Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Pengakuan


__ADS_3

Kediaman Wijaya.


Pak Otis, Bu Nani dan Oma Ochi sedang duduk di ruang tamu dengan perasaan dag, dig, dug. Tiga keluarga inti dari keluarga Wijaya itu sedang menanti kedatangan Opa Ade.


Dua jam berlalu namun Opa Ade masih juga belum memberikan kabar baiknya. Bu Nani memendam kerinduan luar biasa. Bagaimana tidak? Pertemuannya dengan Fazila beberapa waktu lalu belum bisa ia lupakan, lalu sekarang ia di kejutkan oleh berita besar yang di sampaikan Opa Ade.


Bu Nani menangis sambil memukul dadanya, dadanya terasa sesak. Ia berpikir, betapa bodohnya dirinya sampai tidak bisa mengenali darah dagingnya.


"Ma, sudahlah! Kau tidak perlu bersikap seperti itu! Kita semua tidak tahu tentang kebenaran ini sebelumnya." Ucap Pak Otis pada bu Nani sambil mengelus-elus pundak istrinya.


"Nani, ibu juga sangat terkejut. Dan ini kejutan yang sangat luar biasa. Ibu tidak menyangka, di usia sepuh sekarang ini ibu bisa melihat seorang cicit." Kali ini Oma Ochi bicara sembari meneskan air mata. Ia tidak bisa membendung kebahagiaannya. Sebelumnya tidak ada hal yang membuatnya merasa sangat berharga, memiliki seorang cicit adalah impian terbesarnya, kini Tuhan sudah memenuhi setiap hal dalam hidupnya. Tidak ada lagi yang di inginkan oleh Oma Ochi, rasanya menyumbangkan semua kekayaan keluarga Wijaya tidak akan cukup untuk mengekspresikan kebahagiaannya, kebahagiaan yang tidak bisa ia ukur kedalamannya, dan kebahagiaan yang tidak bisa ia ungkapkan hanya dengan sekedar kata-kata.


Ting.Tong.


Suara bel dari depan pintu membuat Oma Ochi, Bu Nani, dan Pak Otis langsung berdiri dan berjalan menuju pintu, sepuluh Art juga ikut berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan malaikat kecil yang sangat mereka rindukan.


Begitu pintu terbuka, betapa shock nya bu Nani, menatap bocah manis di depannya membuat air matanya tak berhenti menetes. Ia berhambur kedalam pelukan bocah manis itu. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan Bu Nani, yang terdengar hanya isakan tangis saja.


"Nyonya... Kenapa anda menangis?" Ucap bocah manis itu sembari mengusap mata Bu Nani dengan jari-jari lembutnya.


"Kenapa Nyonya menangis? Baiklah, tidak apa-apa! Aku akan memberikan pelukan untuk Nyonya. Ummi bilang, pelukan ku adalah obat terbaik di dunia." Sambung Bocah manis itu sambil tersenyum.


"Nama ku Fazila. Aku tidak suka dengan air mata, nyonya tidak boleh menangis di depanku atau di belakangku."


"Baiklah! Aku janji tidak akan menangis di depanmu atau di belakangmu. Tapi, dengan satu syarat! Kau harus memanggilku Oma, karena aku adalah Oma mu!" Ucap bu Nani pelan, air matanya kembali menetes.


"Oma? Kata siapa anda Oma ku? Ummi tidak pernah mengatakan apa pun? Tadi, kakek itu bilang, aku harus ikut dengannya karena Ummi ada disini! Dimana Ummi ku? Ummi... Ummi..." Fazila mulai rewel, bocah manis itu terlihat akan menangis ketika Oma Ochi menghampirinya dan memeluknya. Wanita tua itu pun menangis. Mendengar tangisan pilu dari wanita yang seusia dengan Nyai Latifa membuat Fazila menyesal karena sudah bersikap nakal.


"Apa Fazila nakal? Jika Fazila nakal, Nenek bisa menghukumku! Kata Ummi, seorang anak tidak boleh membuat orang tua mereka menangis, itu dosa." Fazila merunduk dengan wajah di penuhi penyesalan.


"Tidak sayang! Kau bukan anak nakal. kau kebanggaan kami. Namaku Ochi, aku adalah nenek dari ayahmu! Dia Nani, Ibu dari Ayahmu! Sementara, yang berdiri di belakangmu namanya Otis, dia Ayah dari ayahmu. Dan, yang datang bersamamu adalah suamiku, dia kakek dari Ayahmu. Kami semua keluargamu. Aku adalah Nenek buyutmu!" Ucap Oma Ochi memperkenalkan semua anggota keluarganya pada Fazila.


Fazila terlihat heran, anak manis itu tidak mengucapkan sepatah kata pun karena ia masih belum yakin.

__ADS_1


"Nenek buyut? Fazila punya keluarga selain Ummi!" Fazila terlihat antusias, sedetik kemudian wajah bahagiannya berubah cemberut.


"Ummi tidak pernah mengatakan apa pun! Apa kalian sungguh keluargaku?" Fazila menatap wajah semua orang yang berdiri di depannya, termasuk sepuluh ART yang sengaja di perintahkan untuk melihat dan mengenal nona kecilnya. Bu Nani tidak kuasa menahan tangisnya mendengar cucunya bertanya 'apa mereka sungguh keluarganya' Wajah polos yang Fazila tampilkan terlihat seperti Alan kecil ketika sedang penasaran terhadap sesuatu.


"Ada apa ini? Kenapa semua orang berkumpul disini? Kenapa Mama, Oma dan semua orang menangis? Siapa anak kecil ini?" Tanya Sabina begitu ia pulang dari kampus.


"Apa dia datang bersama kak Alan? Dimana kak Alan?" Sabina bertanya lagi pada Mamanya.


"Aku disini!" Ucapku ketus begitu aku masuk ke dalam rumah, ku tatap wajah polos putriku yang saat ini berdiri di samping Oma Ochi.


"Sabina, bawa Fazila masuk. Kalian juga masuk!" Pinta ku pada adik gadisku dan semua Art yang bekerja di kediaman Wijaya.


Tidak ada bantahan dari Sabina, melihat wajah kesalku, ia bisa mengerti hal yang tidak ingin ia dengar akan terjadi di ruang tengah.


"Kita harus masuk! Biarkan para tetua bicara. Kau harus ikut bersama tante." Ucap Sabina sembari menggenggam jemari lembut Fazila.


Sekarang hanya Aku, Mama, Papa, Opa dan Oma yang tertinggal di ruang tengah. Aku menatap wajah Opa dengan tatapan tajam, mungkin hanya aku cucu kurang ajar di dunia ini, cucu yang berani menentang Kakeknya.


"Seharusnya Opa bicara dulu padaku! Atau setidaknya, minta izin dulu dari ibunya! Apa begini cara Opa membuatku menjadi pria kurang ajar dan tidak bertanggung jawab?" Lagi-lagi aku bicara dengan nada tinggi.


"Alan, tutup mulutmu! Apa Mama pernah mengajarimu bicara seperti itu? Sepertinya Mama terlalu memanjakanmu sampai kau berani melewati batas. Berani sekali kau bicara seperti itu pada Opamu?" Mama masuk dalam pembicaraan serius antara aku dan Opa, matanya menatapku dengan tatapan tajam, seolah tatapan itu ingin mengulitiku.


"Apa Mama tahu apa yang sudah di lakukan Opa? Berani sekali Opa menculik Fazila!" Ucapku dengan nada suara bergetar.


Mama terlihat semakin kesal. Untuk pertama kalinya aku melihat sosok berbeda dari Mama, sosok yang biasanya bersikap lemah lembut kini terlihat seperti singa betina yang akan memakanku hidup-hidup. Perasaanku tidak enak. Dan benar saja...


Plakkkk!


Satu tamparan keras mendarat di wajahku, kini aku merasakan nyeri luar biasa di pipi bagian kananku. Untuk pertama kalinya dalam hidup Mama melayangkan tangannya untuk menyakitiku. Wajah tampan ku tertoleh sempurna kearah kiri.


"Mama bilang tutup mulutmu! Beraninya kau berkata kasar pada Opa mu? Apa kau pikir Mama akan tetap diam ketika kau melakukan hal besar di belakang Mama!


Mama sudah bosan memintamu untuk menikah, tapi kau tetap tidak mau mendengarkan! Kali ini Opa mu datang dan membawa putrimu pulang, kau bilang dia menculiknya? Apa sebuah kesalahan bagi kami sebagai orang tuamu untuk melihat putrimu? Katakan! Ayo katakan?" Mama menggoyang-goyangkan tubuhku, ia bicara dengan nada tinggi. Tatapan matanya masih setajam belati. Aku mulai merinding.

__ADS_1


Aku berusaha keras untuk menguatkan diriku, menguatkan diri untuk tidak terpengaruh pada ucapan mama yang terdengar sangat mengintimidasi. Pelan, aku menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kasar dari bibir.


"Mama bicara seolah Mama tahu segalanya?" Ucap ku sembari balas menatap Mama dengan kesedihan yang memenuhi rongga dadaku.


"Alan, apa maksudmu?" Oma yang tadinya diam mulai membuka suara. Berbeda dengan Papa, beliau masih bisa bersabar melihat tingkah kerasku. Sikap kerasku sama seperti Opa, melawanku saat ini hanya akan menambah masalah. Aku rasa itu alasan Opa memilih untuk tetap diam.


Dadaku terasa sesak, mengulang kisah yang sama hanya akan membuatku semakin menderita. Aku tidak ingin ibu dari putri manisku mendapat masalah, walaupun aku tiada karena rasa sakit ini aku harus mengungkapkan kebenarannya, kebenaran yang tidak ingin ku ingat walau hanya sekejap mata.


"Seren! Wanita itu, dia pilihan Mama bukan? Mama selalu membanggakannya sebagai menantu idaman. Apa mama tahu apa yang di lakukan wanita itu di belakangku?" Aku mulai mengurai kisah terburuk dalam hidupku. Aku baru sadar, kisah memilukan ini di mulai dari penghianatan Seren.


"Aku pria yang memiliki prinsip! Aku tidak akan pernah merusak wanita manapun dalam kehidupanku. Apa mama tahu? Aku sangat mencintai Seren! Bagiku hariku dimulai dengan mengingatnya dan aku tidak bisa tidur tanpa melihat wajahnya.


Wanita yang sangat ku cintai itu telah menghianatiku dengan penghianatan yang tidak akan pernah bisa ku lupakan. Di depanku, ia mengatakan sangat mencintaiku, dan di belakang punggungku, dia bahkan tidur dengan pria lain. Itulah alasan ku memutuskan hubungan dengannya, wanita yang tidak bisa menjaga kehormatannya dan menjaga tubuhnya, tidak layak berdiri di sisiku sebagai istri!" Ucapku dengan suara bergetar.


"Mengingat penghianatan Seren membuatku serasa tercekik. Kemana pun aku melangkah dan kemanapuna aku memandang, hanya kelakuan menjijikkan Seren yang nampak di depan mataku. Aku marah pada diriku sendiri! Aku marah karena aku pernah mencintai wanita terburuk didunia." Sambungku dengan amarah membuncah. Aku diam sejenak, kemudian melanjutkan cerita lama yang masih menyakiti lubuk hati terdalamku.


"Mama tahu apa yang terjadi di kantorku hari ini? Ibu dari putriku datang padaku dengan tubuh bergetar! Dia takut padaku! Dia marah padaku! Dia memintaku untuk membiarkannya hidup dengan tenang.


Aku tidak pernah melakukan apa pun untuknya selain menyakitinya, aku telah menodai harga dirinya. Lalu hari ini, Opa datang mengambil putrinya!


Walaupun aku papanya, hak apa yang kumiliki untuk menyakiti ibu dari putriku? Walaupun aku papanya, hak apa yang kumiliki untuk memisahkan ibu dan putrinya? Walaupun aku papanya, hak apa yang kupunya agar putriku memanggilku dengan sebutan Papa?


Disaat laki-laki lain mengusap perut istrinya karena kandungannya yang semakin membesar, aku ada dimana? Disaat laki-laki lain menemani istrinya ketika melahirkan, aku ada dimana? Aku ada disini dan hidup dalam penyesalan karena telah menodai kesuciannya!


Aku ada disini dan tidak pernah melakukan apapun untuknya dan putri kami. Walaupun dia putriku, aku tidak berhak padanya, karena aku adalah Iblis berwujut manusia, Iblis yang memasuki kehidupan wanita saliha itu dan menghancurkan kepercayaan dirinya.


Apa mama tahu apa yang di katakan ibu dari putriku dengan tubuh bergetar di depanku? Dia bilang aku menghancurkan hidupnya, dia memintaku menjauh darinya. Dia bahkan mencoba mengakhiri hidupnya karenaku. Katakan padaku, hak apa yang ku punya sebagai seorang Papa?" Aku terisak, ku lihat Mama tampak shock mendengar pengakuan buruk ku. Opa dan Oma tampak pucat, sementara Papa menangis dalam diamnya.


Wajah Papa terlihat kecewa, biasanya Papa selalu mendukungku, kini aku pun melihat kekesalan di balik sikap diamnya. Aku terpuruk, aku merasa lebih tercekik dari sebelumnya.


Disaat aku berpikir pada siapa aku bersandar kala pengakuan buruk ini menggerogoti jiwaku, seorang malaikat kecil berjalan kearahku dengan derai air mata pilunya. Ia memeluk ku sambil menepuk-nepuk pundak kekarku, bibirnya tak diam, ia terus saja berujar 'Jangan khawatir, Allah bersama kita dan semuanya akan baik-baik saja' Aku pun berharap apa yang di ucapkan putri manisku akan menjadi kenyataan, kenyataan yang akan membuat semuanya baik-baik saja.


...***...

__ADS_1


__ADS_2