
Dag. Dig. Dug.
Seperti biasa, dada ku berdebar sangat cepat. Bahkan nafasku terdengar tak beraturan. Sebisa mungkin aku berusaha mengendalikan diri agar tetap terlihat baik-baik saja di depannya. Aku tidak ingin terlihat seperti binatang buas di depan wanita yang bahkan lebih berharga dari nyawaku.
Assalamu'alaikum... Aku ingin bertemu, ada hal penting yang ingin ku sampaikan! Kapan Ummi Fazila bisa menemuiku?
Tiga jam lalu aku berusaha sok keren dengan cara mengirimkan pesan singkat dari ponselku, Bobby yang menyarankan agar aku menemui klien penting pun ku abaikan lantaran aku sangat merindukan wanita Saliha itu. Netraku ingin melihatnya. Aku tidak bisa mencegah hatiku untuk tidak merindukannya, dan aku pun tidak bisa mencegah diriku agar tidak berlari kearahnya. Apa ini Cinta? Atau ini hanya obsesi saja? Entahlah, bahkan akal sehatku pun tidak bisa membedakan antara yang benar dan yang salah. Yang ku tahu setiap saat aku sangat merindukannya sampai di titik aku merasa hampir tiada, dan aku tidak ingin bernafas di tempat yang tidak ada dirinya dan putri tersayangku Meyda Noviana Fazila.
Wa'alaikumsalam... Aku tidak tahu apa lagi yang penting bagi anda! Walau berat, aku akan tetap menemui anda.
Sudut bibirku sedikit terangkat mengingat pesan balasan dari Ummi Fazila. Rasanya aku ingin tertawa lepas saking bahagianya hatiku. Sayang sekali, aku merasa seperti sedang berada di arena balapan lari karena karena nafasku terasa terengah-engah. Percaya atau tidak, balasan pesannya yang mengatakan 'Walau berat, aku akan tetap menemui anda' itu terasa bagai hujan, hujan yang akan menghidupkan bumi yang telah lama mati karena kering kerontang, aku merasa memiliki harapan baru kalau sebentara lagi Ummi Fazila pasti akan merasakan perasaan yang sama seperti ku yakni parasaan tulus, larut dalam kasih sayang dan cinta.
"Katakan apa pun yang anda inginkan, aku akan mendengarkan." Ummi Fazila mulai membuka suara di antara senyapnya udara. Ia menatapku dan aku pun balas menatapnya.
Ummi Fazila? Aku masih belum bisa memanggil namanya sesuka hatiku, dosa masa lalu membuatku tidak berhak menyebut nama indahnya.
"Dengan sepenuh hati saya katakan, saya bersedia menikah dengan Ummi Fazila. Saya tidak akan memaksa kapan waktunya, karena Ummi Fazila lah yang akan menentukannya.
__ADS_1
Pernikahan seperti apa yang Ummi Fazila impikan maka itulah yang akan terjadi." Ucapku berterus terang. Sungguh, aku mengumpulkan kekuatan yang sangat banyak hanya untuk mengucapkan kata-kata singkat itu.
Alan yang bodoh, kemana semua keberanian mu? Di perusahaanmu kau seperti singa yang selalu mengaung, sementara disini? Kau tak lebih dari seekor kelinci. Aku bergumam dalam hati sambil menatap wajah merunduk Ummi Fazila. Wajah cantik itu selalu merunduk setiap kali aku menatapnya.
Aku pernah mendengar dari Mama, wanita saliha akan menjaga pandangannya dari hal yang tidak halal baginya. Matanya tidak jelalatan, ia bagai bunga yang menjaga diri dengan durinya karena ia tahu mekarnya hanya sekali, dan hanya orang yang mampulah yang bisa mendapatkannya.
Dan satu lagi, kami selalu duduk di satu meja dan bicara berdua di Restorant hotelku setiap kali kami bertemu. Jangan salah paham, di setiap sudut tempat mengah ini berdiri puluhan orang yang akan melihat kami tanpa bisa mendengar apa yang kami bicarakan, kenapa? Karena begitulah Ummi Fazila menjaga dirinya, dia selalu bilang jika kita hanya berdua saja maka setan yang akan menjadi pihak ketiganya.
"Setiap wanita memiliki pemikiran sendiri tentang bagaimana pernikahannya akan berlangsung. Kumpul keluarga, tamu undangan, pesta, musik, makanan lezat, dan entah apa lagi yang ada di dalamnya. Sayangnya aku tidak punya banyangan tentang itu semua.
Aku hanya wanita sederhana, aku bahagia dengan hidupku dan aku bersyukur untuk itu. Anda juga sudah tahu sumber bahagiaku, jika putriku bahagia maka aku akan bahagia, jika putriku bersedih maka aku juga akan lebih sedih di bandingkan dengan dirinya.
Cesssss!
Dadaku semakin berdebar, darahku mengalir lebih cepat, tatapan matanya memenjarakan ku dalam pesona indahnya. Jujur, aku tidak pernah merasakan cinta sebesar ini sebelumnya, entah pada Seren yang menjadi mantan tunanganku, atau pada Bani yang menjadi cinta semasa putih abu-abu.
Untuk sesaat kami sama-sama terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Entah apa yang dipikirkan otak kecilku sampai aku berani menatap matanya. Dan ini sangat jarang terjadi. Seketika kenangan pertemuan kedua kami kembali muncul di benakku, saat itu dia sangat marah sampai menampar wajahku, tapi lihatlah sekarang? Ummi Fazila sangat lembut, bahkan tutur katanya sanggup menggetarkan jiwaku walau aku tidak menatap wajahnya.
__ADS_1
Hhhhmmm! Araf apa kabar? Apa yang akan dia pikirkan dan rasakan jika dia tahu kami akan menikah setelah wisuda akbar putri manisku Meyda Noviana Fazila di selenggarakan. Semoga Araf baik-baik saja dan tidak larut dalam kesedihan panjangnya. Aku tahu ini pertama kalinya Araf mencintai wanita sebesar itu, aku benar-benar tidak menyangka kami dua sahabat yang tidak pernah terpisahkan sebelumnya kini terjebak pada perasaan yang sama dan pada wanita yang sama. Entah ini menyedihkan atau tidak, aku berharap kami berdua sama-sama bahagia. Aku bergumam sendiri sambil memegang dadaku, dadaku terasa sesak karena memikirkan kesedihan Araf.
"Pernikahan yang akan kita lakukan murni hanya karena Fazila. Aku bisa memaksakan diriku untuk bahagia hanya di depan Fazila, aku tidak bisa memaksakan diriku untuk bahagia jika itu menyangkut tentang anda." Sambung Ummi Fazila dalam ucapan singkatnya.
Untuk sesaat kami kembali larut dalam diam, yang terdengar hanya suara tarikan dan hembusan nafas saja. Bahkan setiap pelayan dan pengawal yang berdiri di setiap sudut yang bisa terlihat olehku hanya berdiri dalam diam. Ada juga di antara mereka yang sedang duduk sambil menatap kearah meja tempatku dan Ummi Fazila duduk. Tidak akan ada yang berani berkomentar buruk, karena aku sudah meminta mereka untuk tutup mulut. Dari dulu sampai sekarang tidak ada yang berani membantah ucapanku, jika ada yang berani akan ku patahkan sayap mereka sehingga mereka tidak akan berani menentangku. Bukankah aku kejam? Aku tidak kejam, aku tidak suka pada orang yang banyak bicara dan penyebar berita bohong. Itu saja!
"Aku akan melakukan tugasku sebagai istri. Menyapu, mengepel, mencuci, memasak, aku bisa melakukan itu tanpa perlu bantuan ART.
Jangan hiraukan aku jika anda berada di rumah. Kita akan makan dan minun secara terpisah. Aku akan makan setelah anda makan.
Kita akan tidur di kamar yang sama tapi di tempat tidur berbeda. Anda bisa tidur di tempat tidur dan aku di sofa. Yang lebih penting dari segalanya, tidak ada kontak fisik di antara kita berdua." Ucap Ummi Fazila sambil menatap netra hitamku. Netra teduhnya memancarkan cahaya keikhlasan.
Rasanya aku ingin tertawa lepas untuk mengekspresikan bahagiaku. Hidup dengannya di bawah satu atap? Itu sudah cukup bagiku. Dia akan melakukan segalanya untukku? Itu tidak perlu, mengetahui dia baik-baik saja itu sudah cukup bagiku.
Kami akan tinggal di kamar yang sama? Otakku Fokus hanya pada ucapan itu, dadaku berdebar sangat cepat, lebih cepat dari sebelumnya. Aku rasa perasaan ini yang di alami setiap pria setiap kali mereka dekat dengan Bidadari pujaannya. Dia bahkan menegaskan tidak ada kontak fisik diantara kami berdua. Aku bisa memahami itu karena luka masa lalu yang kutorehkan di hatinya masih membekas dengan sangat jelas, dan hal itu terlihat di wajah nyaris sempurnanya. Aku rasa ini adalah aturan yang harus ku jalani, aturan setelah pernikahan.
Tidak apa-apa. Aku menerima semua syarat yang kau berikan. Hadirmu disisiku setelah melewati banyak luka sendirian adalah karunia luar biasa, kini aku bisa berdiri dengan penuh percaya diri. Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang akan aku dustakan? Aku bergumam sambil tersenyum mengiyakan setiap ucapannya. karena aku tahu tidak ada hal yang lebih baik dari semua ini.
__ADS_1
...***...