
"Ummi tolong jaga putri kita. Abi akan pergi kekantor sebentar. Ada hal penting yang harus Abi selesaikan. Jika putri kita bertanya Abinya ada dimana, tolong katakan padanya Abinya akan segera kembali." Celotehku begitu kami selesai melaksanakan Shalat subuh di ruang inap Fazila. Putri manis ku masih terlelap dalam tidurnya.
Semalam dia mengeluh kepalanya sakit, dan tim dokter mulai memeriksanya dengan teliti, mereka menegaskan tidak ada yang perlu di khawatirkan dengan kondisi Fazila.
"Abi tidak perlu khawatir, Abi bisa pergi sekarang. Tiga hari ini Abi tidak masuk kerja, Ummi yakin pekerjaan Abi pasti menumpuk.
Maafkan Ummi karena tidak bisa meringankan beban Abi. Dan maafkan juga Ummi karena Ummi belum bisa jadi istri yang ideal."
Ssssssss!
Aku menutup bibir Ummi Fazila dengan jari telunjukku. Wajah nyaris sempurnanya terlihat heran. Ia mengerutkan keningnya sambil menurunkan jari telunjukku yang masih menempel di bibir tipisnya. Untuk sesaat kami saling menatap penuh cinta dan larut dalam keindahan masing-masing. Pemandangan seperti inilah yang selalu ku dambakan jauh sebelum bertemu dengan Ummi Fazila.
Bukankah aku sangat beruntung? Tentu saja aku sangat beruntung. Semua orang tahu bahwa dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita Saliha. Dan aku termasuk pria yang paling beruntung, mendapatkan Bidadari Surga seindah Ummi Fazila sebagai pendamping hidupku. Hanya dengan menatap wajahnya saja hatiku menjadi tenang.
"Abi tidak akan mendapatkan wanita lain melebihi kebaikan Ummi. Bahkan jika kita tidak bertemu, Abi pastikan Abi tidak akan pernah menghabiskan hidup Abi dengan wanita manapun.
Ummi wanita terbaik, dan Ummi adalah istri paling ideal di dunia ini. Kehadiran Ummi dalam hidup Abi membawa warna tersendiri. Selama ini Abi tidak pernah takut kehilangan apa pun, tapi semenjak Ummi dan putri kita datang, tidak ada hal yang membuat Abi takut selain melihat kalian menderita dan terluka."
Aku kembali memeluk Ummi Fazila, menatap wajah indahnya selalu membuat jantungku berdegup lebih cepat. Dia bilang aku cinta pertamanya dan dia merasa bahagia. Aku pun merasakan hal yang sama. Sungguh, bahagia yang kurasakan tak dapat ku ungkapkan walau dengan sekedar kata-kata.
"Ummi tahu Abi akan menemui orang itu. Maksud Ummi, orang yang melukai Fazila. Jangan terlalu keras padanya, jika kita menurutkan hawa nafsu kita pasti ingin membunuhnya.
Ummi hanya ingin mengatakan, tetaplah jadi suami yang sabar. Dan tetaplah jadi ayah yang bisa di banggakan. Jangan pernah kotori tangan ini dengan darah hanya karena balas dendam. Sesungguhnya Iblis itu sangat ingkar, dan dia ingin semua manusia mengikuti jalan keburukan. Termasuk dengan cara balas dendam dan menebar keburukan.
Jika Abi menyayangi Ummi dan Fazila, maka jangan pernah lakukan keburukan yang akan membuat kita bertiga sengsara." Ucap ummi Fazila panjang kali lebar, wajahnya memamerkan kesedihan.
Sebenarnya aku berencana akan melakukan hal yang sama pada keparat yang telah melukai putri berhargaku. Mendengar nasihat Ummi Fazila membuatku menghela nafas kasar.
Sejak semalam aku ingin berlari menuju keparat itu dan meledakkan kepalanya. Tapi sekarang? Ucapan Ummi Fazila seolah membelenggu tangan dan kakiku.
"Apa Ummi tidak ingin membalas orang yang telah melukai putri kita? Maksud Abi, gigi dibalas dengan gigi? Mata dengan mata? Tembakan dengan tembakan?"
Ummi Fazila yang ku tanya hanya bisa memamerkan senyuman tipis saja. Aku heran padanya, jika aku bertanya pada anggota keluarga Wijaya lainnya, mereka pasti akan berpendapat sama dengan ku. Berbeda dengan Ummi Fazila, saat ini aku penasaran jawaban apa yang akan ia beri di balik senyum indahnya.
"Jika Abi bertanya pada Ummi, maka Ummi akan mengatakan, jadilah seperti pohon mangga, walau di lempar dengan batu ia tetap membalas dengan buahnya.
Dengan artian, walau kita marah maka marahlah sekedarnya saja. Jangan membalasnya berlebihan apa lagi sampai membabi buta."
Hhhmmmmmm!
Akhirnya aku mendengar ucapan hikmah yang tersembunyi di balik senyum menawan Ummi Fazila. Seketika aku teringat kisah berdarah Rasulullah SAW yang di usir dan di lempar batu. Alih-alih membalas penduduk Thoif Rasulullah malah mendoakan mereka.
__ADS_1
"Baiklah. Abi mengerti, Abi tidak akan melakukan hal gila." Ucapku sambil membalas senyuman menawan Ummi Fazila, aku mencium keningnya kemudian beranjak meninggalkannya.
...***...
Dua jam kemudian, di kantor.
Aku duduk di kursi kebesaranku sambil menatap Aiman dan Mark yang sedang menghajar pria kurang ajar yang telah menyakiti putri kesayanganku, Fazila. Wajah separuh baya itu terlihat lebam. Wajahnya benar-benar terlihat seperti Roti yang di olesi selai stroberi.
Bibirnya mulai membengkak, empat orang bodyguard kekar menghajarnya secara bergantian. Nasihat yang Ummi Fazila berikan dua jam yang lalu tidak bisa mencegahku untuk mematahkan tulang-tulangnya.
Sepuluh menit kemudian Dude dan Bastian datang sambil menyeret seorang wanita dengan kepala yang di tutupi kain. Aku belum melihat wajahnya tapi postur tubuhnya tidak asing di netraku.
"Jangan bilang..." Ucapan ku tertahan di tenggorokanku begitu Ruan membuka kain penutup kepala wanita itu.
Seketika sekujur tubuhku merinding, amarah mulai memenuhi seluruh pori-pori tubuhku. Mataku memerah menahan amarah, rasanya tidak cukup hanya dengan memberinya pukulan. Karena marah gigi-gigiku bergemeletuk, amarah yang memenuhi rongga dadaku bagai Api yang akan membumi hanguskan segala yang ada di hadapanku.
"Kau lagi?" Aku berucap dengan nada tinggi, aku menatap sosok anggun yang duduk bersimpuh di lantai dengan tatapan setajam belati. Aku benar-benar ingin mengulitinya hidup-hidup.
Aku tidak pernah menyangka aku punya sisi kejam di dalam diriku, dan sekarang singa ini mengaung ingin memangsa tawanannya.
"Aku sudah bilang padamu menjauh dari keluargaku? Apa kau tidak punya telinga untuk mendengar dan mata untuk melihat?" Aku kembali bicara dengan nada tinggi. Bobby yang berdiri di dekat sofa hanya bisa menatapku dengan tatapan terkejut.
"Aa-alan aku min-ta maaffffff!"
"Tidak ada maaf bagimu, apa kau tahu saat ini aku ingin menghabisimu?" Lagi-lagi aku bicara dengan nada tinggi, aku yakin siapa pun yang mendengar ucapan beracun yang keluar dari bibirku akan merinding ketakutan.
"Kau lihat pria suruhanmu? Dia terlihat seperti cacing tidak berdaya. Aku membecimu Seren, aku sangat membencimu! Plakkkkk!" Aku berteriak kasar, sebuah tamparan keras mendarat dipipi mulus Seren.
Entah kenapa semakin hari kebencianku semakin besar padanya. Tidak ada lagi belas kasih di dalam hatiku untuk wanita seburuk dirinya. Demi cinta yang pernah kurasakan untuknya, aku benar-benar kasihan padanya dan aku benar-benar tidak habis pikir kenapa dia memilih jalan sesulit ini dan mendapat kebencian?
"Hiks.Hiks.Hiks. A-k-u minta maaffffff!" Seren terisak sambil menangkup kedua tangannya di depan dada. Entah dia menyesal atau pura-pura menyesal aku benar-benar tidak bisa menebak itu.
"Kau berani membuat rencana seburuk itu? Berani sekali kau melukai putriku, jika terjadi hal buruk pada putriku aku bersumpah aku akan membunuhmu tanpa berpikir dua kali." Ucapku penuh amarah, aku mencekik leher jenjang Seren sekuat tenaga. Mataku memerah di penuhi kabut amarah.
Uhuk.Uhuk.Uhuk.
Seren terus batuk-batuk, ia memukul tanganku dan berusaha melepaskan diri dari cekikan ku. Sayang sekali, tubuh kecilnya tidak bisa melawan kekuatanku.
"Bos... Lepaskan nona seren. Bos bisa membunuhnya. Lepaskan dia." Ucap Bobby khawatir.
Bobby dan Ruan mencoba menarikku, entah Iblis sejahat apa yang merasuki ku sampai amarahku semakin memuncak.
__ADS_1
"Setelah hari ini jangan pernah tampakkan wajahmu di depanku atau di depan keluargaku. Jika kau berani melakukan itu, maka aku benar-benar tidak akan segan untuk meledakkan kepalamu." Ucapku masih dengan nada berapi-api.
Aku melepaskan tanganku dari leher jenjang Seren, sedetik kemudian aku mendorong tubuhnya sampai tersungkur kelantai.
Uhuk.Uhuk.Uhuk.
Wajah Seren terlihat memerah, tak terkecuali leher jenjangnya. Untuk menghindari amarahku agar tidak meledak lagi, aku berjalan menuju meja kerjaku sambil mengepalkan tangan.
"Jangan salahkan aku, semua ini terjadi karena kesalahanmu.
Aku mencintaimu melebihi dari siapa pun, tapi kau malah meninggalkanku demi wanita murahan itu. Jika aku ingin menyingkirkannya lalu dimana salah ku?" Seren berteriak lantang. Setelah apa yang terjadi dia masih tidak menyadari kesalahannya.
"Diam. Tutup mulutmu. Jika kau berani bicara omong kosong lagi maka aku bersumpah atas nama putriku, kau tidak akan bisa menghirup udara segar lagi."
"Aku tidak akan diam. Aku akan terus bicara sehingga kau sadar tidak ada wanita lain yang mencintaimu melebihi diriku." Seren terus bicara dengan nada tinggi. Dan hal itu semakin membuatku jengkel.
"Tutup mulut mu." Hanya kata itu yang bisa keluar dari lisanku, aku berusaha keras menjaga diri agar amarahku tidak meledak lagi.
"Aku tidak akan diam. Aku akan terus bicara."
"Aku bilang tutup mulutmu." Aku kembali berteriak. Keempat bodyguard yang berdiri di dekat Bobby hanya bisa diam melihat perdebatanku dengan Seren.
Pria jangkung yang berdiri di sisi kanan Bobby hanya bisa menghela nafas kasar, ku tatap netra teduhnya. Dia terlihat khawatir melihat Seren yang terus saja bicara seperti burung Beo, kutebak mereka pasti saling mengenal dan hal itu membuatku semakin kesal. Bagaimana bisa aku terlibat dengan dua makhluk itu.
"Ku bilang diam!" Aku kembali bicara dengan nada tinggi. Yang kuteriaki tidak mau mendengar ucapanku, karena di butakan amarah aku mengambil senjata yang tergeletak di atas meja kerjaku dan....
Dorrrrrr!
Karena kesal aku menarik pelatuk.
Aaaaaaaaa!
Tanpa ku duga Iklima masuk kedalam kantorku sambil membawa berkas di tangan kanannya, ia berteriak keras seolah dunianya runtuh.
"Bos... Apa yang Bos lakukan?" Bobby bertanya sambil mengambil senjata di tanganku.
Sementara Ruan, pria tampan itu segera merengkuh tubuh Seren yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Inilah alasannya Ummi Fazila memintaku agar tidak perlu membalas dendam secara membabi buta. Karena amarah aku bahkan tidak sadar kalau aku bisa saja berubah menjadi Iblis.
Alan... Kau dalam masalah besar. Apa yang akan kau katakan jika Fatimah mu bertanya? Aku bergumam di dalam hati sambil menatap wajah kaku semua orang. Amarah ini benar-benar melumpuhkan akal sehatku. Aku memijit kepalaku karena merasa bersalah. Seharusnya aku tidak perlu melepaskan tembakan.
...***...
__ADS_1