Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Keinginan Kecil


__ADS_3

"Kopinya, silahkan di nikmati!" Ucapku sembari mempersilahkan dua orang lelaki yang duduk di teras rumah.


Mereka mengangguk pelan, sedetik kemudian dua lelaki tampan itu saling melempar senyuman sembari berujar 'Terima kasih.'


"Apa nona Fatimah tidak akan duduk bersama kami?" Araf bertanya sembari menyodorkan kue kepada pria di sebelahnya.


"Nona Fatimah, terima kasih." Sambung pria yang duduk di samping Araf.


"Apa? Kau juga mengenal nona Fatimah? Bagaimana bisa?" Araf bertanya karena penasaran.


"Tuan, saya bertemu nona Fatimah ketika pulang dari klinik. Beliau yang menitipkan makanan untuk tuan."


"Jadi makan siang kemarin dari nona Fatimah?" Araf bertanya lagi sambil meletakkan cangkir kopi yang hampir habis di meja.


"Terima kasih, dokter selalu baik pada putri ku. Aku hanya ingin mengabarkan, bulan depan aku akan ke-Jakarta bersama Fazila!" Ucapku memecah keheningan.


"Apa? Jakarta, bagaimana bisa?"


"Alhamdulillah. Fazila lolos Audisi Hafizd Qur'an. Selama sebulan kedepan kami akan tinggal di Jakarta bersama." Balasku sambil tersenyum tipis.


"Wah... Itu berita besar nona Fatimah. Aku akan bahagia jika aku bisa hadir di sana dan memberikan tepuk tangan meriah untuk Fazila kita yang manis." Untuk pertama kalinya Araf berani menatap wanita di depannya dengan tatapan bangga.


Kita? Rasanya aku sedang mengungkapkan perasaanku! Bagaimana jika dia salah paham? Bagaimana cara ku mengungkapkan perasaanku padanya? Jika dia menerimaku, apa mama akan menerimanya? Ini benar-benar membingungkan! Lirih Araf sambil pura-pura tersenyum.


"Bukankah dokter Araf berasal dari Jakarta? Sangat menyenangkan jika anda juga bisa ikut bersama kami."


"Ummi..." Fazila memanggil sambil berlari kearahku.


"Jangan lari, nak."


"Ummi, hari ini Fazila akan main kerumah paman dokter. Fazila akan pulang sebelum ashar."


"Nak, kau tidak boleh mengganggu paman dokter. Beliau banyak pekerjaan. Jika kau mau main, kau bisa kerumah Lisa atau Dena." Ucapku sambil mengelus wajah ayu putriku yang terlihat mulai cemberut.

__ADS_1


"Tidak apa-apa nona Fatimah, Fazila bisa bermain deganku jika tuan repot." Balas Bodyguard Araf.


"Fazila, nak. Kau tidak boleh merepotkan paman dokter dan temannya. Kau mengerti?" Aku bertanya sambil memandangi wajah sumringah putriku, ia menjawab hanya dengan anggukan kepala.


...***...


"Selamat siang pak Alan! Senang bisa bertemu langsung dengan anda."


Aku menatap wajah baru yang berdiri di depan ku. Ia tersenyum sembari menyodorkan tangannya. Aku meraih tangan itu sembari tersenyum tipis hanya untuk menghormati lawan bicaraku saja.


Begitulah aku, bahkan jika masalahku melebihi kekuatanku, aku akan berpura-pura tersenyum di depan rekan bisnis. Seolah kehidupan yang ku jalani di penuhi sikap kepura-puraan saja.


"Senang bertemu dengan anda. Di mana pak Santos? Bukankah beliau yang sudah membuat janji dengan sekertaris ku?"


"Maaf pak Alan, sebentar lagi pak Santos akan tiba disini. Kebetulan kemarin istri beliau mengalami kecelakaan, karena itu beliau dan istrinya kerumah sakit. Anda tidak perlu khawatir, beliau dalam perjalanan dan sebentar lagi beliau pasti sampai." Ucap lelaki separuh baya yang berdiri di depanku, ia terlihat ramah walaupun ia belum sempat memperkenalkan dirinya.


"Maaf, saya lupa memperkenalkan diri! Nama saya pak Teddy, saya asisten beliau." Ucap Pria yang mengaku namanya Teddy.


Tok.Tok.Tok.


Ia tersenyum sambil menyodorkan tangan, kami kembali duduk setelah berjabat tangan. Sebelum memulai pembicaraan serius, dua pelayan wanita datang sambil membawa teh dan cake.


"Terima kasih, pak Alan mau menemui kami! Saya berharap acara Ramadan kita akan membawa berkah." Ucap pak Santos sambil menyodorkan teh yang sudah ia tuang di cangkir.


"Bapak katakan saja apa pun yang bapak butuhkah, anda cukup menghubungi sekertaris saya." Ucapku sembari menerima teh yang di sodorkan pak Santos.


"Perusahaan kami sudah menyiapkan beasiswa Ratusan Juta untuk pemenang acara yang bapak kepalai. Bapak tidak perlu sungkan jika bapak membutuhkan dana bantuan. Saya tidak bisa menghadiri acara bapak, meskipun begitu saya akan mengutus sekertaris saya selama berlangsungnya acara."


"Pak Alan tahu kami sangat berterima kasih karena bapak bersedia menjadi sponsor terbesar kami. Kami berdoa semoga Allah memberi kebahagiaan yang tidak terkira untuk bapak dan keluarga."


Mendengar ucapan pak Santos serasa angin surga membelai hati ku, ada rasa bahagia yang tidak bisa ku ungkapkan dengan sekedar kata-kata.


Kemarahan opa masih bisa ku tahan. Aku tidak takut lagi jika media mengejarku! Yang ku takuti aku menghabiskan hidupku dengan orang yang salah.

__ADS_1


🌺🌼🌺


Sementara itu di kota yang berbeda, Araf menikmati sore harinya dengan bersantai di rumah. Di temani bodyguard pribadinya yang sejak tadi tak bersuara.


Usia mereka hanya terpaut satu tahun, karena itulah Araf mudah berteman dengannya. kepribadian Araf yang mudah bergaul membuatnya tidak susah mencari teman baru di manapun ia berada.


"Hai kau, aku selalu lupa namamu! Apa sekarang aku menjadi pelupa? Entahlah!" Ucap Araf sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Disudut, Fazila mulai tertawa lepas melihat raut wajah Araf.


"Paman dokter, bukankah anda sangat pintar? Kenapa anda tidak bisa mengingat nama teman sendiri." Fazila bertanya sambil memegang perutnya.


"Teman? Dia bukan temanku!" Balas Araf singkat.


"Amir biasanya berkata 'Dia bukan teman ku' pada ku, pada Lisa dan Dena juga. Tapi sampai sekarang kami masih berteman, apa kalian bertengkar?" Fazila bertanya lagi sambil duduk disamping Araf.


"Namanya paman Bagas. Aku sangat menyukai kalian berdua." Ucap Fazila lagi sambil memegang tangan Araf dan Bagas bersamaan.


Araf memberikan isyarat dengan jari telunjuknya agar Bagas meninggalkannya karena ia ingin berdua dengan si manis Fazila.


"Tadi apa yang kau katakan? Kau bilang aku pintar?" Araf menggelitiki perut Fazila sambil tersenyum, dua anak manusia berbeda genarasi saling tertawa lepas. Araf tidak pernah menyangka ia akan mudah akrab dengan anak kecil, padahal sebelumnya ia tidak suka pada anak-anak.


Apa yang spesial dari anak ini? Kenapa mudah sekali dekat dengannya. Batin Araf sambil memandang wajah Fazila lekat.


"Hal apa yang ingin kau lakukan? Paman dokter akan melakukan segalanya untukmu!" Ucap Araf sambil memperbaiki kain penutup kepala Fazila yang terlihat miring.


"Hal yang ingin ku lakukan?" Fazila berpikir sejenak, ia terlihat tampak serius.


"Fazila ingin bertemu Abi! Jalan-jalan keliling kota sambil menggenggam tangan Abi dan Ummi, menikmati sarapan dan makan malam setiap harinya!" Ucap Fazila dengan suara lirih, wajahnya terlihat sedih.


Araf menepuk pundak Fazila, ikut larut dalam suasana hatinya yang terasa hampa.


"Sayangnya itu tidak akan pernah terjadi. Ummi selalu menangis kalau mengingat abi." Sambung Fazila masih memamerkan wajah sedihnya.

__ADS_1


Ya Tuhan, aku tahu aku tidak dekat denganmu. meskipun demikian, aku ingin memohon padamu. Wujutkan keinginan kecil Fazila untuk bertemu dengan ayahnya walau hanya sedetik saja. Lirih Araf sambil memeluk bocah manis yang hampir menangis di depannya.


...***...


__ADS_2