Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Penasihat Cinta


__ADS_3

Hiks.Hiks.Hiks.


Suara tangis Nyai Latifa terdengar menggema di telinga ku dan tentunya di telinga Kiai Hasan juga. Sepuluh menit berlalu sejak aku keluar dari ruang inap Nyai Latifa, tetap saja ia masih menangis.


Aku masih berdiri mematung di depan pintu dengan derai air mata. Aku sendiri tidak pernah menyangka wanita separuh baya sekelas Nyai Latifa akan menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan barunya karena mendengar kisah pilu masa lalu ku, masa lalu yang membuat sekujur tubuh ku merinding jika kebetulan aku mengingatnya dalam kesendirian.


Seharusnya aku tidak perlu mengatakan apapun pada Nyai Latifa dan Kiai Hasan. Masa laluku tidak membawa senyuman bagi siapapun yang mendengarnya. Dari mana keberanian bodoh ini muncul? Aku bergumam sendiri sambil menghapus sudut mataku yang masih berair dengan punggung tanganku.


Fatimah... Semuanya hampir berakhir! Lusa putrimu akan tampil, dan ini akan menjadi penampilan terakhirnya. Setelah semua ini selesai apa yang akan kau lakukan? Sanggupkah kau berdiri di depan Kiai Hasan dan Nyai Latifa dalam keadaan penuh dosa? Kau tidak akan bisa menanggung kesedihanmu jika Nyai Latifa dan Kiai Hasan mengabaikanmu, haruskah kau meninggalkan kota yang sudah menghangatkanmu? Kemana kau akan pergi? Fatimah... Fatimah, kau benar-benar dalam masalah besar. Lagi-lagi aku bergumam sendiri.


Aku memutuskan meninggalkan Kiai Hasan dan Nyai Latifa dengan segala kepedihan yang dirasakannya. Malam ini, entah aku bisa tidur atau tidak, yang jelas aku hanya ingin segera sampai di pesantren milik saudara sepupu Kiai Hasan, istirahat disana sambil merenung dan meminta ampun pada yang kuasa jauh lebih baik dari pada hanya menangis saja.


...***...


"Abi curang, pantas saja Abi menang, itu karena Oma memberitahukan jawabannya." Ucap putri manisku sambil memamerkan wajah penuh curiga.


"Tidak sayang, Oma tidak pernah memberi tahu kan Abi mu! Abimu orang yang cerdas, tentu saja dia menebak jawabanya dengan mudah." Balas Mama sambil mencubit pelan Pipi putri manisku.


Candaan orang shalih memang berbeda, setiap kata yang keluar dari lisannya hanya mengandung hikmah saja. Sejak sejam yang lalu, aku, putri manisku Fazila, Mama, Papa, Oma, Opa dan Sabina, kami sekeluarga terus saja bercanda namun selama waktu itu tidak ada sepatah kata pun yang ku dengar sia-sia.


Adik perempuanku yang terkadang sering mengumpatpun takluk di hadapan putri manisku, Fazila. Sangat jarang hal seindah ini terjadi dalam kehidupanku, aku masih merasa semua ini bagai mimpi, jika ini mimpi aku tidak ingin bangun lagi.


"Tadi... Fazila lihat Oma sedang mengedipkan mata, itu artinya beliau sedang berusaha memberitahukan Abi jawabannya.


Yang Fazila tidak habis pikir, kenapa tante Sabina ikut-ikutan mengedipkan mata. Apa kalian berencana mengalahkan Fazila dengan cara saling bertukar jawaban?"


Mendengar ucapan putri manisku yang bertingkah seperti orang dewasa, entah kenapa aku mulai tertawa lepas.

__ADS_1


"Jangan khawatir sayang, Kakek Buyut selalu mendukungmu. Apa kau ingin Kakek Buyut menghajar Abi mu, katakan? Jika kau mau Kakek Buyut akan melakukannya untukmu!"


Opa Ade yang biasanya bertingkah dingin bak bongkahan Ice yang tidak akan bisa meleleh walau di gerus zaman pun bisa meleleh di hadapan Bidadari kecilku. Tak pernah sekalipun ia memamerkam wajah sedih, kesal dan juteknya sejak Fazila menginjakkan kaki di kediaman Wijaya. Yang ada hanya senyuman dan kebahagiaan penuh canda tawa. Untuk sesaat aku menghadirkan wajah wanita salihah yang menjadi ibu dari putri manisku itu.


Sekarang, apa yang di lakukan ibu dari putri manisku? Sudahkan ia makan malam? Apakah hatinya masih menyimpan luka? Saat ini Fazila bersamaku, jika dia menangis siapa yang akan menghapus air matanya? Akan lebih baik jika kami bisa tinggal bersama dan terikat dalam hubungan yang berstatus halal. Tuhan, jika kau mendengarku, aku mohon padamu, satukan aku dengan putriku dan wanita salihah itu! Aku bahkan belum berani menyebut namanya karena aku tahu aku lah sumber lukanya. Angkatlah semua luka itu dari hatinya dan biarkan aku yang menanggung segalanya. Aku bergumam sendiri sambil menatap wajah cantik putri manisku, Meyda Noviana Fazila.


Petang ini berlalu dengan candaan ringan namun bernilai ibadah, putri manisku memberikan tebak-tebakan yang syarat dengan pengetahuan. Aku rasa Sabina juga mendapat tamparan halus dari setiap ucapan yang keluar dari lisan putri manisku.


Usiaku telah menginjak angka tiga puluh dua tahun namun baru sekarang aku mengetahui bahwa Umar Bin Khattab pernah menangis karena melihat Rasulullah berbaring di atas tikar kasar sampai-sampai guratan anyaman tikar itu berbekas di tubuh Rasulullah. Lalu bagaimana dengan diriku? Aku benar-benar berharap dunia ini tidak akan melenakan ku sampai aku lupa tunjuan akhir hidup ini.


...***...


"Abi... Besok Fazila akan kembali keasrama. Fazila pasti akan merindukan suasana dirumah ini. Setelah acara hafidz Qur'an usai, itu artinya Fazila dan Ummi akan kembali ke Malang.


Ummi dan Fazila akan menghabiskan hari kami seperti biasa. Jadi, Abi harus sering-sering menelpon Fazila. Abi tidak boleh menghilang seperti dulu lagi. Jika Abi melakukan itu, Fazila tidak akan pernah menemui Abi lagi."


"Apa putri Abi tidak ingin tinggal bersama Abi?" Aku berucap sambil berjalan kearah Fazila yang masih sibuk merapikan bajunya, satu per satu gamis itu ia masukkan kedalam tas. Ranjang yang tadinya terlihat berantakan kini kembali bersih seperti semula.


"Mmmmm!" Putri manisku nampak berpikir sejenak, sedetik kemudian ia tersenyum sambil meraih lenganku.


"Fazila sayang Abi. Tapi, Fazila lebih sayang lagi pada Ummi. Jika Fazila tinggal bersama Abi, maka Ummi akan sendirian. Bagi Fazila, melihat Ummi bersedih jauh lebih menakutkan dari kematian itu sendiri.


Amir, Dena dan Lisa selalu bilang kalau Fazila anak yang bijaksana. Maka demi kebahagiaan kita bersama Fazila memilih tetap tinggal bersama Ummi. Fazila ingin menjadi sapu tangan untuk Ummi, sapu tangan yang selalu menghapus air matanya."


Kali ini aku benar-benar tidak bisa menahan tangisku. Ku raih tubuh mungil Fazila sambil menangis sesegukan dalam pelukannya.


Ia ingin menjadi sapu tangan yang akan menghapus air mata Umminya? Sekeras apa kehidupan yang mereka jalani sampai putri manisku berpikir seperti orang dewasa? Yang lebih membuatku marah pada diriku sendiri, kenapa usahaku untuk meraih tangan wanita saleha itu semakin melemah. Apa yang ku takutkan?

__ADS_1


Suara tangisku makin kencang, kali ini bukan hanya aku yang menangis. Putri manisku pun ikut menangis bersamaku, ia meneskan air mata tanpa mengeluarkan suara. Jemari lentiknya menyapu pipi kiri dan kananku, membersihkan air mata yang masih saja tidak bisa berhenti menetes.


"Abi jangan menangis! Jika Abi menangis Fazila juga akan menangis. Fazila tidak suka air mata. Ummi sudah terlalu lama menangis sendiri, jadi Abi juga tidak boleh menangis. Ini bukan permintaan, tapi perintah."


Mendengar ucapan tegas putri manisku, entah kemana perginya kesedihanku. Tidak ada lagi tangisan, yang terukir tinggal senyuman.


"Fazila tidak tahu apa yang di maksud dengan cinta. Meskipun demikian, Fazila akan bertanya. Apa Abi mencintai Ummi? Jawab setelah Abi memikirkannya."


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir ku, aku menatap wajah cantik putri manisku dengan tatapan kasih sayang. Sedetik kemudian, tanpa ragu aku mulai meganggukkan kepala, berusaha memberikan jawaban tanpa perlu merangkai kata-kata.


"Baiklah. Karena Detektif salihah ini sudah tahu perasaan tuan, maka sudah waktunya untukku menjadi penasihat Cinta anda.


Anda tidak akan rugi jika menjadikan ku sebagai penasihat cinta. Tapi, bayaran yang akan ku minta sangat mahal. Apa anda sanggup membayar ku...?"


Aku mulai tersenyum melihat tingkah kocak putri manisku. Raut wajahnya terlihat garang namun hal itu tidak mengurangi rasa hormatnya padaku. Aku hanya bisa mengangguk mendengar ucapannya.


"Bayarannya... Abi harus memeluk Fazila seumur hidup Abi." Ucap putri manisku dengan senyum mengembang di wajah cantiknya.


Tanpa diminta pun aku pasti akan selalu memeluknya. Fazila? Dia putri kesayanganku, penyejuk jiwaku.


Sepertinya, kali ini aku menemukan penasihat Cinta yang sangat luar biasa, semoga dengan bantuan putri manisku, aku Alan Wijaya, pria penuh dosa ini akan segera mendapat Rahmat dari yang kuasa sehingga kami bisa tinggal di bawah atap yang sama.


Justru, sekarang aku menantikan ucapan apa yang akan di ucapkan putri cantikku, ucapan yang akan menjadi cambuk bagiku agar bisa menjadi, ayah dan teman yang baik bagi putri tersayangku Meyda Noviana Fazila.


Tetaplah disana wahai bidadari surga, Fatimah Azzahra. Tunggu aku sebentar saja. Dengan pertolongan yang Kuasa aku percaya kau kan jadi milikku dalam kehidupan ini maupun kehidupanku salanjutnya. Aku tersenyum sambil memeluk putri manisku, hidup ini benar-benar indah jika kita mensyukurinya, dan sekarang aku pun mulai belajar untuk selalu bersyukur, bersyukur untuk segalanya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2