Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Aku Minta Maaf


__ADS_3

"Kalian sudah sampai? Syukurlah!" Ucap Mama sambil bangun dari posisi duduknya.


Mama menghampiri Fatimah ku tanpa melepas senyuman bahagia dari wajahnya. Untuk pertama kalinya Mama terlihat sesantai itu, padahal banyak orang di rumah. Pelukan hangat mendarat di tubuh ramping Fatimah ku. Dan tanpa berucap sepatah kata Mama langsung memengang lengannya dan menuntunnya berjalan menuju sofa tempat semua orang berada.


Aku tidak pernah berpikir Mama akan mengundang banyak anggota keluarga di hari pertama ku membawa Ummi Fazila berkunjung di rumah besar kediaman Wijaya. Entah apa yang akan mereka lakukan? Pesta perayaan pernikahanku masih tersisa sembilan hari lagi.


Sembilan hari?


Bagiku itu terasa sangat lama, tapi tetap saja aku harus bertahan untuk itu. Tepat di hari kesembilan akan di adakan pesta besar-besaran. Opa memilih hari kesembilan karena hari itu bertepatan dengan ulang tahun perusahaan beliau, perusahaan As Group yang sejatinya dikepalai oleh Opa Ade.


Bahkan Papa yang biasanya bersikap pendiam pun terlihat tak berhenti bicara dengan kedua saudara itu, maksudku Kiai Hasan dan Kiai Lutfi. Tentu saja Opa Ade ikut nimbrung di dalamnya, rasanya kurang afdol jika Opa Ade tidak terlibat dalam percakapan renyah ketiga pria matang itu.


Disaat aku larut dalam pikiran bahagiaku, netraku malah menangkap wajah ceria Tante cantik. Aku bertanya-tanya dengan siapa tante cantik datang? Apakah dengan... Ucapanku tertahan di tenggorokanku saat seseorang menepuk pundakku dari belakang.


"Alan... Apa yang kau lakukan? Apa kau akan tetap berdiri disini? Sampai kapan?"


"Ooooppaaa...!"


Netraku membulat sempurna, aku benar-benar tidak menyadari keberadaan Opa Ade. Bukankah dua menit yang lalu dia masih duduk di sofa dan bicara bersama Kiai Hasan dan Kiai Lutfi? Lalu kapan beliau berjalan kearahku? Apakah Opa tahu aku menatap Ummi Fazila dengan tatapan penuh cinta? Untuk sesaat aku terdiam sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku berusaha menyembunyikan kekonyolan ku di depan Opa Ade yang mulai terlihat penuh selidik.


Alan... Kau benar-benar bodoh! Dari siapa kau mencoba untuk bersembunyi? Dari Opa mu? Itu benar-benar kebodohan tak termaafkan. Aku bergumam di dalam hati sambil tersenyum tipis.


"Dasar anak nakal! Kenapa kau terlihat malu? Dia istrimu, Opa tidak akan mengatakan apa pun walau kau menatapnya sepanjang hari. Opa juga pernah muda, jadi kau tidak perlu berpura-pura bodoh seperti itu."


Opa Ade terkekeh, beliau menatap ku namun tangannya kembali menepuk pundakku.

__ADS_1


"Kau bisa menatap istrimu sepuas yang kau inginkan. Tapi itu khusus untuk nanti malam. Sekarang temui dulu sahabatmu. Araf ada di ruang baca." Ucap Opa Ade sambil menunjuk ruang baca yang terletak di selatan dekat taman.


Araf ada disini? Kapan dia datang? Apa dia datang bersama tante cantik? Aku terdiam sambil menatap wajah tersenyum tante cantik.


"Apa yang kau tunggu? Kau bisa menemui Araf dan bicara dengannya." Sambung Opa Ade lagi kemudian beliau berjalan menuju sofa tempat semua orang berkumpul.


Sementara itu di ruang baca Araf sedang memilih buku sambil berdiri, sesekali ia terdengar bicara sendiri. Tatapan matanya fokus pada buku yang ada di tangannya. Entah buku apa yang ia baca sampai ia terlihat mengerutkan keningnya.


Mmmmmm!


Aku sengaja berdehem hanya untuk mencairkan suasana. Suasananya memang terasa sedikit canggung. Maklum saja, sejak peristiwa adu jotos terakhir kali aku jarang berkomunikasi dengan Araf, dan sejak saat itu pula kami berdua belum pernah bicara lagi. Aku rasa Araf masih marah padaku, apa pun yang terjadi hari ini masalah kami harus segera di selesaikan.


"Kau datang? Aku senang kau ada disini!" Aku memulai percakapan sambil menghempaskan tubuh lelahku di sofa.


"Iya. Aku baru saja sampai. Mama bilang dia ingin melihat istrimu. Mama memaksa ingin bertemu dan mengajak ku datang kerumahmu. Kau tahu, kan? Menolak Mama sama saja dengan bunuh diri."


"Maaffff! Aku tidak pernah menemui mu. Bukannya aku tidak ingin, hanya saja waktu yang tidak memungkinkan."


"Sudah lah, Lan! Aku tahu kondisi mu. Jadi kau tidak perlu mengatakan apa pun. Kau juga tidak perlu minta maaf pada ku. Itu benar-benar tidak perlu."


Araf duduk di sofa, tepatnya di depan ku sehingga aku bisa menatap wajah tampannya. Di tangannya, Araf membawa sebuah kotak yang terbungkus rapi dengan warna keemasan. Entah apa yang dia pikirkan sampai wajahnya terlihat lesu. Jangan-jangan...


"Jangan hiraukan aku..." Ucap Araf cepat. Ia menatap wajahku sambil tersenyum tipis.


Glekkkkkkk!

__ADS_1


Aku hanya bisa menelan saliva karena terkejut, mendengar ucapan Araf seolah dia sedang membaca pikiranku seperti buku yang terbuka. Kami berteman cukup lama sampai bisa saling menebak pikiran masing-masing. Bukankah ini aneh? Walau terasa aneh itulah kenyataannya, rasanya aku ingin tersenyum namun sebisa mungkin aku berusaha untuk menahan diri. Itu ku lakukan untuk menjaga perasaan Araf. Aku tidak ingin bahagia di atas penderitaannya, karena sesungguhnya deritanya adalah deritaku juga.


"Jangan pernah berpikir kebahagiaanmu adalah sumber deritaku. Kita hidup sesuai takdir kita masing-masing."


Setelah mendengar ucapan Araf aku hanya bisa menghela nafas kasar, aku bisa mengerti kemana arah pembicaraan ini selanjutnya. Aku masih terdiam ketika Araf melanjutkan kalimatnya.


"Sejujurnya aku sangat marah padamu. Aku merasa kesal padamu. Aku benci padamu dan aku tidak ingin melihat wajahmu." Sambung Araf lagi. Kali ini kami beradu pandang, hati ku terasa seperti tertusuk belati. Ucapannya, kesedihannya, amarahnya, dan rasa sakit yang dia alami terasa memberatkan jiwaku. Inilah yang tidak ingin ku dengar, dan inilah yang tidak ingin kulihat dari Araf. Sosok yang biasanya ceria kini terbalut dalam kesedihan dan luka.


Apa yang harus ku lakukan? Aku tidak bisa mencegah segalanya untuk tidak terjadi. Bahkan Ummi Fazila merasa terpaksa menikah denganku. Dan buruknya, aku tidak bisa membagi semua resahku pada siapa pun dan aku pun tidak berhak melakukan itu.


Alan... Kau tidak akan pernah bahagia selama orang-orang di sisimu tidak bahagia. Celotehku dalam hati sambil memperbaiki posisi duduk ku yang terasa kurang nyaman.


"Awalnya aku tidak ingin datang di acara sakral itu. Dan malam sebelumnya, semalaman aku tidak bisa tidur, aku berpikir sangat keras.


Kenapa harus Alan? Kenapa bukan aku saja? Apa cinta ku tidak setulus itu sampai Tuhan tidak mendengar permintaan ku? Apa kurangnya diriku? Aku bisa membahagiakannya melebihi siapa pun, lalu kenapa Tuhan tidak menyatukan hatiku dengannya? Apa aku manusia yang tidak berharga? Pikiran itu memenuhi otakku. Sampai-sampai aku tidak sadar pagi datang menjelang." Araf diam sejenak. Wajah yang selalu terlihat ceria itu seolah sedang terhalang mendung yang tidak tahu kapan akan menghilang.


Kenapa takdir kami jadi seperti ini? Seandainya peristiwa buruk itu tidak pernah terjadi semua ini tidak akan mengganggu jiwa kami. Dan anehnya aku tidak menyesali masa laluku. Senyuman manis putri cantikku, Meyda Noviana Fazila seolah menghapus segala duka ku dan hal itu membuat ku semakin merasa bersalah pada Araf. Aku merunduk dalam diam, namun hatiku masih di penuhi perasaan bersalah.


"Kau berhak marah padaku! Kau juga berhak memukul ku! Aku tidak akan mengatakan apa pun, kita bertiga terlibat dalam hubungan aneh ini. Dan aku benar-benar tidak bisa mengatakan apa pun.


Jika aku sampai mengutuk masa lalu ku, Fazila ada di dalamnya dan aku tidak akan pernah bisa melakukan itu!" Tetesan hangat mulai menetes membasahi pipi ku.


Entah kenapa setiap kali membicarakan masa lalu semuanya terasa seperti mengandung bawang, dan anehnya aku tidak bisa menahan hatiku untuk tidak bersedih. Apa aku berubah menjadi pria cengeng? Entahlah, aku sendiri tidak bisa menilai diriku sendiri.


"Aku minta maaf untuk segalanya. Aku minta maaf untuk bahagia yang ku rasakan. Aku minta maaf untuk kesedihan yang kau rasakan." Begitu banyak maaf yang terlontar dari bibirku, namun tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan Araf, untuk sesaat aku menatap wajahnya, wajah itu tersenyum tipis. Aku benar-benar tidak bisa membaca jalan pikirannya, semoga saja penyatuan ku dan Ummi Fazila tidak akan membawa masalah besar bagi hatinya

__ADS_1


...***...


__ADS_2