Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Curhat


__ADS_3

Araf duduk sembari menangkupkan wajah dengan kedua tangannya, sesekali ia menarik nafas panjang kemudian pelan menghembuskan kasar dari bibirnya.


Ia tidak pernah memprediksi, mamanya akan datang menemuinya pada pekan pertamanya berada di pondok sederhananya.


Mama! Empat huruf menjelma menjadi satu kata, terdengar sangat sempurna bila di ucapkan dari bibir siapa saja yang memilikinya.


Mama... Berarti sahabat, semua keluh kesah bisa di sampaikan padanya. Namun tidak bagi Araf, mendengar kata mama ia pasti akan terperanjak, terkejut sampai ia tidak bisa tersenyum jika dekat dengannya.


Araf kamu harus begini. Araf kamu harus begitu. Seolah kata begini dan begitu itu benar-benar musuhnya dalam waktu yang tidak singkat. Meskipun begitu Araf tetaplah seorang putra yang akan mencintai dan menghormati orang tuanya sampai nafas terakhirnya, karena begitulah seharusnya setiap anak bersikap.


Cinta. Kasih sayang. Rasa hormat. Itu hanya sebagian kecil hal yang harus dilakukan setiap anak pada orang tuanya.


Ada apa? Apa kau mulai bosan? Bukankah aku sudah memintamu untuk tidak datang kepedesaan! Dasar payah. Araf tersenyum membaca pesan singkat yang di kirim sahabat terbaiknya.


Aku tidak sepayah itu! Aku sangat bahagia disini. Coba saja datang kemari, ku pastikan kau akan langsung jatuh cinta pada pesona tempat ini dan para gadisnya. Balas Araf.


Apa di kepalamu hanya ada wanita? Kenapa kau selalu menyisipkan wanita dalam setiap percakapan kita...


Tentu saja. Aku ini pecinta wanita, bagaimana mungkin aku bisa jauh dari makhluk indah itu. Beda denganmu, kau hanya memiliki satu wanita. Seren wanita yang beruntung. Balas Araf lagi dalam pesan singkatnya.


Aku sudah memutuskan hubungan dengan wanita itu!


Apa? Ohh... Ya ampun. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Bukankah kau sangat mencintainya? Araf bangun dari posisi terlentangnya, ia sangat kaget membaca pesan singkat sahabatnya.


Yaaa... Itu dulu. Baiklah, aku akan menghubungi mu nanti, saat ini aku memiliki banyak pekerjaan.


Araf memoyongkan bibirnya membaca pesan terakhir yang di kirim sahabatnya itu. Sebenarnya ia ingin curhat panjang kali lebar, sayangnya komunikasi mereka harus terhenti karena kesibukan salah satu di antara mereka.


...***...


"Iklima, bawakan berkas yang di kirim pihak Setasiun Tv. Aku ingin tahu acara seperti apa yang akan mereka tayangkan selama Ramadan." Ucap Alan dari sambungan telpon.


"Baik bos, akan segera saya bawakan." Balas Iklima yang kemudian sambungan telpon di matikan.


Semenit kemudian.


Tok.Tok.Tok.

__ADS_1


"Masuk." Ucap ku tanpa menoleh kearah pintu.


"Bos, ini berkas yang anda minta."


"Letakkan di sana!" Tunjuk ku ke arah meja depan sofa.


"Apa bos membutuhkan hal lain?"


"Tidak ada."


"Baiklah, saya permisi." Balas iklima kemudian pelan berjalan mundur.


Entah dari apa Tuhan menciptakan hati laki-laki ini, ia lebih dingin dari Es. Dan lebih keras dari Batu. Lirih Iklima dalam hatinya, ia masih berjalan mundur sembari memperhatikan wajah bos dinginnya.


"Apa kau sudah selesai mengamati wajahku? Bisa kau panggilkan Bobby untuk ku?" mendengar ucapan ku, Iklima hampir saja terjatuh karena kaget. Mungkin ia tidak menyadari kalau aku selalu mengawasi setiap hal yang ada di sekitarku. Dan kali ini ia tertangkap basah.


"Ma..maaf bos." Ucap Iklima gugup sambil terburu-buru berjalan keluar.


Setelah Iklima pergi, hanya tersisa aku dan pekerjaan ku, pelan aku beranjak menuju sofa tempat berkas yang di letakkan Iklima.


"Tidakkkahh anda takut kepada Allah!" Aku terperanjak, sembari menoleh kearah kiri dan kananku mencari sumber suara. Tidak ada siapa pun selain diriku. Aku sangat terkejut dan jantung ku berdeguf lebih cepat. Ucapan singkat itu bagai bom molotov yang meluluh-lantakkan segala hal yang ku miliki. Air mata ku mulai menetes deras, aku beranjak menuju pintu, menguncinya dari dalam agar siapapun tidak melihat ku dalam kondisi ini.


Bertahun-tahun berlalu sejak kejadian itu, kenapa aku kembali mengingatnya sekarang. Aku jijik. Aku jijik pada diriku sendiri.


"Tuhan maafkan aku, aku sii pendosa itu." Lirih ku pelan sembari menangis pilu.


Tok.Tok.Tok.


Suara ketukan pintu terasa bergema di telinga ku, semakin keras suara ketukannya semakin kuat juga ingatan ku pada masa lalu yang menyakitkan.


"Tiiinggalkannn aku sendiiiri..." Ucap ku kasar dengan derai air mata yang masih menetes deras.


Tidak ada lagi suara ketukan pintu, setiap hitungan detik aku terus menggigil ketakutan. Samar-samar wajah gadis itu muncul, menari-nari di benak ku.


"Hikk...Hikk. Maafkan aku nona. Maafkan aku. Seumur hidup dosa ini akan terus menghantui ku. Kemana aku harus mencari mu? Aku berharap kau sehat, agar kau bisa menghukum dan mengutuk ku seumur hidup mu!" Ucapku masih dengan derai air mata. Aku tidak pernah tahu kalau aku selemah ini, setiap kali aku mengingat tindakan buruk ku pada wanita lemah itu sekujur tubuhku terasa mati rasa.


Tuhan, jika memungkinkan pertemukan aku dengan wanita itu agar aku bisa meminta maaf padanya. Lirihku pelan sembari menghapus air mata dengan punggung tangan ku.

__ADS_1


...***...


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam, kau sudah pulang sayang? cepat ganti bajumu, setelah itu kita akan makan siang bersama." Ucapku sambil meletakkan makanan di meja makan.


"Ummi, Fazila lapar. Apa Fazila boleh mengganti baju nanti saja?"


"Baiklah, pertama kau harus mencuci tanganmu dengan sabun, setelah itu kita akan makan." Ucapku lagi sembari menyunggingkan senyuman tipis.


Wajah putriku terlihat bahagia, entah apa yang di alami Peri manis ku sampai ia sebahagia itu. Senyum manisnya selalu menghilangkan duka ku, di hadapan senyumnya duka ku tak lagi berarti apa-apa.


"Ummi, apa Ummi tahu?" Fazila masih tekekeh ketika ia bicara seperti itu.


"Tentu saja Ummi tidak tahu, kau belum mengatakan apa pun." Balasku sambil meraih dan memangku peri kesayanganku.


"Ummi, sekarang Fazila sudah besar. Ummi bisa menyuapiku, tapi Ummi tidak boleh memangku ku." Putri ku memandangi ku dengan wajah sumringah.


"Ia. Ummi tahu kau sangat besar, sekarang makan ini!" Ucapku lagi sembari menyuapi Fazila.


Anak manis itu tersenyum sebentar sebelum ia menerima suapan pertamaku. Tidak ada derita yang menghentikan jalan hidup, dan tidak ada kesedihan yang bisa menghilangkan harapan. Menjadi ibu tunggal terlihat sangat menakutkan, tapi setelah aku menjalani, semuanya terasa baik-baik saja. Satu hal yang pasti, keyakinanku semakin meningkat pada yang Maha Kuasa. Dan saat ini aku larut dalam bahagia bersama peri kecil yang paling ku sayangi di dunia ini.


...***...


Alan. Hidup mu tidak akan berakhir semudah itu. Lirih ku pelan sambil berbaring ditempat tidur.


Setelah menangis aku merasa jauh lebih baik, sejak peristiwa delapan tahun silam aku berubah menjadi sosok yang berbeda. Pemarah, dingin, dan lebih buruknya lagi aku menjadi peria cengeng. Hanya orang lemah yang menangis, dan aku berubah menjadi sosok lemah setiap kali mengingat kekurang ajaranku karena merenggut kesucian wanita tak berdosa.


Kring...Kring.


"Hallo..." Jawab ku datar.


"Alan Bro... Apa kau bebas sekarang?" Ucap seseorang di sebrang sana.


Aku tersenyum kemudian pelan menjawab "Ia." Aku yakin sahabatku ini pasti akan menceritakan semua hal yang terjadi padanya dalam sepekan terakhir ini. Curhatan laki-laki akan terjadi lagi, dengan kisah panjang kali lebar kemudian kami akan larut dalam perasaan yang sama, sedih atau senang?Entahlah. Satu hal yang pasti, sebanyak apa pun masalah yang datang aku selalu menyakinkan diriku kalau semuanya akan baik-baik saja, dengan begitu hati akan menjadi tenang.


...***...

__ADS_1


__ADS_2