
Suasana di ruang tengah masih hening. Ku perhatikan wajah Oma Ochi dan Mama Nani, mereka berdua terlihat sedang menanti jawaban Sabina.
Sementara Sabina sendiri? Gadis cantik itu terlihat sedang berpikir. Entah apa yang ia pikirkan sampai membutuhkan waktu untuk menjawab pertanyaan Mama Nani. Padahal pertanyaannya sangat sederhana, hanya membutuhkan jawaban 'Iya' atau 'Tidak' tapi tampaknya tidak semudah itu bagi Sabina, pernikahan ataupun menerima lamaran tidak sesederhana itu untuk setiap wanita.
Dan anehnya? Aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk memikirkan hal seperti Sabina. Setiap orang membawa takdir mereka masing-masing. Sementara takdir ku dan Abi Fazila cukup banyak menyita waktu dan cukup banyak pula aku mengeluarkan air mata.
"Mam. Jujur, Sabina sedikit terkejut dengan keputusan kalian untuk menjodohkan Sabina dengan Mas Araf.
Semalaman Sabina berpikir keras. Haruskan Sabina menikah dengannya? Apakah keputusan ini keputusan yang benar atau tidak Sabina benar-benar tidak Tahu. Hingga jam satu malam Sabina terus saja berpikir, haruskan aku menjadi putri penurut? Apakah aku akan bahagia dengan hubungan ini? Hingga pada jam tiga malam Sabina memutuskan.
Iya... Sabina siap dengan hubungan ini. Karena Sabina tahu keputusan Mama, Papa, Oma dan Opa tidak pernah salah. Sabina meletakkan kebahagiaan Sabina di tangan kalian. Karena itulah Sabina tidak pernah membantah ucapan Mama dan Papa sekenakal apa pun Sabina di luar sana." Celoteh Sabina panjang kali lebar.
Mama Nani terlihat meneteskan air mata. Tatapannya menembus lubuk hati terdalamku, seolah tatapan itu menjelaskan 'Aku sangat beruntung kau menjadi putriku dan aku menjadi Ibu mu.' Begitulah aku mengartikannya.
Mama Nani mendekati Sabina kemudian mencium puncak kepala putri kebanggaannya. Sabina hanya bisa tersenyum melihat tingkah manis Mama Nani. Mungkin ini yang terbaik untuk kita semua walau Abi Fazila menyimpan sedikit keraguan di lubuk hati terdalamnya.
"Terima kasih, nak. Semoga kau di jauhkan dari mata jahat, dan semua kebahagiaan menyertai setiap langkahmu."
Ucapan Mama Nani terdengar sangat sederhana tapi dalam setiap huruf yang ia rangkai menjadi kata-kata terdapat beribu-ribu kelegaan dan pengharapan bagi setiap gadis yang mendengar ucapan tulus Mamanya.
"Terima kasih untuk do'a terbaik Mama. Apa sekarang Sabina bisa pergi?" Sabina bertanya tanpa melepas senyuman manis dari wajah cantiknya. Tidak ada balasan dari Mama Nani selain anggukan kepala.
"Kak, Sabina kekamar ya? Jika kakak butuh sesuatu kakak bisa memanggil Sabina. Sabina janji Sabina akan datang secepat yang Sabina bisa."
"Iya, pergilah." Balasku singkat sambil memegang jemari lentik adik ipar terbaik di dunia, Sabina Wijaya.
Ruang tengah kembali hening, untuk sesaat Mama Nani sibuk dengan daftar tamu yang akan beliau undang. Sementara Oma Ochi? Wanita sepuh itu menatap wajah Mama Nani dengan tatapan heran.
__ADS_1
"Nani, apa kau sudah menghubungi Begum? Ibu yakin dia akan bahagia jika mengetahui keponakannya akan menikah."
"Ibu benar. Untung Ibu mengingatkan ku. Jika tidak? Nani pasti dalam masalah besar."
"Begum? Siapa dia Ma?" Aku bertanya karena sejak memasuki keluarga Wijaya sekali pun aku tidak pernah mendengar namanya.
"Dia sepupu Mama yang tinggal di Dubai. Ketika kau dan Alan menikah Mama benar-benar tidak mengingatnya. Dia menelpon dan mulai marah-marah. Jika kali ini Mama melupakannya lagi, Mama yakin di pasti tidak akan pernah mau bicara dengan Mama."
Mendengar penjelasan singkat Mama Nani, aku hanya bisa menganggukan kepala. Aku penasaran saudari seperti apa yang Mama Nani punya sampai dia memutuskan tidak ingin tinggal di Indoneaia dan lebih memilih tinggal jauh dari keluarga Wijaya.
...***...
Seperti yang sudah di sepakati oleh kedua belah pihak keluarga, acara lamaran akan di adakan di kediaman Wijaya dan bukan di Hotel seperti keinginan Opa Ade. Dan hari ini? Hari yang di nanti-nanti akhirnya datang juga. Pertunangan Sabina dan Araf berjalan lancar, sebuah berlian dengan harga ratusan juta menghiasi jari manis Sabina. Sayangnya wajah cantik itu hanya mengukir sedikit senyuman tidak seperti pasangan pada Umumnya. Entah dia tegang atau justru menolak hubungan ini, aku benar-benar tidak bisa menebak jalan pikirannya.
Sabina menggunakan gaun putih yang di rancang oleh desainer langganan keluarga Wijaya. Dan lihatlah hasil karya yang Kuasa? Aku yakin tidak ada pengantin yang lebih cantik dari Sabina. Tatapannya tajam, hidungnya kecil, alisnya hitam, giginya rapi bagai semut yang berjalan beriringan. Postur tubuhnya seimbang, dia tidak gemuk dan tidak pula terlalu kurus. Saat dia tersenyum semua yang menatapnya akan merasakan ketenangan. Dan hari ini, dia terlihat sepuluh kali lipat lebih cantik di bandingkan hari-hari biasa.
Untuk sesaat Sabina menatap wajah teduh Araf yang duduk di samping kirinya, namun sedetik kemudian ia mulai mengalihkan pandangannya.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Yang jelas aku hanya bisa mengatakan kalau aku menyetujui hubungan ini dengan sepenuh hatiku."
"Baguslah. Karena kau sudah mengatakannya aku pikir aku tidak perlu mengkhawatirkan drama kedua orang tua kita.
Aku akan menemui Alan, setelah malam ini kita tidak akan bertemu ataupun bicara. Kita akan bertemu di acara Ijab Kabul. Selama itu jaga dirimu baik-baik. Dan jangan lupa untuk belajar mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dari sekarang ku katakan, aku tidak akan menyewa jasa Asisten Rumah tangga.
Jika kau bertanya kenapa? Jawabannya aku benci melihat orang lain berkeliaran di rumahku selain anggota keluarga. Apa kau paham?"
Aku yakin Sabina dan Araf tidak menyadari keberadaanku sehingga mereka terlihat biasa-biasa saja. Biasanya aku tidak pernah bersikap seperti ini, apa lagi sampai mendengar percakapan orang lain secara diam-diam. Apakah ini bawaan bayi yang mengkhawatirkan Tantenya? Entahlah, aku sendiri tidak bisa mengerti kekonyolan yang sedang ku lakukan saat ini.
__ADS_1
"Apa kalian tidak akan makan? Kalian terlihat serius, apa ada masalah?" Mama Araf bertanya sambil menangkup wajah cantik Sabina dengan tangan kanannya.
Aku tahu Araf tidak bicara kasar pada Sabina, hanya saja dari ucapannya aku menyadari kalau dia terkesan tidak ingin orang lain mencampuri kehidupan pribadinya. Apa kekhawatiran tidak berdasar Abi Fazila benar? Apa Araf benar-benar tidak ingin menghilangkan sikap playboy-nya? Atau justru sebaliknya dia terpaksa menerima keinginan Mamanya? Semua ini benar-benar membuatku bingung. Aku masih berdiri di sudut sembari menanti ucapan apa yang akan Araf ucapkan selanjutnya.
"Kami sudah makan Tante!"
"Tante? Kau akan menjadi menantu di keluarga kami. Mulai saat ini kau harus memangil ku Mama. Kau mengerti?" Ucapan Mama Araf ada benarnya, hanya saja Sabina terlihat belum nyaman memanggil wanita lain dengan sebutan Mama selain Mamanya sendiri.
Tidak ada balasan dari Sabina selain anggukan kepala. Setelah mencium kening Sabina, Mama Araf langsung pergi menyapa Mama Nani yang saat ini berdiri di dekat Papa Otis.
"Dengar, aku pria yang simple. Aku tidak suka orang lain mencampuri urusan pribadiku. Kita akan menikah tapi tidak satupun di antara kita yang berhak terlibat dengan urusan pribadi masing-masing." Ucap Araf penuh percaya diri setelah Mamanya menjauh darinya.
Glekkkkk!
Aku menelan saliva sambil mendengar ucapan Araf. Aku yakin jika Mama Nani yang mendengar ucapannya beliau pasti akan terluka. Untuk sesaat aku terdiam, mencoba mencerna setiap pengakuan Araf. Tapi sejauh yang ku perhatikan, Sabina terlihat baik-baik saja. Apa dia tidak masalah dengan ucapan Araf? Hal ini benar-benar membingungkan.
Aku dan abi Fazila pun sama, sebelum kami menikah ada beberapa syarat yang ku ajukan padanya. Termasuk tidak ada kontak fisik di dalamnya. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena aku bukan tipe wanita yang akan berlama-lama dalam keburukan. Aku pun berharap Araf dan Sabina akan menemukan ketenangan dalam hubungan yang akan terjalin dalam beberapa hari kedepan.
"Aku menerima syarat mu. Tapi mas Araf juga harus ingat, aku bukan wanita yang akan diam jika terjadi ketidak adilan. Jadi saranku, jangan pernah melakukan hal yang akan membuatmu menyesal. Aku akan melakukan semua tugasku kecuali terlibat dalam urusan pribadimu."
Bahkan ucapan Sabina pun sedikit mengejutkanku, mereka berdua sama saja. Haruskah aku menceritakan apa yang ku dengar pada Abi Fazila? Atau aku harus diam saja? Sebelumnya aku tidak pernah melihat calon pengantin yang lebih aneh dari Araf dan Sabina, tapi kali ini mereka berhasil membuatku tak bisa berkata apa-apa.
Fatimah... Apa yang akan kau lakukan untuk menyatukan dua hati yang akan segera terikat itu? Jika mereka tidak saling mengenal mungkin itu akan sulit untukmu. Tapi ini berbeda, mereka bahkan tumbuh bersama. Perbedaannya hanya ada pada usia saja. Dan itu bukan masalah besar. Aku bergumam sendiri sambil meremas jemariku. Otak kecil ku mulai menyusun rencana untuk menyatukan calon pengantin teraneh di dunia, Araf dan Sabina.
...***...
Kalau sahabat pembaca mau silaturrahmi dengan author, kalian bisa mampir di Instagram @Hasma_mahmud.
__ADS_1
Tetap jaga kesehatan, semoga Allah merahmati kita semua. Jangan lupa memperbayak ibadah di bulan Rajab penuh berkah.