
Sejak pagi dadaku terus saja berdebar, kencang. Seolah hal buruk telah menantiku dan hal itu akan terjadi tanpa bisa di hentikan. Entah kemana Takdir ini akan membawaku! Buruk atau tidak? Aku benar-benar tidak tahu, yang ku tahu hanyalah putri manisku tidak boleh mengalami masalah sekecil apa pun masalah itu.
Huhhhhh!
Aku menghela nafas kasar, berharap kegelisahan ini akan menguap keangkasa bersama dengan helaan nafas panjangku. Semuanya hanya omong-kosong, bahkan kegelisahanku semakin menjadi-jadi. Mengingat bagaimana keluarga itu membawa Fazila tanpa seizin dariku membuatku semakin ketakutan.
"Assalamu'alaikum.."
Aku terkejut, sontak kepalaku menoleh kearah sumber suara. Seperti biasa, senyum manis Fazila menyejukkan hatiku.
"Ummi kenapa? Apa ada masalah?"
Tidak ada jawaban dariku. Yang ada hanya suara helaan nafas kasar. Melihatku tidak bersemangat putri manisku langsung mengerutkan dahi. Cukup lama kami saling menatap tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari bibir kami berdua.
"Aku tahu kenapa Ummi terlihat khawatir!" Putriku manisku berusaha menebak sembari menyipitkan kedua matanya. Jujur, aku pun sering menyipitkan kedua mataku jika aku benar-benar sangat penasaran terhadap sesuatu.
"Apa Ummi mengkhawatirkan sesuatu? Atau Abb..." Ucapan putri manisku tertahan di tenggorokannya. Ia menutup bibir dengan kedua tangannya, matanya membulat sempurna. Entah apa yang akan ia katakan sampai ia terlihat khawatir kalau aku akan memarahinya jika ia menuntaskan ucapannya.
"Apa Ummi boleh cerita?"
"Tentu saja!" Balas putri manisku dengan senyum mengembang di bibir tipisnya. Aku sengaja memulai pertanyaan singkatku agar putri manisku kembali santai seperti sebelumnya.
"Apa putri cantik Ummi masih ingat dengan paman dokter?"
"Kenapa Ummi tiba-tiba bicara soal Paman dokter? Tanpa Ummi tanya pun Meyda akan selalu ingat padanya. Dia teman Fazila!"
Meyda? Aku tersenyum sambil mencubit pipi putri manisku. Jika ia menyebut nama pertamanya 'Meyda' berarti Ia akan bersikap seperti detektif. Detektif yang akan bertanya bayak hal sampai aku berhasil membuatnya menyerah kemudian tersenyum lebar.
Fazila? Aku menyebikkan bibir ketika putri manisku menyebut nama terakhirnya. Itu artinya ia merasa nyaman dengan sosok yang akan kami bicarakan.
"Ada apa dengan paman dokter? Apa dia meminta Ummi bertemu? Tidak perlu bertanya, jika Ummi mau, Ummi boleh menemuinya."
__ADS_1
Aku berusaha menerka ucapannya. Bagaimana bisa putri manisku tahu dokter Araf meminta bertemu dengannku. Aku bahkan belum mengatakan apa pun padanya.
"Benarkah Ummi boleh pergi?"
Putri manisku kembali mengangguk, namun dengan anggukan pelan.
Baiklah! Mari kita bertemu! Aku juga penasaran, entah apa yang akan di ucapkan dokter itu sampai jauh-jauh memintaku datang. Satu jam? Aku hanya perlu memberinya waktu satu jam saja. Setelah itu aku akan kembali pulang. Aku mulai bergumam sendiri tanpa melepas pandangan dari putri manisku. Fazila masih seperti biasa. Ia tersenyum untuk menenangkan ku, karena sesungguhnya ia tahu kalau hatiku sedang gelisah. Kegelisahan ini mulai menelusuf masuk memenuhi rongga dadaku, kegelisahan yang entah datang dari mana.
...***...
Dua jam berlalu sejak aku meninggalkan putri manisku di Asrama, kini aku duduk manis di sebuah Restoran wewah.
Mewah?
Satu kata yang bahkan terdengar sangat asing di indra pendengaranku. Seumur hidup ku gunakan untuk selalu hidup sederhana, kini aku duduk di tempat megah yang bahkan satu porsi makanannya senilai dengan uang belanjaku tiga bulan. Aku benar-benar tidak habis pikir, haruskah aku menghabiskan ratusan bahkan jutaan rupiah untuk seporsi makanan, sementara di tempat berbeda orang lain menelan liur mereka karena kelaparan. Kini selera makanku mulai hilang, apa yang harus ku lakukan agar dokter tampan di depanku ini tidak tersinggung dengan ucapan yang akan ku keluarkan.
Sesekali aku menatap netra teduh dokter Araf, ia tampak bahagia. Aku sendiri bingung apa yang membuatnya sangat bahagia. Ia bahagia karena bertemu denganku? Eeeiiiii.... Itu tidak mungkin karena kami saling mengenal tak lebih dari empat bulan, dalam kurun waktu empat bulan aku bicara dengannya hanya beberapa kali saja, justru aku sangat heran kenapa dokter Araf sangat akrab dengan putri manisku, Meyda Noviana Fazila.
"Aku lebih suka jika anda membawaku makan di pinggir jalan! Bukannya aku tidak suka tempat ini! Tempat ini sangat indah dan nyaman, hanya saja aku lebih suka menghabiskan waktuku di tempat yang tidak akan membuat hatiku berpaling dari sikap kesederhanaan." Ucapku dengan kehati-hatian, aku takut dokter Araf akan tersinggung.
"Saya mengerti maksud nona Fatimah. Fazila sudah menjelaskan segalanya, hanya saja saya tidak punya pilihan selain tempat ini.
Tempat ini milik sahabat baik saya! Dengan berada disini kita sudah memaksa sahabat saya untuk menemani kita, dengan begitu tidak akan ada Fitnah yang akan mendekati nona Fatimah." Ucap dokter Araf menjelaskan.
Aku hanya bisa mengangguk pelan mendengar penjelasan singkatnya, aku rasa itu masuk akal. Dokter Araf terlihat tersenyum, bukan padaku melainkan orang yang berdiri di belakang punggungku. Pelan aku pun mengarahkan pandangan mataku kearah objek yang membuat dokter Araf bahagia dengan hadirnya.
Netraku membulat. Bagai disambar petir di siang bolong, aku terkejut luar biasa. Dadaku terasa sesak. Melihat sosok yang ada di depanku membuat darahku mengalir lebih cepat.
Rasanya aku ingin lari dari tempatku berpijak saat ini, sayangnya senyum tulus dokter Araf menahan langkah kakiku. Dan tanpa dokter Araf sadari aku mulai meneteskan air mata. Beginilah diriku, alih-alih mengumpat orang lain dengan kata-kata kasar aku malah meneteskan air mata untuk menenangkan hatiku yang sedang terluka.
"Kau sudah sampai? Ayo, kemari! Aku akan memperkenalkanmu dengan nona Fatimah." Dokter Araf menghampiri sahabatnya dan memintanya duduk di sebelahku. Kami duduk di satu meja? Aku tidak pernah membayangkan ini akan terjadi sebelumnya. Sungguh, amarahku yang telah mereda kembali memenuhi rongga dadaku. Rasanya aku tidak bisa berpura-pura lagi.
__ADS_1
Aku menarik nafas panjang kemudian pelan menghembuskannya kasar dari bibir. Tentu saja dokter Araf tidak tahu aku sedang kesal karena ia hanya tersenyum di depan sahabatnya.
"Pe-permisi, aku mau ketoilet sebentar!" Ucapku spontan setelah pria kurang ajar itu baru saja duduk di sebelahku. Bagaimana aku bisa duduk dengannya, aku saja tidak bisa menahan amarahku untuk tidak mencekiknya.
"Dia wanita yang selalu ku ceritakan padamu! Bukankah dia sangat cantik?" Samar-samar aku mendengar ucapan dokter Araf. Entah apa yang dokter Araf ceritakan tentang diriku, rasanya aku tidak sudi pria kurang ajar itu mengetahui apapun walau hanya sekedar tentang makanan kesukaanku.
Dokter Araf terlihat terkejut melihat raut wajah gugup sekaligus kesalku. Meskipun demikian ia hanya bisa menganggukkan kepala.
Lima menit kemudian, bukannya ketoilet aku malah berdiri mematung di balkon Hotel dengan air mata yang tidak bisa ku tahan lagi. Aku menangis sesegukan, rasanya aku ingin memaki namun ucapanku hanya bisa tertahan di tenggorokan ku. Aku sangat kesal sampai merasa akan tiada. Tubuhku bergetar, aku ingin melampiaskan amarahku yang masih terpendam.
"Jangan tahan kemaranmu! Kau bisa memaki ku! Bahkan jika kau mau kau bisa membunuhku!" Ucap suara yang ada si belakang punggungku. Seketika tangisku terhenti begitu aku melihat sosok angker yang berdiri di depanku, entah darimana perasaan marah dan benci bercampur menjadi satu. Gigiku bergemeletuk, tatapan mataku setajam belati.
"Kau pikir dirimu siapa? Berani sekali kau bicara padaku!" Ucapku dengan nada suara tinggi. Bukannya balas meneriakiku, sosok menyebalkan yang berdiri lima langkah dari ku itu malah berlutut dengan wajah yang di penuhi penyesalan. Aku bisa melihat dengan jelas ia sedang meneteskan air mata. Entah itu air mata penyesalan atau air mata kepura-puraan, aku benar-benar tidak bisa menebaknya.
"A-aku mi-n-ta maafffff! Aku minta maaffff!" Ucap sosok yang sedang berlutut di depanku. Suaranya tertahan oleh suara tangisnya. Ia tidak berani menatap wajahku. Ia berlutut sambil merunduk, setelah mengucapkan Maaf tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya, yang terdengar hanya suara isakan tangisnya saja, suara tangis yang terdengar semakin pilu.
"Maaf? Kau meminta maaf! Katakan padaku satu alasan yang akan membuatku memaafkanmu?" Tanyaku dengan amarah yang masih memenuhi rongga dadaku.
"Maaf! Aku minta maaf. Aku seorang pendosa. Akhiri saja hidupku agar beban dalam hatiku sirna bersama dengan hilangnya nyawa ini!" Ucapnya lagi.
"Mengakhiri hidup mu? Itu terlalu mudah untuk seorang pendosa sepertimu. Kau tidak bisa bayangkan berapa banyak air mata yang sudah ku teteskan karena ulah bejat mu.
Jangan pernah meminta apapun dariku karena kau tidak akan pernah mendengar ucapan yang ingin kau dengar. Semakin aku memikirkan kejadian buruk yang menimpaku semakin aku merasa jijik padamu." Ucapku dengan nada suara bergetar. Entah darimana datangnya kekuatanku untuk marahinya. Aku ingin memakinya dengan kata-kata kasar sehingga tidak akan ada lagi orang yang berani berkata kasar setelahku. Aku sendiri tidak tahu apa yang menahanku untuk tidak memakinya.
"Maaffff..." Lagi-lagi aku hanya bisa mendengar kata maaf dari bibirnya. Dengan air mata yang masih menganak sungai ia menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan. Tubuh kekar itu masih berlutut di depanku, namun aku tidak perduli denganya.
Sesungguhnya isakan tangisnya membuat dadaku berdebar, kemarahanku sedikit berkurang. Bayangan bagaimana ia melecehkan harga diriku sebagai seorang wanita membuatku semakin merasa jijik padanya. Jika aku bisa aku ingin memukul kepalanya dengan sepatu yang ku pakai, namun senyuman putri manisku seolah-olah menari di pelupuk mataku. Jika aku sampai memakinya dengan makian kasar sama saja aku sedang menghina putri manisku. Putriku adalah kekuatanku! Putriku adalah karunia terindah dalam hidupku! Putriku adalah Mutiara berharga yang ku punya karena putriku adalah Titipan Dari Surga yang harus kujaga dengan kasih sayang dan cinta. Aku tidak ingin menghinanya hanya karena pria yang bahkan tidak ku ingat namanya.
Maaf! Maaf! Maaf!
Hanya kata itu saja yang ku dengar dari lisannya sejak ia mulai berlutut di lantai yang dingin. Aku tidak tahu, sanggupkan aku memaafkan pria kurang ajar yang ingin ku musnahkan dari dunia ini? Entah kemana takdir ini akan membawaku.
__ADS_1
Pria itu masih terisak ketika aku meninggalkannya. Aku pergi tanpa mengatakan apa pun. Aku berharap, semoga setelah ini aku tidak akan bertemu dengannya lagi.
...***...