
Prok.Prok.Prok.
Suara tepuk tangan kembali memenuhi indra pendengaran ku, dan untuk pertama kalinya aku merasa bangga mendapat tepuk tangan semeriah itu. Dan untuk pertama kalinya juga aku merasa sangat terhormat dengan gelar baru yang di sematkan untuk ku, yakni suami dari Fatimah Azzahra.
"Jangan marah pada ku, hari ini aku benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak bahagia. Apa aku boleh kesana dan bernyanyi?"
Aku bertanya pada Ummi Fazila sambil menunjuk kearah grup band terkenal yang sengaja di datangkan atas perintah ku. Tidak ada balasan darinya selain menampakkan wajah herannya.
Sambil menatap wajah cantiknya aku mulai menggigit bibir bawah ku, aku sangat menyesal mengatakan itu. Seandainya aku tahu dia tidak akan menyukainya aku pasti tidak akan pernah meminta izin darinya.
"Lakukan apa pun yang Abi Fazila inginkan. Aku tidak akan marah!"
"Benarkah? Baiklah, akan ku lakukan." Balas ku singkat sambil menggenggam jemari Ummi Fazila, aku tersenyum sambil mengedipkan mata.
Saat aku berjalan, beberapa rekan bisnis mendekat kearah ku, mereka menjabat tangan ku sambil tersenyum, tidak ada yang keluar dari lisan mereka selain ucapan doa. Dan tentu saja, tidak ada balasan dari ku selain ucapan 'Terima Kasih' saja.
Tiga menit kemudian aku sudah berada di tengah-tengah group band terkenal itu. Wajah oriental vokalisnya memamerkan kelelahan. Maklum saja, sejak tadi ia menyumbangkan suara merdunya.
"Selamat malam dunia... Aku disini hadir membawa cinta, menebar kasih sayang, dan tentunya memberi bahagia tanpa meninggalkan bekas luka." Ucap ku begitu mikrofon yang di berikan vokalis itu berada di tangan ku.
Hahahahaha!
Semua orang terkekeh begitu mendengar ucapan singkat ku. 'Memberi Bahagia tanpa meninggalkan bekas luka' Memang terdengar berlebihan, namun itulah kebenarannya. Ada juga yang sedang bertepuk tangan.
"Hay pak Alan... Apa anda disana karena merasa bahagia? Tunggu sebulan lagi, anda tidak akan bisa tertawa lagi karena mendengar omelan istri." Guyon Pak Junaidi, rekan bisnis Papa, wajah sepuhnya memamerkan senyum simpul. Ia membuka suara sambil memamerkan wajah pura-pura sedihnya.
"Hai pak... Jika wanitanya seindah istriku, aku siap mendengar omelannya seumur hidupku." Balas ku tanpa melepas senyuman dari wajah tampan ku, sedetik kemudian aku menangkupkan tangan di depan dada sambil merunduk kearah Ummi Fazila.
Ku lihat wajah cantik itu masih di penuhi senyuman, bisa di bilang aku tidak pernah melihatnya tertawa lepas.
Di tempat yang tidak terlalu jauh duduk Bobby dan Iklima di satu meja. Mereka berdua saling berbagi makanan, sesekali menatap kearah panggung hiburan.
Tanpa berucap sepatah kata, Iklima menatap Bobby dengan tatapan penuh cinta. Menatap wajah tampan Bobby selalu membuatnya mengukir senyuman bahagia. Tapi kali ini berbeda, Iklima terlihat meneteskan air mata.
"Apa kau mengingat tante Eren?"
Mendengar pertanyaan singkat Bobby membuat Iklima sedikit terkejut. Iklima hanya bisa menganggugkan kepala pelan.
"Tante Eren sudah tenang disana, Tante Eren sudah tidak merasakan sakit lagi. Lagi pula Mas sudah berjanji akan menjaga mu sepajang hidup Mas." Ucap Bobby pelan sambil menghapus tetesan bening yang keluar dari mata Iklima.
"Terima kasih karena Mas Bobby menyetujui permintaan almarhum Mama untuk selalu menjaga ku, berkat Mas Bobby Mama pergi sambil membawa senyuman.
Mungkin Mas Bobby tidak tahu, dalam setiap tarikan dan hembusan nafas Ima, hanya ada rasa syukur saja, Ima bersyukur yang kuasa menjadikan Mas Bobby bagian dari hidup Ima.
Jika datang masa sulit dalam hidup kita, Ima janji Ima tidak akan pernah mengeluh. Bagi Ima mas Bobby yang terhebat. Bahkan jika Ima lahir kembali, Ima akan terus menempel pada Mas Bobby, karena bagi Ima hanya Mas bobby yang akan selalu mengisi hidup Ima." Ucap Iklima panjang kali lebar, melihat sosok indah yang menjadi Tuan dan Nyonyanya bahagia membuat Iklima dengan gamblang mengungkapkan semua isi hatinya.
Lagi-lagi Iklima menatap wajah tampan Bobby tanpa mengedipkan mata.
"Kenapa? Apa aku setampan itu?" Bobby sengaja mengatakan itu agar Iklima tidak larut dalam perasaan sedih karena mengingat Almarhum Mamanya.
__ADS_1
"Iiihhh mas Bobby lebay...!" Iklima mencubit perut Bobby sambil menyebikkan bibir tipisnya. Bobby yang di cubit hanya bisa terseyum tipis untuk mengekspresikan bahagianya.
Mmmmmmm!
"Wah... Kalian benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya kalian bermesraan di depan jomblo yang sedang patah hati."
Bobby dan Iklima saling menatap tak percaya, entah kapan sosok rupawan yang mereka kenal sebagai play boy itu muncul tanpa pemberitahuan.
"Pa-pak Araf? Anda ada disini?" Iklima bertanya sambil merunduk, suaranya terdengar gugup.
"Tentu saja aku ada disini, dia bukan hanya bos kalian. Dia juga sahabat ku." Balas Araf sambil melipat lengan di depan dada.
"Ckckck... Aku tidak percaya ini! Di depan, bos kalian akan menyayikan lagu untuk istrinya. Sementara kalian? Kalian sibuk pacaran!
Yayaya... Itu bisa ku mengerti, setelah kalian bertunangan kalian berdua mulai tidak sabar untuk menyusul bos kalian. Iya, kan?" Araf bertanya sambil menggelengkan kepala.
Sementara itu, di panggung musik masih berdiri sosok bintang yang sebenar-benarnya.
"Jujur... Aku bukan pria yang humoris. Aku juga tidak bisa mengungkapkan kata-kata cinta dengan mudah.
Aku hanya bisa berharap, semoga Bidadari indah yang duduk disana tidak akan pernah merasa bosan padaku." Ucap ku penuh semangat sambil menunjuk Ummi Fazila yang saat ini masih duduk di atas singgasananya.
Ku perhatikan semua orang terlihat sedang tertawa, ada juga yang sedang tepuk tangan. Aku sendiri tidak tahu kenapa mereka terlihat kegirangan. Terserahlah, yang penting semua orang bahagia, itu sudah cukup bagi ku.
"Istri ku.... Terima kasih sudah memilih ku di antara jutaan bahkan miliyaran pria yang ada.
Ucapku panjang kali lebar, entah dari mana datangnya keberanian untuk mengungkapkan isi hati ku, aku takut saat kami berdua aku tidak bisa mengungkap segala rasa yang ada, hanya ini kesempatan ku, dan hanya ini yang bisa ku lakukan untuk menenangkan hati ku.
Prok.Prok.Prok.
Jujur aku merasa tersanjung melihat antusias semua orang, termasuk Mama dan Papa yang saat ini duduk si meja paling depan. Ada keluarga Kiai Hasan dan Nyai Latifa di samping meja keluarga Wijaya. Senyum mereka terlihat memamerkan beribu-ribu rasa syukur karena melihat senyuman bahagia Ummi Fazila.
Lagu romantis dari Natta reza, 'Kekasih Impian' mulai mengalun merdu.
Aku tak pernah meminta. Sosok pendamping sempurna. Cukup dia yang selalu sabar menemani. Dalam kekurangan ku.
Aku mulai membuka suara sambil menatap wajah seindah purnama milik Ummi Fazila, aku menatapnya penuh cinta. Sungguh, saat ini jiwa ku di penuhi oleh satu kata yakni, cinta. Cinta luar biasa yang aku sendiri tidak bisa mengukur kedalamannya hanya dengan sekedar kata-kata.
Namun... Tuhan menghadirkan. Kamu... wanita terhebat. Kuat... Tak pernah mengeluh. Bahagia ku selalu bersama mu.
Andai ada keajaiban. Ingin ku ukirkan. Nama mu, di atas bintang-bintang. Angkasa...
Agar semua tahu. Kau berarti untuk ku. Selama-lamanya. Kamu milik ku
Aku terdiam, untuk sesaat aku larut dalam nada penuh cinta, semenit kemudian aku tersenyum penuh kemenangan sambil melanjutkan lirik lagu.
Kini... Telah ku buktikan. Kamu pendamping setia. Kuat tak pernah mengeluh. Bahagia ku selalu bersama mu.
Andai ada keajaiban. ingin ku ukirkan nama mu
__ADS_1
Di atas bintang-bintang. Angkasa....
Agar semua tahu. Kau berarti untuk ku
Selama-lamanya. Kamu milik ku
Namun ku sadari diriku. Takkan mampu selalu
Bahagiakan kamu. Hohoho...
Tapi akan ku perjuangkan. Untuk mu yang terhebat. Kekasih impian. Ooohohoh...
Air mata ku mulai menetes mengingat setiap detik peristiwa yang ku lalui hingga aku sampai di titik bahagia ini. Ini bukan air mata kesedihan, ini air mata kebahagiaan, air mata yang menandakan setiap duka yang ku lalui akan tetap kembali pada satu kata yakni bahagia.
Prok.Prok.Prok.
Suara tepuk tangan kembali bergema, samar-samar aku menangkap sosok Bani yang saat ini sedang bertepuk tangan sambil menghapus sudut mata dengan punggung tangannya. Dia duduk bersama Sabina.
Syukurlah tidak ada dendam di hatinya, dia bukan sekedar sahabat, dia juga mantan kekasih masa putih abu-abu ku.
"Alan selalu memukau, aku tidak bisa berhenti mengaguminya. Tapi sekarang, sepertinya aku harus belajar untuk tidak melakukan itu." Ucap Oliv sambil memperbaiki posisi duduknya.
"Kak Oliv pasti akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari kak Alan. Sabina juga tahu kalau dulu kak Oliv pernah berpacaran dengan kak Alan.
Tenang saja, walau kita tidak di takdirkan menjadi seorang ipar, Sabina janji akan bersikap baik pada kak Oliv." Sabina memegang pundak Oliv. Dua gadis itu saling membalas senyuman ketika sosok Araf hadir dan duduk di sebelah Sabina.
"Yaahhhh... Kau benar, kau harus bersikap baik padanya, siapa tahu setelah Oliv sampai rumah dia akan membanting semua perabotan yang ada di rumanya." Celetuk Araf tanpa menghiraukan wajah heran Sabina.
"Stop... Jangan katakan apa pun, aku tahu terkadang kau sangat bawel. Malam ini aku tidak ingin mendengar protes darimu." Tunjuk Araf pada Sabina yang baru saja ingin membuka mulut untuk melayangkan protes, Araf seolah bisa menebak jalan pikiran gadis seanggun Sabina.
"Dasar aneh, aku bahkan belum mengatakan apapun dia malah bilang aku bawel." Gerutu Sabina sambil menatap punggung Araf yang terus berjalan meninggalkannya. Tubuh tinggi dan kekar milik Araf menghilang di balik tamu undangan lainnya.
Lima menit kemudian.
"Cailah... Akhirnya aku bisa mendengar suara emas mu lagi. Aku tidak pernah menyangka kau akan secinta itu pada Nona Fatimah." Ucap Araf sambil memegang pundak ku.
Ummi Fazila yang mendengar ucapan Araf hanya bisa tersenyum tipis.
"Jika aku tahu kau sangat mencintainya, aku pasti akan melepasnya lebih awal." Kali ini Araf berbisik pelan di telinga ku.
"Aku yakin kau pasti akan menemukan sosok setia yang akan menemani mu dalam setiap detik waktu mu dengan penuh cinta. Hari itu akan segera tiba, tunggulah sebentar lagi." Aku balas berbisik di telinga Araf sambil memeluk tubuh kekarnya.
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari lisan Ummi Fazila, ia tersenyum singkat sambil menatap Araf, dan tak lupa ia menangkupkan kedua tangan di depan dada.
Aku bisa melihat Ummi Fazila sangat menghormati Araf, jangan tanyakan perasaan ku tentang itu, karena aku selalu bangga Fatimah ku bersikap seperti itu. Pesta meriah ini akan berakhir dan akan meninggalkan kenangan, semoga persahabatan kami bertahan selamanya, tidak akan berakhir hanya karena perdebatan singkat saja.
Amatilah sedikit yang di perlukan untuk membuat suatu kehidupan yang membahagiakan, semuanya ada di dalam diri anda sendiri yaitu di dalam cara anda berpikir dan bersikap.
...***...
__ADS_1