Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Lisan


__ADS_3

Hmhmhm! Araf memasuki rumah sembari bersenandung ria, jalan-jalan dan menikmati suasana pedesaan membuatnya merasa bahagia.


Rumah yang tidak terlalu besar. Rumah yang di sediakan Kiai Hasan hanya memiliki dua kamar saja, ruang tamu yang tertata bersih dengan sofa abu-abu di tengahnya, di tambah lemari setinggi pinggang orang dewasa dengan televisi di atasnya, di dalam rumah sederhana itu juga ada dapur kecil yang hanya cukup untuk seorang saja. Meskipun hidup seadanya tidak lantas membuat Araf bersedih.


Sangat berbeda dengan lelaki separuh baya yang menemaninya. Ia terus saja mengeluh sampai membuat Araf bosan mendengarnya.


Sudah menjadi tabiat manusia, ia akan mengeluh jika tidak menyukai sesuatu, dan mulai bersenandung jika ia merasa semua berjalan sesuai kehendaknya.


"Sudahlah, master. Kau bisa pulang ke-Jakarta sendirian, katakan pada mama kalau aku baik-baik saja." Araf mencoba merayu lelaki yang selama ini menjadi Bodyguard mamanya.


"Tidak."


Mendengar jawaban pak Halil yang di panggilnya master itu menolak, Araf langsung mendengus kesal. Jika saja mereka seumuran, sudah di pastikan Araf akan memberikan pelajaran pada orang yang berani menolak perintahnya.


"Baiklah. Karena master menolak perintahku, jangan salahkan aku jika nanti anda mendapat masalah." Araf berusaha mengingatkan, sementara lawan bicaranya hanya bisa memamerkan wajah khawatir.


"Nasip. Nasip. Keluar dari mulut singa, sekarang aku malah terjebak dengan buaya. Buaya darat." Ucap pak Halil sembari mengisi daya ponselnya.


...***...


"Fazila, nak. Tadi Ummi melihat mu bersama seorang peria, siapa dia? Ingat apa yang Ummi katakan, kamu tidak boleh bergaul dengan sembarang orang. Jika dia jahat bagaimana?" Aku terkejut melihat putriku bergandengan tangan dengan peria asing. Bukannya takut dengan penjelasanku, Fazila malah tersenyum, ia terlihat bahagia.


Apa aku yang terlalu takut? Entahlah, aku yakin semua ibu akan merasakan hal yang sama jika menyangkut keselamatan anak-anaknya.


"Ummi tarik nafas, kemudian pelan hembuskan..."


Huh... Aku mengikuti intruksi putriku, dan sekarang ketakutan ku mulai bisa ku atasi.


"Ummi tidak perlu khawatir, orang yang tadi bersamaku itu adalah paman dokter yang Ummi ceritakan semalam."


"Paman dokter? Maksutmu yang dari Jakarta?" Fazila mengangguk.


"Dokter itu tidak akan menyukainya, kau tidak boleh mengganggunya!" Ucapku lagi sembari merapikan pakaian sekolah Fazila.


"Ummi, Fazila tidak pernah mengganggunya. Dia tersesat jadi Fazila membantunya."


"Ummi mengerti, sekarang cuci tanganmu. Setelah makan kita akan kerumah Kiai Hasan."

__ADS_1


"Asyik, kita akan kerumah nenek Nyai." Ucap Fazila antusias.


Melihat putriku tertawa, aku merasa sangat bahagia, aku tidak tahu apa yang istimewa dari pergi kerumah kiai Hasan, karena sebelumnya aku selalu pergi kerumah itu tanpa di minta.


Sementara itu, di rumah Kiai Hasan. Acara malam ini sengaja di adakan untuk para santri yang akan wisuda akbar, hatam tiga puluh juz Al-quran.


"Ummi, apa yang ummi siapkan untuk Fazila?" Kiai Hasan bertanya pada isterinya yang nampak sibuk merajut sesuatu dari benang berwana keemasan, di padu padankan dengan benang hijau, dan sedikit warna gelap.


"Bi, ummi percaya ikatan keluarga tidak hanya tercipta berdasarkan darah saja. Ummi sangat menyayangi Fazila. Dia seperti cucu kandung Ummi, kasih sayang Ummi benar-benar tulus untuk anak itu." Ucap Nyai Latifa tulus.


Kerinduan menimang cucu di masa senjanya terobati sudah sejak kehadiran Fazila di sisinya, anak itu berhasil mencuri hati siapa saja. Ketulusan, kasih sayang, cinta, persahabatan, bersikap baik pada semua orang. Semua sifat itu ada dalam diri peri kecil itu.


Islam adalah agama Rahmatan Lil 'Alamin, mengatur segala urusan mulai dari hal terkecil sekalipun, karena itulah bocah manis seperti Fazila tidak pernah merasa sedih ketika teman sebayanya menghinanya dengan umpatan dan kata-kata kasar.


...***...


"Huah... Ummi, ada apa ini?" Fazila terkesima melihat dekorasi di kediaman Kiai Hasan.


"Entahlah, nak. Ummi juga kurang tahu." Ucap ku sembari menggenggam jemari Fazila, pelan berjalan memasuki halaman rumah Kiai Hasan yang sudah di sulap menjadi tempat yang sangat indah. Di tengah halaman yang cukup luas terdapat panggung yang di hias dengan kaligrapi Asma Ul Husna dan di lengkapi dengan beberapa bunga berbagai macam warnanya.


"Kamu juga datang?" Lisa yang tiba-tiba datang mengagetkan Fazila.


"Kamu juga datang?" Fazila membalas pertanyaan dengan pertanyaan. Ia sangat bahagia sampai tidak bisa melepas senyuman dari bibir tipisnya.


"Ummi, aku akan bermain dengan Lisa. Apa boleh?" Fazila meminta izin dengan wajah memelasnya.


"Baiklah, kau boleh pergi. Jangan jauh-jauh." Ucapku sembari melepas peri kesayanganku dengan senyum merekah.


Sama seperti biasanya. Setiap kali aku memasuki halaman rumah kiai Hasan, rasanya aku ingin menangis. Aku selalu bisa membayangkan kedua orang tua ku sebaik kedua pasangan separuh baya itu, Kiai Hasan dengan segala kelembutannya, dan Nyai Latifa dengan segala kasih sayangnya, itu sangat sempurna.


"Fatimah, sayang. Kamu sudah datang, kenapa tidak menemuiku?" Ucap Nyai Latifa sembari menyodorkan sebuah bingkisan yang sudah di bungkus rapi. Entah apa yang sudah direncanakan wanita separuh baya itu, kasih sayangnya untuk ku dan putri ku melaupaui batas ruang dan waktu.


Dan aku sangat berterimakasih kepada Allah untuk itu.


"Saya baru saja tiba. Alhamdulillah, kita bertemu di sini." Jawab ku sembari tersenyum kearahnya.


"Pakailah pakaian ini. Sengaja Nyai pilihkan untuk mu."

__ADS_1


"Pakaian?" Tanyaku heran.


"Tentu saja kau harus terlihat cantik, malam ini peri mu akan di Wisuda Akbar."


Mendengar ucapan Nyai Latifa, aku merasa seperti terbang ke awan. Hal yang di impikan setiap orang tua untuk melihat anak-anaknya menjadi Hafiz Quran, beberapa jam lagi aku akan merasakan pengalaman luar biasa itu.


Sempurna! Lirih ku pelan.


"Baiklah, aku akan mengikuti perintah Nyai. Tapi sebelum itu, izin kan aku membantu semua pekerjaan yang belum di selesaikan." Ucapku sembari mengapit lengan Nyai Latifa, wanita separuh baya itu hanya bisa tersenyum saja. Begitulah seharusnya seorang muslim terhadap saudaranya, murah senyum dan selalu menebar kebaikan, bukan melakukan keburukan kemudian mengatas nama kan Agama.


...***...


"Ada apa dengan mu? Kenapa kau berdandan serapi itu hanya untuk menghadiri acara kampung." Pak Halil protes karena melihat penampilan menawan Araf seperti akan menghadiri acara Karpet Merah.


Tentu saja ucapan lelaki separuh baya itu hanya di anggap angin lalu oleh lelaki menawan itu.


Araf tersenyum sembari melihat pantulan wajahnya di cermin. Hidung mancung, kulit putih, mata biru, di tambah dengan postur tubuh tingginya, sungguh dia adalah maha karya Tuhan yang sangat sempurna.


Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan?


"Master. Dunia ini sangat luas, siapa tahu aku akan mendapatkan salah satu Bidadari Kota Malang malam ini." Guyon Araf sembari tersenyum tipis.


"Alahh... Bidadari apanya! Jika wanita secantik nona Aliya saja tuan abaikan, maka tuan tidak akan pernah bisa mendapan wanita yang lebih cantik darinya." Ucap pak Halil membantah pernyataan tuan mudanya.


"Sudahlah master... Kau tidak akan mengerti perasaan anak muda sepertiku. Aku hanya ingin bermain-main di usia muda ku."


"Tuan, jika kau menanam kejahatan maka kau akan menuai pembalasan. Mungkin sekarang kau belum mendapatkan ganjaran. Jika nanti Tuhan membuat mu jatuh cinta pada seorang wanita, maka saat itu kau akan mengetahui sakitnya penolakan." Ucap pak Halil kesal mendengar penuturan tuan playboy nya.


"Itu tidak akan pernah terjadi, karena aku tidak mengijinkan diriku jatuh cinta pada wanita yang sama melebihi dari satu bulan." Jawab Araf percaya diri.


Satu bulan? Dasar aneh, semoga Gusti Allah memberikan pelajaran pada anak mama manja ini. Lirih pak Halil sembari meninggalkan Araf yang sedang sibuk menerima panggilan dari sahabat baiknya.


Ketika kamu mencoba mematahkan hati seseorang yang kamu cintai, maka cinta itu akan balas menyakitimu dengan jalan berbeda. Jika tidak hari ini, mungkin Esok atau Lusa.


Lisan yang Allah beri, Lisan adalah kemuliaan, yang di dalamnya ada gaya penarik. Kekuatan, yang di dalamnya ada pengaruh. Teriakan, yang di dalamnya ada sihir. Penyampaian, yang di dalamnya ada kemanisan dan keindahan. Jaga dirimu dan kehormatanmu wahai para Wanita, dari lelaki tak setia, karena mekarmu hanya sekali.


...***...

__ADS_1


__ADS_2