
"Ma-maffff. Apa kami mengganggu? Kenapa semua orang terlihat sedih? Dan sepertinya kami datang di saat yang tidak tepat. Kami akan kembali nanti saja." Ucap Mama Araf yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu.
"Tidak apa-apa Om, Tante. Silahkan masuk." Sahutku sambil mendekati Kedua orang tua Araf, aku menjabat tangan mereka kemudian meraih buah yang mereka bawa.
"Alan... Kenapa semua orang terlihat sedih? Kau juga menangis? Apa terjadi hal buruk?" Mama Araf bertanya sambil berbisik.
"Tidak apa-apa Tante. Kami merasa bahagia karena itu kami mulai emosional." Jawab ku sambil menggaruk kepala ku yang tidak gatal. Mama Araf yang mendengar balasan dariku hanya bisa tersenyup tipis. Tanpa banyak bicara aku yakin Mama yang akan menjelaskan segalanya.
"Silahkan duduk Om, Tante. Aku akan meminta Aiman membawakan kopi untuk kita semua." Ujarku lagi, kali ini aku meraih ponsel di saku.
"Alan, tunggu sebentar, Nak! Apa kau yakin kami tidak mengganggu?" Mama Araf kembali berbisik di telingaku.
"Tidak. Tenang saja." Balasku singkat dengan suara pelan. Mama Araf yang mendengar ucapanku hanya bisa tersenyum lega.
"Bu Riska, pak Nandu, apa kabar?" Papa berjalan kearah sofa yang di ikuti oleh Mama Nani di belakangnya, mereka menjabat tangan kedua orang tua Araf.
"Riska, apa kabar nak? Nandu, kau juga datang?" Giliran Oma Ochi yang menyapa kedua orang tua Araf, wajah sepuhnya memamerkan senyuman ramahnya.
"Iya, Bu. Saya juga ikut. Riska mengancam, jika saya tidak ikut maka dia akan menyuruh saya tidur di sofa." Celetuk Papa Araf yang kemudian di balas oleh tawa lepas semua orang. Aku sendiri bingung dimana letak lucunya? Ya sudahlah, mungkin aku yang terlalu serius.
"O iya Tante, dimana Araf? Apa dia masih dirumah?" Aku bertanya sambil bersiap duduk di samping Mama.
"Tidak Alan, dia datang bersama kami. Sejak pesta itu berakhir, anak nakal itu selalu tidur di rumah. Dia tidak pernah kembali ke apartemennya, bukankah itu bagus?" Mama Araf berucap dengan nada penuh semangat.
"Ya... Itu bagus jeng. Anak laki-laki memang harus dekat dengan orang tuanya. Jangan sampai mereka melupakan kita setelah mereka menikah. Tapi untungnya istri Alan sangat pengertian." Mama bicara penuh semangat, ia memeluk Mama Araf dengan perasaan bahagia luar biasa.
__ADS_1
Untuk sesaat aku menatap wajah nyaris sempurna Ummi Fazila, wajah itu memamerkan senyuman terindahnya, dan jujur saja aku semakin kelepek-kelepek di buatnya. Mendengar pujian Mama membuat Ummi Fazila bahagia. Aku sangat senang melihat kedekatan menantu dan ibu mertua itu.
"Mama tidak perlu menyanjung ku, semua menantu sama saja. Jika semua wanita mendapat mertua sebaik Mama dan Papa maka Fatimah jamin, kami sebagai menantu akan memperlakukan mertua kami seperti Raja dan Ratu." Ujar Ummi Fazila, dia menjabat tangan Kedua orang tua Araf setelah meletakkan kopi dan kue yang Aiman bawa di atas meja.
"Kalau boleh tahu, tadi itu ada peristiwa apa...?" Kali ini Papa Araf yang mengurai tanyanya.
Untuk sesaat, semua orang mulai terdiam. Papa menatap Papa Araf dan Tante Riska secara bergantian. Semenit kemudian beliau mulai mengurai kisahnya.
Kedua orang tua Araf merasakan haru luar biasa, mereka bahkan sampai menitikkan air mata. Mendengar cerita Papa membuatnya takjub.
"Ini benar-benar karunia luar biasa untuk kita semua, anak sekecil Fazila bisa menghafal tiga puluh Zuj Al-Qur'an tanpa melupakan satu pun hurufnya.
Begitulah cara Allah menjaga kitabnya, Allah menjadikan putri kita Al-Qur'an berjalan. Manusia secerdas apa pun tidak akan sanggup mengubah Al-qur'an sekeras apa pun usaha mereka. Dan Hari ini kita mengetahui putri kita bertemu dengan Baginda Nabi Muhammad SAW di dalam mimpinya, apa lagi yang lebih besar dari ini?" Papa Araf berjalan kearah tempat tidur Fazila. Dengan derai air mata ia mengecup puncak kepala Fazila yang saat ini mulai terlelap lagi.
Kami sudah bicara dengan Araf soal ini, dia tidak mengatakan 'Iya' ataupun mengatakan 'Tidak' Tapi kami yakin anak itu tidak menolak. Kami hanya ingin mendengar jawaban Sabina. Bagaimana pendapatmu, nak?"
Sabina yang di tanya hanya bisa menghela nafas kasar, menurutnya ini terlalu cepat. Dia harus menyelesaikan dua semester lagi untuk bisa mendapatkan gelar Sarjananya.
"Jika Tante bertanya pada Sabina. Maka dengan jelas Sabina katakan, ini terlalu cepat. Sabina merasa..."
"Merasa keberatan? Aku juga sama, itulah yang ingin Araf katakan pada Mama dan Papa. Kalian bahkan tidak mau mendengarkan.
Jika kalian tetap ngotot agar kami menikah, maka Araf akan melakukan itu. Tapi dengan satu syarat." Celoteh Araf begitu ia masuk, ucapannya tertahan di tenggorokannya, ia menatap semua orang dengan tatapan penuh pengharapan. Tak terkecuali Sabina, wajah cantiknya terlihat penasaran.
Syarat apa yang di maksud si payah ini? Apa dia akan meminta untuk menyembunyikan pernikahannya? Jika dia benar-benar melakukan itu maka aku akan mematahkan tulang-tulangnya. Dia memang sahabatku, tapi untuk urusan Sabina aku tidak akan memberikan kelonggaran padanya. Aku bergumam di dalam hati sambil menatap Araf dengan tatapan tajam. Araf yang ku tatap hanya bisa mengalihkan pandangannya sambil berusaha duduk di samping Mamanya.
__ADS_1
"Kami akan menikah. Kalian boleh merayakan pesta pernikahan kami semeriah yang kalian inginkan. Aku hanya ingin memberikan syarat, kami tidak akan memiliki anak sampai Sabina menyelesaikan pendidikannya." Ujar Araf sambil menatap wajah semua orang.
"Tapi nak..."
"Tidak ada tapi-tapian, Ma. Araf tahu Mama dan Papa menginginkan cucu. Tapi kalian juga harus tahu, tidak gampang bagi wanita naik turun tangga dalam keadaan hamil besar. Kalian juga harus memikirkan Sabina, dia juga butuh ketenangan selama belajar di kampusnya. Araf tidak ingin fokusnya terganggu hanya karena mengurus anak dirumah." Araf mengemukakan pendapatnya dengan lantang.
"Sabina juga berpikiran sama. Sabina setuju dengan pendapat mas Araf."
Pupus sudah harapan kedua orang tua Araf agar segera menimang cucu setelah mendengar jawaban singkat Sabina. Mau tidak mau mereka harus mengalah. Di dalam hati mereka, mereka sudah menyusun rencana besar untuk putra dan calon menantunya itu.
"Baiklah. Kami setuju dengan syarat kalian berdua. Bagaimana dengan pendapat Ayah dan ibu?" Mama Araf bertanya kepada Oma dan Opa, wajah mereka menunjukkan tidak ada masalah dengan syarat yang di ajukan calon pengantinnya.
"Baiklah. Kita sepakat, kita akan segera menikahkan Araf dan Sabina. Tepatnya, dua bulan dari sekarang." Ujar papa Araf menyakinkan.
Semua orang tampak bahagia kecuali calon pengantinnya, aku khawatir hubungan Araf dan Sabina tidak akan bertahan lama. Adik perempuan ku sangat berharga, dan aku tidak ingin dia tidak bahagia dalam pernikahannya.
"Araf, apa kau yakin dengan hubungan ini? Aku tidak ingin Sabina terluka. Jika kau berpikir untuk menyakitinya lebih baik akhiri semuanya disini. Aku memang kakak yang protektif, semua ku lakukan agar adikku tidak terluka." Celotehku sambil menatap Araf dengan tatapan tajam.
"Ohhooo... Kau tidak perlu menakutiku seperti itu. Aku tahu nilai adik perempuanmu, lagi pula siapa yang berani menolak pesona indah Sabina Wijaya?" Araf membalasku dengan candaan khasnya. Semua orang tertawa kecuali diriku.
"Aku akan menjaga adik mu, aku tidak akan menyakitinya. Lagi pula kau itu seperti Singa, aku takut dan tidak tahu kapan kau bisa memangsaku. Haha." Araf tertawa lepas, tawa yang sepertinya di paksakan.
Walau demikian aku berharap semua ucapan Araf benar, dan tanpa berpikir panjang aku langsung berjalan mendekati Araf, memeluk tubuh kekarnya sambil menepuk pundaknya. Semoga saja bahagia ini tidak berakhir dengan mudah.
...***...
__ADS_1