
"Assalamu'alaikum..."
Aku dan Abi Fazila mengucapkan salam secara bersamaan. Semua mata menatap kami dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Wa'alaikumsalam..." Balas semua orang sambil tersenyum.
"Kalian sudah datang? Duduk, sayang." Mama Nani tersenyum sambil memegang jemariku. Aku merunduk kemudian mencium pipi kiri dan kanannya.
Aku dan Abi Fazila duduk di samping Oma Ochi. Sementara itu Fazila duduk di dekat Sabina. Senyuman mereka menunjukan betapa spesialnya malam ini. Kami berkumpul lagi di rumah besar Wijaya setelah sekian lama.
"Alan, apa kata dokter? Kapan putrimu kerumah sakit untuk pemeriksaan rutinnya?" Opa Ade bertanya setelah menelan semua makanan yang ada di mulutnya. Beliau makan hanya sedikit saja, beliau juga tidak makan daging ataupun ikan, beliau hanya memakan semua jenis sayuran.
"Dokter bilang kita tidak perlu mengkhawatirkan kondisi Fazila. Bulan depan Fazila akan mendapatkan pemeriksaan rutinnya." Balas Abi Fazila sambil menyendok nasi yang ada di depannya.
"Kenapa harus bulan depan, nak? Apa ada masalah dengan pemeriksaan terakhir kali?" Kali ini Papa yang angkat bicara, beliau terlihat khawatir. Maklum saja, Fazila adalah kebanggaan semua orang.
"Tidak, Pa. Dokter hanya ingin mengetahui kondisi Fazila setelah satu bulan. Dia beranggapan, jika Fazila kita tidak merasakan sakit dalam tempo itu, maka sudah di pastikan Fazila kita tidak akan mengalami kesulitan lagi."
"Syukurlah. Mama sangat takut membayangkan saat-saat buruk itu." Sambung Mama sambil menatapku dan Abi Fazila secara bergantian.
"Kita semua tidak perlu khawatir lagi, Insya Allah Fazila kita akan selalu dilindungi oleh Allah. Seburuk apa pun hari yang kita lewati, atau sebaik apa pun hari yang kita lalui semua itu harus kita syukuri." Kali ini aku bicara sambil meneskan air mata. Abi Fazila yang melihatku meneteskan air mata langsung menepuk pundakku pelan.
Sedetik kemudian semua orang kembali fokus pada makanan masing-masing. Tidak ada lagi percakapan, yang terdengar hanya suara sendok dan garfu saja.
Lima menit kemudian semua orang sudah duduk di ruang tengah, duduk santai sambil membicarakan hal sederhana. Percaya atau tidak? Meluangkan waktu untuk mengobrol dengan anggota keluarga walau hanya sejenak mampu mendekatkan semua orang, hanya dengan saling berkomunikasi kita akan saling memahami.
"O iya, Pa. Tadi jeng Riska telpon, dia bilang anggota keluarganya mulai menyiapkan segala yang di butuhkan untuk persiapan pernikahan Araf dan Sabina. Mereka juga memutuskan akan menggunakan Hotel Alan sebagai tempat resepsinya.
__ADS_1
Bukankah ini luar biasa? Mama sangat terharu saat jeng Riska bilang persiapan pernikahannya sudah mencapai lima puluh persen. Bukankah mereka sangat cepat dan antusias?" Mama Nani berucap sambil menatap wajah cantik Sabina. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan Sabina, ia hanya menampakkan sikap malunya.
"Ummi... Fazila mau kekamar mandi." Fazila memegang jemariku sambil menunjukan wajah ngantuknya.
"Sayang, kau tidak perlu mengganggu Ummi mu. Tante Sabina akan pergi bersama mu. Tante Sabina tahu kalau kau sangat mengantuk. Tante putuskan, kau akan tidur bersama tante malam ini, bagaimana?"
"Asyik....!" Fazila melompat kegirangan, mendengar ucapan Sabina membuatnya benar-benar bersemangat. Semua orang mulai tersenyum bahagia melihat tingkah lucunya. Termasuk Opa Ade, ia bahkan sampai menyemburkan air mineral yang ada di dalam mulutnya gara-gara melihat tingkah polos Fazila. Dan tentu saja hal itu memancing tawa semua orang. Bukannya kami bersikap tidak sopan pada sesepuh keluarga Wijaya, kami mulai tertawa karena melihat Opa Ade tertawa lepas.
"Baiklah. Putri cantik Ummi bisa tidur dengan tante Sabina, tapi dengan satu syarat. Putri cantik Ummi tidak boleh mengganggu tante Sabina, paham?"
"Siap, paham!" Fazila memberikan hormat sambil menyipitkan kedua matanya. Oma Ochi yang melihat tingkah menggemaskannya kembali tertawa lepas.
Sedetik kemudian Fazila mulai memeluk semua orang, di mulai dari ku, kemudian Abinya, Oma, Opa, Nenek buyutnya dan terakhir kakek buyutnya. Ia melangkahkan kaki kecilnya bersama Sabina menuju kamar dekat tangga setelah ia mengucapkan salam pada semua orang.
Dua menit berlalu setelah Fazila dan Sabina pergi, kini Papa, Opa dan Abi Fazila terlihat sedang membicarakan bisnis mereka. Jujur, aku tidak terlalu paham dengan pembahasan mereka karena seumur hidupku, aku tidak pernah terlibat dengan semua itu. Mama, Oma Ochi dan aku pun memiliki kisah berbeda, layaknya semua wanita kami hanya membahas masalah rumah tangga. Sesekali Mama menceritakan rekan arisannya yang mencoba mendekati dirinya hanya untuk menjodohkan putra mereka dengan Sabina.
...***...
Lima belas menit kemudian kami kembali berkumpul di ruang tengah, Mama mulai membahas rencana siapa saja yang akan beliau undang di pernikahan Sabina. Sementara itu, dua minggu kedepan akan menjadi hari tersibuk bagi semua orang. Karena saat itu Araf akan melakukan hantaran, pertunangannya akan dilakukan secara sederhana, tidak akan semeriah saat pestanya.
"Sayang, apa Mama perlu kekamar Sabina? Mama takut anak itu akan melewati Shalat Isya-nya? Bagaimana jika itu terjadi?" Mama bertanya sambil menatap wajah berseri-seri Ummi Fazila.
"Mama tidak perlu khawatir. Sabina tidak akan melewati shalat-nya selama dia bersama Fazila. Anak manis itu tidak akan membiarkan tantenya tertidur sebelum mereka melaksanakan Shalat Isya." Balas Ummi Fazila dengan suara menyakinkan, ia tersenyum sambil menatap Mama dengan tatapan kasih sayang.
Tentu saja Mama percaya itu, karena dia sangat mengenal cucu manisnya. Siapa pun yang berada di dekatnya akan ketularan sifat baiknya, tak terkecuali Sabina. Mama sangat mengetahui perumpamaan teman yang baik dan yang jahat adalah seperti orang yang membawa minyak wangi dan tukang pandai besi. Yang membawa minyak wangi boleh jadi dia memberimu atau paling tidak kamu mendapatkan harum semerbak darinya. Adapun tukang pandai besi, boleh jadi bajumu terbakar karena percikan apinya.
"Putrimu benar Nani. Fazila akan membantu Sabina menjadi tante yang bisa ia banggakan karena kebaikannya. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan mereka, duduk dan nikmati teh hangat mu." Celoteh Opa Ade sambil menatap Mama yang terlihat khawatir.
__ADS_1
"Ayah mu benar Nani, kau terlalu tua untuk khawatir di usiamu." Oma Ochi menggoda Mama sambil melirik Papa yang duduk di sampingnya.
"Baiklah. Karena malam ini malam yang indah, Fatimah akan kedapur dan membuatkan kue terlezat untuk kita semua."
"Apa kau bisa membuat kue?"
"Tentu saja, Oma. Fatimah adalah pembuat kue yang handal." Balas Ummi Fazila lagi. Melihat ekspresi cerianya membuatku merasa tenang.
"Ummi yakin Ummi bisa membuatnya?"
"Tentu saja, Abi. Ummi sangat yakin, karena selama di Malang tidak sedikit yang memesan kue buatan Ummi. Tidak akan lama." Ucap Ummi Fazila, setelah itu ia berlalu dari hadapanku sambil membawa senyuman manisnya.
Aku benar-benar tidak bisa jauh dari Ummi Fazila, untuk apa dia repot-repot membuat kue, bukankah ada bayak Art yang bisa ia gunakan tenaganya?
"Kau tidak perlu cemberut seperti itu, Alan! Istrimu akan segera kembali. Dasar anak nakal!" Oma Ochi mengejutkanku dengan ucapan lantangnya. Ia bisa menebak jalan pikiranku hanya dengan melihat wajah cemberutku. Tidak butuh waktu lama untuk semua orang menertawakanku. Baiklah, aku tidak akan marah untuk itu karena aku tahu aku pantas di tertawakan. Mungkin hanya aku suami yang tidak bisa jauh dari istrinya. Apa pun pendapat orang soal ini, aku benar benar-benar tidak perduli.
Aaaaaaaaaa!
Suara teriakan keras yang bersumber dari dapur mengejutkan semua orang. Tak terkecuali Opa Ade dan Oma Ochi, wajah sepuh mereka terlihat tegang. Sedetik kemudian semua orang berlari kearah sumber suara, aku berada di barisan terdepan.
Duarrrrr!
Bagai di sambar petir, sekujur tubuh ku terasa mati rasa. Semua orang sama terkejutnya dengan diriku. Bagaimana aku tidak terkejut, Ummi Fazila tergeletak di lantai dapur yang dingin dan tak sadarkan diri. Entah kenapa kepanikan ini mulai memenuhi rongga dadaku.
"Ada apa dengan istriku?" Karena terkejut aku bahkan tidak sadar kata-kata apa yang keluar dari mulutku. Aku berteriak kasar pada kedua Art yang berdiri di dekat kulkas. Inilah alasannya saat marah kita di anjurkan untuk diam, bukan karena diam itu emas, melainkan diam itu lebih baik dari pada kita mengeluarkan kata-kata tidak berguna. Kata-kata yang akan kita sesali setelahnya. Kini semua orang berkumpul di dapur dengan rasa khawatir yang sama. Aku mengangkat tubuh lemah Ummi Fazila dengan derai air mata.
...***...
__ADS_1