
Kondisi kantorku sangat buruk, semua dokumen penting yang ada di atas meja kini berserakan di lantai. Aku merasa, saat ini aku sedang berada di arena tinju karena Araf benar-benar tidak ingin mengalah. Wajah tampannya lebam, baju putihnya terlihat kotor namun tetap saja ia menyerangku dengan brutal.
Di bandingkan dengan Araf yang agresif, aku malah lebih memilih untuk menghindar. Menghindar agar tidak terkena pukulannya, dan menghindar agar tidak memukulnya.
Tatapan tajam Araf seolah melumpuhkan jiwaku, aku merasa lemah melihat tingkahnya. Dari pada memikirkan apa yang harus ku lakukan, lebih baik aku fokus pada gerakan terakhir, gerakan dimana Araf tidak akan bisa lolos dari ku. Dan dia pun harus menjawab setiap pertanyaanku.
Baiklah. Mari kita lakukan, hanya ini yang bisa kulakukan untuk mengakhiri semuanya. Maafkan aku. Gumamku sambil melihat gerakan Araf selanjutnya. Dan tanpa berpikir panjang aku langsung melonggarkan dasiku kemudian...
Tepakkkk. Aku mendorong Araf pelan, namun dorongan itu membuatnya terpelanting membentur dinding. Bukannya aku kejam, hanya saja, hanya ini satu-satunya cara menghentikan kekonyolan ini.
Dan sebelum Araf menyadarinya, secepat kilat aku mengikat kedua tangannya dengan dasiku agar ia tidak bisa lagi menggunakan tangannya untuk menghajarku.
"Lepaskan! Lepaskan ikatan tanganku!" Ucap Araf sambil menatapku dengan tatapan kesal.
Bukannya mengindahkan ucapannya, aku malah tersenyum lega. Aku lega karena Araf tidak bisa berkutik. Sedetik kemudian aku berbaring di lantai sambil menarik nafas dalam kemudian pelan membuangnya dari bibir, aku merasa sangat lega.
Araf melakukan hal yang sama, ia berbaring di lantai, dan tatapan kami terfokus pada langit-langit kantorku.
Sedetik, dua detik, bahkan hingga menit kelima berlalu tidak ada percakapan di antara kami berdua. Ucapanku masih terkatup di bibir.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa padamu. Aku sangat kesal sampai berpikir akan mengakhiri hidup kita berdua dalam pertarungan konyol ini.
Ya... Kuakui aku tidak akan bisa mengalahkanmu dalam pertarungan ini, kau bahkan bisa mematahkan tulang-tulangku jika kau mau, tapi kau memilih untuk tidak melakukan itu." Ucap Araf memecah keheningan.
Aku mulai tersenyum mendengar pengakuan Araf, aku lupa kalau aku sangat lihai dalam urusan bela diri. Mungkin hanya alasan itu yang kupunya sampai aku begitu percaya diri untuk tidak mengandalkan jasa bodyguard.
"Adu jotos? Ini benar-benar menyebalkan." Sambung araf lagi. Ia menatap wajah lebamku sambil menghela nafas kasar. Wajah kami sama-sama lebam.
"Kau tahu ini sangat menyebalkan! Lalu kenapa kau lebih memilih menggunakan ototmu dari pada otakmu? Bukankah bicara baik-baik sambil meminum kopi jauh lebih baik dari pada saling menyerang?" Aku mulai mencecar Araf dengan pertanyaan singkatku. Ku tatap wajah tampan itu sambil menahan rasa nyeri di sudut bibir. Tidak ada jawaban darinya, ia mendekat kearahku kemudian berbaring di samping kiriku, kami sama-sama menatap kearah langit-langit kantorku seolah kami sedang menatap gugusan bintang-bintang yang sedang bersinar terang.
__ADS_1
"Aku tidak cemburu padamu. Aku juga tidak dendam padamu. Aku hanya marah." Ucap Araf menggantung kalimatnya.
Cemburu? Marah? Dendam? Aku menangkap tiga kata ini dari ucapan singkat Araf. Aku rasa dia benar-benar marah. Tidak ada kata yang bisa ku ucapkan untuk menenangkannya, karena aku sendiri belum memahami masalah apa yang sedang memberatkan hatinya.
"Kemarinnn!" Lagi-lagi Araf hanya bisa menggantung kalimatnya. Aku menatap wajahnya dengan tatapan penasaran.
"Apa yang membuatmu sulit mengatakan beban di hatimu? Biasanya kau sangat rewel."
"Yaaa... Kau benar, biasanya aku sangat rewel. Tapi, kali ini berbeda. Aku memandang mu sebagai sainganku, bukan sahabatku." Araf bicara terus terang. Nada suaranya terdengar sangat geram.
Saingan? Apa Araf tahu segalanya? Bagaimana bisa?
"Yaaa... Aku tahu segalanya! Bahkan saat ini kemarahan telah memenuhi pori-pori tubuhku.
Melihat wajahmu membutku berpikir kalau aku harus mematahkan tulang-tulang mu! Jika saja dasi ini tidak mengikat tanganku, aku bersumpah akan menghajarmu sampai aku lupa kalau kita bersahabat." Ucapan ketus Araf membuat sekujur tubuhku merinding, belasan tahun berlalu sejak kami menjadi sahabat. Namun untuk pertama kalinya aku melihat Araf semarah ini.
Aku tahu ia berhak marah padaku, namun saat ini aku tidak ingin disalahkan karena posisiku sebagai seorang ayah. Aku harus berdiri tegak demi putri tersayangku.
Mendengar ucapan Araf membuatku ingin menangis. Aku tahu segalanya! Yaa... Aku tahu segalanya.
"Apa kau tahu Fazila? Anak malang itu tidak bisa mengangkat kepalanya saat teman-temannya meledeknya karena dia tidak punya ayah.
Aku benar-benar tidak tahu, sahabat yang sangat ku banggakan ternyata seorang pecundang yang hanya bisa bersembunyi di bawah kekuasaannya."
"Cukup! Sudah cukup!" Aku berteriak kasar. untungnya kantorku kedap suara. Aku dan Araf saling tatap dengan tatapan yang di penuhi amarah.
"Aku selalu mencarinya, tapi aku tidak bisa menemukannya. Aku lelah. Aku juga tidak bisa bernafas.
Apa kau tahu? Selama delapan tahun ini aku tidak bisa tidur di malam hari, dan disiang hari aku selalu memaksakan diri untuk bekerja agar kenangan buruk malam itu tidak menghantuiku." Ucapku dengan nada suara tinggi. Nafasku mulai tak beraturan. Melihat tingkahku, Araf hanya bisa diam. Untuk sesaat kami sama-sama diam. Dalam kebisuanku, air mataku terus saja menetes.
__ADS_1
Aku memejamkan mata sambil menghadirkan wajah Ummi dari putri salihaku. Rasanya aku ingin berteriak, jiwaku berontak. Semua ini terasa menyakitkan, sangat sakit sampai bernafaspun terasa berat.
"Semuanya berawal sejak aku melihat Seren menghabiskan malamnya dengan pria lain. Wanita yang sangat kucintai dan ku hargai itu membuang cintaku kedalam selokan.
Aku merasa buruk! Aku merasa kotor!
Aku tidak marah karena Seren menghianatiku. Aku marah pada diriku sendiri, aku sangat bodoh karena mencintai wanita yang salah. Membayangkan semuanya membuatku ingin muntah. Aku melarikan diri agar aku tidak merasakan duka.
Kau lihat bagaimana takdir menemukan jalannya? Aku yang tidak pernah menyentuh seteguk minuman keras, dan aku pria yang selalu menjunjung martabat wanita berakhir dengan dosa besar karena melecehkan wanita sebaik Ummi Fazila.
Aku tidak sadar dengan perbuatanku. Wanita Saliha itu meminta agar aku melepaskannya, entah kenapa aku hanya melihat Seren dalam dirinya, sampai akhirnya aku membalaskan kekesalanku pada wanita yang salah. Aku yakin Iblis tertawa melihatku melakukan dosa tak termaafkan.
Aku tersadar saat semuanya telah terjadi, aku pergi seperti pecundang. Dan saat aku kembali untuk mempertanggung jawabkan semuanya, dia menghilang seperti asap yang tidak meninggalkan jejak.
Aku baru tahu segalanya saat Fazila tampil di layar kaca. Sekarang katakan padaku, apa yang harus kulakukan? Aku bahkan tidak layak untuk tiada sebelum wanita saliha itu yang memintanya." Aku menepuk dadaku, sesak. Rasanya sangat sesak. Nafasku tak beraturan, tatapan mataku kosong.
"Kau ingat saat aku menghilang? Semua orang resah karena mencariku, saat itulah semuanya terjadi. Semuanya terasa seperti mimpi buruk. Aku berpikir kenapa aku tidak tiada saja sebelum hal buruk itu terjadi.
Setiap malam tiba, jeritan wanita saliha itu bergema di telingaku. Suara lirihnya selalu menghantuiku. Aku menganggap diriku cerdas, nyatanya aku sangat bodoh. Aku bahkan tidak bisa mengingat wajahnya. Dialah wanita yang selalu kuceritakan padamu, wanita yang selalu hadir dalam mimpiku.
Apa yang harus kulakukan jika yang kuasa belum memberi izinnya padaku? Bertahun-tahun mencarinya, nyatanya ia hadir di depanku dalam acara yang ku sponsori.
Kini setelah menemukannya, haruskah aku menghindar seperti pecundang tak bertanggung jawab? Katakan padaku, apa yang harus ku lakukan? Jika saranmu baik maka akan ku lakukan!" Aku bertanya pada Araf sambil membuka ikatan tangannya.
Araf yang malang! Ia hanya bisa diam, pasrah. Tatapan matanya kosong, ia berdiri kemudian keluar meninggalkan kantorku sambil membawa kesedihan mendalamnya. Aku pun sama, kesedihan ini melumpuhkan jiwaku. Semua ini melebihi batas kesanggupanku.
Sekarang aku mengerti alasan di balik kemarahan Araf. Seluruh kantorku berantakan karena ulahnya, namun ia tidak menghancurkan laptop ku karena ia tahu benda itu sangat berharga bagiku. Ia memulai pertarungan ini karena ia sangat menyayangiku. Aku berharap Araf baik-baik saja. Melihat caranya meninggalkanku, aku yakin ia sangat terkejut.
Adu jotos tidak berguna ini meninggalkan luka. Entah Araf ataupun diriku, kami sama-sama menanggung beban yang sama, beban karena tidak ingin melihat wanita yang kami sayangi terluka. Apa pun yang terjadi kedepannya, aku berdoa semoga yang kuasa selalu melimpahkan rahmatnya pada kami berdua.
__ADS_1
...***...