Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Kejutan Besar


__ADS_3

Matahari baru saja menampakkan sinarnya, cahayanya membelai lembut wajah lelahku.


Lelah?


Aku memang sedikit lelah! Semalam, kondisi Nyai Latifa memburuk, beliau mengalami kejang-kejang. Otomatis aku dan Kiai Hasan tidak bisa tidur karenanya. Syukur lah beliau tidak mengalami hal buruk, beliau baru bisa tidur menjelang subuh.


Setengah jam berlalu sejak aku selesai membersihkan tubuh Nyai Latifa dengan mengoleskan air pada anggota tubuh beliau, Iklima tiba dengan membawa sarapan dan buah-buahan. Wajah cantiknya selalu memamerkan senyuman menawan, begitulah seharusnya seorang Muslim berprilaku. Bersikap baik pada semua orang dan tidak bermuka masam.


"Nona Fatimah, apa anda membutuhkan sesuatu?" Pertanyaan Iklima membuat kekhawatiranku pada Fazila buyar seketika.


"Ahhh iya... Maksudku tidakkkk!" Ucap ku gugup. Mobil yang Iklima kendarai melesat dengan cepat membelah jalanan legang.


"Apa nona Fatimah sedang memikirkan sesuatu? Nona Fatimah terlihat khawatir." Iklima kembali mengurai tanyanya.


"Saya sedang memikirkan putri saya. Saya berharap dia baik-baik saja." Jawabku pelan sembari menatap wajah cantik Iklima yang saat ini duduk di kursi kemudi.


"Nona kecil anak yang ceria. Nona Fatimah tidak perlu khawatir. Walaupun dia tersesat, dia pasti akan kembali pada anda." Balas Iklima, kali ini ia tersenyum untuk menyakinkanku.


Aku pun merasakan hal yang sama, putri kecilku adalah anak yang luar biasa. Entah kenapa jiwa keibuanku selalu saja mengkhawatirkannya, seolah hal buruk menanti kami berdua. Jika sudah seperti ini, rasanya aku ingin segera kembali ke Malang saja.


Dua jam kemudian aku dan Iklima sampai di Stasiun Tv dengan selamat. Iklima di sambut oleh beberapa staf wanita, sementara aku di tuntun oleh seorang staf wanita menuju ruang rias karena hari ini hari pertama siaran Hafizd Qur'an.


"Putri saliha Ummi sedang apa?" Aku menyapa Fazila sambil berjalan menuju kearahnya. Wajahnya terlihat tegang, aku bisa memahami keadaannya, ini pertama kali bagi putri manisku tampil di layar kaca, semoga yang kuasa memberkahi setiap urusannya.


"Ummi. Fazila sayang Ummi." Ucap Fazila pelan sambil memelukku. Anak manis itu selalu mengatakan merindukanku atau menyayangiku bila ia sedang resah, saat seperti itu hanya pelukan ibunya yang bisa menghilangkah gelisahnya.


Pelukan ibu? Dan aku wanita beruntung itu, memiliki putri seperti Fazila adalah karunia terbesar dalam kehidupanku. Aku bahkan rela kehilangan sepuluh putra untuk seorang putri seperti Fazila. Maha sempurna yang kuasa atas segala Rahmatnya.


"Perhatian untuk semua wali dan anak-anaknya, kita akan melakukan siaran pertama kita hari ini, semoga acara ini mendapat rahmat dan berkah dari yang Kuasa. Mari kita berdoa bersama-sama, setelah itu masuk ke-studio." Ucap seorang kru Tv bertubuh jangkung dengan janggut tipis di wajahnya.


Setelah berdoa kami masuk kedalam studio penyiaran, tiga puluh lima wali dengan anak-anak mereka termasuk aku dan Fazila di dalamnya. Panggung megah dengan dekorasi indah membelai lembut penglihatanku begitu aku masuk kedalam studio.

__ADS_1


Dua kata untuk tempat ini, Luar Biasa.


...***...


Huhhhhh...


Aku membuang nafas kasar. Kekesalan memenuhi hati dan pikiranku. Rasanya aku ingin membunuh semua orang yang terlibat dalam kekacauan ini.


Aku membuang puluhan dokuman laporan prusahaan bulan ini tepat di bawah kaki Bobby dan Iklima. Dua wajah itu hanya bisa merunduk pasrah melihat dan mendengar kata-kata beracun yang keluar dari bibir ku.


"Panggil semua Manager yang terlibat dalam kekacauan ini! Aku tidak suka dengan kinerja kerja kalian!" Aku mulai berteriak, hari ini aku benar-benar tersulut emosi, emosi yang tidak tahu berawal dari mana.


Rugi dalam bisnis? Itu hal biasa. Yang ku sesali, uang Ratusan juta itu hilang entah kemana. Orang kurang ajar itu berani mengusik bisnisku?


Iklima dan Bobby saling menatap dalam diam, melihat ku marah membuat mereka hanya bisa menghela nafas kasar. Mendengar helaan nafas mereka membuat amarahku semakin bertambah.


"Jika kalian sudah bosan bekerja denganku, kalian bisa mengundurkan diri. Pergi!" Bentak ku sembari mengusir Bobby dan Iklima dari hadapanku. Dua makhluk kepercayaanku itu hanya bisa merunduk. Mereka meninggalkan ku sendiri tanpa sepatah kata pun.


Memoriku mengingat kembali pertemuanku dengan bocah manis itu, Fazila. Amarah yang tadi membuncah serasa menguap keangkasa bersama dengan senyuman tipis yang terukir disudut bibirku. Entah kenapa aku merindukan bocah manis itu, ia seperti candu bagiku. Melihatnya bahagia aku pun merasa bahagia, melihat senyumnya aku merasa tenang. Entah pesona apa yang ada dalam diri bocah manis itu sampai membuatku tak bisa lepas darinya.


Aku lebih suka memanggilnya bocah manis, gerakan tangannya, cara dia mengedipkan mata, cara dia bicara, semua itu terasa menenangkan di hati dan pikiranku.


Wajah bocah manis itu mulai muncul di layar kacaku, ia berdiri dengan sosok pria karismatik, maksudku Kiai Hasan.


Hai nak, nama kamu siapa? Sapa host muda yang berdiri di samping Fazila. Anak manis itu tersenyum kemudian menjawab dengan suara lantang.


Nama saya Meyda Noviana Fazila. Biasa di panggil Fazila. Jawab bocah manis itu tanpa melepas senyuman dari bibir tipisnya. Dia terlihat gugup, untungnya dia bisa menguasai dirinya dengan baik. Kegugupan itu terlihat hanya sebentar saja, sekarang ia mulai tenang.


Apa ini papanya, Fazila? Host muda itu kembali bertanya.


Ini kakek Kiai. Fazila kesini bersama Ummi!

__ADS_1


Ummi? Dimana Ummi mu, nak? Kakak tidak melihat siapa pun selain kakek Kiai mu? Host muda itu kembali mengurai tanyanya.


Ummi ada di Toilet! Ummi sedang mememani nenek Nyai. Nenek Nyai sedang sakit, jadi nenek Nyai lebih membutuhkan Ummi dari pada Fazila. Balas Bocah manis itu tanpa memamerkan wajah sedih atau pun kesal, menurut ku dia anak yang bijak, di usianya yang masih sangat muda dia berpikir sangat matang. Aku suka caranya berpikir.


Aku kembali Fokus pada laporan perusahaan yang berhasil membuatku sangat kesal. Lagi-lagi kekesalan ku teralihkan oleh Televisi yang masih menampakkan wajah manis bocah itu.


Karena Ummi Fazila sedang membantu nenek Nyai di belakang, kita akan mengenal lebih jauh sosok Wanita beruntung yang memiliki putri semanis dan seceria ini. Ucap Host muda itu lagi, ia tidak pernah melepaskan senyuman ramahnya.


Duarrrrrt...


Sebuah Foto wanita cantik terpampang dengan wajah penuh di layar Televisiku, wanita itu sedang memangku Fazila.


Rasanya, tubuhku bagai di sambar petir di siang bolong. Mataku membulat sempurna. Entah kenapa air mataku mulai menganak sungai, dadaku serasa sesak. Pelan aku menepuk dada dengan tangan kananku, mataku kembali melirik ke-layar kaca itu, berharap yang kulihat tidak benar. Semakin aku melihat layar kaca semakin jiwaku bagai tercabik-cabik, hatiku perih, jiwaku meronta-ronta. Aku tersungkur di lantai yang dingin dengan derai air mata yang tidak dapat ku tahan.


Sementara itu di depan pintu, sudah ada Bobby, Iklima, dan sepuluh Manager datang bersamanya. Melihatku tersungkur membuat mereka semua sangat terkejut, Bobby segera berhambur kearahku, mencoba membantuku. Namun sayangnya, tangan kekar itu ku tepis dengan tatapan setajam belati.


"Pe-pergi." Ucap ku gugup masih dengan mata berair.


"Tinggakan aku sen-di-ri!" Ucapku lagi dengan nada suara yang nyaris tidak terdengar. Bobby masih tidak bergerak, begitu juga dengan yang lainnya.


"Aku bilang tinggalkan aku sendiriiiiii...!" Aku berteriak kasar dengan sorot mata membunuh.


Setelah semua orang tak nampak lagi di netraku, aku segera berjalan kearah pintu kemudian menutup pintu dengan bantingan cukup keras. Aku tumbang di depan sofa dengan nafas terengah-engah.


Itu d-i-a! Wanita itu! Wanita yang selama ini coba ku cari dengan sepenuh jiwaku. Aku mencoba untuk mendapatkan maaf darinya. Wanita yang membuat Araf tergila-gila. Dia wanita yang sama yang sudah ku sakiti jiwa dan raganya. Gumam ku sembari menepuk dada ku.


Hhhuuuuuuaaaaaa...


Aku berteriak dengan derai air mata. Hatiku terasa sakit, sakit luar biasa. Akhirnya, pecahan-pecahan puzzle itu menyatu kembali dengan sempurna, wanita yang selama ini tidak bisa ku ingat wajahnya entah dalam mimpi atau dalam dunia nyata mulai menampakkan dirinya. Memori buruk tentang malam itu kembali berputar di otakku, kini aku merasa jijik pada diriku sendiri, aku berpikir lebih baik aku tiada saja sebelum aku mengalami hal buruk ini.


Alan kau dalam masalah besar! Gumam ku lagi sembari menghela nafas kasar di sela-sela tangisku. Melihat wajah ibunya Fazila menjadi kejutan besar untuk jiwa dan ragaku. Aku tidak perduli jika ada yang mengatakan aku pria cengeng, hanya aku yang bisa merasakan sakit yang sedang kurasakan. Rasanya menangis saja tidak akan cukup, menanggung dosa ini jauh lebih menyakitkan dari pada tubuhku di cambuk dengan ratusan kali cambukan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2