Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Hampir Saja


__ADS_3

Setengah jam berlalu sejak aku meninggalkan kediaman megah ku bersama Fatimah. Selama itu juga kami tidak saling bicara, aku terlalu bahagia sampai tidak bisa berkata-kata.


Percaya atau tidak? Sejak Fatimah memberanikan diri untuk memeluk ku pagi ini, sejak itu juga hatiku seolah di penuhi kupu-kupu. Aku merasakan geli. Dan tanganku? Lihatlah tanganku, tangan nakal ini tidak mau melepas genggamannya dari jemari lentik Ummi Fazila. Sesekali aku bahkan sampai mencium punggung tangannya.


Eeeiiiitttt! Jangan salah. Kali ini Fatimah ku benar-benar manis, dia tidak berontak, dia juga tidak mengelak. Dan yang lebih membahagiakannya lagi, sejak dia memeluk ku pagi ini, sejak itu juga wajah nyaris sempurnanya tak pernah lepas dari senyuman menawan.


Senyumnya laksana mentari yang menghangatkan, seperti cahaya rembulan yang tak terhalang awan.


Alan... Kau benar-benar konyol! Sampai kapan kau akan terus mencium punggung tangannya? Fatimah akan menjadi milik mu seutuhnya. Jadi, tetap fokus kedepan. Jaga keselamatan mu dan keselaman orang yang kau cintai. Aku bergumam sambil menatap kedepan.


Mobil yang ku kendarai terhenti karena terjebak dalam kemacetan panjang. Entah kenapa untuk pertama kalinya dalam hidup, aku sangat bersyukur karena terjebak dalam kemacetan. Bukan apa-apa, aku hanya berpikir, karena kemacetan ini aku akan semakin lama berdua-duaan dengan wanita tercantik di dunia, dan tentunya wanita yang paling berharga dalam hidup ku.


"Ummi?"


"Iya."


"Ummiiiiiii...!"


"Iya, ada apa, Bii...?"


"Tidak ada." Balas ku sambil tersenyum lebar.


"Jika tidak ada, kenapa Abi terus memanggil Ummi? Bukankah itu sangat aneh?" Fatimah bertanya tanpa mengedipkan mata.


"Tidak ada yang aneh jika menyangkut hati. Abi hanya ingin mendengar suara Ummi, suara termerdu, lebih merdu dari lagu manapun yang pernah Abi dengar. Abi hanya mencari alasan agar kita bisa bicara tanpa ada gangguan dari siapa pun. Itu saja." Balas ku penuh semangat, kali ini aku mulai tertawa lepas.


Aku membayangkan duduk di balkon hotel ku, balkon yang sengaja di sulap menjadi tempat romantis. Meja makan yang tertata rapi, cahaya lilin sebagai penerang, ribuaan mawar sebagai hiasan. Dan tentu saja alunan musik klasik sebagai penghibur hati yang sedang di landa cinta. Menggenggam erat jemari Ummi Fazila, memeluknya, kemudian mencium puncak kepalanya. Saling mengungkapkan rasa, rasa cinta tanpa batas. Saat ini dada ku berdebar sangat kencang, dia bagai rembulan dan aku cahayanya.


Wahhhh! Sepertinya aku tidak bisa mengendalikan pikiran liar ku. Sikap jahil ku mulai kambuh, aku tidak tahu kapan terakhir kali aku setenang ini saat bicara.


"Apa Ummi pernah jatuh cinta?" Aku bertanya sambil memandang netra teduh Ummi Fazila. Wajah cantik itu mengerutkan kening, merasa heran.


Satu. Dua. Tiga.


Tepat di menit ketiga Fatimah mulai membuka suara, dia terlihat ragu-ragu.


Glekkkkkk!


Aku menelan saliva. Aku merasa cemburu!


Cemburu pada siapa? Pertanyaan yang aneh, aku sendiri tidak tahu pada siapa aku cemburu. Aku sangat takut, aku takut saat dia memulai kisahnya dia akan menceritakan mantan terindahnya.


Sungguh. Aku benar-benar menyesal. Tidak seharusnya aku menanyakan pertanyaan tidak berguna itu. Seandainya aku tidak terlihat, aku pasti sudah mengacak-acak rambut ku karena prustasi.


"Pernah!" Balas Ummi Fazila memecah keheningan.


"Kapan? Pada siapa? Dia orang mana? Apa dia tampan? Apa dia kaya? Apa dia baik? Dia bekerja dimana? Apa dia pernah mengajak Ummi keluar Rumah? Maksud ku untuk makan malam seperti pasangan zaman sekarang." Begitu banyak pertanyaan yang keluar dari bibir ku, sayangnya tak satu pun di jawab oleh Ummi Fazila. Aku bisa melihat dari wajahnya kalau ia sangat enggan menjawab pertanyaan ku.

__ADS_1


Wajah yang tadinya terlihat heran kini malah tertawa tanpa beban. Apa aku mengatakan lelucon konyol? Atau justru Fatimah ku merasa malu menyebut kebaikan mantannya? Jika itu yang terjadi betapa menyedihkannya diriku. Aku pasti akan tampak seperti setitik debu dalam hidup sempurnanya.


"Apa pertanyaan Abi harus Fatimah jawab satu per satu?"


Tidak ada balasan dariku selain anggukan kepala. Aku terlalu penasaran sampai bernafas pun terasa sesak.


"Mmmmm... Aku jatuh cinta pada pria...!"


"Cukup. Abi tidak ingin mendengarnya!" Balas ku cepat sebelum Fatimah menyelesaikan kabar beritanya.


"Hahaha... Kenapa? Ini benar-benar menyenangkan. Jika Abi tahu siapa orangnya, Ummi yakin Abi akan bahagia."


"Cukup Ummi, Abi benar-benar tidak ingin mendengar kisah Ummi. Dada Abi berdebar sangat kencang, Abi sangat takut. Abi takut bersaing dengan mantan kekasih Ummi, karena Abi tahu Abi akan kalah telak di bandingkan dirinya. Dan hal itu membuat Abi kesal."


"Baiklah, ini pertanyaan terakhir. Apa Abi benar-benar tidak ingin tahu siapa orang yang berhasil membuat jantung Ummi berdegup lebih cepat?"


"Tidak."


"Yakin?"


"Sangat, yakin."


"Seratus persen?"


"Dua ratus persen." Balas ku tanpa melepas pandangan dari wajah nyaris sempurna Ummi Fazila.


...***...


Setelah sampai di depan kediaman Wijaya, aku dan Abi Fazila jalan beriringan. Memasuki rumah megah itu tanpa keragu-raguan.


"Abi Fazila yakin tidak mau mendengar siapa pria yang Ummi cintai...?" Aku bertanya sambil menautkan jemari pada tangan Abi Fazila. Aku sengaja menggodanya untuk mengetahui seberapa besar sikap cemburunya.


Dan yang membuat ku ingin tertawa lepas, bukannya menjawab pertanyaan ku, Abi Fazila malah melepaskan jemarinya dari genggaman ku, menutup telinga dengan kedua tangannya.


"Tidak.Tidak. Tidak." Ucapnya sambil mempercepat langkah kaki memasuki istana megah kediaman Wijaya.


Karena terburu-buru menghindari ku, Abi Fazila sampai menabrak Papa mertua yang berdiri menghadap Oma Ochi.


"Hai, nak. Apa kau baik-baik saja?"


Melihat ekspresi terkejut Abi Fazila membuat ku berusaha menahan senyuman. Papa Otis yang di tabrak malah bertanya apa putranya baik-baik saja atau tidak? Sedikit terbalik, walau bagaimana pun aku sangat menyukai mereka semua.


Papa Otis yang selalu bersikap baik, tidak pernah melepaskan senyuman dari wajahnya. Mama Nani wanita berhati lembut yang selalu memeluk ku setiap kali kami bertemu. Oma Ochi wanita sepuh baik hati yang selalu mengkhawatirkan apa aku sudah makan atau belum. Opa Ade, pria sepuh yang selalu terlihat garang namun sebenarnya berhati lunak. Sabina, satu-satunya anak perempuan di keluarga Wijaya, gadis anggun dengan kecantikan memukau, terlihat manja namun sebenarnya dia sangat mandiri dan bijaksana. Mungkin karena kebaikan semua anggota keluarga Wijaya yang membuat ku mudah jatuh cinta pada Abi Fazila. Karena aku percaya pria yang baik berasal dari keluarga yang baik. Dan Alan salah satunya.


"Tidak. Ahhh... Iya." Jawab Abi Fazila sambil menggaruk kepalanya.


"Hai nak, apa maksud mu? Kau baik baik saja atau tidak? Jangan buat Papa bingung. Tapi, dilihat dari wajahmu, kau tampak baik-baik saja. Apa menantu mengurus mu dengan baik?" Guyon Papa Otis sambil menyenggol tubuh kekar Abi Fazila.

__ADS_1


Abi Fazila yang di goda malam tersipu malu, tanpa berucap sepatah kata ia langsung meninggalkan ruang tengah dan berjalan pelan menaiki anak tangga menuju lantai dua.


"Hahaha... Mam, sekarang anak nakal mu sudah dewasa. Mama tidak perlu mengkhawatirkan dia lagi." Ucap Papa Otis sambil mendekati Mama Nani yang saat ini duduk di sofa.


"Itu karena peran menantu ku luar biasa. Jika bukan karena dirinya putra dingin ku akan berakhir dalam kegelapan." Ujar Mama Nani sambil memeluk tubuh ramping ku. Dan anehnya, dia selalu melakukan itu.


"Nak, pergi kedapur dan buatkan suami mu kopi terenak. Mama yakin putra tengil Mama sedang menantikan kedatangan mu." Sambung Mama Nani lagi, kali ini ia bicara sambil berbisik.


Tidak ada balasan dari ku selain anggukan kepala. Sedetik kemudian aku mulai berjalan kedapur, meninggalkan Oma Ochi, Opa Ade, Mama dan terakhir Papa mertua. Aku berjalan pelan. Sementara hatiku, tak sedetik pun aku lupa untuk berzikir pada yang Kuasa, aku tahu kebahagiaan ini tidak ada gunanya tanpa karunia darinya. Dan aku pun sangat mengetahui hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang.


...***...


"Wahhhh... Aku benar-benar gugup. Kenapa semua orang meledek ku?


Papa meledek ku dengan ucapan sok lembutnya. Mama? Mama juga ikut-ikutan dengan Papa. Bukan hanya mereka berdua, Oma Ochi dan Opa Ade pun bekerja sama untuk meledek ku. Aku bisa tahu itu dari tatapan matanya. Hanya dengan melihat mata mereka... Aku tahu kalau mereka berusaha membuat ku terlihat bodoh di depan Ummi Fazila."


"Tidak seperti itu, Bi! Tidak ada yang berusaha menggoda Abi dengan tingkah konyolnya. Hanya saja..." Ummi Fazila menghentikan ucapannya sambil meletakkan kopi di atas nakas. Ia berdiri tegak sembari melipat kedua lengan di depan dada.


Ku perhatikan wajah cantik itu berusaha menahan senyuman, dan hal itu membuat ku sedikit tertantang. Tertantang untuk memberikannya hukumam, hukuman termanis.


"Hanya saja, apa?" Aku bertanya dengan wajah heran.


"Hanya saja... Abi terlalu manis untuk di tinggal sendirian."


"Ummi meledek ku?"


"Tidak. Ummi tidak melakukan itu."


"Lihat saja, sekarang aku akan memberi Ummi hukuman."


Tanpa aba-aba aku langsung berjalan mendekati Ummi Fazila. Bukannya diam, dia malah berlari memutari ranjang. Tubuh rampingnya begitu lihai dalam menghindar. Dan untungnya aku tidak kekurangan akal, secepat kilat aku naik keatas ranjang, meyambar tubuh Ummi Fazila dan menguncinya dengan kedua lengan ku. Kami berdiri tegak, tubuh Ummi Fazila bersandar di lemari besar.


Hhhhhhhhhhhh!


Deru nafas Ummi Fazila memenuhi indra pendengaran ku. Aku sangat dekat dengannya sampai bisa mencium aroma lembut yang menguar dari tubuh rampingnya. Kepalanya sedikit tertunduk, netra indahnya terpejam, tanpa berpikir panjang aku mengangkat dagunya, menatap bibir lembutnya, dan berusaha mendaratkan ciuman di bibir Ummi Fazila yang saat ini terlihat pasrah.


Tok.Tok.Tok.


"Tuan muda, Tuan muda di pang-gilllll..."


Aaiiiisssttt!


Aku mendengus kesal, karena terkejut kepala ku dan kepala Ummi Fazila berbenturan. Hampir saja aku melayangkan kecupan di bibir Ummi Fazila, sayangnya moment romantis itu harus berakhir karena asisten menyebalkan itu.


Jika kau bekerja dirumah ku, aku pasti akan memecat mu. Aku menggerutu di dalam hati sambil menatap asisten rumah tangga itu dengan tatapan tajam. Melihat ku kesal Ummi Fazila hanya bisa tersenyum sambil menepuk pundak ku pelan, dia melayangkan kecupan singkatnya di pipi kiriku, setelah itu ia berlari keluar kamar sambil membawa senyuman. Sementara aku, aku hanya bisa menghela nafas kasar sambil duduk di sisi kiri ranjang.


...***...

__ADS_1


__ADS_2