
"Apa yang kau katakan pada Fatimah Azzahra saat dia memintamu menikah dengannya?" Oma Ochi bertanya sambil menatap wajah bahagiaku.
Senyumku yang tadinya merekah kini menghilang dan di gantikan perasaan bersalah. Aku merasa bersalah karena belum sempat mengatakan apa pun. Untuk sesaat, aku menatap wajah sepuh Oma yang terlihat penasaran.
"Alan belum sempat mengatakan apa pun! Wanita saliha itu langsung pergi setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan." Jawabku sambil merunduk.
"Seharusnya Alan lebih agresif dan tegas di depannya, sayangnya Alan tidak bisa mengatakan apa pun. Alan merasa seperti berada di dunia berbeda saat bersamanya, Alan merasa bahagia saat bersamanya, dan Alan tidak bisa mengatakan apa pun padanya selain menampakkan wajah bahagia." Sambungku sambil menatap wajah heran Oma, sepertinya Oma merasa terkejut mendengar penuturan jujurku. Sedetik kemudian Oma menatap wajah kaku Opa Ade sambil menahan diri agar tidak tertawa.
"Kenapa Amma menatapku seperti itu? Ada apa di wajahku?" Opa Ade bertanya sambil mengusap memutar seluruh area wajah dengan kedua tangannya. Melihat tingkah konyol Opa Ade membuat Oma Ochi tertawa lepas.
Amma? Opa selalu memanggil Oma Ochi dengan panggilan Amma, karena itu panggilan sayangnya jauh sebelum Mama hadir dalam kehidupan mereka. Sejujurnya, aku pernah bertanya kenapa Opa selalu memanggil Oma Ochi dengan panggilan Amma sementara Mama selalu memanggil beliau dengan sebutan Ibu. Tidak ada balasan dari Opa selain senyum mengembang di wajah sepuhnya. Entah sebesar apa cinta Oma dan Opa sampai kasih sayang mereka tak memudar walau kecantikan dan ketampanannya telah menghilang di makan usia. Aku pun berharap demikian, aku berharap akan selalu mencintai Ummi Fazila lebih besar dan lebih besar lagi melebihi apa yang ia pikirkan. Dan lihatlah diriku yang sekarang? Aku tampak seperti pecundang yang tidak bisa membuka mulutku di depannya karena besarnya cintaku melebihi apapun yang ada.
"Hahaha...! Ma-maaf. Oma minta maafff!" Ucap Oma Ochi di sela-sela tawanya. Ia memengang pundakku, sementara tangan yang satunya memegangi perut ratanya. Wajah sepuhnya terlihat bercahaya, untuk pertama kalinya aku melihat Oma Ochi tertawa selepas itu. Apa kekoyolanku karena tidak bisa mengatakan apa pun di depan Ummi Fazila membuat jiwanya bahagia? Tidak mungkin Oma Ochi meledek ku seperti itu? Aku rasa ada yang salah sampai membuat kenangan masa lalunya kembali terbangun dari memori otaknya, entahlah! Hanya itu yang bisa ku pikirkan.
"Hahahaha... Ka-kau tahu?" Lagi-lagi Oma Ochi tertawa sambil menatap wajahku. Jika itu orang lain, aku pasti menganggapnya tidak waras. Beliau Ibu dari Mamaku, bagaimana bisa aku mengatakan itu di depan wanita sepuh yang sangat ku sayangi itu. Ku rasa Oma Ochi menemukan kartu kelemahanku! Tapi, tunggu dulu! Lihatlah wajah Opa, wajah itu terlihat seperti sedang terciduk, aku yakin ini pasti bukan tentang diriku.
"Yaaa... Kau benar ini bukan tentang dirimu! Ini tentang opa mu!" Ucap Oma Ochi berterus terang.
Oh tidak... Oma bahkan bisa membaca jalan pikiranku. Jika terus seperti ini aku tidak akan selamat dari pertanyaannya. Haruskah aku pergi sekarang? Tidak. Tidak. Jika aku pergi sekarang Oma Ochi pasti akan merasa kesal. Gumam ku dalam hati sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Kau tahu Opa mu? Dia terlihat garang, tapi di depan Oma beliau tidak akan pernah bisa membantah.
Bahkan lebih anehnya lagi, saat kami pertama kali bertemu Opa mu tidak pernah mengatakan apa pun. Dia pria yang pendiam. Oma sampai menunggunya untuk bicara.
Apa kau tahu apa yang dikatakan Opamu ketika dia mencoba bicara pada Oma...?" Kebahagiaan terpancar dari wajah sepuh Oma Ochi, membicarakan masa lalunya membuat senyum merekah dari wajah sepuhnya.
"Opa mu bilang aku ingin minta air, apa boleh?" Oma Ochi menggantung kalimatnya, aku menatap wajah malu-malu Opa Ade. Sedetik kemudian gelak tawa memenuhi ruang tengah keluarga Wijaya.
Hahahahhh...
Mama juga terlihat tertawa lepas. Berbeda dengan Papa, Papa hanya tersenyum tipis. Aku bisa memahami itu, Papa tidak akan pernah bisa tertawa jika itu menyangkut ayah mertuanya. Karena rasa hormatnya jauh lebih besar dari siapa pun yang ada di dunia ini untuk Opa Ade.
__ADS_1
Sejujurnya, aku juga ingin tertawa. Sayangnya aku tidak bisa melakukan itu karena aku tahu bagaimana perasaan pria ketika berada dekat dengan wanita pujaannya. Syukur-syukur kami kaum pria masih bisa bernafas, berada dekat dengan wanita yang ku cintai rasanya seolah jantungku akan lompat keluar, dag, dig, dug, begitulah keadaan yang kulewati untuk beberapa saat hingga aku tidak bisa membuka mulutku. Bukannya aku tidak ingin bicara, hanya saja lidahku terasa kaku.
"Apa ucapan Oma itu benar?" Aku bertanya pada Opa dengan suara pelan. Sejujurnya aku tidak percaya dengan ucapan Oma. Bagaimana bisa singa sekelas Opa meruduk di hadapan wanitanya. Percuma saja aku menanyakan itu, karena akupun mengalami hal yang sama. Aku tunduk si hadapan Ummi Fazila bahkan jauh sebelum ada ikatan di antara kami berdua. Apa aku bodoh? Apa aku tidak waras? Tentu saja aku tidak bodoh dan aku pun masih waras, tanda-tanda pria mulia itu salah satunya ia bisa menghormati wanitanya, dan semoga aku termasuk di dalamnya.
Tidak ada sahutan dari bibir tipis Opa, yang ada hanya senyuman saja. Perlahan Mama berjalan mendekati Opa dan memeluk tubuh sepuh beliau sambil berlinang air mata, tentu saja air mata bahagia.
...***...
Tiga jam berlalu sejak percakapan hangat di keluarga Wijaya, kini Bu Nani sedang berdiri sambil memperhatikan koleksi yang ada di butiknya. Ia menyipitkan mata sambil memperhatikan detail warna dan model gaun seharga ratusan juta rupiah itu.
Ratusan juta? Untuk orang kaya mungkin itu hanya nilai kecil saja. Tapi bagi orang tak punya, uang senilai ratusan ribu pun sudah termasuk banyak.
Sejatinya tak perlu sedih bila tak punya harta. Dan tak perlu berbangga diri bila di luaskan rejekinya, banyak harta bukan berarti di muliakan dan kemiskinan bukan berarti di hinakan. Yang Kuasa tidak melihat hambanya dari seberapa cantik wajahnya dan seberapa mahal pakaiannya. Tapi, Tuhan yang Maha pengasih lagi maha penyayang melihat dari hatimu dan seberapa baik Iman dan Takwa mu.
"Assalamu'alaikum. Jeng Nani, apa kabar?"
"Wa'alaikumsalam. Jeng Riska." Senyum Bu Nani mengembang. Ia mendekati wanita yang seusia dengannya itu tanpa melepas senyuman dari wajahnya. Pelukan hangat bu Nani di tubuh Bu Riska menjelaskan segalanya. Sepasang sahabat lama akhirnya di pertemukan juga.
"Ini benar-benar kejutan besar!" Sambung Bu Nani lagi sambil mempersilahkan Bu Riska duduk di sofa kantornya.
Tidak ada balasan dari bu Riska, namun senyumnya menjelaskan segalanya
"Apa Jeng Riska bersungguh-sungguh akan menetap disini? Saya sangat bahagia jika itu benar-benar terjadi." Bu Nani kembali membuka suara di antara senyapnya udara.
Di saat bu Riska hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan Bu Nani, Bu Nani langsung menghubungi asistennya membawakan teh hangat untuk mereka melalui sambungan telpon.
"Memiliki anak laki-laki merupakan tantangan tersendiri untuk kita. Terkadang mereka sangat penurut, dan disisi berbeda mereka bersikap seperti anak pembangkang." Bu Riska membuka suara sambil menatap Bu Nani yang berjalan kearah sofa setelah menutup panggilan telponnya .
Mendengar ucapan Bu Riska, Bu Nani hanya bisa menghela nafas kasar. Maklum saja, tidak ada seorang Ibu yang lebih mengetahui perasan itu selain dirinya. Memiliki satu putra saja membuatnya berada dalam masalah besar. Bagaimana jika dia punya dua atau tiga putra? Setidaknya itu yang di pikirkan Bu Nani. Sebelum Bu Nani sempat membuka suara, Tina tiba sambil membwa teh hijau lengkap dengan camilan di tangannya.
"Nyonya, ini tehnya." Ucap Tina sambil meletakkannya di atas meja.
__ADS_1
"Terima kasih. Kau boleh pergi." Balas Bu Nani sambil tersenyum pada asisten kepercayaannya.
"Nak Araf tidak pernah mengatakan apa pun, kapan jeng Riska tiba di Jakarta?"
"Saya tiba di Jakarta kemarin malam. Sebenarnya saya lebih suka tinggal di Bandung, Papanya Araf memohon agar kami tinggal di Jakarta saja. Dan sebagai istri, saya tidak punya pilihan lain selain mengikuti keinginnya." Bu Riska mulai berterus-terang sambil menatap lawan bicaranya.
Bu Nani hanya bisa menganggukkan kepala, tanda setuju. Seorang istri memang harus mematuhi suaminya. Dan itu sudah menjadi hal yang tidak bisa di bantahkan lagi.
"Dan yang lebih penting dari itu, saya harus mengawasi Araf. Anak itu bilang dia sedang jatuh cinta." Sambung bu Riska, wajahnya menjelaskan kalau dia sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Hhhhhmmm! Suara helaan nafas kasar Bu Riska kembali menguatkan pemikiran bu Nani kalau bu Riska sedang tidak baik-baik saja.
"Jatuh cinta itu hal biasa, biarkan Araf mencintai siapa pun yang di inginkan hatinya! Bu Riska tidak perlu khawatir tentangnya, saya mengenal Araf dan saya yakin dia tidak akan pernah salah dalam menilai wanita." Ucap Bu Nani mencoba menghibur, ia tahu ucapannya tidak akan memberikan pengaruh apa pun, hanya saja ia ingin pertemuan pertamanya setelah sekian purnama dengn Bu Riska bisa menghilangkan resah lawan bicaranya.
"Saya pun mengharapkan hal yang sama, Jeng. Saya ingin melihat Araf menikah dengan wanita baik-baik bukan wanita yang berpura-pura baik.
Sepertinya saya tidak akan bisa melihat itu karena Araf bilang dia mencintai wanita dengan satu anak. Entah dia janda atau wanita bersuami saya tidak tahu itu.
Setiap kali mengingat ucapannya membuat saya merasa sedih luar biasa. Bagaimana bisa putra berharga ku bertemu dan jatuh cinta dengan wanita yang memiliki anak? Ini benar-benar membingungkan." Ucap Bu Riska panjang kali lebar. Kekhawatiran itu terlihat dari wajah cantiknya.
"Ternyata anak-anak kita tidak jauh berbeda!
Jeng tahu putraku, Alan? Dia juga berhasil mengejutkanku dengan berita besar yang dia bawa bersamanya. Anak nakal itu melakukan kesalahan besar yang tak termaafkan.
Awalnya aku marah, kekesalanku rasanya sampai keubun-ubunku. Aku tidak bisa bernafas dengan tenang sampai aku berpikir tiada akan jauh lebih baik dari pada melihat segalanya." Bu Nani meneteskan air mata, namun dengan cepat ia menghapus sudut mata dengan punggung tangannya.
"Apa maksud jeng Nani? Kesalahan besar apa yang di lakukan nak Alan?" Selidik Bu Riska, mamanya Araf.
"Alan melakukan kesalahan besar pada seorang wanita, baru-baru ini kami mengetahui kalau dia memiliki seorang putri." Balas Bu Nani sambil menatap wajah sendu bu Riska.Tatapan bu Riska seolah mengatakan 'Bahwa Bu Nani telah gagal mendidik anaknya' Namun bukan itu kebenarannya.
Setiap orang tua pasti ingin melihat anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang bisa di banggakan karena kebaikannya. Namun terkadang seiring berjalannya waktu beberapa dari mereka melenceng dari jalannya, dan ketika seseorang memiliki masa lalu yang buruk jangan pernah hinakan mereka karena kesalahan masa lalunya, terkadang orang dengan masa lalu paling buruk, bisa menciptakan masa depan paling cerah.
__ADS_1
...***...