
Matahari baru saja menampakkan sinarnya, namun putri manisku sudah siap kembali ke asrama. Sejak menyelesaikan salat subuh ia memilih untuk tidak tidur lagi, membaca Al-Qur'an sambil memahami setiap maknanya adalah aktivitasnya sejak sejam yang lalu. Aku bahkan berpikir apakah ia merasa bosan atau tidak? Nyatanya, suara indahnya memenuhi kediaman megah Wijaya. Seolah tidak ada suara lain selain suara indahnya kala melantukan ayat-ayat cinta yang bersumber dari Rabbnya.
"Sayang, ayo kita sarapan. Setelah itu Abi mu akan mengantarmu ke Asrama! Apa kau sudah selesai berkemas?"
"Sudah, Oma!" Balas putri salihaku setelah menghentikan bacaannya.
Mama memasuki kamarku sambil membawa secangkir kopi hangat dan segelas susu untuk Fazila.
"Alan... Mama dan Papa akan mengunjungi kantormu siang ini. Oma dan Opa mu akan datang bersama sopir barunya.
Kau juga harus meluangkan waktumu untuk menyaksikan penampilan putrimu secara langsung. Mama berharap Fazila kita akan masuk tiga besar."
Mama menyodorkan segelas susu hangat untuk putri manisku. Bukannya menerima susu yang Mama sodorkan Fazila malah memasukkan Mushapnya yang terlihat robek di beberapa bagian.
"Sepertinya Oma harus membelikanmu Al-Qur'an baru! Mushap ini terlihat usang." Ucap Mama lagi sambil mengeluarkan Al-Quran dari dalam tas Fazila.
" Tidak."
"Kenapa tidak? Bukankah yang baru lebih baik?"
"Ummi membeli Al-Qur'an ini dari hasil beliau menjahit. Fazila masih ingat, saat itu tangan Ummi terluka karena tangannya tertusuk jarum.
Ummi tidak pernah menyerah demi memberikan yang terbaik untuk Fazila.
Walau lelah dan ingin menyerah, Fazila tetap menghafal Al-Qur'an, semuanya demi Ummi. Fazila ingin memakaikan Mahkota untuk Ummi dan Abi!" Tutur putriku sambil menatap wajah sedih Mama.
Tanpa terasa, aku yang sedang berdiri di depan lemari ikut meneteskan air mata. Ternyata, menjadi orang tua dari putri sesaliha Meyda Noviana Fazila membuatku meneteskan air mata. Entah kebaikan apa yang telah ku lakukan sampai Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang menganugrahkan ku putri sesempurna putri manisku.
Sempurna?
Aku tahu tidak ada manusia yang sempurna, namun bagiku putriku sangat sempurna. Bukankah aku seorang Abi yang berlebihan? Mungkin saja aku berlebihan, namun untuk anugrah seperti Fazila rasanya tidak ada kata-kata yang bisa ku ucapkan untuk melukiskan betapa berharganya ia dalam kehidupan hitam putihku.
"Oma tidak perlu khawatir! Selama ini Ummi selalu bilang, usaha tidak akan pernah menghianati hasil! Fazila selalu tampil maksimal. Jika Allah berkehendak Fazila harus pulang, maka Fazila akan pulang. Lagi pula, Fazila sangat merindukan Dena, Lisa dan Amir. Fazila rindu rumah di Malang." Balas putri manisku polos. Putri manisku memeluk tubuh separuh baya Mama tanpa melepas senyuman dari bibir tipisnya.
Ternyata bahagia itu sangat sederhana. Bisa melihat wajah bahagia putriku membuatku merasakan bahagia luar biasa. Tunggulah sebentar lagi, nak! Abi janji, kita akan segera tinggal bersama seperti keinginanmu dan keinginan Abi.
Abi akan bekerja lebih giat, dan akan membujuk Ummimu. Semoga Allah membantu niat tulus Abi untuk menjadikan Ummimu satu-satunya istri Abi sampai kesurga. Aku bergumam sendiri sambil menatap pantulan wajah putri manisku dari cermin.
"Jika kau tidak datang ke Stasiun Tv, Mama pasti akan marah padamu." Tunjuk Mama sambil menatap tajam kearahku yang masih berdiri di sisi kanan tempat tidur sambil merapikan dasi.
Melihat Mama mengepalkan tangannya sambil menatapku dengan tatapan tajam, Fazila hanya bisa tersenyum sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Mama.
__ADS_1
"Oma tidak perlu marah! Abi pasti akan datang. Jika Abi tidak datang, Fazila tidak akan bicara lagi dengannya."
"Abi pasti datang. Abi tidak akan melewatkan penampilan luar biasa putri Abi." Balasku setelah aku duduk di dekat putri manisku. Aku mengusap kepalanya sambil tersenyum.
"O iya Bi, minggu lalu salah satu teman akrab Fazila diyatakan pulang, jika kali ini Fazila yang pulang kita tidak bisa bertemu lagi.
Abi, Oma, Opa, Nenek Buyut, Kakek Buyut dan Tante sabina, kalian semua tinggal disini! Sementara Fazila dan Ummi? Kita tinggal sangat jauh."
"Jangan khawatir, nak! Tunggulah, sebentar lagi kita pasti akan tinggal bersama." Ucapku lagi sambil membelai kepala Putri manisku yang masih tertutup kain penutup kepala. Sejujurnya, air mata ini hampir saja tumpah. Dengan sekuat tenaga aku berusaha menahannya agar tidak menetes di depan putri manisku.
Ada apa dengan diriku? Kenapa akhir-akhir ini air mata ini mudah sekali menetes. Aku bukan seorang pecundang, kini aku hidup hanya untuk satu tujuan saja, bersatu dengan putri manisku dan Umminya.
"Ayo... Kita harus turun! Kita akan sarapan, setelah itu Abi akan mengantarmu pada Ummi." Aku mengangkat tubuh putri manisku, mendekapnya dalam pelukanku. Entah kapan kami akan menghabiskan waktu seperti ini lagi? Hal terbaik yang bisa ku lakukan saat ini hanya menghabiskan waktu dan menatap wajah putri manisku sampai puas. Sayangnya, hati ini tidak akan pernah merasakan puas. Bukankah aku terlalu serakah? Yaa, aku berpikir aku memang serakah. Sehari bersama putri ku terasa sangat singkat, namun itu jauh lebih baik dari pada Fatimah tidak mengizinkannya bertemu denganku.
Fatimah? Untuk pertama kalinya aku berani menyebut nama itu! Bahkan namanya terdengar sangat indah di indra pendengaranku. Apa aku jatuh cinta lagi? Dan kali ini cinta yang berbeda, cinta karena Allah.
...***...
Satu jam berlalu sejak putri manisku kembali keasrama, raut wajah bahagianya dan tatapan penuh keyakinan pria itu membuatku merinding.
"Ummi... Fazila rindu Nenek Nyai...! Kapan beliau sampai?" Putri salihaku bertanya sambil memegang jemariku, aku bisa memahami perasaannya karena ia tidak bertemu dengan Kiai Hasan dan Nyai Latifa selama dua pekan.
Dua pekan bahkan terasa sangat singkat.
O iya... Bukankah hari ini kau akan melakukan sesi tanya jawab bersama Ustadz? Mungkin ketiga temanmu sudah datang. Kau harus berangkat menuju Aula. Apa kau mau di temani Ummi?"
"Kenapa Ummi baru mengingatkan Fazila sekarang? Baiklah, Fazila harus pergi. Assalamu'alaikum..." Putri manisku berangkat sambil membawa senyuman.
Hidupku terasa hampa tanpa kehadirannya disisiku. Apa yang bisa ku lakukan di kamar luas ini? Untuk sesaat aku menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya kasar dari bibir. Fokus ku tentang Fazila serasa terpecah mendengar ponsel yang kuletakkan di atas nakas berdering. Ku rasa Fazila memainkan ponsel dan mengganti nadanya saat aku sedang mandi.
Belasan pesan? Entah siapa yang mengirim pesan sebanyak itu, dan tanpa kusadari dahiku mulai berkerut.
Cahaya hari ini meredup di depan pesonamu, itu menandakan tidak ada hal lain yang bisa menembus lubuk hati terdalamku selain dirimu
Orang bilang, hidup itu sagat singkat. Dan sesingkat-singkatnya hidup ini, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu.
Tanpa terasa sudut bibirku sedikit terangkat, aku mulai tersenyum sendiri. Rasanya aneh saja, untuk pertama kalinya ada yang berani menggombaliku
Apa kabar hatiku? Ku rasa aku sedang tidak baik-baik saja. Memikirkanmu yang bahkan tidak ada di depan mataku membuat nafasku terasa sesak.
Aku pikir aku sedang jatuh cinta!
__ADS_1
Akankah cinta ini akan bersambut?
Apapun keputusanmu aku hanya bisa pasrah? Pasrah menerima takdir yang telah ada! Meskipun begitu aku tidak akan pernah menyerah.
Aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan hatimu. Karena saat ini aku hanya memiliki satu tujuan hidup.
Tujuan hidupku untuk mendapatkan hatimu sehingga namaku bisa bersanding dengan namamu.
Hari ini aku tidak bisa menemuimu bukan karena aku seorang Abi yang pengecut! Aku berjanji akan menemuimu sore ini.
Ini potret cantik putri kita. Kau lihat wajah cantiknya? Samar-samar aku mendengar permintaannya, ia meminta pada Rabbnya untuk menyatukan Ummi dan Abinya!
*Jujur, aku meneteskan air mata kala mendengar permintaannya.
Dengan membaca Bismillahir Rahmanir Rahiim, ku putuskan mulai hari ini, aku akan selalu berjalan menujumu sehingga kau dan aku menyatu dalam satu kata yakni 'KITA*'
Hhhmmm! Aku mulai menghela nafas kasar. Membaca belasan pesan membuat emosi ku berubah-ubah. Kadang aku tersenyum, kadang juga aku merasakan marah. Melihat wajahnya saja membuatku merasakan kesal luar biasa! Dan kabar buruknya, aku tidak akan pernah bisa mengusirnya.
Namaku Alan Wijaya. Potret yang ku kirimkan ini, Putri kita yang mengambilnya. Dia bilang dia sangat bahagia. Dan aku pun bahagia.
Kita akan memulai semuanya dari awal, walaupun kau merasakan marah sampai ingin tiada aku akan tetap datang padamu.
Sampai jumpa di Studio sore ini! Walau kau tak terlihat di depanku, aku akan selalu menantikan kedatanganmu. Dariku yang penuh Luka dan Dosa... Alan Wijaya.
Lagi-lagi aku hanya bisa menghela nafas kasar,
aku bahkan tidak ingin melihat wajahnya, lalu alasan apa yang ia punya sampai berani mengirim potret wajahnya. Apakah ia sudah melupakan amarah yang pernah ku luapkan padanya? Atau ia pura-pura lupa pada kejadian buruk yang pernah ku alami?
Fatimah, dia menantang mu! Sekarang apa yang akan kau lakukan? Kau bukan Malaikat tanpa dosa! Dan kesalahannya terlalu patal!
Aku bergumam sendiri sambil meletakkan ponsel yang ada di tanganku di tempat semula, di atas nakas. Dalam hati aku merasakan was-was luar biasa, bagaimana aku akan menjalani hari-hariku dengan kehadiran pria itu? Aku mengizinkannya mendekati Fazila, dan bukan mendekatiku. Bayangan buruk malam itu masih menari-nari di memori otakku, melihat wajahnya hanya akan membuat dadaku terasa sesak.
Katakan padaku, bagaimana caraku melupakan derita ini? Aku pun ingin terbebas dari amarah yang masih membuncah, namun setiap kali aku teringat padanya semakin aku merasakan derita karenanya. Belasan pesan cinta yang ia kirimkan, bukannya membuat ku merasa berbunga-bunga, aku justru merasakan amarah luar biasa.
Pesan cinta?
Semuanya hanya omong-kosong. Dan aku tidak ingin terlibat dalam perasaan seperti itu. Bagiku emosi tentang perasaan cinta sudah tidak berguna lagi. Perasaan itu telah lama mati, dan saat ini hidupku? Ku dedikasikan untuk putri cantikku Meyda Noviana Fazila.
__ADS_1
...***...