Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Bantal Pembatas


__ADS_3

Setelah makan malam usai semua orang kembali kekamar mereka masing-masing. Hari ini hari yang cukup melelahkan, dan tidak ada alasan bagi ku untuk tidak merebahkan diri di tempat tidur.


Semua ini masih terasa bagai mimpi, biasanya hanya Fazila yang selalu berada disisiku, tapi sekarang? Sosok yang tak kalah indahnya dengan aktor Televisi itu duduk di sofa bagai patung. Sejak setengah jam yang lalu ia duduk disana sambil berkutat dengan laptop yang ada di depannya. Entah pekerjaan apa yang begitu penting sampai ia terlihat seserius itu.


Dan Aku? Aku memilih untuk tetap diam. Aku bahkan tidak banyak bergerak karena aku takut itu akan mengganggunya.


Dia beranjak dari posisi duduknya dan menatap ku dengan tatapan yang sulit ku artikan. Apa dia tahu aku memperhatikannya sejak tadi, apa dia merasa kesal karena ulahku? Atau justru sebaliknya, dia merasa tidak nyaman karena aku bersikap diam? Setidaknya hanya alasan itu yang bisa ku temukan untuk mengartikan tatapannya saat ini.


"Bidadari... Ahhhh, maafff. Maksud ku, apa Ummi Fazila akan tidur sekarang?"


Mendengar pertanyaannya aku hanya bisa mengangguk pelan, sejujurnya aku masih merasakan gugup setiap kali berada di dekatnya. Bagi orang lain mungkin ini hal sederhana. Tapi bagi ku ini berbeda, bahkan jika ada yang bilang aku kampungan, aku tetap tidak akan bisa mengendalikan diri untuk tidak merasakan takut dan gugup.


Hubungan ini sangat rumit. Kami terikat dalam takdir yang unik. Pasangan lain saling mengangumi kemudian bersatu dalam pernikahan bahagia. Tapi, kami? Kami terikat karena Fazila.


"Apa aku boleh meminta piyama?"


"Tentu saja. Akan ku ambilkan!" Balas ku cepat kemudian berbalik dan berjalan menuju lemari besar yang ada di sebelah kananku.


Fatimah... Tenanglah. Kau tidak perlu segugup itu. Tidak akan terjadi apa-apa di antara kalian berdua. Dulu kau tidak mengenalnya sehingga kau bisa mengutuknya. Tapi, sekarang? Dia bukan orang asing. Kau bertanggung jawab untuk menjaganya sebagaimana kau menjaga Fazila. Memang sedikit sulit membina hubungan ini. Tapi percayalah, Tuhan mu tidak tidur. Yang kuasa pasti akan membuatmu bahagia, tidak ada kegelapan yang akan bertahan selamanya karena masih ada mentari yang akan menyinari hatimu yang telah lama membeku. Celotehku dalam hati sambil membuang nafas kasar.


Netraku kembali mengunci pada sosok indah itu. Sedetik kemudian aku meyodorkan piyama padanya dan di ambilnya penuh semangat. Untuk sesaat kami saling menatap dalam diam, terukir senyuman manis di wajah tampan itu.


Cesssss!


Rasa yang berbeda kini membelai lembut hatiku. Sebenarnya aku ingin balas tersenyum padanya, sayangnya aku masih belum terbiasa dengan keberadaannya. Aku buru-buru membalikkan badan, merunduk memberi hormat kemudian berjalan menuju sofa, aku duduk di sofa tanpa berucap sepatah kata pun.


Huhhhhhhhhh!

__ADS_1


Aku mulai membuang nafas lega. Berada di dekat Abi Fazila membuat tubuhku panas dingin. Ada apa dengan hatiku? Aku sendiri tidak bisa memahami hal sesederhana itu lalu bagaimana caraku menjaga diriku dan mengontrol detak jantungku.


"Apa Fazila sudah tidur?"


Hahhhhhhh!


Mendengar pertanyaan Abi Fazila yang secara tiba-tiba, membuatku mengusap dada karena terkejut. Aku terdiam sambil mencerna keadaan yang ada.


"A-apa Ummi Fazila terkejut? A-aku minta maaf, aku tidak sengaja melakukan itu."


"Tidak. Tidak apa-apa." Ucapku santai setelah aku bisa mengontrol debaran di hatiku.


Untuk sesaat kami sama-sama terdiam, aku sendiri tidak tahu harus memulai dari mana. Bukan hanya lisan ku, bahkan kaki ku sama sekali tidak bisa di gerakkan.


Seandainya Fazila ada disini, dikamar ini, bersamaku, mungkin suasananya tidak akan setegang ini! Aku bergumam di dalam hati sambil memamerkan senyuman tipis.


"Aku akan tidur di sofa, dan Ummi Fazila yang akan tidur di ranjang! Itu sudah keputusan final dan tidak akan bisa di ganggu gugat."


Orang kaya memang berbeda, cara mereka bicara dan gaya hidup mereka, semuanya terasa berbeda di rumah besar kediaman Wijaya ini. Aku bahkan tidak di izinkan menyentuh piring bekas ku makan, semuanya serba pelayan. Jika di hitung-hitung jumlah ART di kediaman Wijaya tak kurang dari belasan orang. Wahhhh.... Bukankah ini sedikit berlebihan untuk ku yang selama ini menghabiskan setengah hidupku dengan cara hidup sederhana? Setinggi apa pun posisi yang ku daki aku berharap semua itu tidak akan membuat ku lupa, lupa pada alasan di balik terciptanya diri ini.


"Tidak apa-apa. Laki-laki memang harus mengalah pada perempuan. Jika punggung Ummi Fazila sakit karena tidur di sofa maka jangan salahkan Mama bila dia menarik telingaku."


Mendengar ucapan Abi Fazila entah kenapa hal itu langsung membuat ku tertawa tanpa perasaan malu-malu lagi. Wajah dan nada bicaranya terdengar serius, mungkin karena imajinasi liar ku membayangkan putra sedewasa Abi Fazila mendapat jeweran dan itu memancing tawaku.


"Baiklah, aku terima alasan itu. Tapi, diantara kita berdua tidak ada yang akan tidur di tempat kecil itu." Ucap ku pelan sambil menunjuk kearah sofa. Sedetik kemudian aku kembali serius. Mata Abi Fazila terlihat bersinar, aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, dan anehnya aku merasa bahagia untuk itu. Kami mulai dekat, walau tidak sedekat pasangan lainnya.


"Aku akan tidur di ranjang sebelah kiri, sementara itu Abi Fazila yang akan menempati ranjang sebelah kanan. Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan apa-apa. Itu janji ku." Ujarku sambil menyilang kedua lengan di depan dada.

__ADS_1


"Untuk menjaga kenyamanan kita berdua, maka bantal kecil ini yang akan menjadi pemisah di antara kita." Sambung ku lagi sambil meletakkan delapan bantal kecil di tengah-tengah ranjang yang akan kami tempati.


"Aku sangat mengantuk. Apa aku boleh tidur duluan?" Aku bertanya sambil menatap wajah terkejutnya. Tidak ada balasan dari Abi Fazila selain anggukan kepala kecil, setelah itu aku mulai meletakkan kepala di atas bantal dan tidak tahu kapan aku mulai terlelap.


...***...


Rembulan malam ini bersinar sangat terang, rasanya cahayanya menembus hati terdalam ku. Aku jatuh cinta lagi, dan itu lah kebenarannya. Sosok sempurna itu kini terlelap sangat pulas, dan untunglah dia terlelap. Kapan lagi aku bisa menatap wajahnya secara diam-diam dengan tatapan penuh cinta.


Bibir tipisnya terlihat sangat memabukkan, di kamar megah ini tidak ada suara lain selain suara deru nafasnya yang sejak tadi memenuhi indra pendengaranku, suara deru nafasnya laksana nyanyian cinta yang menggairahkan. Entah apa yang hadir dalam mimpinya sampai bibir tipis itu mengukir senyuman. Saat ini semua yang ada dalam dirinya terasa sangat memabukkan. Sungguh, aku sangat menantikan saat bantal pembatas ini tidak lagi ada di antar kami berdua.


Sangat mudah menyingkirkan bantal-bantal tidak berguna ini dan menerkamnya seperti singa kelaparan, tapi aku tidak akan melakukan itu. Aku ingin Bidadari yang masih terlelap disisi kiri ku ini menerima ku dengan jiwa dan raganya tanpa ada keraguan sedikitpun.


Tanpa ku rencanakan tetesan demi tetesan hangat mulai terjun bebas dari netra teduhku. Sejak kapan aku berubah menjadi pria cengeng? Jangan pernah bertanya seperti itu karena aku sendiri tidak tahu jawabannya.


Alan kau benar-benar payah! Sejak berada di dekat Fatimah kau selalu saja melakukan kekoyolan. Kau merasa guguplah, kau juga tersenyum sendiri. Tidak tahu apa yang di pikirkan Fatimah tentangmu. Celotehku dalam hati tanpa melepas pandangan dari sosok nyaris sempurna, Fatimah Azzahra.


"Dia memintaku agar tidak khawatir karena dia tidak akan melakukan apa-apa. Aku tidak khawatir padanya, justru aku khawatir pada diriku sendiri karena aku takut akan melakukan hal yang akan membuatnya kecewa. Dia benar-benar polos.


Ini lah alasannya seorang pria tidak boleh berdua-duaan bersama wanita yang tidak halal baginya karena Setan akan menjadi yang ketiga, fantasi liar mereka akan terus memenuhi rongga dadanya sampai mereka lupa pada batasan yang ada. Ya Tuhan ku, maafkan aku atas dosa masa laluku." Ucap ku lirih tanpa melepas pandangan dari wajah sempurna milik Ummi Fazila.


Ini adalah langkah awal dalam perjalan ini, perjalan rumah tangga ku bersama Ummi Fazila. Berharap setelah ini tidak ada lagi duka yang akan datang menyapa.


Aku ingin kau tahu, diam-diam aku selalu memohon permohonan yang sama, aku ingin hari depan ku selalu bersamamu.


Wahai Bidadari surga. Kau adalah nafas kehidupan ku. Aku tak ragu mengatakan, bersama mu walaupun sebatas embusan angin ku namai ia anugrah. Anugrah terindah.


Aku tidak keberatan menunggumu seberapun lamanya, selama aku mencintaimu. Bila cinta adalah mawar, dan aku menjadi daunnya, sepanjang hidup kita akan bersama tumbuh mekar dalam musim duka ataupun ceria. Biarlah aku jatuh cinta dan biarlah waktu pula yang akan menguji ku. Bukti paling nyata dari cintaku adalah kepercayaan. Aku percaya waktu akan menyatukan rasaku dan rasamu, rasa yang akan membalut kita dalam nuansa penuh cinta. Cinta tiada batas. Aku bergumam dalam hati, kali ini aku berbaring di samping Ummi Fazila tanpa melepas tatapan ku dari wajahnya.

__ADS_1


Imajinasi liar ku bahkan membayangkan kecantikan Ummi Fazila tanpa kain penutup kepala, rambut panjang nan hitam lurus menjuntai. Aku menantikan itu, aku sungguh-sungguh menantikan moment saat aku dan dia menyatu dalam satu tarikan nafas. Entah kapan itu akan terjadi, yang jelas aku harus bersabar untuk itu.


...***...


__ADS_2