Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Lima Menit


__ADS_3

Pembicaraan singkat yang terjadi antara aku dan Ummi Fazila telah usai. Kini kami beranjak menuju Restauran yang ada di lantai tiga. Sejujurnya, aku masih merahasiakan kedatangan beberapa orang yang sangat dekat dengan Ummi Fazila. Aku sengaja mendatangkan mereka agar putriku merasa bahagia. Dan dengan perintahku Bobby menjemput mereka ke Malang dengan Jet pribadi milik keluarga Wijaya. Dan tentu saja atas izin Opa Ade dan Oma Ochi yang menjadi tetua dalam keluarga.


Atas perintahku juga, staf Hotel mendekorasi Restoran dengan tampilan berbeda. Ribuan mawar, dan balon dengan berbagai warna menghiasi seluruh Restorant.


Apakah malam ini malam yang spesial? Jawabannya tentu saja, iya. Walau kami bertemu dengan cara yang tidak biasa dan kepahitannya masih membekas di dalam hati kami berdua, aku masih tetap ingin menjadikan malam ini menjadi malam terindah untuk diriku dan Fatimah ku. Berharap, sejengkal demi sejengkal luka yang masih tertinggal akan menghilang dan tergantikan oleh hal yang bahagia-bahagia saja.


Aku sengaja berjalan di depan Ummi Fazila, langkah kakiku tidak terlalu cepat dan tidak terlalu pelan. Beberapa karyawan yang berpapasan denganku pun merunduk hormat. Maklum saja, aku adalah tuannya. Dan tidak ada yang berani menentangku setinggi apa pun jabatannya.


"Kita sudah sampai. Silahkan buka pintunya." Ucapku pelan sambil mundur dua langkah.


Wajah terkejut Ummi Fazila terlihat sangat lucu. Karena aku mendadak berhenti, hampir saja Ummi Fazila menabrak dada bidang ku dengan kepalanya. Aku tidak mengatakan kami akan kemana dan akan melakukan apa.


"Disini?"


"Iya... Disini!" Balasku sambil menunjuk gagang pintu.


"Dimana Fazila, aku tidak melihatnya? Dan dimana semua orang?"


Ummi Fazila menunjukan wajah takutnya. Aku bisa melihat itu karena ku perhatikan tangannya bergetar.


"Silahkan buka pintunya! Semua orang sedang menunggu Ummi Fazila!" Ucapku lagi sambil menunjuk kearah gagang pintu yang masih tertutup rapat. Tidak ada bantahan darinya, ia langsung membuka pintu.


Satu. Dua. Tiga.


Aku bahkan baru saja mulai menghitung, lagi-lagi ummi Fazila menunjukan ekspresi wajah terkejutnya. Begitu pintu terbuka, dekorasi nan indah langsung membelai netra kami. Dan yang lebih menakjubkannya lagi, Fazila dan teman-temannya tersenyum kearah kami sambil berlari.


"Yeye... Ummi dan Abi datang." Ucap Putri manisku sambil memelukku penuh semangat. Kiai Hasan dan Nyai Latifa pun terlihat memamerkan wajah penuh kebahagiaan.


"Bibi Fatimah, Fazila nakal. Dia mengambil boneka yang paman dokter berikan padaku. Dan dia juga mengatakan omong-kosong, dia bilang dia akan tinggal disini." Ucap Dena sambil memamerkan wajah cemberutnya.


Anak manis itu berucap sambil menarik lengan baju Ummi Fazila. Tidak ada balasan dari ummi Fazila, ia hanya menampakkan senyuman manisnya sambil menatap ketiga bocah manis yang ada di depannya secara bergantian.


"Baiklah anak-anak, kita akan bicara nanti. Karena Kakek Kiai dan Nenek Nyai akan bicara dengan kakek Buyut Fazila, kalian berempat harus bermain disana sambil menikmati makanan kalian." Ucap Ummi Fazila sambil memegang lengan anak lelaki bertubuh gembul yang berdiri di samping putri manisku. Keempat anak manis itu mengangguk sambil berlari menuju Koki yang berdiri di depan pintu masuk.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum." Ucapku bersamaan dengan Ummi Fazila.


Cessss!


Dadaku berdebar sangat kencang. Seperti biasa aku mencoba mencuri pandang untuk bisa menatap netra teduh Ummi Fazila, wajah seindah purnama itu terlihat tersipu malu.


"Kalian sudah datang? Duduklah, kami baru saja membicarakan tentang pernikahan kalian." Ucap Kiai Hasan begitu aku duduk di kursi dekat Papa. Sementara Ummi Fazila? Dia duduk di dekat Nyai Latifa, wajah sepuh Nyai Latifa terlihat berbinar begitu ia melepas pelukannya dari tubuh ramping Fatimah ku.


Fatimah ku! Sejak kapan aku berani memanggilnya Fatimah ku? Apa dia akan marah jika tahu aku memanggilnya seperti itu? Entahlah, aku sendiri tidak tahu itu. Aku hanya pria bodoh yang selalu ingin bahagia di dekat pujaan hati ku. Aku bergumam dalam hati sambil berusaha menahan senyum.


"Nak Alan... Bapak sudah bicara dengan keluarga mu, kalian akan menikah di pesantren saudara bapak yang ada di Tangerang. Kalian akan menikah di hari Jum'at, tepatnya selepas jumatan. Bapak ingin Nak Alan mengikrarkan janji suci di hari mulia itu.


Bapak tahu Fatimah tidak akan meminta mahar darimu, meskipun demikian Nak Alan harus menyiapkan sesuatu sebagai mahar, sesuatu yang menurut nak Alan berharga bagi wanita sesaleha putri bapak, Fatimah Azzahra." Ucap Kiai Hasan sambil menatap wajah berseriku. Tatapan itu seolah menjelaskan kalau Kiai Hasan tidak akan mengampuniku jika aku menyakiti putri tersayangnya.


"Saya sudah menyiapkan segalanya, Kiai. Saya hanya ingin menyegerakan pernikahan ini agar putriku tidak jauh lagi dariku." Balasku dengan penuh semangat.


Mama terlihat tersenyum mendengar ucapan singkatku. Aku memang selalu menginginkan Ummi Fazila berada disisiku walau setelah akad kami tidak akan menjadi pasangan yang berbagi kemesraan.


Kemesraan! Sepertinya aku akan jauh dari hal itu. Apa lagi yang ku harapkan? Aku benar-benar bodoh, bisa berada di dekatnya saja sudah luar biasa. Aku bergumam di dalam hati sambil pura-pura tersenyum.


"O iya... Satu lagi, Pak Ade dan keluarga tidak perlu menyiapkan apa pun, saya sudah menyiapkan segalanya. Pak Ade dan keluarga bisa mengenalkan Fatimah pada publik kapan pun yang kalian inginkan. Saya hanya berharap apa pun yang kalian lakukan tidak akan melukai hati putri dan cucu saya. Kami hanya orang sederhana, terkadang hal kecil bisa membuat kami patah hati.


Pernikahan ini akan menjadi pernikahan terbesar yang pernah terjadi di lingkungan pesantren. Beberapa Kiai besar dari pulau Jawa dan Sumatra akan menghadiri acara sakral itu, dan tentu saja ribuan jama'ah yang terdiri dari santri dan tamu undangan akan menjadi saksi pernikahan kalian berdua." Ucap Kiai Hasan tanpa ragu-ragu.


"Alan... Dimana anak-anak?" Oma Ochi bertanya sambil berdiri dari posisi duduknya. Karena fokus ia bahkan tidak menyadari anak-anak sedang menikmati makanan.


Belum sempat membalas ucapan Oma, keempat anak manis itu berjalan sambil membawa makanan di piring kecil mereka. Aku sengaja memerintahkan koki agar tetap berada di depan pintu bersama dengan alat masaknya supaya mereka mudah melayani tamu ku.


Hari jum'at? Untuk pertama kali dalam hidup ku, aku merasakan hari jum'at ini sangat, sangat menegangkan. Bagaimana jika aku salah karena gugup? Akan kah ribuan jamaah yang ada di pesantren itu tidak akan menertawakanku? Di bandingkan dengan perasaan takut salah, aku jauh lebih takut jika Ummi Fazila kecewa padaku. Aku bergumam dalam hati sambil menatap wajah bahagia anggota keluarga Wijaya. Hal yang sama pun terlihat dengan jelas di wajah sepuh Kiai Hasan dan Nyai Latifa. Aku berharap kebahagiaan ini bukan hanya sekedar lewat.


...***...


Jum'at siang, di pesantren.

__ADS_1


Dag.Dig.Dug.


Sejak semalam dadaku terus saja berdebar, kencang. Entah sudah beberapa kali aku mengusap dada, mencoba menenangkan diri sambil membaca Salawat untuk Baginda Nabi.


Apa setiap pria merasakan hal yang sama, merasa gugup saat melakukan akad? Aku sangat gugup sampai sekujur tubuhku berkeringat dingin. Apa aku bodoh sampai bisa merasakan gugup luar biasa? Tentu saja jawabannya, tidak. Hanya saja, menatap wajah tersenyum semua orang membuatku takut melakukan kesalahan, aku berada di tengah-tengah lautan manusia yang sangat mencintai Allah dan Rasulnya.


"Apa Nak Alan sudah siap?" Kiai Hasan bertanya sambil menepuk pundakku pelan.


Glekkkkkk!


Aku menelan saliva, jakun ku naik turun. Mendengar kata 'Siap' semakin membuatku was-was. Apa aku benar-benar siap? Aku sendiri tidak tahu jawabannya.


"Kak Alan tidak perlu takut. Setelah kak Alan selesai mengikrarkan janji suci, percaya dech, semua beban kakak akan menghilang bersama dengan hembusan nafas lega."


Ikmal tersenyum sambil menatap netra teduhku. Ikmal sendiri adalah putra dari pendiri pondok pesantren tempatku akan melaksanakan akad nikah. Ustadz Ikmal, begitulah semua orang memanggilnya, dia lebih muda dariku namun ayahandanya sudah memberikan tanggung jawab besar padanya.


"Kak Fatimah harus bangga memiliki suami setampan kakak, berkali-kali Bibi Nyai menjodohkannya, berkali-kali pula ia menolaknya. Ternyata pilihan kak Fatimah jatuh pada pria tampan dan pengusaha sukses seperti kakak. Tidak buruk." Ucap Ustadz Ikmal menggodaku.


Rasanya resahku sedikit berkurang mendengar guyonan Ustadz Ikmal, begitulah orang saleh bercanda, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya sia-sia.


"Assalamu'alaikum jama'ah salat Jum'at yang di rahmati Allah. Hari ini, di tempat mulia ini, kita semua akan menyaksikan akad nikah, atau menyaksikan janji suci penyatuan dua jiwa dalam satu kalimat yang berkahi, Allah."


Kiai Hasan menyapa ribuan jama'ah dengan ucapan salam. Wajah sepuh beliau memamerkan senyuman. Disaat hatiku merasakan kerinduan luar biasa, aku rasa hanya dengan melihat senyuman menawan Ummi Fazila hatiku akan kembali tenang. sayang sekali, sejak dua hari yang lalu bayangannya pun tidak pernah mendekati diriku. Apa yang dia lakukan saat ini? Apa dia juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan? Maksudku, merasakan bahagia luar biasa yang aku sendiri tidak bisa mengukur kedalamannya hanya dengan sekedar kata-kata.


Lima menit?


Lima menit lagi putriku dan Umminya akan selalu berada disisiku. Lima menit lagi Ummi Fazila akan halal bagiku! Entah kenapa aku merasa lima menit ini bagai seabad.


Alan Wijaya... Apalah artinya menunggu lima menit jika selama ini kau sudah menantikannya. Bersabarlah sedikit lagi, hanya dengan bersabar hatimu akan kembali tenang. Dan Tuhanmu pun mencintai hambanya yang penyabar. Aku bergumam di dalam hati sambil menatap wajah setiap orang yang ada disisi kiri dan kananku. Bahkan wajah tersenyum Kiai Hasan membuatku salah tingkah.


...***...


Yang menunggu Alan dan Fatimah Halal. Lima menit lagi mereka akad nikah. Tetap sabar yaaa... ❤❤❤

__ADS_1


Insya Allah perjalanan baru akan segera di mulai!


__ADS_2