
"Dokter, apa anda tahu apa yang terjadi hari ini? Hahaha..." Amir tertawa cekikikan. Ia tidak menyangka akan melihat adegan di luar nalarnya secara langsung.
"Apa?" Tanya Araf sambil menatap heran pada Amir yang terus cekikikan.
"Dia di tembakkk! Hahaha." Lagi-lagi bocah gembul itu cekikikan seperti orang kesurupan, sementara tiga sahabatnya hanya bisa menggelengkan kepala, heran. Entah apa yang lucu, keempat orang di dekatnya saja tidak mengerti.
"Dokter, Fazila di tembak seorang anak nakal. Dia bilang sangat menyukai Fazila. Yang lebih lucunya lagi, Fazila sudah mengusirnya dengan aman." Ucap bocah gembul itu menjelaskan.
"Apa? Sekecil ini sudah ada yang mengungkapkan cinta padamu! Ckckck!" Araf menggelengkan kepala, heran.
Hhhmmm! Ada apa dengan dunia zaman sekarang, mereka masih kecil tapi mereka sudah membicarakan tentang cinta. Lirih Araf sambil sesekali melirik ke arah Dena yang duduk di sampingnya.
"Katakan padaku, apa yang kalian lakukan di tempat itu? Apa kalian bermain tanpa memberitahukan orang tua kalian?" Araf bertanya sambil fokus menyetir.
"Aku sudah memberi tahukan ibuku. Tidak tahu
tiga anak nakal ini." Ucap Amir serius.
"Apa? Anak nakal? Aisttt." Lisa kesal sambil menggelitik Perut bocah gembul itu.
Araf memperhatikan wajah murung Fazila dari sepion, ada perasaan menyesal yang memenuhi ulu hatinya. Mata bocah manis itu mulai berair, namun dengan cepat ia menghapusnya sehingga dua sahabat yang duduk di sebelahnya tidak menyadari itu.
"Aku sangat bahagia mengetahui ibunya adalah ibu tunggal, tapi Malaikat tanpa dosa ini menanggung kesedihan yang tidak bisa ku bayangkan. Entah lelaki buruk mana yang bertemu dengan ibunya. Aku benar-benar ingin memukul wajah lelaki kurang ajar itu! Haruskah aku bahagia karena dia menyia-nyiakan wanita luar biasa itu?" Lirih Araf dalam hatinya.
"Dokter tampan, kami akan turun di depan." Ucap Dena sambil melempar tas milik Lisa.
"Kami? Apa kalian berempat akan turun?"
__ADS_1
"Bukan berempat, tapi bertiga. Karena rumah dokter tampan dekat dengan Fazila, maka dia akan turun terakhir." Ucap Amir sambil membuka pintu mobil.
Tanpa diminta Fazila pindah dan duduk di kursi depan, mobil mulai berjalan pelan. Melihat wajah murung Fazila, Araf benar-benar tidak tahu harus menghiburnya dengan apa.
Hhmmm! Araf berdehem, mencoba mencairkan suasana. Bocah manis di sampingnya sama sekali tidak bergeming. Entah apa yang di pikirkannya.
"Katakan padaku, apa kau sudah makan?" Araf membuka suara di antara senyapnya udara.
"Sudah." Balas Fazila singkat.
"Apa ummi mu tidak memberi mu banyak makan? Kenapa kau sangat kurus? Jika badan mu lebih gemuk, sedikit saja... Pasti aku orang pertama yang akan mengungkapkan cinta padamu, bukan bocah nakal seperti yang di katakan sahabat gemuk mu itu." Ledek Araf tanpa menoleh kearah Fazila.
Terlihat senyum tipis mulai merekah di bibir bocah manis itu.
"Aku tahu paman dokter sedang menghibur ku. Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Jika aku bertemu dengan Ummi, kesedihan sebesar apa pun pasti sirna." Ucap Fazila bersiap untuk turun karena rumahnya sudah hampir sampai.
Apa benar kesedihan sebesar apa pun akan sirna jika bersamanya? Aku berharap itu benar! Lirih Araf sambil turun dari mobil dan membuka pintunya untuk Fazila.
"Aku akan mengenalkan paman dokter pada Ummi, ikutlah bersamaku!" Ucap Fazila sambil menarik tangan kanan Araf.
Tidak ada sangkalan dari Araf, karena sejujurnya itulah yang ia harapkan. Bisa mengenal wanita yang berhasil mencuri hatinya pada pandangan pertamanya.
"Ummi, dia teman ku! Paman dokter, dia Ummi terbaik ku." Ucap Fazila mencoba memperkenalkan dua orang di hadapannya. Araf mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan wanita anggun di depannya. Namun buru-buru wanita anggun itu menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.
Biasanya di kota, aku bahkan saling peluk bersama wanita manapun jika sedang berkenalan. Tapi, dia berbeda, aku suka ini. Aku lebih menyukainya dan lebih menghormatinya! Lirih Araf dalam hatinya, ia terlihat bodoh untuk pertama kalinya, ternyata cinta bisa membuat lelaki yang tadinya normal menjadi hilang akal.
...***...
__ADS_1
Seorang lelaki aneh datang kerumahku sambil berjalan bergandengan tangan dengan bidadari kecilku. Aku menyambut mereka dengan senyum tipis yang mengembang di wajah ayu ku.
"Ummi, dia temanku! Paman dokter dia Ummi terbaik ku." Ucap putri manis ku dengan wajah sumringah.
Sungguh, aku benar-benar heran. Lelaki tampan yang berdiri di depanku menyodorkan tangan sambil tersenyum bahagia. Entah apa yang membuatnya sebahagia itu? Aku bahkan tidak bisa menjabat tangannya, aku hanya bisa menangkupkan tangan di depan dada. Ku lihat wajah sumringahnya berubah memerah, dan dia terlihat salah tingkah.
"Duduklah, aku akan mengambilkan air untuk anda! Ahh iya... Namaku Fatimah Azzahra." Ucapku sambil tersenyum kemudian berlalu dari hadapan orang yang belum ku ketahui namanya. Sementara putri ku? Fazila sudah masuk kekamar mandi, membersihkan dirinya.
Semenit kemudian aku tiba dengan secangkir kopi, uap yang menguar dari koffe yang ku pegang membelai wajah ku, aku bisa mencium aroma menyegarkan dari secangkir koffe yang ku pegang walaupun aku tidak menyukai koffe.
"Silahkan di minum!" Ucapku sambil meletakkan koffe di meja.
"Terimakasi. Namaku Araf, dokter Araf Walker." Ucapnya singkat.
"Uuu... Ternyata anda sedikit sombong. Aku tahu anda seorang dokter. Dokter tampan." Ucapku sambil tersenyum.
Araf. Ya... Namanya Araf, ia juga tersenyum. Kami saling melempar senyum, meskipun begitu kami tetap menjaga batasan untuk tidak mengobrol terlalu banyak. Ia meneguk koffenya. Sementara aku, sesekali menoleh ke arahnya. Ia terlihat sopan, karena itu aku merasa aman di dekatnya walaupun aku baru mengenalnya.
"Aku berasal dari ibu kota. Sejujurnya, aku membuang diriku ke tempat ini karena ibuku selalu memaksa ku untuk segera menikah. Aku tidak suka berdebat, karena itu aku lebih baik meninggalkan mamaku sendiri." Ucap Araf sambil meletakkan cangkir koffe nya di meja.
"Kau beruntung masih memiliki orang tua yang bisa kau ajak berdebat. Aku sangat iri padamu! Aku tidak pernah merasakan kasih sayang sebesar itu dari orang tua ku sejak aku berusia seperti Fazila. Kau harus baik pada mereka, jangan sampai kau menyesal." Ucap ku pada seseorang yang masih asing bagi ku.
"Terimakasi untuk nasihatnya! Sejujurnya, aku menemui banyak orang dalam kehidupan ku, namun tidak ada yang menasihati ku seperti kau menasihati ku. Aku beruntung kau menjadi teman ku! Apa sekarang kita berteman?"
Araf bertanya sambil memandang dengan tatapan yang sulit ku pahami, aku percaya tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Aku tahu batasanku, dan aku yakin tidak akan melewati batas itu.
Ketika awan berkumpul menjadi satu maka akan menjadi gelap, di tengah kegelapan itu akan tumbuh harapan dan agin yang menyejukkan. Sama seperti kehidupan Fatimah Azzahra yang sedikit demi sedikit mulai menemukan cahaya kebahagiaan.
__ADS_1
...***...