
Hari yang ku tunggu-tunggu akhirnya tiba juga, hari dimana akan di adakannya ulang tahun perusahaan keluarga Wijaya sekaligus perayaan pesta pernikahan ku dan Ummi Fazila. Bagi ku, hari ini adalah hari besar, hari ini Ummi Fazila akan di kenal sebagai istri pengusaha sukses Alan Wijaya, atau tepatnya aku sangat bahagia karena Fatimah ku resmi di panggil dengan sebutan Nyonya Alan.
Membayangkan itu saja membuat ku senyum-senyum sendiri. Apa aku mulai tidak waras? Jawabannya tentu saja, tidak. Ini sangat aneh, aku tidak bisa mengendalikan hati ku untuk tidak bahagia. Bahkan sejak semalam aku terus saja bergumam, kenapa pagi lama sekali datang? Bagaimana rupa Fatimah ku saat tubuh indahnya terbalut dalam pakaian pengantin seharga ratusan juta? Aku yakin seyakin-yakinnya, kecantikan alaminya tidak akan kalah di bandingkan dengan aktris televisi manapun.
"Waw... Abi sangat tampan! Apa anda benar-benar Abi ku?"
Hahahaha!
Aku terkekeh sambil mencubit hidung bangir milik putri cantikku. Meyda Noviana Fazila.
"Tentu saja dia Abi mu! Lihat saja hidung mu, hidung mu terlihat seperti gunung pembatas, menjulang tinggi sampai aku malu berdiri di dekatmu." Celetuk bocah gembul yang berdiri di samping Dena.
Pletakkkk!
Satu sentilan keras berhasil mendarat di kening bocah gembul itu. Aku terdiam sambil menggigit bibir bawahku. Aku masih mengamati keempat anak yang berdiri di depanku, termasuk Fazila.
"Hayyyy... Lisa, kenapa kau menyentil jidat Amir, jika dia mengalami geger otak bagaimana?" Putri cantik ku bertanya sambil memegang lengan Lisa.
Geger otak? Bukankah itu terdengar sedikit berlebihan? Entah kenapa aku ingin tersenyum, namun sebisanya ku tahan agar tidak terlihat kekanak-kanakan.
"Kau lihat jidat ku? Ini memerah karena ulahnya, tadinya aku tidak ingin membalasnya. Enak saja dia mengatakan hidungmu seperti gunung pembatas. Aku sengaja membalasnya untuk mu!" Balas Lisa sambil menyebikkan bibir tipisnya.
"Amirrrr... Kau bersikap jahil lagi? Lihat wajah Lisa, dia terlihat kesal."
"Sudahlah Dena, mereka memang selalu bersikap seperti kucing dan tikus. Aku tidak tahu kapan mereka akan akur." Putri manis ku meraih jemari bocah gembul itu, kemudian meraih jemari Lisa. Ia merekatkan dua tangan itu dengan tujuan untuk mendamaikan. Dan itu juga yang dia lakukan untuk ku. Karenanya aku bisa akur dengan Umminya, Fatimah Azzahra.
Entah kenapa aku terlibat dalam perdebatan keempat bocah manis itu, yang jelas aku menikmati moment saat putri saliha ku mendamaikan kedua sahabatnya.
"Sudah cukup tentang perdebatan kita. Fazila, Abi mu benar-benar tampan." Bocah gembul itu kembali membuka suara di antara senyapnya udara. Dia terlihat lucu, bahkan kedua lengan yang ia lipat di depan dada memancing senyum tipisku.
"Tentu saja, paman sangat tampan, karena itu Bibi Fatimah jatuh cinta padanya. Iya kan, Fazila?" Lisa bertanya sambil menatapku dan Fazila secara bergantian.
Glekkkkk!
Aku menelan saliva sambil menatap Lisa dengan tatapan penuh tanda tanya. Anak sekecil itu bicara tentang cinta, bukankah dunia sudah terbalik? Aku masih terdiam, aku masih menyaksikan bagaimana anak-anak sekecil mereka bicara tanpa rasa malu-malu.
__ADS_1
"Kalian bicara tentang cinta? Bukankah itu aneh?" Aku bertanya sambil memegang pundak Lisa. Dahiku berkerut.
"Itu tidak aneh paman ganteng, bahkan Fazila putri kebanggaan paman ganteng pernah mendapat surat cinta dari kakak kelas lima. Sayangnya dia menolaknya dengan alasan ada dua wanita di rumahnya dan dia butuh pria yang punya otot untuk menjaga mereka." Sambung Amir, tanpa malu-malu. Bocah gembul itu terkekeh sambil memegangi perut buncitnya.
Sementara itu, ketiga sahabatnya, Fazila, Dena dan Lisa hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah sok tahunya. Walaupun demikian ia benar-benar tidak perduli pada tiga sahabatnya yang saat ini menatapnya dengan tatapan tajam.
Aku merasa tersanjung, putri saliha ku memiliki sahabat sebaik mereka. Amir, si bocah gembul itu selalu ceplas-ceplos, namun sikap ramahnya selalu mencairkan suasana. Dena gadis pendiam, namun bisa di pastikan dia sahabat yang setia. Sementara Lisa, anak itu bisa mengimbangi Amir dalam segala hal. Aku rasa keempat bocah manis yang ada di depan ku ini bagai satu paket komplit yang tidak akan bisa di pisahkan. Sayangnya persahabat mereka akan mengalami sedikit masalah. Fazila dan Umminya akan tinggal dirumah ku dan akan meninggalkan kota Malang yang penuh dengan kenangan.
"Baiklah. Sudah cukup untuk perdebatan kalian, sekarang kalian harus menjemput Ummi Fazila dan mengantarnya sampai singgasana . Sebentar lagi paman ganteng akan menyusul kalian. Setelah itu kita akan berfoto bersama." Ucapku penuh semangat.
Keempat bocah manis itu tersenyum sambil berlari meninggalkan ku di ruang ganti. Fazila juga ikut keluar setelah dia melayangkan kecupan singkat di pipi kananku.
...***...
Puluhan ribu tamu undangan, rekan bisnis Papa di tambah dengan rekan bisnis ku berkumpul menjadi satu, di tempat yang sama, Ballroom hotel yang di sulap layaknya taman dengan hiasan yang menyilaukan mata. Ratusan wartawan yang berasal dari media televisi berbeda sudah berkumpul sejak pagi, mereka bersiap meliput berita eksklusifnya. Berita yang mempertontonkan hidup pribadiku.
Sebenarnya aku tidak suka kehidupan pribadi ku menjadi bahan pembicaraan orang, namun kali ini aku tidak bisa untuk tidak melakukan itu. Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa Fatimah adalah belahan jiwaku, dan Fazila adalah buah hati kebanggaan ku, penyejuk mata dan hati ku.
"Selamat Tuan Alan, saya turut bahagia atas kebahagiaan anda. Saya berdoa kepada yang Kuasa agar kehidupan Tuan dan Nona Fatimah di jauhkan dari mata jahat." Iklima berucap sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada. Tetesan hangat menetes dari sudut matanya, mengekspresikan perasaan bahagianya.
Fatimah ku memeluk Iklima sambil menepuk punggungnya. Entah apa yang di pikirkan dua wanita anggun itu sampai mereka meneteskan air mata. Ya sudahlah, biarkan saja mereka larut dalam bahagianya, toh hal ini tidak akan mengurangi bahagia ku.
"Selamat, Tuan. Saya turut bahagia untuk apa yang terjadi hari ini. Tetap tersenyum seperti itu, Tuan terlihat tampan saat tuan sedang tersenyum. Tuan tahu sendiri kan, marah-marah itu tidak cocok untuk Tuan." Ucap Bobby sambil menjabat tangan ku.
"Eittttt... Jangan marah. Aku berkata seperti itu bukan sebagai seorang pengawal atau pun asisten pribadi, aku berkata seperti itu karena aku seorang tamu di tempat luar biasa ini." Sambung Bobby lagi.
Dasar asisten norak! Hampir saja aku meninju Bobby namun dengan segera ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Aku merangkul tubuh kekar Bobby sambil menepuk pundaknya, selama bertahun-tahun dia menjadi penopangku dan aku sangat bersyukur untuk itu. Entah sejak kapan kami menjalin persahabatan, persahabatan yang tidak memerlukan banyak bicara namun saling mengerti hanya dari tatapan mata saja.
"Nona Iklima sangat cantik, gaun itu sangat cocok dengan anda."
"Terima kasih atas sanjungan, nyonya. Saya tidak ada apa-apanya di banding dengan Nyonya Fatimah. Nyonya adalah bintang yang sebenarnya. Lihat, lah. Semua mata menatap Nyonya dengan tatapan takjub. Nyonya terlihat seperti Bidadari yang datang dari kayangan."
"Hahaha... Nona Iklima berlebihan, meskipun demikian ku akui itu ada benarnya. Aku juga tidak menyangka akan terlihat seperti ini." Ucap Fatimah ku sambil tersenyum lebar. Dalam setiap senyumannya terdapat ribuan bahkan jutaan kebahagiaan ku. Dia tidak tahu itu, tapi aku bisa merasakannya.
"Baiklah raja dan ratu, aku akan meninggalkan kalian berdua." Bobby berucap sambil merunduk penuh hormat.
__ADS_1
Entah berapa puluh kali sudah aku berdiri sambil menjabat tangan para tamu undangan, setiap mereka membuka mulut yang keluar hanya doa dan harapan terbaik saja. Walau ini melelahkan tapi aku sangat menikmatinya, aku juga sangat bahagia dengan peristiwa besar ini.
Untuk sesaat aku menatap wajah cantik Ummi Fazila. Jujur, aku tidak pernah melihat wanita lain secantik dirinya. Dia laksana embun yang menyejukkan, mentari yang menghangatkan, dan cahaya yang menyinari. Aku bahkan tidak bisa lagi mendeskripsikan dirinya dengan kata-kata, aku berpikir seperti itu karena aku benar-benar kehabisan kata-kata. Mengatakan dia sangat cantik tidaklah cukup.
"Apa Ummi Fazila merasa lelah?" Aku bertanya tanpa melepas tatapan ku dari wajah cantiknya, matanya berkilau laksana rembulan. Aku tenggelam dalam pesona indahnya.
Alan kau benar-benar bodoh. Untuk apa bertanya seperti itu? Jika kau saja lelah, maka sudah di pastikan dia juga lelah! Celotehku dalam hati.
Tanpa ku sangka dan tanpa ku duga, jemari lembut Ummi Fazila menggenggam erat jemariku. Seketika, sekujur tubuhku terasa bergetar, aku merasa seolah terbang. Dia baru menggenggam jemariku, dan lihat, lah? Aku sudah merasakan getaran luar biasa.
Jangan tersenyum seperti itu, aku takut tidak bisa menahan diri ku lagi. Lagi-lagi aku hanya bisa mengungkapkan semua rasa ku hanya di dalam hati. Jika aku mengatakannya secara langsung aku takut itu akan menjadi jarak yang akan memisahkan kami lagi.
"Tidak. Sedikit pun aku tidak merasakan lelah. Bahkan jika aku lelah, aku akan menanggungnya demi Abi Fazila juga putri cantik kita." Balas Fatimah ku tanpa ragu-ragu.
Aku yakin siapa pun bisa mengerti kondisi hatiku saat ini. Ucapan Ummi Fazila memang sederhana. Tapi, bagiku? Bagiku itu luar biasa. Aku semakin mengeratkan tautan tangan ku, sedetik pun aku tidak ingin melepasnya, rasanya darah ku mengalir sepuluh kali lebih cepat. Dan hatiku? Jangan tanyakan lagi, karena aku tidak akan bisa mengungkapkan perasaan ku hanya dengan kata-kata. Lihatlah wajahku, dari wajah ku semuanya sudah tergambar dengan jelas.
Saat ini aku ingin berteriak. 'Akuuuuu jatuhhhh cintaaaaaaa' Huhhhh ternyata berteriak dalam hati tanpa bisa mengeluarkan suara membuat dada ku berdebar sangat kencang, aku merasa jantung ku akan loncat keluar.
"Apa Ummi Fazila tidak menyesal duduk disini bersama ku?" Kali ini aku bertanya dengan derai mata. Entah kenapa air mata ini keluar disaat yang tidak tepat.
"Aku akan lebih menyesal jika kita tidak bertemu."
"Apa Ummi Fazila bersungguh-sungguh saat mengatakan itu?"
"Aku dengan sadar mengatakannya, aku bahagia untuk hari ini. Terima kasih sudah menjadikan ku bagian dari hidupmu.
Aku tidak akan meminta agar Abi Fazila memperlakukan ku seperti Ratu, aku hanya memohon agar jangan pernah membentak ku, apalagi sampai mencaci maki, aku tidak akan bisa menahan kesedihan ku. Aku pasti akan menangis.
Aku tidak akan pernah menangis di depan Abi Fazila demi menjaga harga diriku, saat anda membentak ku cari aku di pojok rumah atau di dalam kamar karena aku sedang menangis disana."
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan ku, mendengar ucapan Ummi Fazila entah dari mana datangnya kesedihan yang tiba-tiba memenuhi rongga dadaku. Aku melepaskan genggaman tangan ku dari jemari lentik Ummi Fazia. Aku menangkup wajah sedihnya dengan kedua tangaku, sedetik kemudian aku mendaratkan kecupan hangat di kening halusnya. Dia tidak berontak. Air mata kembali menetes dari sudut mataku, ini tidak sama seperti adegan dalam flem, tapi keharuan yang kurasakan menembus setiap ruang dan waktu. Lima detik kemudian aku menempelkan keningku pada kening milik Ummi Fazila.
Aku tersadar saat semua mata menatap ku, mereka bertepuk tangan untuk mengekspresikan bahagianya, tak terkecuali dengan semua anggota keluarga Wijaya yang saat ini terlihat lebih bahagia dibanding dengan diriku.
...***...
__ADS_1