Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Berdamai


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak peristiwa tamparan yang ku lakukan pada dokter Araf.


Pria tampan itu, ia benar-benar menepati janjinya. Ia tidak pernah lagi menemui putriku, bahkan jika kami berpapasan di jalan setapak yang kami lewati ia pura-pura menoleh kearah lain hanya untuk menghindariku.


"Ummi, apa Fazila boleh berteman dengan paman dokter? Dia orang yang baik." Rengek Fazila untuk kesekian kalinya, kali ini ia merengek sambil menarik gamis ku.


"Jangan ganggu Ummi, sayang. Saat ini Ummi sedang sibuk." Balas ku sambil menjahit pakaian pesanan Nyai Latifah.


Fazila terlihat menyebikkan bibirnya sambil berjalan meninggalkan ku.


Sejujurnya aku merasa kasihan pada putriku, aku benar-benar tidak mengerti, kenapa anak itu sangat menyanyangi dokter Araf padahal mereka berteman tidak lebih dari tiga bulan, waktu singkat yang dokter Araf habiskan ternyata sangat berkesan di hati Fazila.


"Kau boleh berteman dengannya." Ucap ku pelan sambil memandang punggung Fazila.


"Assahhh... Benarkan?" Fazila kembali kearahku sambil menyeret kakinya penuh perjuangan. Maklum saja, sejak kejadian dengan bu Yati, putri manisku itu belum bisa berjalan normal. Dokter Araf memberitahukan kaki Fazila akan kembali normal setelah satu bulan.


"Pelan-pelan, nak. Kau tidak boleh lari!"


Fazila terlihat salah tingkah, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mendapat izin dari ku agar bisa berteman dengan dokter Araf membuat anak manis itu sangat bahagia sampai-sampai ia lupa kalau kakinya belum sepenuhnya sembuh.


"Ummi beneran ngizinin Fazila berteman dengan paman dokter?" Fazila kembali bertanya, raut wajahnya mencerminkan kebahagian.


Tidak ada jawaban dariku, hanya anggukan kecil sembari memamerkan senyum tipis untuk meyakinkan putriku.


"Fazila rindu pengen ketemu paman dokter!" Renggek Fazila lagi seperti bayi besar yang manja.


"Apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengannya? Ini sudah siang, sayang. Paman dokter pasti sibuk di klinik." Balasku sambil menghentikan pekerjaanku.


Fazila merunduk, matanya terlihat berair.


"Baiklah. Kau boleh pergi ketempatnya, tapi...." Ucapku dengan kalimat menggantung, aku menangkup wajah putriku dengan kedua tanganku.


"Tapi, apa?" Tanya Fazila tidak sabaran.


"Tapi... Putri Ummi yang cantik ini tidak boleh bermain terlalu lama, kau harus pulang sebelum zuhur."


"Siap. Laksanakan." Balas Fazila sembari memberi hormat. Melihat tingkah menggemaskannya membuat ku tertawa lepas, aku sendiri lupa kapan terakhir kali aku tertawa.


Ciuman mendarat di pipi kiri dan kananku, semenit kemudian Fazila tak terlihat lagi oleh netraku, sepertinya putriku benar-benar merindukan dokter Araf. Dan hal itu membuatku takut, aku takut anak manis itu bergatung pada dokter Araf.


...***...

__ADS_1


"Tuan, saya tahu anda sangat merindukan nona kecil! Kenapa tuan tidak berkunjung kerumahnya saja? Saya yakin nona Fatimah tidak akan marah, dan saya lebih yakin lagi nona kecil pasti sangat merindukan anda." Ucap Bodyguard Araf mencoba meyakinkan.


Tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir Araf selain desahan nafas panjang. Membayangkan wajah kesal wanita yang pernah menamparnya membuat nyalinya menciut. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun ia merasakan tamparan, itu pun dari wanita yang sangat di kaguminya.


"Aku ingin melakukan itu. Tapi sayangnya tidak bisa. Jika nona Fatimah tahu aku menemui putrinya secara diam-diam, maka habislah aku." Balas Araf dengan berat hati.


Selama seminggu ini Araf lebih memilih menghabiskan waktunya di klinik, selesai bekerja ia akan mengurung diri di kamar, tidak ada canda dan tawa yang ada hanya rasa bosan saja.


"Paman dokter. Ooo... Paman dokter."


Tadinya Araf bersiap memasuki kamarnya, namun suara panggilan dari luar rumah membuatnya terperanjak.


"Paman dokter. Ooo... Paman dokter." Suara panggilan kembali bergema dari arah pintu depan.


"Tuan, bukankah itu suara nona kecil?"


"Ia, kau benar!" Balas Araf membenarkan ucapan bodyguard-nya.


Araf lari kearah pintu, benar-benar kejutan luar biasa. Bidadari kecil yang sangat ia rindukan berdiri di depan pintunya.


"Kau ada disini? Apa kau tahu aku sangat merindukanmu?" Tanya Araf sambil memeluk erat tubuh mungil Fazila.


"Kenapa tidak boleh? Apa ada yang marah jika aku memeluk putriku?"


"Tentu saja, ada. Ummi..." Belum selesai Fazila dengan ucapannya Araf buru-buru melepaskan pelukannya.


"Apa paman dokter takut pada Ummi? Ummi tidak jahat! Sekali paman dokter mengenal Ummi dari jarak dekat, paman dokter tidak akan pernah melepaskannya. Ummi itu baik, ramah, cantik, dan sayang semua orang." Tutur Fazila sambil tersenyum tipis.


Ohhh Tuhan. Ada apa dengan hatiku? Aku gelisah tampa sebab! Aku tersenyum sendiri seperti orang hilang akal. Seorang wanita yang kusukai tidak bicara atau bertemu denganku selama seminggu ini, aku merasa duniaku runtuh seutuhnya. Apa benar ucapan Alan, kalau aku playboy yang sudah insaf? Ahh, entahlah. Gumam Araf dalam hatinya tanpa mengalihkan pandangannya dari Fazila.


...***...


Waktu berjalan begitu cepat, tanpa Araf sadari sudah waktunya ia untuk mengantar Fazila pulang, dan hal itu membuat dada Araf berdebar lebih cepat.


Bagaimana jika dia marah padaku? Apa yang harus ku lakukan untuk menenangkannya? Sungguh, dia tidak sama seperti wanita yang ku kencani dalam waktu semalam, kemudian ku putuskan tanpa memperdulikan air matanya. Araf mengusap dada was-was. Rasa takutnya bertemu dengan wanita yang membuat dadanya berdebar lebih kencang membuatnya merinding.


"Paman dokter, Fazila harus pulang! Fazila sudah janji pada ummi kalau Fazila akan segera pulang." Ucap Fazila menyadarkan Araf yang masih larut dalam pikiran panjangnya.


...***...


Aku sedang duduk di teras rumah sembari membaca Al-Quran. Bacaan ku terhenti ketika sebuah mobil putih berhenti tepat di depan gerbang besi hitam, rumah sederhana yang ku tempati sejak delapan tahun silam.

__ADS_1


Mataku menerawang kearah pintu mobil yang mulai terbuka lebar, bertanya-tanya siapa yang akan keluar dari dalamnya.


Seperti biasa, begitu melihat ku Fazila langsung tersenyum lebar. Wajahnya terlihat berseri-seri, itu artinya ia sangat bahagia bisa menghabiskan waktu luangnya bersama dengan dokter Araf yang ia kunjungi di klinik.


Senyumku terkatup di bibir begitu melihat dokter Araf berjalan di samping Fazila. Sama seperti ku, dokter Araf juga terlihat canggung, aku menarik nafas panjang kemudian pelan menghembuskannya kasar, berharap hatiku tenang.


"Assalamu'alaikum..." Ucap Fazila dan dokter Araf bersamaan.


"Wa'alaikumsalam..." Balasku sambil tersenyum tipis.


"Ummi..." Sapa Fazila sambil mencium punggung tangan kanan ku.


"Sayang, ummi ingin bicara dengan paman dokter. Masuk dan bermainlah dengan Tipo!" Ucapku pelan sambil mengelus pipi Fazila.


Putriku mengangguk kemudian beranjak masuk ke dalam rumah dengan langkah tertatih. Mendengar suara Tipo mengeong membuatnya semakin bersemangat.


"Silahkan duduk! Aku akan membuatkan anda minuman dingin, semoga anda tidak merasa bosan." Ucapku berusaha menyapa dokter Araf yang masih mematung di dekat pot bunga, tidak terlalu jauh dari tempat ku berdiri.


"Nona Fatimah tidak perlu repot." Ujar dokter Araf sambil memandang wajahku dengan tatapan yang sulit ku artikan.


Sekarang ia berjalan pelan menuju kursi. Kemudian duduk di sana tanpa berucap sepatah kata pun.


"Nona Fatimah tidak perlu menyuguhkan apa pun untuk ku! Sebenarnya aku masih terlalu takut bertemu dengan mu, aku takut melihat kemarahan mu. Aku minta maaf untuk segalanya." Ucap Araf sambil merunduk.


"Aku minta maaf karena sudah menampar dokter Araf. Aku tahu, seharusnya aku tidak melakukan itu. Mendengar bu Yati mengatakan omong kosong membuat kemarahan ku meluap. Sekali lagi aku minta maaf." Ucapku penuh penyesalan.


Baru kali ini aku merasa sangat buruk. Aku bahkan tidak sanggup menatap wajah pria sempurna di depanku, aku terlalu malu untuk itu.


"Nona Fatimah tidak perlu minta maaf! Yang salah itu aku. Seharusnya aku tidak perlu mengatakan Fazila putri ku, dengan begitu wanita itu tidak akan mendapat celah untuk menghina nona Fatimah." Ucap dokter Araf lagi. Ia terlihat prustasi.


Aku tersenyum sambil memandangi wajah tampan dokter Araf


"Baiklah, sudah cukup untuk ucapan maafnya. Mulai hari ini kita berdamai." Ucapku penuh semangat.


"Berdamai? Apa sekarang kita teman?"


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan ku selain anggukan kecil yang mengisyaratkan kata 'Ia'. Jauh di lubuk hatiku, aku merasa ada yang berbeda. Dokter Araf sangat baik pada Fazila, dan Fazila pun sangat menyukainya, mungkin itu alasan ku mulai terbuka, terbuka pada orang-orang baru yang sayang pada putri ku.


Masa lalu hanya akan menjadi masa lalu, waktu akan terus berjalan kedepan dan aku tidak ingin berdiam diri di masa terburuk dalam kehidupan ku. Jika cahaya menyapa hidup ku lalu untuk apa aku masih memeluk kegelapan itu. Mulai saat ini aku bertekat untuk selalu bahagia. Bahagia bersama putri sempurnaku, Fazila.


...***...

__ADS_1


__ADS_2