
"Apa kau melakukan apa yang ku minta semalam?"
"Siap, bos. Sudah!"
"Bagus."
"Hari ini bos akan bertemu dengan nona Seren pukul sebelas siang di Kafe depan perusahaan. Bos tidak perlu mengkhawatirkan apa pun karena saya sudah mengatur segalanya."
"Setelah ini, minta dua anak buah mu untuk mengawasi Bodyguard yang menjaga putri ku. Jangan sampai ke empat orang itu tahu kalau mereka sedang di awasi.
Aku tidak akan bisa tenang sebelum mengetahui kinerja mereka." Ucap ku sambil membalik berkas yang ada di atas meja. Tatapan ku masih tertuju pada berkas yang ada di tangan ku. Dua hari tidak masuk kerja membuat beberapa pekerjaan penting tertunda. Untungnya Iklima dan Bobby pegawai yang sigap, mereka bisa menghendel pekerjaan tanpa perlu menunggu perintah dari ku.
"Maaf, bos. Sudah waktunya bos berangkat ke Kafe. Saya yakin nona Seren pasti sudah menunggu anda." Ucap Bobby berusaha mengingatkan.
Untuk sesaat, aku tersenyum sambil menatap Bobby dengan tatapan datar. Ternyata kebiasaan lama ku muncul kembali, aku tidak akan mengingat apa pun lagi jika sudah fokus dengan pekerjaan. Dan hal ini berhasil membuat ku kesal.
"Kau tidak perlu mengikuti ku. Aku akan pergi sendiri. Dan iya satu lagi, minta anak buah mu yang lain untuk mengawasi empat pria yang menjaga istri ku. Seperti yang ku katakan sebelumnya, jangan sampai ke-empat pria itu mengetahui kalau mereka pun sedang di buntuti."
"Baik, bos. Saya mengerti, bos tidak perlu mengkhawatirkan hal itu." Balas Bobby lagi.
"Jujur, aku merasa tenang. Semua beban yang berhasil memberatkan pundak ku seolah menguap ke-angkasa. Aku juga tidak merasakan lelah lagi. Hidup ini terlalu indah untuk di sia-siakan." Ujar ku sambil bangun dari posisi duduk ku.
Butuh waktu lima menit untuk bisa sampai di kafe yang akan menjadi saksi amarah ku saat ini. Aku sudah berdiri di depan pintu saat mendengar percakapan singkat Seren sengan asisten pribadinya.
"Aku benci dengan keterlambatan. Apa kau yakin orang itu meminta mu bertemu di tempat ini? Apa kau tidak salah dengar? Tempat ini terlihat sepi."
"Tidak, nona. Ini memang tempat yang benar. Tidak mungkin saya salah dengar."
"Baik-lah. Anggap saja kau benar, jika ini memang tempatnya, sekarang katakan kita akan bertemu dengan prusahaan mana? Dan siapa yang akan kita temui saat ini?"
Aku masih berdiri di dekat Akuarium sambil mendengarkan percakapan dua wanita itu. Ku tebak, Seren pasti dalam keadaan kesal setelah melihat ekspresi wajah asistennya.
Aku jauh lebih kesal di bandingkan dengan mu! Dan sekarang ku pastikan kau pasti akan tambah kesal setelah mendengar sampah yang akan keluar dari bibir ku. Aku bergumam di dalam hati sambil mengepalkan kedua tanganku.
__ADS_1
Biasanya aku tidak pernah semarah ini. Tapi, hari ini? Melihat wajah Seren membuat ku semakin kesal. Wajahnya tetap cantik seperti biasa, dan penampilannya selalu memukau setiap mata yang menatapnya. Sayangnya, setiap kali mengingat ucapan kasar yang ia lontarkan pada Ummi Fazila membuat darah ku mengalir sepuluh kali lebih cepat.
"Ayo kita pergi."
"Tapi nona..."
"Tidak ada tapi-tapian. Hari ini kamu sudah membuat ku menunggu seperti orang bodoh . Lain kali, jika hal ini terjadi lagi kamu tidak akan pernah bisa mengangkat kepala mu lagi. Dasar tidak berguna." Celoteh Seren dengan mata yang mulai memerah.
"Untuk apa kau marah padanya? Aku yang meminta mu bertemu di tempat ini." Aku berjalan mendekati Seren dengan amarah ku yang hampir saja meledak, sekuat tenaga aku berusaha bersikap biasa-biasa saja.
"Alan, kau? Wahhhhh ini benar-benar kejutan."
"Tinggalkan kami berdua." Ucap ku sambil menatap asisten Seren, wanita muda itu hanya bisa mengangguk pasrah. Ia berjalan menuju pintu keluar sambil menenteng tas tangan milik Seren.
"Aku datang kemari bukan untuk memberi mu kejutan atau hiburan. Aku datang kemari untuk memperingatkan mu." Aku mulai membuka suara diantara senyapnya udara.
"Pe-peringatan? Apa maksudmu? Aku pikir kau datang kemari karena kau merindukan ku sama seperti aku merindukan mu."
"Kau bilang kerinduan ku padamu hanya omong-kosong? Setiap detik, setiap menit, dan setiap waktu hanya kau yang ada dalam pikiran ku, dan sekarang kau bilang itu hanya omong-kosong?
Kenapa kau berubah jadi kejam? Tak bisakah kau melihat di mataku masih ada percikan api cinta yang masih berkobar? Ayo kita kembali seperti dulu lagi dan tinggalkan semuanya disini."
"Cukup. Aku tidak ingin mendengar apa pun dari bibir mu. Akan ku katakan sekali lagi, jangan pernah tampakkan wajahmu di depan istri ku, jika kau berani melakukan itu, apa lagi sampai melukainya. Ingat, saat itu akan menjadi hari terakhirmu." Ucap ku sambil menunjuk Seren, rasanya aku ingin mencekiknya.
"Jadi kau datang menemui ku hanya untuk mengancam ku? Apa ****** itu...."
Plakkkk!
Satu tamparan rasanya tidak akan cukup.
"Tutup mulut mu!" Aku berteriak dengan nada tinggi, tangan ku rasanya benar-benar gatal. Saat ini aku ingin menghancurkan sosok angkuh yang sudah berani memanggil 'Fatimah' ku dengan panggilan kotor.
"Aku bukan pria yang sabar. Aku juga bukan pria yang akan membiarkan wanitanya di hina oleh orang lain. Sama seperti cinta ku yang telah lama mati untuk mu, saat ini juga aku bisa membunuh mu. Kau terlalu meresahkan." Ucap ku dengan amarah yang masih memenuhi rongga dada ku.
__ADS_1
Uhuk.Uhuk.Uhuk
"Tuan... Tolong lepaskan nona Seren. Tuan bisa membunuhnya." Asisten Seren yang datang secara tiba-tiba berusaha melepaskan tangan ku dari leher jenjang Seren.
Aku mencekiknya, ya aku mencekiknya. Tidak ada yang boleh memanggil Ummi Fazila dengan sebutan ******, entah itu di depan ku atau pun di belakang ku.
Uhuk.Uhuk.Uhuk.
Seren kembali terbatuk, dan tentu saja aku tidak perduli akan hal itu. Tidak ada lagi rasa kasihan di hati ku untuk wanita seburuk dirinya.
...***...
Dua jam berlalu sejak aku menemui Seren, sekarang aku sudah sibuk kembali di kantor seolah tidak pernah terjadi apa-apa pagi ini.
"Apa pertemuan bos dengan nona Seren berjalan lancar?" Bobby bertanya sambil meletakkan secangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas.
"Iya." Balas ku singkat.
"Apa bos tidak bertindak..."
"Kasar maksud mu?" Bobby yang ku tanya hanya bisa diam sambil merunduk, biasanya dia tidak pernah bertanya.
Karena Bobby bertanya untuk pertama kalinya, aku pun tidak punya pilihan lain selain menjawab pertanyaannya.
"Aku menamparnya, aku juga mencekiknya! Dan untungnya tidak sampai tiada." Sambung ku lagi.
Kali ini Bobby menatap ku dengan tatapan tajam. Aku yakin dia pasti sedikit terkejut mendengar pengakuan ku, aku pun sama. Aku tidak pernah menyangka amarah ku mudah sekali meledak.
"Awas. Mata mu bisa loncat keluar." Ujar ku sambil menatap Bobby yang masih menatap ku dengan tatapan heran.
Sedetik kemudian aku mulai tersenyum, yang di inginkan hati ku saat ini, aku ingin segera pulang dan menemui bidadari Surga ku Fatimah Azzahra. Aku yakin seyakin-yakinnya, Seren pasti tidak akan berani menampakkan wajahnya lagi setelah mendapatkan peringatan keras dari ku.
...***...
__ADS_1