Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Tamu Dari Bali


__ADS_3

Kasih sayang?


Dua jiwa yang berbeda di satukan menjadi satu. Walau terdapat bayak perbedaan di antara keduanya, namun tetap saja saling memahami dan melangkah bersama akan mengikis jarak dan menumbuhkan cinta, dan saat kasih sayang terlibat di antara dua insan yang berbeda maka hati itu akan terikat untuk selama-lamanya.


Cinta itu buta?


Iyaaaa, mungkin saja. Cinta itu akan menjadi buta jika kau memutuskan melakukan segala hal diluar nalar manusia.


Tak perlu mencintai berlebihan, karena hal yang berlebihan itu tidak baik. Sekali kau terluka kau akan terhempas kedasar jurang kesedihan yang mungkin saja sulit membuatmu untuk bangkit kembali.


Cinta bisa hadir kapan saja, sebelum Araf dan Sabina terlibat dengan orang yang salah, kedua keluarga memilih mengikat mereka dalam satu hubungan yang berlabelkan 'Halal' tidak ada yang tahu hubungan ini akan berjalan lancar atau justru akan kandas di tengah jalan, walau demikian hubungan ini di penuhi dengan banyak doa dan pengharapan dari kedua keluarga, keluarga Araf dan tentunya keluarga besar Wijaya.


Dan tanpa terasa air mataku mulai menetes, aku merasakan bahagia luar biasa. Apa aku selega itu sampai harus memperlihatkan air mataku? Iya, itu mungkin saja. Aku yakin semua kakak akan merasakan bahagia dan haru di saat bersamaan saat adik tercintanya akan menjadi milik orang lain.


"Kenapa kau menangis? Kau bahkan bukan anak perempuan!" Ucap Mama sambil mencubit lengan ku.


"Apa kau sedih adik mu bersanding dengan Araf? Mama bisa mengerti itu. Pasti rasanya sangat berbeda saat sahabat baikmu menjadi adik ipar mu.


Mama berharap hubungan kalian tetap sama bahkan semakin erat. Semoga Araf bisa membuat adikmu bahagia sama seperti kau memperlakukan Ummi Fazila.


Setiap Ibu mengharapkan kebahagiaan untuk anak-anak mereka. Entah kenapa hari ini Mama sangat emosional." Sambung Mama lagi.


Tanpa berucap sepatah kata aku langsung merangkul Mama. Aku bisa merasakan apa yang Mama rasakan, beliau pasti lebih sedih di bandingkan dengan ku. Rasanya aku akan kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupku, dan hal itu mulai mengusik ketenanganku.


Untuk sesaat aku mulai menatap wajah lega Araf, ketegangan yang ia rasakan seolah menguap keangkasa karena ia baru saja menyelesaikan Akadnya.


'SAHHHH'


Satu kata yang terlontar dari semua tamu undangan terdengar bergema di indra pendengaranku. Bahkan wajah sedih Mama langsung tersenyum bahagia.


"Sekarang Mama tidak perlu mengkhawatirkan Sabina lagi. Dia sudah mendapatkan pasangan terbaik seperti yang selalu Mama pinta dalam Do'a." Ujar Ummi Fazila sambil memeluk Mama.


Mendengar ucapan menenangkan menantu kesayangannya Mama hanya bisa mengangguk pelan, senyuman menawan Mama menjelaskan kalau dia sangat, sangat bahagia.


Pengantin wanita datang sambil berjalan pelan di temani oleh dua wanita yang berdiri disisi kiri dan kanannya. Melewati ratusan tamu undangan yang menjadi saksi dari karunia Allah yang telah menyatukan dua hati dalam naungan keridoannya.


Hari ini Sabina terlihat luar biasa, gadis manja itu lebih indah dari permata. Lebih berkilau dari kilauan emas, dan ia semurni air dalam gelas kaca. Siapa pun yang menatapnya akan larut dalam perasaan penuh cinta.


Dengan sigap Araf meraih tangan Sabina yang saat ini berdiri di depannya. Mereka duduk di depan penghulu, menandatangani surat nikah kemudian serah terima mahar.

__ADS_1


Seperangkat alat Shalat, cincin berlian dan sebuah rumah berlantai dua menjadi pilihan Araf sebagai maharnya. Sebenarnya Sabina tidak meminta apa pun karena dia tidak ingin memberatkan pasangannya dengan urusan mahar.


Mahar adalah pemberian dari calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita, baik dalam bentuk barang, uang, atau jasa yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. Dan aku yakin Araf sudah memikirkan masak-masak hal berharga yang akan dia persembahkan untuk calon ibu dari anak-anaknya.


"Mama... Maafkan Sabina." Sabina mencium tangan Mama sambil meneteskan air mata.


"Kenapa putri berharga Mama menangis? Hari ini putri Mama terlihat sangat cantik, tidak ada air mata lagi, kau paham?" Mama mencubit hidung bangir Sabina, setelah itu beliau menghapus air mata putri kesayangannya dengan jemari hangatnya.


Aku bisa merasakan keharuan luar biasa diantara Mama, sabina dan semua anggota keluarga Wijaya.


...***...


Akad nikah dan pesta Araf berjalan dengan lancar. Semua tamu undangan pun terlihat bahagia, Apa lagi yang lebih baik dari ini?


"Tuan Alan, selamat!"


Aku sedikit terkejut saat seseorang memegang pundakku dari belakang. Seandainya aku tidak berada di pesta araf dan Sabina, sudah di pastikan, aku pasti akan memelintir lengannya.


Walau sangat kesal aku malah tersenyum, tentu saja senyum yang coba ku paksaan. Melakukan hal dengan keterpaksaan benar-benar kekonyolan luar biasa, dan akulah salah satu orang terkonyol itu.


"Apa kita pernah bertemu? Seingat ku, tidak pernah!" Ucapku sambil menyipitkan mata.


Ucapan pria yang masih asing itu terdengar sangat aneh. Bagaimana dia bisa bahagia bertemu denganku sementara aku tidak mengenalnya? Ucapannya terdengar seperti guyonan, guyonan tidak lucu. Aku tidak mungkin mengusirnya dari hadapanku karena aku tidak sekejam itu. Saat seperti ini tidak ada hal yang bisa ku lakukan selain tersenyum, senyum yang kembali ku paksakan.


Pura-pura tersenyum jauh lebih baik dari pada bermuka masam di depannya. Aku berkata seperti ini karena Ummi Fazila selalu bilang seorang muslim tidak bermuka masam di depan semua orang kecuali di depan orang yang memusuhi Agamanya, Tuhannya dan Rasulnya.


"Apa anda butuh sesuatu? Katakan saja! Semua pelayan yang ada di tempat ini akan melayani anda dengan baik, karena bagi kami tamu adalah Raja." Celotehku lagi sambil menjabat tangan pria yang seusia denganku itu.


"Terima kasih. Pertama-tama saya akan memperkenalkan diri, nama saya Made. Made Praja Adyamarta, saya berasal dari Bali.


Tujuan saya datang kemari untuk mendiskusikan tentang Resort dan Bungalow yang akan Tuan Alan ambil alih. Saya di utus oleh pak Made Narendra Adyamarta. Beliau ayah saya."


Netraku membulat tak percaya. Untunglah aku tidak mengucapkan omong kosong padanya, dia adalah tamu yang ku tunggu-tunggu selama dua pekan ini.


"Wah... Ini benar-benar luar biasa. Saya sangat menantikan kedatangan anda, dan sekarang anda muncul di depan saya." Celotehku sambil merangkul tubuh kekarnya. Kali ini aku tersenyum bahagia, dan tentunya bukan senyum keterpaksaan lagi.


"Saya juga berpikir demikian, Tuan. Sebenarnya saya akan menemui anda besok. Tanpa sengaja saya melihat anda disini, mau tidak mau saya harus menyapa anda."


"Itu bagus pak Made. Saya senang bisa bertemu anda disini. Apa anda sudah makan?"

__ADS_1


"Sudah, tuan."


"Apa anda datang sendiri? Dimana istri anda?"


"Istri saya di Bali, Tuan. Putra kami akan mengikuti Olimpiade. Mau tidak mau dia harus menemaninya."


"Wahhh, ternyata anda memiliki putra yang sangat cerdas. Selamat pak Made!" Ucapku sambil menepuk pundaknya pelan.


Pak Made memiliki postur tubuh seperti Araf, dia sangat ceria. Sejak bertemu dengan ku, dia bahkan tidak pernah melepaskan senyuman dari wajah tampannya. Untungnya kami berada di usia yang sama, dan dia terlihat sangat santun.


Kami memiliki keyakinan yang berbeda, namun hal itu tidak membuat ku merasa risih berada di dekatnya. Agama yang ku yakini sangat mementingkan sikap toleransi, selama jantung ini masih berdetak selama itu juga aku akan melakukan kebaikan semampu yang ku bisa.


...***...


Mmmmm!


Aku pura-pura berdeham sambil melipat lengan di depan dada. Malam semakin larut namun kami berdua masih saja terjaga. Sepertinya pesta Pernikahan dokter Araf dan Sabina cukup menyita waktu Abi Fazila. Untunglah sekarang semuanya sudah berakhir.


"Apa Ummi Tahu Ummi membuatku sangat terkejut?" Abi Fazila berucap sambil menarik lenganku. Suaranya terdengar selembut kapas. Aroma tubuhnya seharum bunga di taman bunga. Pesona indahnya membuatku tersesat dalam lautan cinta. Sungguh aneh diri ini, aku bahkan lebih takut melihatnya meneteskan air mata dari pada kehilangan nyawaku.


"Kenapa Ummi menatapku seperti itu? Apa Abi terlihat seperti seorang playboy?"


Aku menggelengkan kepala sambil menatap netra teduh milik Abi Fazila. Aku ingin tenggelam dalam pesona indah netra teduhnya, tapi sepertinya itu sedikit sulit karena sebelum aku melakukan itu Abi Fazila malah membalik tubuh rampingku, memelukku dari belakang kemudian menikmati indahnya pesona sang Rembulan.


"Ummi tidak perlu mengatakan aku mencintaimu. Aku bahagia menjadi bagian dari hidupmu. Aku akan selalu mendampingimu. Tetap cintai aku, dan sayangi aku melebihi hari-hari yang telah kita lalui bersama.


Ucapan itu tidak cocok keluar dari lisan Ummi, karena Abilah yang harus mengatakannya. Ummi juga tidak perlu mengatakan Abi sangat tampan, karena sebenarnya Ummilah yang terlalu cantik." Sanjung Abi Fazila dengan suara lemah lembutnya.


Aku masih terdiam menerima perlakuan manis Abi Fazila. Bahkan bibir tipisku tidak bisa berhenti mengukir senyuman.


"Ooo iya, Mi. Hari ini Abi bertemu dengan rekan bisnis Abi di pesta Sabina. Dia berasal dari Bali, mau tidak mau Abi harus berkunjung kesana.


Ummi tahu, kan? Abi tidak bisa jauh dari Ummi walau untuk sekejap saja, apa Ummi keberatan jika Ummi harus menemani Abi melakukan perjalanan bisnis keluar Kota? Atau mungkin saja sampai keluar Negri!"


"Abi tidak perlu bertanya seperti itu. Kemana pun Abi pergi, selama Ummi masih bernafas, Ummi pasti akan selalu menemani Abi. Itu janjiku sebagai seorang istri." Balasku pelan sambil membalikkan tubuh rampingku menghadap Abi Fazila, memeluk tubuh kekarnya tanpa berucap sepatah kata.


Tamu dari Bali!


Selama dua pekan ini Abi Fazila selalu membicarakannya. Entah seperti apa pekerjaan yang akan di lakukan Abi Fazila dengan orang-orang yang ada disana sampai-sampai pekerjaan ini akan menarikku untuk mendatangi Pulau yang terkenal dengan keindahannya itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2