mama bilang dia cucu dari sahabat opa. Aku setuju bertemu dengannya karena mama sudah janji akan membatalkan hubungan ini jika aku menolaknya. Dan aku pun sudah memutuskan untuk menolaknya." Ucapku menegaskan. Araf terdengar menghela nafas, sepertinya jawaban singkatku membuatnya heran.
"Kau benar-benar pria dingin! Wanita secantik Bani hadir kembali dalam kehidupanmu, untuk apa kau menolaknya?" Pertanyaan Araf di penuhi intimidasi.
Bani memang gadis yang cantik! Kecantikannya akan membuat pria manapun terpana dan bertekuk lutut. Bagiku berbeda, aku bukan lagi pria yang akan terobsesi mengejar sosok Bani seperti masa sekolah dulu.
"Dia cinta pertamamu! Apa kau tidak merasakan hal berbeda ketika bertemu untuk pertama kali dengannya?"
"Tidak!Tidak ada hal seperti itu!" Balasku dengan suara sedikit kesal. Aku kesal karena Araf terus saja mengulangi pertanyaan yang sama.
"Aku bukan anak remaja yang akan tergila-gila pada cinta pertamanya." Ucapku lagi menegaskan.
"Yaya... Aku bisa mengerti perasaanmu! Atau... Jangan bilang wanita aneh yang hadir dalam mimpimu mengekang langkah kakimu untuk bahagia?"
Glekkk! Aku menelan saliva ku, pertanyaan terakhir Araf bagai bom molotov yang menghancurkan ketenangan sesaatku. Araf benar soal itu, namun aku tidak memiliki jawaban apapun untuk pertanyaannya.
Tuhan. Aku tertangkap basah! Gumamku sembari menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Entahlah! Aku juga tidak tahu pasti soal itu." Ucapku pasrah, bagaimana bisa aku menyerahkan kebahagiaanku pada wanita yang tidak kutahu keberadaannya.
"Lebih baik kau terima saja Bani sebagai pilihan terbaik untukmu. Kau mengenal Bani lebih baik dari pada siapa pun." Ucap Araf serius. Saran Araf benar-benar terdengar aneh di telingaku.
Apa dia sungguh sahabatku? Ucapannya terdengar sama seperti opa Ade. Apa mama memintanya untuk mengatakan itu? Aku benar-benar tidak tahu apa pun.
"Dengar! Tante Nani memintaku untuk mengatakan itu. Beliau meminta tolong agar aku menyakinkanmu untuk menikah kali ini! Aku sahabatmu, aku mengerti perasaanmu. Aku akan mendukung setiap keputusanmu. Jika wanita yang hadir dalam mimpimu benar-benar ada, aku berharap kalian segera bertemu." Ucap Araf tulus.
"Lupakan tentang Bani, dia memang cinta pertamamu selama putih abu-abu. Kau tidak boleh menyerah untuk bahagia. Sama seperti aku sangat mencintai nona Fatimah, maka aku berharap kau pun akan menemukan wanita yang akan kau cintai juga." Sambung araf panjang kali lebar. Semenit kemudian kami mengakhiri panggilan malam ini karena kesibukan masing-masing.
__ADS_1
Aku duduk disisi ranjang, ucapan Araf masih terngiang di telingaku. Aku tidak akan pernah bisa menemukan wanita yang kucintai, sama seperti perasaan cinta pada masa putih abu-abu ku telah sirna. Keinginanku untuk bahagia pun telah sirna. Tidak ada hal yang ku inginkan dalam kehidupan ini selain permintaan maaf dari wanita yang telah kulukai harga dirinya.
...***...