
Seperti janjiku pada Mama sebelumnya, besok tetua anggota keluarga Wijaya akan menemui wanita Saliha yang menjadi ibu dari putri manisku. Sungguh, sejak pagi dadaku terus saja berdebar, kencang. Aku membayangkan kata-kata kasar yang akan di ucapkan ibu dari putri manisku, kata-kata kasar yang akan membuat Mama terpuruk.
Mama yang bodoh! Kenapa dia memintaku bersumpah dengan nyawanya? Seharusnya beliau membiarkanku menemui wanita Saliha itu sendiri. Entah dia membunuhku atau melemparku dari lantai dua puluh lima gedung kantor ku ini apa perdulinya? Aku bergumam sendiri. Ku tatap wajahku di cermin, aku terlihat sangat berantakan. Bukan penampilanku yang berantakan, melainkan wajahku yang tak bersemangat seperti orang yang akan tiada besok pagi.
Sementara itu di tempat berbeda, Pesawat yang membawa Araf baru saja mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Sejak jauh dari Fazila dan menyaksikan penampilan anak manis itu di Televisi Araf semakin merindukannya, kali ini kerinduannya tak dapat ia bendung lagi, ia lebih mememilih terbang ke Jakarta walau hanya untuk satu jam saja.
"Apa dia akan memarahiku? Aku tiba-tiba datang dan mengejutkannya, aku pikir aku sedikit keterlaluan! Apa aku benar-benar merindukan Fazila? Atau justru aku sangat merindukan Ibunya?" Araf bicara sendiri di kursi penumpang, sopir Taksi yang mendengar Araf bicara sendiri terlihat mengerutkan dahi.
"Jika aku bertemu dengannya, apa yang harus ku katakan? Aku tidak mungkin mengatakan aku datang menemuinya untuk memberikan bunga kesukaannya, itu alasan yang payah!" Araf kembali bergumam sendiri sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku juga tidak mungkin mengatakan aku sangat merindukannya, karena itu aku datang menemuinya! Itu juga alasan yang payah!" Araf kembali menghela nafas.
Araf terus saja berpikir, sayangnya ia tidak bisa menemukan alasan yang tepat, alasan yang akan ia gunakan ketika bertemu dengan gadis impian yang selama ini selalu meramaikan mimpi malamnya.
"Jika aku menemuinya dan mengatakan aku sangat merindukannya, boro-boro dapat senyuman aku pasti akan dapat tamparan. Dia pernah menamparku sekali, dan aku tidak ingin peristiwa buruk itu terulang kembali." Kali ini Araf mengusap pipi kanannya yang pernah mendapat tamparan. Ia masih trauma dengan peristiwa itu.
"Pak, jangan hiraukan aku! Aku tidak gila! Aku hanya sedang banyak pikiran." Ucap Araf menjelaskan pada sopir taksi yang terus saja menggelengkan kepala melihat tingkah anehnya.
Sedetik kemudian Araf kembali sibuk dengan pikiran panjangnya, sebelumnya ia tidak pernah merasakan kegelisahan sebesar ini, kegelisahan yang sanggup membuat dadanya berdebar sangat kencang. Dan sebelumnya, ia pun tidak pernah merindukan wanita manapun sebesar ini, kerinduan yang sanggup mencuri ketenangan setiap malamnya.
"Baiklah. Hanya ada satu cara yang bisa ku pikirkan, cara yang tidak akan membuatku terlihat seperti pecundang dan aku pun merasa tenang." Ucap Araf dengan suara pelan, ucapan yang hanya ia sendiri yang bisa mendengarnya. Ia tidak perduli lagi dengan sopir taksi yang terus saja menggelangkan kepala menganggapnya tidak waras.
Satu jam kemudian Araf memilih turun di depan Hotel sahabat terbaiknya, ia tidak ingin pulang kerumah, jika ia nekat melakukan itu, ia tidak akan selamat dari pertanyaan mamanya, pertanyaan yang akan mengintimidasinya sampai rahasia terkecil yang ia sembunyikan di dalam hatinya pun akan terbongkar.
...***...
Waktu menunjukan pukul 19.00 ketika aku sampai di Restoran. Malam ini aku sengaja berpenampilan santai, bahkan sandal jepit yang ku gunakan sejak pagi tidak ku ganti dengan sandal yang baru, aku adalah pria dengan satu anak, aku rasa ketampananku tidak akan terganggu hanya karena sandal jepit yang ku gunakan.
"Semoga malam bos menyenangkan!" Sapa Manager Hotel, aku pikir tidak akan ada yang mengenaliku ketika aku hanya berpenampilan santai, dan ini untuk pertama kalinya aku menampakkan diri tanpa menggunakan jas di depan umum.
"Ahhh iyaaaa!" Balasku seadanya.
"Apa bos membutuhkan sesuatu? Atau bos ingin mencoba menu baru yang di kembangkan koki yang kami rekrut pagi tadi? Kami akan menyiapkan semuanya untuk bos." Ucap Manager yang berdiri di depanku. Belum sempat aku menjawab ucapan manager itu konsentrasiku terpecah olah suara keributan yang bersumber dari meja dua belas.
__ADS_1
Selama ini aku jarang sekali menikmati waktu luangku di luar kantor, karena itulah aku tidak tahu apa-apa tentang Restoran kecuali yang di laporkan oleh para manager setiap bulannya.
"Ada apa disana?"
"Terkadang hal seperti itu sering terjadi. Ada beberapa pelanggan yang datang, mereka terlalu banyak komplen sampai akhirnya kami membebaskannya dari biaya yang harus mereka bayar." Adu Manager itu padaku.
Jujur, aku merasa kesal mendengarnya. Selama ini aku tidak pernah mengalami hal menyebalkan, karena aku hanya berhadapan dengan tumpukan laporan dan E-mail dari tiga Hotel bintang lima dan beberapa Resort yang ada di Pulau Bali dan Jawa.
"Saya akan mengurus semuanya." Ucap Manager wanita yang berdiri di depanku sambil membungkuk memberi hormat.
"Tidak! Kau tetap disini, aku yang akan mengurus semuanya. Tidak ada yang mengenaliku selain dirimu maka biarkan aku yang menanganinya dengan tenang tanpa ada keributan." Balasku sembari melangkah mendekati meja yang menjadi sumber keributan.
"Maaf kan karyawan kami, jika anda ingin protes anda bisa mengatakan apa pun padaku. Kami siap menampung semua keluh kesah anda!" Ucapku dengan nada suara pelan, aku berharap tidak ada keributan lagi karena saat ini semua mata menatap kearah kami dengan tatapan penasaran. Ada juga yang memberikan komentar sinisnya. Komentar yang berhasil membuat telingaku terasa panas.
"Restoran ini adalah Restoran terburuk yang pernah ku kunjungi. Karena kau bilang kau sanggup menampung keluh kesahku maka terima ini." Ucap salah seorang wanita muda yang berdiri di depanku dengan ucapan lantang. Sedetik kemudian....
Brusssss!
Segelas air dingin mendarat tepat di wajahku, tadinya wanita muda itu akan menyiram pelayan wanita yang berdiri di depanku, namun dengan cepat aku menarik lengannya sehingga air itu tidak mengenainya melainkan mengenaiku.
Aku membuang nafas kasar, aku benar-benar kesal. Aku menatap wajah wanita muda yang berdiri di depanku dengan tatapan tajam. Wajahnya terlihat tidak asing, aku mencoba mengingat kembali dan menemukan kalau dia Model baru yang akan membintangi brand yang akan di luncurkan prusahaan pekan depan, Bobby menanda tangani kontrak kerja dengan model itu pagi tadi.
"Baiklah, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Semua makanan yang anda pesan tidak perlu anda banyar. Dan satu lagi..."
Kedua wanita yang berdiri di depanku terlihat menghela nafas kasar, aku rasa mereka mulai mengenaliku. Bahkan wajah wanita muda yang menyiram air di wajahku terlihat pucat.
"Kontrak kerjasama yang anda tanda tangani pagi tadi saya batalkan. Prusahaan kami tidak ingin terlibat dengan Model yang kasar." Ucapku dengan suara lantang, setelah itu aku memilih meninggalkan Restoran tanpa memperdulikan panggilan dua gadis itu.
Alan... Alan! Ternyata kau sangat kejam. Gumam ku sambil berjalan menuju ruang ganti.
Sepuluh menit kemudian aku sudah selesai berganti pakaian. Aku merasa hampa, aku sangat merindukan putri manisku. Entah bagaimana caranya agar aku bisa menghubungi putri manisku. Aku tahu nomor ponsel Umminya, sayangnya aku tidak punya nyali sebesar itu untuk menghubungi putriku sebelum aku bertemu dan minta maaf langsung pada wanita saliha itu.
Mama, Papa... Kenapa kalian meminta ku bersumpah atas nama kalian untuk tidak menemui ibu dari putri manisku sebelum kalian menemuinya, apa rencana kalian sebenarnya? Aku mulai bergumam sendiri dalam kesunyian, tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Aku memiliki segalanya tapi kenapa aku selalu berteman dengan hampa? Bahkan saat aku tahu aku memiliki seorang Bidadari kecil, aku semakin hampa karena sepanjang hari aku sangat merindukannya dan tidak bisa bertemu dengannya.
__ADS_1
Dret.Dret.Dret.
Pikiran tentang putri manisku terpecah oleh getaran dari Ponsel yang ku letakkan di dalam saku.
Kau ada dimana?
Aku memintamu menemuiku di Restoran Hotelmu! Tapi, sampai sekarang kau belum juga datang?
Apa aku harus memberimu penghargaan sebagai sahabat terbaik?
Kau harus datang.
Jika kau tidak datang aku akan tiada! Please!!!!
Aku mohon, datanglah!!!
Hhhmmmm. Aku mulai menghela nafas kasar, membaca pesan Araf membuatku merinding. Aku yakin ia memiliki rencana besar dan dia tidak memberitahuku soal rencananya. Aku berharap ini bukan hal besar, hal besar yang akan mengejutkanku.
Sedetik kemudian aku melihat pantulan wajahku di cermin. Sekarang aku terlihat seperti Alan Wijaya seperti biasa, Glamour, Dingin dan Berwibawa. Hilang sudah kesan sederhana yang coba ku tampilkan sebelumnya. Sandal jepit yang ku pakai dari rumah tidak serasi dengan jas mahal yang melekat di tubuhku, aku terpaksa harus menggunakan sepatu. Sekarang tampilanku sudah sempurna, dan aku pun sudah siap menemui Araf di Restoran Hotel yang berada di lantai dua.
"Maafkan saya karena meminta anda bertemu disini. Tadinya saya ingin bicara berdua saja di tempat yang sunyi. Sayangnya, saya sangat mengenal anda. Anda tidak akan suka jika kita hanya berdua saja, karena itu saya memilih tempat ini sebagai arena pertemuan kita." Ucap Araf dengan suara pelan.
Dasar payah! Dia menemui seorang gadis dan memaksaku untuk menemaninya! Apa itu masuk akal? Satu lagi... Arena? Memangnya dia pikir ini tempat pacuan kuda! Aku tidak tahu kalau kau sangat bodoh. Aku bergumam sendiri, mendengar ucapan Araf membuatku merasakan geli.
"Lagi pula kita tidak akan berdua saja! Saya sudah meminta sahabat baik saya untuk menemani kita disini!" Sambung Araf sambil memamerkan senyuman. Tidak Ada sepatah katapun yang keluar dari gadis yang duduk membelakangiku itu. Tampaknya ia gadis baik-baik, ia tidak berpakaian seksi seperti gadis-gadis yang biasa Araf kencani.
"Hai kau sudah datang!" Araf menyapaku sambil mengangkat tangannya. Otomatis wanita yang duduk di depan Araf pun menoleh kearahku. Betapa terkejutnya diriku melihat sosok yang duduk di depan Araf.
Seketika, sekujur tubuhku terasa lemas, tatapan mata itu masih terlihat sama. Antara kesal dan benci bercampur menjadi satu. Lalu, bagaimana caraku menghadapi sosok anggun itu saat berada di depanku?
Ma. Pa? Kalian menempatkanku dimana? Lihatlah? Takdir membawaku kemana! Aku malah berada dekat dengannya. Apa yang akan dipikirkan Araf tentang diriku jika dia tahu siapa aku dan siapa sosok anggun yang ada di depan kami! Gumamku sembari berjalan pelan menuju meja yang di duduki Araf. Dadaku berdebar semakin kencang. Aku merasa jantungku akan loncat keluar.
Tuhan! Kenapa aku terjebak disini? Kami akan duduk satu meja? Aku dan Ibu dari putriku! Aku tidak pernah membayangkan ini bahkan dalam mimpi sekalipun. Bahkan, araf tidak melepas senyuman dari bibirnya. Seolah dunia ini hanya di penuhi senyuman saja!
__ADS_1
Aku duduk tepat di samping Araf. Aku rasa hanya Araf yang bahagia saat ini. Lidahku terasa kaku, aku tidak bisa bicara dengannya walaupun kami duduk di satu meja. Sesekali ku tatap wajah anggun itu, ia terlihat di penuhi amarah, namun sebisanya ia menahan diri demi menghormati Araf yang duduk bersama kami.
...***...