Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Menghadiri Akad Nikah


__ADS_3

Dewasa?


Satu kata yang terkadang membuatku harus berpikir keras. Apa aku boleh melakukan ini? Apa aku boleh melakukan itu? Apa keputusan ini sudah benar? Apa aku melakukan kesalahan? Apa aku bisa membuat semua orang bahagia? Pertanyaan seperti itu selalu saja muncul di benakku, aku tidak tahu apa ini hal konyol atau tidak. Namun, jujur saja, pertanyaan seperti itu selalu mengganggu ku. Seolah aku sedang membatasi diri untuk menjauhi bahagia itu. Bagaimana caraku membahagiakan orang lain jika aku sendiri tidak bisa membahagiakan diriku sendiri? Pura-pura tertawa hahahihihuhu? Omong-kosong.


Aku tahu aku tidak bisa membuat semua orang bahagia, dan aku juga tahu sebaik apa pun usaha ku akan ada orang yang tidak akan menyukaiku. Walau tahu itu, hal yang bisa ku lakukan hanya melakukan yang terbaik semampu yang ku bisa.


"Apa yang Abi pikirkan?"


Suara dan sentuhan Ummi Fazila berhasil mengejutkan ku. Untungnya aku tidak sampai menyakiti wanita saleha itu, karena terkejut hampir saja aku menabraknya.


"Ummi datang secara tiba-tiba, syukurlah Ummi tidak sampai terluka." Ucapku sambil menatap Ummi Fazila dengan tatapan lega.


"Abi hanya berpikir, ternyata selama ini Abi tidak pernah menjalani hidup dengan santai. Bagi Abi, hidup Abi terasa seperti berada di medan perang.


Abi punya banyak Uang. Sayangnya, Abi tidak pernah menikmati hidup ini. Abi merasa cemburu melihat teman-teman Abi menghabiskan uang mereka untuk liburan ketempat yang mereka suka.


Sementara Abi? Hidup Abi berawal di kantor dan berakhir di kamar. Di kantor Abi bekerja seperti orang gila. Dan di rumah? Abi mulai menangis tersedu-sedu. Tanpa Abi sadari delapan tahun Abi berlalu seperti itu.


Sungguh... Abi tidak pernah bermimpi hari seperti ini akan datang dalam hidup Abi. Hari dimana Ummi tersenyum tanpa beban.


Senyuman Ummi, sentuhan Ummi, nasihat Ummi, lantunan ayat-ayat suci Ummi, bahkan suara helaan nafas Ummi. Semua itu membuat Abi bahagia, bahagia luar biasa." Ucapku panjang kali lebar, dan cahaya Rembulan malam ini seolah mengabarkan kalau Tuhan sangat menyayangiku, dan aku merasa terberkati.


Ummi Fazila menyampirkan selimut tebal di tubuh kekar ku. Maklum saja, cuacanya lumanyan dingin karena saat ini sudah memasuki tengah malam.


"Abi tidak perlu mengatakannya lagi. Ummi sudah tahu segalanya. Disini sangat dingin, ayo kita masuk?"


Ummi Fazila menarik lengan ku, sayangnya aku tidak ingin kehilangan momen indah ini. Aku malah menarik Ummi Fazila. Sangat dekat sampai kami bisa mendengar degup jantung masing-masing.

__ADS_1


"Abi... Malu, ahhhh!"


"Malu? Pada siapa? Pada Rembulan?" Aku menunjuk kearah langit sambil terkekeh. Ummi Fazila yang ku tanya hanya bisa menghela nafas kasar.


"Seharusnya Rembulan itu yang malu pada kecantikan Ummi." Sambungku lagi, aku mencoba menggoda Ummi Fazila sekaligus mencairkan suasana, sesekali aku bahkan mencubit hidung bangirnya.


"Ummi memang cantik, itu karena Abi yang memandangnya." Balas Ummi Fazila tanpa melepas senyuman dari bibir tipisnya. Dia begitu bersemangat, aku sendiri bingung dari mana dia mendapatkan semangat itu.


"Ini sudah tengah malam, ayo kita istirahat. Besok adalah hari yang besar dan cukup melelahkan untuk kita semua." Celetuk Ummi Fazila. Dia memelukku sebentar, kemudian menarik lenganku pelan. Kami meninggalkan balkon sambil berjalan beriringan. Meninggalkan balkon yang masih di penuhi cahaya Rembulan.


...***...


Sepekan yang di nantikan semua orang dengan perasaan dag, dig, dug, akhirnya datang juga.


Semua orang tampak sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Tidak ada yang bertanya kenapa ini begini dan kenapa itu begitu? Semua orang terlihat sama saja, seolah hari ini mereka yang menjadi pengantin dan bukannya Araf dan Sabina.


Teman-teman Fazila bilang, paman Dokter akan mengambil tante cantik dan tidak akan membiarkannya pulang kerumah Oma baik. Bagaimana jika Fazila tidak bisa bertemu dengan Tante cantik lagi?"


Mendengar ucapan Fazila membuatku tersenyum tipis. Wajah polosnya dan celotehan singkatnya terasa sangat menghangatkan.


"Sayang, tante cantik akan tetap menjadi tante cantikmu. Malah kau akan mendapatkan paman baru. Apa kau tidak suka jika Paman dokter menjadi teman baik tante cantik?"


"Fazila suka, Ummi. Fazila sangat suka jika Paman Dokter menjadi teman baik tante Sabina. Fazila menyukai mereka berdua!" Celoteh putri ku lagi, kali ini dia lebih semangat di banding sebelumnya. Senyum manisnya menjelaskan segalanya.


Minggu lalu Fazila mengeluh tidak suka dengan sekolah barunya, anak manis itu bahkan selalu murung selama beberapa pekan terakhir. Sepertinya, momen bahagia Sabina membawa senyuman baru dalam hari-harinya. Dan bodohnya diriku sampai tidak bisa melihat perubahan yang ada dalam diri Fazila. Kehamilan yang kurasakan saat ini jauh lebih berat di bandingkan saat ngidam Fazila. Mungkin hanya alasan itu yang ku punya untuk membela diri dari sikap tidak pekaku.


Kehamilan ini membuat ku berada dalam tekanan. Aku tidak suka mencium wewangian, bahkan jika Abi Fazila yang melakukannya aku langsung memintanya meninggalkan ku sendian. Aku merasa mual setiap kali bangun di pagi hari, yang ku makan selalu saja keluar seolah makanan telah menjadi musuhku.

__ADS_1


Aku mudah lelah walau berjalan sebentar. Seperti saat ini, aku merasa sesak. Entah seperti apa hari-hari yang akan ku lalui selama enam bulan kedepan.


"Apa yang Ummi lakukan disini?"


Aku tersentak, suara Abi Fazila benar-benar mengejutkan ku.


"Ummi hanya mencari udara segar, Bi. Di dalam, Ummi merasa sesak. Barusan Ummi bersama Fazila, anak manis itu bilang dia ingin menemui tantenya. Dia pergi sambil tersenyum." Ucapku sambil meraih jemari Abi Fazila.


"Jika Ummi merasa lelah, Ummi bisa Istirahat di kamar. Abi akan meminta staf hotel mengantar Ummi. Bagaimana?"


"Tidak apa-apa, Bi. Ini hanya sebentar saja. Ummi ingin larut dalam bahagia Dokter Araf dan Sabina. Ummi janji, jika Ummi merasa lelah, Ummi akan meminta suster Nana mengantar Ummi kekamar. Apa sekarang Abi merasa lega?"


Tidak ada balasan dari Abi Fazila selain anggukan kepala saja. Ia tersenyum sambil mengeratkan genggamannya di jemari lentikku. Entah apa yang ia pikirkan sampai ia berlutut di depanku.


Aku memegang pundak Abi Fazila dan berusaha membantunya berdiri, namun tetap saja Abi Fazila ngenyel. Dan lihatlah? Puluhan mata menatapku dengan tatapan tajam, seolah tatapan mereka mengatakan aku istri yang kejam.


Aku mulai menggigit bibirku, menyembunyikan wajah dengan cara merunduk karena aku tidak ingin orang-orang menatapku dengan tatapan heran.


"Bi... Cepat bangun! Apa yang Abi lakukan? Coba lihat? Semua orang menatap Ummi dengan tatapan tajam. Ummi tidak ingin orang lain berpikir Ummi istri yang kejam." Ucap ku lagi dengan suara pelan. Bukannya mendengar ucapanku, Abi Fazila malah mencium perut ku. Ini benar-benar di luar dugaan.


"Hai nak, apa kabarmu? Apa kau senang di dalam sana? Lihatlah kondisi Ummimu, kau benar-benar membuatnya dalam kesulitan. Kau tidak boleh nakal. Jadilah anak yang baik seperti kakak mu, Fazila.


Abi sangat menyayangi kalian berdua. Terima kasih sudah datang dalam hidup Abi. Abi janji Abi akan jadi ayah terbaik di dunia, tapi kau juga harus berjanji akan menjaga Ummi mu.


Kau tidak boleh membuatnya lelah. Kau mengerti?" Ujar Abi Fazila panjang kali lebar, ia bicara di depan perutku sambil meneteskan air mata.


Abi Fazila mulai mengusap perut buncitku tanpa menghiraukan tamu undangan yang menatap kami dengan tatapan heran. Biasanya aku sangat pemalu, entah kenapa kali ini aku merasa biasa-biasa saja. Beberapa pasang mata yang menatap kami hanya bisa merunduk memberi hormat, ada juga yang tersenyum sambil berjalan menuju Ballroom tempat akad Araf dan Sabina. Walau merasa tidak nyaman, aku harus memaksakan diri menuju acara Akad Nikah Araf dan Sabina karena momen indah ini hanya terjadi sekali seumur hidup.

__ADS_1


...***...


__ADS_2