Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Amarah


__ADS_3

"Fazila, nak. Apa kau sudah pulang?" Aku bertanya sambil bangun dari tempat tidur, setelah Nyai Latifa memberikan obat, entah kenapa aku merasa mengantuk. Kepalaku yang tadinya terasa berat, sekarang sudah mendingan.


Pelan aku berjalan sambil berpegangan di setiap dinding yang ku lalui. Entah kenapa mataku terasa perih, aku ingin istirahat namun naluri keibuanku terus saja mencari putri yang sangat kurindukan.


"Fazila, nak. Apa kau disana?" Tanyaku lagi sambil berjalan kearah sumber air keran yang masih mengalir.


"Non, Fatimah! Ini Mbok, non." Ucap wanita separuh baya yang berdiri di depanku, ia berlari dari dapur hanya untuk menghampiri ku.


Namanya mbok Asih, beliau asisten rumah tangga yang sebelumnya di bicarakan Nyai Latifa. Usianya beda lima tahun dengan Nyai Latifa, dan bagiku mbok Asih sudah seperti leluarga sendiri.


"Nak Fazila belum pulang? Berarti dia masih di klinik? Pasti non Fatimah sangat marah pada bu Yati? Mbok juga ngerti, kalo seandainya saya jadi non Fatimah, sudah pasti rumahnya akan saya labrak." Ucap Mbok Asih dengan segala kekesalannya.


Mbok Asih tidak memperhatikan wajah penasaranku, aku sendiri tidak mengerti arah pembicaraannya.


Klinik?


Melabrak bu Yati?


Aku benar-benar tidak mengerti maksutnya!


Bu Yati? Setiap kali mendengar namanya aku selalu berpikir untuk tidak terlibat dengannya. Dia wanita yang angkuh. Aku tidak tahu hatinya terbuat dari apa, setiap kali bertemu dengan ku emosinya seperti tersulut api. Aku benci pertikaian, karena itulah setiap kali ada masalah yang akan membuat emosiku tersulut, aku lebih memilih untuk tidak larut dalam emosi itu. Tidak jarang aku meminta maaf lebih dulu, aku selalu berpikir meminta maaf lebih dulu tidak akan membuatku terhina.


Hal yang sama pun ku ajarkan pada putri ku, bertengkar hanya akan menghilangkan keberkahan dalam hidup. Selama masih ada jalan damai untuk apa memperbesar masalah kecil.


"Klinik? Apa maksud mbok Asih?" Tanya ku penasaran dengan dahi yang mulai meneteskan keringat dingin.


"Jadi non Fatimah tidak Tahu? Fazila saat ini ada di klinik! Bu Yati mendorong Fazila kearah pesepada yang melintas, dan hal itu membuat Fazila terluka. Fazila mendapat sepuluh jahitan di lengan kanannya. Kakinya juga bermasalah." Urai mbok Asih dengan wajah sedihnya.


Bagai disambar petir di siang bolong, aku benar-benar tidak bisa menahan amarahku. Saat ini darahku terasa mendidih, yang ada di pikiranku, aku ingin segera sampai di kediaman bu Yati kemudian memberikan pelajaran yang tidak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya.

__ADS_1


Buah hatiku, penyejuk jiwaku! Berani sekali ia melukainya separah itu. Aku bahkan tidak sanggup melihat putri ku meneteskan air mata walau hanya setetes saja, dan dia? Wanita separuh baya itu melukai putriku sampai mendapat jahitan di lengannya.


Aku berjalan meninggalkan rumah dengan amarah yang masih membuncah.


Selama ini aku selalu sabar. Tapi hari ini, tidak lagi. Gumam ku sambil berjalan cepat, melihat amarahku mbok Asih merasa meyesal. Ia menepuk bibir jahilnya, ia berpikir seandainya ia tidak memberi tahukanku, namun kata sendainya tidak lagi berguna.


Lima belas menit kemudian aku berdiri tepat di depan kediaman bu Yati. Entah ada apa sampai ada kerumunan besar, ibu-ibu teman gosipnya pun terlihat panik.


Aku tidak perduli itu, yang ku perdulikan hanya putriku saja, hanya putriku.


"Caelah... Wanita yang kita bicarakan akhirnya datang juga! Masih berani kamu menampakkan wajah mu? Wanita sepertimu itu pantasnya di taruh di Musium aja." Ucap seorang wanita separuh baya begitu melihatku datang dengan membawa amarah yang tak kunjung reda.


Aku masih diam, mencerna kalimat sindiran yang berhasil membuat darahku semakin mendidih.


"Kenapa kamu tidak tinggal saja dengan kekasihmu, kenapa harus membuatnya pura-pura bekerja di kampung ini? Dasar wanita tidak tahu malu!" Ucap wanita itu lagi.


"Cukup." Bentak ku kasar sambil membuang nafas kasar.


Selama ini bu Helen dan bu Yati selalu saja mengucapkan omong kosong tentangku, dan sudah waktunya aku membungkam mulut mereka, entah dengan ucapan lembut atau dengan bahasa yang mereka pahami.


"Tangan ini? Tangan ini yang sudah berani melukai putriku." Ucapku dengan nada berapi-api. Aku mencengkram lengan bu Yati kasar, tatapan tajamnya seolah ingin mengulitiku.


"Selama ini aku terlalu lunak pada bu Yati, kelunakanku sudah berani membuat bu Yati melukai putriku. Sekarang tidak lagi." Bentak ku lagi sambil melepaskan genggamanku dari lengan bu Yati.


Tujuanku hanya untuk memperingatkannya saja, aku berbalik sambil menahan amarah, aku berharap setelah ini bu Yati dan wanita rekan gosipnya tidak lagi mengganggu ku dan putriku.


"Dehhh... Wanita syok suci datang kerumah ku sambil bersikap kurang ajar. Dengar, Fatimah! Aku juga tidak sudi melihat wajahmu yang syok polos itu. Disini kau bertingkah kalem, dan di luar sana kau sengaja mengirim putrimu bersenang-senang dengan ayahnya.


Kenapa kau tidak meminta kiai Hasan menikahkanmu dengan ayah Fazila? Apa kau segaja ingin berhubungan gelap dengan dokter tampan itu tanpa ada yang tahu kalau ia ayah dari putrimu? Pantas saja ia mengancam akan membunuhku karena menyakiti Fazila, dan sekarang, kamu juga berani mengancam ku, ciiiihhh, aku tidak takut!" Balas bu Yati tak kalah marahnya.

__ADS_1


Hubungan gelap?


Dadaku terasa sesak mendengar penghinaan bu Yati, berani sekali dia menilaiku serendah itu. Sekarang aku baru menyadari, usia tua tidak lantas membuat seseorang menjadi bijaksana. Di bandingkan kemarahan terhadap bu Yati aku jauh lebih marah pada dokter muda yang baru saja menjadi temanku itu.


Tanpa banyak bicara aku langsung mempercepat langkah kakiku menuju klinik.


"Nona Fatimah, anda ada disini? Ooh... Iya, anda harus menjemput Fazila." Ucap pria yang duduk di samping dokter Araf. Aku mengenalnya sebagai pengawal dokter ganteng.


Araf sangat bahagia melihat kedatangan ku, wajah tampan itu memamerkan senyum terbaiknya. Aku yakin, siapa pun yang melihat senyum indah pria tampan di depanku ini akan langsung jatuh hati.


Namun tidak bagiku.


Hubungan gelap? Ucapan singkat bu Yati masih bergema di telingaku. Dan aku tidak pernah merasa seburuk ini, tidak ada senyuman di wajahku. Yang ada hanya kekesalan saja.


Melihat tatapan tajamku, dokter Araf menatapku penuh tanda tanya. Entah kenapa, ucapan menusuk bu Yati lagi-lagi bergema di telingaku.


Plakkkkk!


Tanpa berucap sepatah kata aku langsung menampar dokter Araf, wajah yang tadinya di penuhi senyuman berubah masam seketika. Pria yang menjadi Bodyguard nya pun terlihat terkejut, tanpa berucap sepatah kata ia lebih memilih meninggalkan kami berdua.


"Aku salah! Kenapa aku harus percaya pada anda? Gara-gara anda semua orang menganggapku perempuan murahan. Anda hanya seorang teman, maka bersikaplah seperti teman. Jangan melewati batas yang tidak boleh anda lewati." Ucapku dengan nada tinggi. Air mataku mulai menetes membasahi wajah pucat ku.


Dokter Araf yang mendapat bentakanku hanya bisa diam, sepertinya ia sangat terkejut sampai tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.


"Ummi." Ucap putri ku begitu ia keluar dari dalam klinik, melihat ia menyeret kakinya hanya untuk menghampiriku membuat dadaku terasa sesak. Aku tidak pernah membayangkan akan melihat kondisi terburuk putriku, ia bahkan tidak bisa menggerakkan tangannya.


Sekuat tenaga, aku berusaha menahan air mata, sayangnya aku gagal. Air mataku tidak bisa di ajak kompromi, aku menangis pilu sambil memeluk putriku.


Ada apa dengan ku? Kenapa aku bisa semarah ini? Seharusnya aku tidak perlu melampiaskan amarahku pada dokter Araf. Gumam ku dalam kesedihan panjang.

__ADS_1


Kau dalam masalah besar Fatimah, kau dalam masalah. Gumam ku lagi sambil memandang wajah dokter Araf penuh penyesalan.


...***...


__ADS_2